Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1
Pagi itu, rumah besar bercat krem di ujung jalan terasa lebih sunyi dari biasanya, hingga sebuah teriakan memecah udara.
"Lepaskan! Kamu kasar sekali!" suara Bu Diana melengking, menggema dari kamar utama di lantai bawah.
Di dalam kamar yang luas dengan tirai tipis menjuntai anggun, Andita berdiri di samping ranjang elektrik. Tangannya masih memegang manset tensimeter yang melingkar di lengan kurus wanita tua itu. Wajah Andita cantik, bersih, dengan riasan tipis yang nyaris tak terlihat. Namun ekspresinya tenang, seolah ia sudah terlalu sering menghadapi badai seperti ini.
"Bu, saya hanya mengecek tensi. Tidak sakit kok, cuma terasa sedikit tertekan," ucapnya lembut.
"Bohong!" Bu Diana menepis tangan Andita sekuat yang ia mampu. "Kamu sengaja menekannya keras! Mau bikin tangan saya biru, ya?"
Andita menarik napas pelan. Ia sudah mempelajari karakter pasiennya selama dua minggu terakhir. Bu Diana, tujuh puluh dua tahun, lumpuh setengah badan akibat stroke ringan setahun lalu. Secara fisik rapuh, tetapi emosinya… seperti bara yang tak pernah padam.
"Saya turunkan pelan-pelan ya, Bu," kata Andita, tetap sabar, lalu melepas manset dengan hati-hati.
Namun Bu Diana tak berhenti. "Semua perawat sama saja! Bermuka dua! Kalau di depan Tama pura-pura manis, tapi kalau cuma berdua dengan saya, galaknya bukan main!"
Pintu kamar terbuka mendadak.
"Ma..."
"Tama?" suara Bu Diana langsung berubah parau dan penuh keluhan. "Tam… wanita ini mau membunuh Mama, Tam?"
Tama berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja kerja. Wajahnya lelah, tetapi sorot matanya tegas. "Ada apa, Ma? Suara Mama sampai ke kamar Tama loh."
Bu Diana menunjuk Andita dengan tangan gemetar. "Dia kasar! Mama ini lumpuh! Tadi lenganku ditekan keras sekali! Jelas banget dia nggak suka sama Mama. Mau Bikin tangan Mama patah."
Tama menatap Andita sekilas. Gadis itu berdiri tegak, kedua tangannya terlipat sopan di depan perut. Tidak ada perlawanan di matanya. Hanya keheningan.
"Benar, Dit?"
"Enggak usah tanya sama dia, Tam! Pendusta itu!"
"Saya hanya cek tensi, Mas," jawab Andita lirih.
Bu Diana mendengus. "Hanya cek tensi?! Kamu tuh sengaja nekan lenganku kuat-kuat tadi!"
Tama mengusap wajahnya pelan. Ia sudah terlalu paham watak ibunya.
"Dita," ucap Tama akhirnya, "kalau perawatannya sudah selesai, kamu istirahat dulu di luar ya."
Andita mengangguk. "Baik, Mas."
Ia membereskan alat tensi, menunduk sopan pada Bu Diana yang masih memelototinya, lalu berjalan keluar tanpa sepatah kata pembelaan.
Andita adalah caregiver kesepuluh dalam satu tahun terakhir. Sembilan sebelumnya pergi, sebagian mengundurkan diri, sebagian lagi diminta berhenti karena ibunya terus mengeluh.
Begitu pintu tertutup, Bu Diana langsung terisak dramatis. "Mama ini sudah tidak ada harganya lagi, ya? Dirawat orang asing, diperlakukan seenaknya…"
"Ma," suara Tama menurun, mencoba sabar, "Mama tau kan susah banget cari Caregiver kayak Dita? Kita udah ganti 10 kali loh. 10 kali dalam setahun ini."
"Kamu nyalahin Mama?"
"Enggak, Ma. Bukan gitu. Maksudku, Mama tolong lebih bersabar, Dita hanya menjalankan pekerjaannya."
"Kamu membela dia?"
"Bukan membela, Ma. Aku cuma mau yang terbaik buat Mama."
Bu Diana terdiam sesaat, lalu wajahnya mengeras.
"Kamu pikir Mama tidak tahu cara kerja wanita-wanita itu? Semua cuma cari muka sama kamu, Tam!"
Tama menghela napas panjang. "Mama pikir semua orang jahat? Semua caregiver sebelumnya juga Mama bilang begitu."
"Karena memang begitu!"
"Aku menyewa mereka karena Mama butuh orang yang punya skill. Aku tidak bisa merawat Mama sendiri setiap saat."
"Jadi Mama beban?" suara Bu Diana bergetar.
"Bukan itu maksudku," jawab Tama cepat. "Aku cuma ingin Mama sembuh, atau setidaknya nyaman."
"Nyaman? Dengan orang yang matanya genit begitu?"
Tama memejamkan mata sejenak. "Ma, Dita sudah dua minggu di sini. Tolong bersikap baik padanya. Aku tidak bisa langsung cari orang lagi. Cari Caregiver tuh susah."
Bu Diana melengos, "Mama enggak janji."
"Terima kasih, nanti aku akan bicara sama Dita."
"Tapi, kalau dia cari muka sama kamu, Mama mau dia dipecat."
Tama menatap ibunya lama. Ada lelah yang tersembunyi di sana. "Baik. Kalau dia tidak profesional, aku akan pecat. Tapi selama belum ada caregiver baru, Mama harus bekerja sama."
Bu Diana tak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah ke jendela.
Di ruang tamu, Andita duduk tegak di sofa ujung. Tangannya saling menggenggam. Ia sudah terbiasa tidak membela diri. Dalam pekerjaannya, kesabaran adalah pakaian kedua.
Tama menghampirinya.
"Dita."
Andita langsung berdiri.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Tama, suaranya lebih lembut.
Andita menatap lantai sebentar, lalu menjawab jujur. "Saya hanya cek tensi. Setelah itu saya mau berikan obat pagi. Tapi Ibu menolak. Katanya obatnya bikin pusing. Saya coba jelaskan, tapi Ibu marah."
Tidak ada tambahan cerita. Tidak ada dramatisasi.
Tama mengangguk pelan. "Mama memang sering menolak diobati."
"Saya mengerti," kata Andita. "Pasien stroke memang kadang emosinya labil."
Tama menatap wajahnya, yang terlihat hanya kesabaran. "Terima kasih sudah sabar menjaga Mama."
Andita tersenyum tipis. "Itu bagian dari pekerjaan saya, Mas."
"Kamu sudah dua minggu di sini. Kalau nanti kamu tidak betah… aku tetap akan bayar hak kamu penuh."
Dita menggeleng halus. "Saya masih bisa bertahan, Mas."
"Terima kasih." Tama terdiam sesaat. "Tolong lebih sabar lagi, ya."
"Saya akan berusaha."
Tak lama, Tama pamit kerja. Mobilnya keluar dari halaman, menyisakan rumah besar yang kembali sunyi.
Menjelang sore, Andita masuk lagi ke kamar Bu Diana.
"Kita mandi ya, Bu," ucapnya lembut.
"Tidak mau!" Bu Diana memekik.
"Kalau tidak mandi, badan Ibu bisa gatal."
"Saya tidak gatal!"
Namun Andita tetap menyiapkan air hangat, handuk, dan sabun. Dengan hati-hati ia memindahkan tubuh Bu Diana ke kursi mandi khusus.
Air pertama menyentuh kulit, dan jeritan itu kembali pecah.
"Aaa! Panas! Kamu mau bakar saya?"
"Airnya hangat, Bu. Tidak panas."
"Kasar! Pelan sedikit!"
Andita menggosok lengan Bu Diana perlahan dengan spons lembut. Tetapi wanita tua itu meringis berlebihan.
"Sakit! Kamu mau bikin kulit saya terkelupas, hah!"
"Tidak, Bu. Saya pelan sekali."
"Pembohong!"
Tiba-tiba tangan Bu Diana menyambar sabun cair di dekat wastafel. Botol itu dilemparkan ke arah Andita. Sabun memercik ke dinding, sebagian mengenai seragam putihnya.
Andita terdiam sesaat.
Di depan matanya, wanita renta itu terengah-engah, napasnya cepat, matanya penuh amarah… dan mungkin ketakutan.