NovelToon NovelToon
Mendapatkan Level 99999 Didunia Lain

Mendapatkan Level 99999 Didunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Reinkarnasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wakasa Kasa

Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Di dalam ruangan Nia dan Amane berdiri menghadap ketua guild, membahas kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini.

“Keributan akibat kemunculan penyihir misterius…”

“Dengarkan baik-baik.”

Suara berat itu berasal dari Ketua Guild Petualang cabang Fall, Moran.

Ia menyilangkan tangan di atas meja kayu besar di hadapannya.

“Spesies naga yang dikalahkan itu pada dasarnya adalah yang paling berbahaya di antara para monster. Itu makhluk yang hampir seperti dongeng. Bahkan sekelompok petualang Peringkat S hanya bisa sekadar mengimbanginya.”

“Lalu muncul seorang penyihir yang dengan mudah membunuh monster itu,” lanjut Moran pelan.

“Sudah lama aku menjadi Guild Master, tapi belum pernah mendengar hal seperti ini.”

Amane melangkah maju setengah langkah.

“Aku juga hanya pernah melihatnya dalam literatur,” ujarnya sopan

“Tapi… sebagai pemimpin White Snow, dan atas nama Amane Garden, aku bersumpah bahwa semua itu adalah kebenaran.”

Moran menoleh menatapnya dalam-dalam.

“Aku tidak meragukan mu.”

“Tapi jika itu memang benar… lalu siapa sebenarnya penyihir itu?”

Nia menjawab dengan nada serius, berbeda dari biasanya.

“Kami juga belum mengetahui identitasnya.”

Amane menambahkan pelan,

“Tapi aku merasa… dia bukan orang jahat.”

Moran menghela napas panjang.

“Jika dia sekutu, itu kabar baik. Tapi jika ternyata musuh…”

“Ini bisa menjadi masalah besar bagi negara.”

Di kantor guild petualang, Kai berdiri di depan meja laporan.

“Selamat datang kembali, Kai-san.”

Kai melangkah mendekat dengan ekspresi senang.

“Aku ingin mengonfirmasi misi yang tadi.”

Petugas itu tersenyum ramah.

“Selamat. Sepertinya Anda berhasil melewati tes dengan aman.”

Kai menyerahkan kartu miliknya. Petugas itu mengambilnya dan memindai kartu tersebut dengan alat kristal di meja.

“Baik, sudah selesai.”

Ia mengembalikan kartu itu kepada Kai.

“Dan ini upah hasil misinya.”

Sebuah kantong kecil berisi koin diletakkan di atas meja.

Ketika Kai berjalan keluar dari pintu guild, langkahnya tiba-tiba terhenti.

Seorang petualang berbadan besar menghadangnya, berdiri tepat di depannya.

“Hei… hei… hei. Aku dengar ada petualang baru.”

“Berapa levelmu?”

Kai berhenti melangkah, menatapnya datar.

“Hah? Apa aku punya masalah denganmu?”

“Lagipula, aku cuma petualang Rank E. Level 5.”

Petualang itu tertawa keras. Beberapa petualang di sekitar mereka ikut tertawa mengejek.

“Baru pertama kali aku melihat seorang dengan level serendah mu.”

“Kenapa petualang sepertimu ada di sini? Dan apa-apaan penutup mata itu?”

Kai hanya mengembuskan napas pelan.

“Aku tidak punya alasan untuk menjawab pertanyaanmu.”

Ia mencoba berjalan melewati pria itu.

“Oi… tunggu dulu. Kau pikir mau ke mana?”

Pria itu kembali menghalangi jalannya.

Kai menatap lurus ke arahnya. Tatapan itu tenang.

Pria itu tersulut emosi.

“Apa-apaan tatapanmu itu?!”

“Aku akan memberimu pelajaran!”

Ia mencabut pedangnya dan mengayunkannya.

Namun sebelum bilah itu sempat menyentuh tubuh kai.

Kai sudah berada di belakangnya.

Wajah pria itu membeku, terkejut. Orang-orang di sekitar mereka pun terdiam, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Pria itu kembali mengayunkan pedangnya secara membabi buta.

Kali ini, Kai bergerak cepat. Ia menangkap pergelangan tangan yang memegang pedang itu—

KRAK!

Terdengar suara tulang retak.

“AAAGH! Tanganku!”

Pria itu berteriak kesakitan, pedangnya terjatuh. Ia terduduk sambil memegangi pergelangan tangannya yang patah.

Sementara itu, Kai berjalan santai menuju pintu keluar, seolah tak terjadi apa-apa.

Seluruh pandangan di dalam guild mengikuti langkahnya.

Di rumahnya, Kai berjalan menuju bangunan kecil di samping rumah.

Ia berniat menjadikan tempat itu sebagai ruang kerja—tempat meracik ramuan dan menciptakan alat baru yang nantinya bisa ia jual kepada Tn. Bania.

Saat tiba, kondisinya jauh dari layak.

Atapnya banyak yang pecah, jendelanya hancur, dan pintunya disegel dengan batang kayu tua.

Kai terdiam sejenak, lalu mengembuskan napas pelan.

" Huh..."

Walau malas, ia tetap mulai bekerja.

Batang kayu yang menyegel pintu ia singkirkan. Lantai yang dipenuhi debu ia pel bersih. Sarang laba-laba dan kotoran ia sapu.

Untuk bagian yang rusak parah, ia menggunakan sihir.

Kayu yang retak tersambung kembali.

Kaca yang pecah terbentuk ulang dari serpihan.

Atap yang bolong perlahan menutup seperti waktu diputar mundur.

Beberapa jam kemudian, bangunan kecil itu berubah total.

Kai berdiri di tengah ruangan, menatap meja kayu yang sudah ia siapkan.

Ia ingin membuat obat anti racun.

Bahan utamanya adalah Dokuyaku.

Dokuyaku adalah daun yang tumbuh di hutan terdalam. Daun itu mengandung racun mematikan—bahkan dengan menyentuhnya saja bisa menimbulkan rasa sakit luar biasa.

Karena tingkat kesulitan pembuatannya tinggi, ramuan tersebut tidak tersedia di toko biasa. Bahkan di wilayah tertentu, penggunaannya dilarang.

Kai mengenakan sarung tangan sebelum mengambil daun itu.

Ia mulai mengekstraknya, memeras cairan beracun dari serat daunnya dengan hati-hati.

Setelah itu, ia memanaskannya dengan api sihir kecil.

Ramuan itu ia aduk perlahan. Beberapa jenis rumput dan daun tambahan ia masukkan untuk menstabilkan efeknya.

Cairan hijau gelap itu perlahan berubah warna menjadi hijau cerah.

Aromanya yang awalnya menyengat berubah menjadi harum.

Saat warna akhirnya stabil, Kai berhenti mengaduk.

Ia mengambil pisau kecil.

Tanpa ragu, ia menyayat telapak tangannya sendiri.

Lalu ia mengambil selembar daun Dokuyaku yang belum diolah dan mengoleskannya ke luka itu.

Racun langsung bereaksi.

Rasa sakit menyengat menjalar seketika. Ototnya menegang, napasnya tercekat. Sensasi panas seperti membakar menjalar dari luka itu.

Namun Kai menahannya.

Dengan cepat, ia meneteskan ramuan hasil racikannya ke atas luka tersebut.

Reaksinya terjadi hampir seketika.

Rasa sakit itu mereda.

Racun yang tadi menyebar seakan dinetralkan dan perlahan luka di tangannya menutup kembali.

“Haha… hahahaha…”

Tawanya pelan, tapi penuh kepuasan.

“Aku berhasil lagi.”

Setelah selesai memasukkan semua ramuan itu kedalam wadah Kai menyandarkan tubuhnya ke bangku kayu.

Ia memejamkan mata, membiarkan pikirannya mengulang semua kejadian dalam dua bulan terakhir.

“Sudah dua bulan sejak rumor itu menyebar…”

“Apakah negara lain benar-benar membentuk tim pencarian?”

Gumamnya pelan.

Kai sebenarnya hanya ingin menjalani kehidupan santai setelah dia di reinkarnasi.

Karena di kehidupan sebelumnya terasa begitu membosankan ya meskipun ia juga sempat ingin menjadi protagonis si wkwkwk.

Matanya terbuka, menatap langit-langit atap kayu.

“Aku ingin lebih menjelajahi dunia ini…”

Kai berada di dalam hutan untuk mencari beberapa tanaman obat. Saat ia hendak pulang, ia berpapasan dengan sekawanan monster babi hutan yang sedang melintas.

Begitu menyadari keberadaannya, monster-monster itu langsung menyerbu ke arahnya dengan ganas.

“Eh… barbar juga.”

“Baiklah akan ku tunjukkan pada kalian sihir yang belum pernah kalian lihat.”

Kai mengangkat tangannya, membentuk pola tertentu dengan jemarinya.

“Bloody Puncture.”

Sebuah cahaya merah tipis seperti benang meluncur dari ujung jarinya—dengan cepat.

Cahaya itu menembus perut , kepala dari para monster itu.

“HIIKG!”

Tubuh monster itu roboh seketika.

Kai tersenyum puas.

“Kerja bagus, rekan-rekan latihanku.”

Beberapa benang merah kembali melesat, menusuk tepat sasaran tanpa meleset sedikit pun. Dalam hitungan detik, kawanan itu tumbang.

“Kecepatan, jangkauan, dan kekuatan Bloody Puncture… semuanya sudah oke.”

“Meluncurkan beberapa tusukan sekaligus juga tidak masalah.”

Ia menatap batu-batu kristal yang muncul dari tubuh para monster.

“Menembus tubuh sampai tengkorak… ini benar-benar kemampuan yang hebat.”

Kai mengumpulkan batu kristal itu dan memasukkannya ke dalam item box miliknya.

“Tapi aku harus terus belajar dan berlatih.”

“Untuk menjadi yang terkuat… hanya mengandalkan bakat yang kudapat saja tidak akan cukup.”

Tangannya menyentuh penutup matanya perlahan.

“Dan aku masih belum memahami sepenuhnya kekuatan mata ini…”

1
Khai
hai semua,
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!