Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.
Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.
Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.
Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Sisa-Sisa Kewarasan dan Ruang Kerja Sang Tuan
Satu minggu telah berlalu sejak malam di mana Gilang Mahendra menghukum Nadin dengan gairah yang menggelapkan akal sehat. Selama tujuh hari itu pula, Nadin mulai memahami ritme hidup di dalam sangkar emas yang mengurungnya.
Pola kehidupan Nadin kini berputar pada rutinitas yang sangat kaku. Bangun pagi dengan tubuh yang selalu terasa nyeri, menemukan sisi ranjang Gilang yang sudah kosong dan dingin, lalu bersiap-siap untuk diantar oleh Dimas menuju rumah sakit. Di rumah sakit, Nadin hanya bisa melihat adiknya dari balik kaca atau duduk di samping ranjang Arya selama beberapa jam. Dokter Adrian tidak pernah lagi mengajaknya mengobrol di luar konteks medis. Pria berseragam putih itu menjaga jarak yang sangat tegas, sebuah sikap profesional yang diam-diam menyayat hati Nadin, namun dia tahu itu adalah yang terbaik.
Setelah dari rumah sakit, Nadin akan menghabiskan waktu dengan berkeliling pusat perbelanjaan, membeli barang-barang yang tidak dia butuhkan dengan kartu hitam milik Gilang, sekadar untuk membunuh waktu. Tepat pukul enam sore, dia harus sudah berada di dalam penthouse. Nadin akan mandi, memakai gaun malam yang mewah atau pakaian tidur berbahan sutra, lalu duduk menatap jam dinding. Menunggu sang pemilik pulang untuk mengklaim tubuhnya kembali.
Gilang selalu pulang dengan aura yang mendominasi. Pria itu jarang berbicara tentang pekerjaannya di kantor. Gilang hanya menuntut kepatuhan mutlak. Jika Nadin mencoba melawan melalui tatapan mata atau kata-kata sinis, Gilang akan membungkamnya di atas ranjang dengan cara yang membuat Nadin kehilangan seluruh kosakatanya hingga pagi menjelang.
Hari ini adalah hari kedelapan. Hujan turun rintik-rintik sejak pagi, membuat langit Jakarta terlihat kelabu dan muram. Nadin membatalkan jadwalnya untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Setelah pulang dari rumah sakit pada pukul dua siang, dia meminta supir untuk langsung mengantarnya kembali ke penthouse.
Suasana penthouse di siang hari terasa sangat berbeda. Ruangan seluas itu terasa sangat sunyi, sepi, dan membekukan. Nadin duduk di atas sofa ruang tengah, memeluk kedua lututnya. Dia masih memakai celana panjang bahan berwarna krem dan kemeja katun putih yang lengannya digulung hingga siku. Rambut panjangnya diikat asal-asalan ke belakang.
Nadin menatap layar televisi raksasa yang tidak menyala. Rasa bosan dan kekosongan mulai menggerogoti kewarasannya. Dia adalah seorang lulusan terbaik fakultas arsitektur. Otaknya terbiasa bekerja keras, merancang desain bangunan, menghitung struktur, dan memecahkan masalah. Kini, otaknya dipaksa untuk berhenti berpikir dan tubuhnya hanya dijadikan objek pemuas nafsu. Jika dia terus berdiam diri seperti ini selama tiga tahun, Nadin yakin dia akan benar-benar gila.
Didorong oleh rasa frustrasi yang menumpuk, Nadin beranjak dari sofa. Dia mulai berjalan menyusuri lorong-lorong penthouse yang jarang dia lewati. Selama ini dia hanya berani berada di ruang tengah, dapur, dan kamar utama.
Langkah kaki Nadin yang tanpa alas kaki tidak menimbulkan suara di atas lantai marmer hitam yang dingin. Dia melewati sebuah pintu kayu oak ganda yang tertutup rapat. Nadin berhenti. Dia tahu itu adalah ruang kerja pribadi Gilang. Dimas pernah memperingatkannya di hari pertama bahwa ruangan itu adalah area pribadi Tuan Mahendra.
Namun, rasa penasaran dan kebutuhan untuk mencari sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya membuat tangan Nadin bergerak di luar kendali. Dia meraih gagang pintu berbahan kuningan itu dan menekannya ke bawah.
Klek. Pintu itu tidak dikunci.
Nadin menahan napasnya sejenak, lalu mendorong pintu itu secara perlahan. Saat pintu terbuka lebar, bau khas buku tua, kertas, dan campuran samar dari parfum vetiver milik Gilang langsung menyambutnya. Nadin melangkah masuk, dan matanya seketika membelalak kagum.
Ruangan itu adalah sebuah perpustakaan pribadi sekaligus ruang kerja yang sangat luar biasa. Dindingnya dilapisi oleh rak kayu mahoni yang menjulang hingga ke langit-langit, dipenuhi oleh ratusan buku tebal bersampul kulit dari berbagai macam bahasa dan disiplin ilmu. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kerja kayu yang sangat besar dengan tumpukan dokumen yang tertata rapi. Di belakang meja kerja itu, jendela kaca setinggi langit-langit memperlihatkan pemandangan kota Jakarta yang sedang diguyur hujan.
Tapi bukan buku-buku atau pemandangan itu yang menarik perhatian Nadin. Di sudut kanan ruangan, terdapat sebuah meja gambar arsitektur berukuran besar yang dilengkapi dengan lampu sorot khusus. Di atas meja itu, berserakan gulungan cetak biru, penggaris logam, dan pensil gambar dari berbagai ukuran.
Nadin berjalan mendekati meja gambar itu seperti orang yang terhipnotis. Dia menyentuh permukaan kertas cetak biru itu dengan ujung jari yang bergetar. Kertas itu menampilkan desain sebuah gedung pencakar langit komersial yang bentuk strukturnya sangat rumit dan futuristik. Mata Nadin dengan cepat menganalisis garis-garis tersebut. Sebagai seorang arsitek, melihat gambar kerja ini bagaikan melihat air di tengah padang pasir bagi seseorang yang sedang kehausan.
Tanpa sadar, Nadin menarik kursi tinggi di depan meja gambar itu dan duduk di sana. Dia mengambil sebuah pensil mekanik dan selembar kertas kalkir kosong yang ada di tumpukan samping. Otaknya seketika bekerja secara otomatis. Tangan Nadin mulai bergerak di atas kertas kosong tersebut. Garis demi garis dia tarik dengan presisi yang tajam. Dia merancang ulang bagian fasad gedung di cetak biru tersebut yang menurutnya memiliki kelemahan pada pencahayaan alaminya.
Waktu seakan berhenti berputar. Nadin begitu tenggelam dalam dunianya. Bau kertas, suara goresan pensil, dan bayangan struktur bangunan di kepalanya berhasil membungkam semua rasa sakit, ketakutan, dan trauma yang dia alami selama dua minggu terakhir. Untuk pertama kalinya sejak ayahnya kabur, Nadin merasa seperti dirinya sendiri lagi. Bukan objek jaminan utang, bukan burung di dalam sangkar emas, melainkan Nadin Kirana sang arsitek.
Saking fokusnya, Nadin sama sekali tidak menyadari bahwa waktu telah menunjukkan pukul lima sore. Dia juga tidak mendengar suara pintu utama penthouse yang terbuka, atau suara derap langkah sepatu kulit yang berjalan menyusuri lorong dengan cepat.
Pintu ruang kerja itu terbuka lebih lebar. Gilang Mahendra berdiri di ambang pintu dengan wajah mengeras.
Pria itu pulang lebih awal karena jadwal pertemuannya di luar dibatalkan akibat hujan deras. Saat dia masuk ke penthouse dan tidak menemukan Nadin di kamar utama atau ruang tengah, rasa panik yang sangat asing sempat menyergap dadanya sepersekian detik. Gilang berpikir wanita itu mencoba melarikan diri, meskipun para penjaga di bawah tidak melaporkan apa-apa.
Namun, saat melihat pintu ruang kerjanya sedikit terbuka, amarah Gilang perlahan menggantikan rasa paniknya. Tidak ada seorang pun yang diizinkan masuk ke ruangan ini tanpa seizinnya. Bahkan Dimas pun harus mengetuk pintu tiga kali dan menunggu jawaban sebelum berani memutar gagang pintu.
Gilang melangkah masuk dengan suara langkah kaki yang berat, bersiap untuk meneriakkan kemarahannya. Namun kata-kata makian itu tertahan di tenggorokannya saat dia melihat pemandangan di sudut ruangan.
Nadin sedang duduk membelakanginya di depan meja gambar. Wanita itu tidak memakai gaun malam atau pakaian sutra provokatif yang biasa dia perintahkan. Nadin memakai kemeja kebesaran yang terlihat sangat nyaman, rambutnya diikat longgar, dan beberapa helai anak rambut jatuh menutupi tengkuknya yang putih. Tangan wanita itu bergerak dengan sangat cepat dan lincah di atas kertas kalkir, menciptakan suara goresan pensil yang ritmis. Postur tubuh Nadin tidak lagi terlihat kaku atau ketakutan. Di depan meja gambar itu, Nadin terlihat sangat berkuasa dan penuh percaya diri.
Gilang terdiam di tempatnya berdiri. Mata hitamnya mengawasi setiap gerakan Nadin. Pria itu menyadari satu hal yang selama ini dia abaikan, bahwa wanita yang dia kurung di sini bukanlah wanita lemah yang hanya bisa menangis. Nadin adalah salah satu lulusan terbaik di bidangnya, seorang wanita cerdas dengan otak yang brilian, dan Gilang telah merampas semua potensi itu hanya demi memuaskan obsesi dan egonya sendiri.
Entah mengapa, pikiran itu justru membuat darah Gilang berdesir aneh. Ada perasaan bangga yang gelap muncul di dalam dadanya. Pria arogan itu tidak merasa bersalah karena telah menghancurkan karir Nadin. Sebaliknya, dia merasa sangat beruntung karena dia adalah satu-satunya pria di dunia ini yang bisa memiliki Nadin seutuhnya. Baik tubuhnya, maupun kecerdasannya.
Gilang melangkah mendekat tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Dia melepaskan jasnya dan melemparnya ke atas sofa kulit di dekat rak buku. Dia berdiri tepat di belakang Nadin, sangat dekat hingga dadanya nyaris bersentuhan dengan punggung kursi yang diduduki wanita itu.
Gilang menundukkan kepalanya, melihat ke arah kertas kalkir di atas meja. Matanya yang tajam dan terbiasa membaca ribuan proposal proyek dengan cepat menyadari apa yang sedang dikerjakan oleh Nadin. Wanita itu sedang mengkoreksi desain proyek triliunan rupiah milik perusahaannya. Dan sialnya, Gilang harus mengakui bahwa solusi desain yang digambar oleh Nadin jauh lebih brilian dan efisien daripada buatan kepala arsitek senior yang dia bayar mahal di perusahaannya.
"Struktur kaca di sudut utara itu akan membuat suhu ruangan di dalamnya naik lima derajat saat musim kemarau," suara bariton Gilang yang berat dan serak tiba-tiba terdengar, memecah kesunyian ruangan dengan sangat mengejutkan.
Nadin tersentak keras. Pensil di tangannya terlepas dan menggelinding jatuh ke lantai. Jantungnya melompat ke tenggorokan saat dia menyadari bahwa Gilang sudah berdiri tepat di belakangnya. Keringat dingin seketika membasahi tengkuknya. Pria ini pulang lebih cepat, dan Nadin tertangkap basah melanggar area privasinya.
Nadin buru-buru memutar kursinya untuk berdiri, namun kedua tangan besar Gilang dengan cepat turun dan mencengkeram erat sandaran lengan kursi tersebut. Pria itu mengurung Nadin di antara meja gambar dan tubuh besarnya. Nadin tidak bisa ke mana-mana.
"Ma... maafkan saya, Tuan Mahendra," ucap Nadin dengan suara bergetar. Dia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata pria yang berdiri menjulang di depannya. "Saya bosan. Pintu ini tidak dikunci. Saya tidak bermaksud menyentuh pekerjaan Anda. Saya akan keluar sekarang."
Gilang tidak menyingkir. Pria itu malah mencondongkan tubuhnya ke depan, memaksa Nadin untuk menekan punggungnya ke sandaran kursi sebisa mungkin. Aroma hujan yang menempel di kemeja Gilang bercampur dengan wangi maskulinnya memenuhi paru-paru Nadin, membuat Nadin merasa pusing karena kurang oksigen.
"Siapa yang mengizinkanmu berhenti menggambar?" tanya Gilang dengan nada suara yang sangat tenang, terlalu tenang hingga terasa sangat mengancam.
Nadin memberanikan diri untuk mendongak. Mata hitam Gilang menatapnya dengan intensitas yang berbeda dari biasanya. Tidak ada kilat kemarahan di sana. Yang ada hanyalah sebuah keingintahuan yang gelap dan gairah dominasi yang terasa jauh lebih berbahaya daripada amarah.
"Lanjutkan penjelasanmu tentang desain kaca tadi," perintah Gilang, kali ini nada suaranya sedikit melembut, namun tetap berwibawa. Pria itu menunjuk kertas kalkir di atas meja dengan ujung dagunya.
Nadin menelan ludah. Dia melirik sekilas ke arah gambar buatannya, lalu kembali menatap Gilang dengan ragu-ragu. "Cetak biru dari arsitek Anda mengandalkan kaca fasad ganda di seluruh sisi gedung. Itu sangat boros anggaran dan menyerap terlalu banyak panas di sisi utara yang terpapar matahari siang. Jika... jika sudut panelnya dimiringkan sepuluh derajat dan ditambahkan kisi-kisi logam seperti yang saya sketsa ini, sirkulasi udaranya akan jauh lebih baik dan Anda bisa memangkas biaya material hingga lima belas persen."
Penjelasan itu meluncur dari bibir Nadin dengan sangat lancar. Saat berbicara tentang arsitektur, rasa takut di mata Nadin perlahan memudar, digantikan oleh kilau kecerdasan yang sangat memikat.
Gilang mendengarkan penjelasan itu dalam diam. Matanya tidak beralih sedikit pun dari bibir Nadin yang bergerak lincah merangkai kata-kata teknis tersebut. Di dalam kepala Gilang, sebuah kesimpulan baru saja terbentuk. Wanita ini adalah sebuah permata mentah yang sangat berharga. Permata yang terlalu indah jika hanya dipajang di atas ranjang. Gilang ingin melihat permata ini bersinar terang, namun sinarnya itu hanya boleh dipersembahkan untuk dirinya seorang.
"Kau sangat cerdas, Nadin Kirana," bisik Gilang pelan.
Tangan kanan Gilang bergerak melepaskan cengkeramannya dari kursi. Jari-jari pria yang kasar itu menyusuri garis rahang Nadin dengan gerakan yang sangat lambat, membuat Nadin menahan napasnya kembali. Sentuhan Gilang kali ini tidak kasar, melainkan penuh perhitungan. Sebuah belaian posesif yang menegaskan bahwa otak brilian di dalam kepala Nadin ini juga adalah miliknya.
"Tapi kecerdasanmu itu membuatmu melupakan aturan dasar di rumah ini," lanjut Gilang. Ibu jarinya mengusap pelan bibir bawah Nadin yang sedikit terbuka. Mata pria itu mulai menggelap oleh kabut gairah. "Kau melanggar batasan wilayahku. Dan kau tahu apa akibatnya dari sebuah pelanggaran."
Nadin memejamkan matanya pasrah. "Saya siap menerima hukumannya. Lakukan di kamar seperti biasa."
Sebuah tawa pelan dan parau keluar dari bibir Gilang. Pria itu menundukkan kepalanya hingga bibirnya menyentuh telinga Nadin.
"Siapa bilang kita akan melakukannya di kamar?" bisik Gilang dengan suara serak yang membuat bulu kuduk Nadin meremang.
Sebelum Nadin sempat memproses kata-kata itu, Gilang dengan kasar menyapu semua gulungan kertas, penggaris logam, dan pensil dari atas meja gambar hingga jatuh berserakan ke lantai marmer dengan suara yang sangat berisik. Meja kayu yang kokoh itu kini kosong melompong.
Tangan besar Gilang mencengkeram pinggang Nadin dan mengangkat wanita itu dari kursinya dalam satu gerakan yang sangat cepat. Gilang mendudukkan Nadin tepat di atas meja gambar tersebut, memaksa kedua kaki Nadin terbuka untuk memberi ruang bagi tubuh pria itu berdiri merapat di antaranya.
Nadin terkesiap karena terkejut. Tangan Nadin secara refleks mencengkeram bahu Gilang yang keras untuk menyeimbangkan tubuhnya yang berada di atas meja yang lumayan tinggi itu.
"Kau sangat suka merancang bangunan, Nadin?" tanya Gilang tepat di depan wajah Nadin. Jari-jari pria itu dengan cepat membuka tiga kancing teratas kemeja putih yang dipakai Nadin. "Maka sore ini, aku ingin melihat apakah kau bisa merancang pertahananmu sendiri agar tidak berteriak saat aku meruntuhkanmu di ruangan ini."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Nadin untuk menolak atau menjawab, Gilang meraup bibir wanita itu dengan ciuman yang sangat liar dan merampas. Tidak ada lagi percakapan teknis tentang struktur bangunan. Yang tersisa di dalam ruang kerja yang dingin itu hanyalah pertarungan ego, gesekan kulit yang panas, dan penaklukan tanpa ampun dari seorang predator yang baru saja menemukan cara baru untuk menikmati mangsanya.
Di bawah guyuran hujan badai di luar jendela kaca yang besar, Nadin menyadari bahwa di ruang kerja ini pun, dia tidak akan pernah bisa melarikan diri dari bayang-bayang kekuasaan Gilang Mahendra. Akal sehat yang baru saja dia temukan lewat goresan pensilnya, kembali dihancurkan hingga lebur menjadi serpihan kenikmatan yang penuh dengan rasa bersalah di atas meja gambar sang tuan.