Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
BAB 31
DI AMBANG FAJAR YANG BENING
Pukul empat pagi. Langit Jakarta masih berwarna biru pekat yang dingin, namun di sebuah gang kecil di pinggiran kota, cahaya lampu merkuri mulai meremang. Adrian Aratama sudah berdiri di depan pagar hijau keluarga Humaira. Ia tidak datang dengan mobil sport yang menderu, tidak pula dengan kawalan asisten yang sibuk. Ia datang dengan berjalan kaki dari masjid di ujung jalan, mengenakan kemeja koko putih yang ia beli terburu-buru kemarin sore dan celana kain hitam yang rapi.
Rambutnya yang biasanya tertata klimis kini dibiarkan jatuh alami, masih menyisakan sisa-sisa air wudhu yang mendinginkan keningnya. Di tangannya, tidak ada dokumen kontrak atau tas kerja kulit. Hanya ada sebuah map tipis berisi surat permohonan maaf resmi dan sebuah niat yang telah ia asah sepanjang malam dalam kesunyian.
Suara adzan Subuh mulai berkumandang, saling bersahutan dari kejauhan. Adrian mematung. Baginya, suara itu bukan lagi sekadar penanda waktu, melainkan sebuah panggilan yang meruntuhkan sisa-sisa egonya.
Pintu rumah kayu itu terbuka tepat saat muadzin mengakhiri panggilannya. Aisha keluar lebih dulu, mengenakan mukena putih yang bersih, hendak meletakkan sepasang sandal untuk ayahnya. Ia tertegun melihat sosok pria yang berdiri mematung di balik pagar.
"Anda benar-benar datang," bisik Aisha.
Adrian mengangguk pelan. "Aku bilang aku tidak akan terlambat."
Tak lama kemudian, Fikri mendorong kursi roda Zulkifli keluar. Pria tua itu telah mengenakan baju takwa dan sarung, siap menuju masjid. Saat melihat Adrian, gerakan kursi roda itu berhenti. Mata Zulkifli yang tajam, meski dilingkupi garis-garis kelelahan usia, menatap Adrian dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Masuklah," ujar Zulkifli singkat. Suaranya berat, tanpa nada amarah namun penuh kewibawaan yang menekan.
Mereka tidak menuju masjid dulu. Zulkifli memberi isyarat agar Adrian duduk di kursi rotan teras. Aisha berdiri di ambang pintu, sementara Fikri berdiri di samping ayahnya. Suasana begitu hening, hanya suara jangkrik yang mulai memudar dan sayup-sayup pujian sebelum iqamah dari masjid terdekat.
"Apa yang kau cari di rumah ini, putra Bramantyo?" tanya Zulkifli. "Hartaku sudah kembali. Namaku sudah pulih melalui berita pagi ini. Apa lagi yang ingin kau rampas?"
Adrian menarik napas panjang, lalu ia bangkit dari kursinya. Di depan mata Aisha yang membelalak, Adrian perlahan turun dari teras dan bersimpuh di atas tanah, tepat di depan kursi roda Zulkifli. Tanah itu masih lembap sisa hujan semalam, mengotori kemeja putihnya, namun Adrian tidak peduli.
"Saya tidak datang untuk merampas, Pak Zulkifli," suara Adrian bergetar, namun tegas. "Saya datang untuk menyerahkan satu hal yang selama ini saya genggam terlalu erat: Kesombongan saya."
Adrian meletakkan map di pangkuan Zulkifli. "Ini adalah pengakuan dosa tertulis atas nama Aratama Group. Namun, di atas kertas itu, ada sesuatu yang lebih penting. Saya berdiri di sini bukan lagi sebagai CEO, melainkan sebagai seorang anak yang menanggung malu atas perbuatan ayahnya, dan seorang pria yang ingin memohon ampun agar bisa melangkah ke masa depan tanpa beban masa lalu."
Zulkifli menatap map itu, lalu menatap kepala Adrian yang tertunduk. "Kau tahu, Adrian... selama dua puluh tahun, aku membayangkan saat-saat seperti ini. Aku membayangkan melihat seorang Aratama hancur di kakiku. Tapi sekarang, saat hal itu terjadi, hatiku tidak merasa menang. Justru aku merasa sedih melihat seorang pemuda berbakat sepertimu harus menanggung debu yang ditinggalkan orang tuamu."
"Pak Zulkifli," Adrian mendongak, matanya berkaca-kaca. "Ayah saya mungkin telah mengambil rumah Bapak, tapi saya tidak ingin kehilangan arah hidup saya. Aisha telah menunjukkan kepada saya bahwa ada bangunan yang lebih abadi daripada beton pencakar langit, yaitu bangunan karakter. Saya ingin belajar membangun itu di sini."
Aisha yang menyaksikan itu merasakan dadanya sesak. Ia melihat pemandangan yang mustahil: seorang pria yang lahir di puncak piramida sosial, kini bersimpuh di tanah demi sebuah kata maaf yang tulus.
Zulkifli terdiam lama, memutar tasbih di tangannya. "Memaafkan adalah urusan hati, dan hati hanya milik Allah. Tapi, aku melihat kejujuran di matamu. Kejujuran yang tidak pernah dimiliki ayahmu."
Zulkifli memberikan isyarat pada Fikri untuk menggerakkan kursi rodanya mendekat. Ia meletakkan tangannya yang gemetar di atas pundak Adrian.
"Bangunlah. Jangan bersujud pada manusia. Simpan sujudmu untuk Dia yang membolak-balikkan hati kita," ucap Zulkifli lembut. "Aku memaafkan ayahmu, bukan karena dia pantas dimaafkan, tapi karena aku ingin hatiku tenang sebelum aku kembali kepada-Nya. Dan untukmu... aku memaafkanmu karena kau telah berani memilih jalan yang sulit."
Adrian berdiri dengan perlahan, mengusap lututnya yang kotor oleh tanah. Beban berton-ton yang selama ini menghimpit pundaknya seolah menguap begitu saja. Ia merasa ringan, seolah baru saja dilahirkan kembali.
"Namun, ingat satu hal, Adrian," Zulkifli melanjutkan, matanya melirik ke arah Aisha yang masih mematung. "Memaafkan kesalahan masa lalu adalah satu hal. Memberikan restu untuk masa depan adalah hal yang berbeda. Untuk mendapatkan restuku, kau tidak bisa hanya mengandalkan air mata atau pengembalian harta. Kau harus membuktikan bahwa kau bisa menjadi imam yang baik bagi putriku. Dan itu... perjalanannya masih sangat jauh."
Adrian menatap Aisha, lalu kembali ke Zulkifli. "Saya siap menempuh perjalanan itu, sejauh apa pun, selama Bapak mengizinkan saya untuk mencoba."
Iqamah berkumandang. Fikri mulai mendorong kursi roda ayahnya menuju masjid. Adrian hendak mengikuti, namun Aisha memanggilnya pelan.
"Adrian," panggil Aisha.
Adrian berhenti dan berbalik. Di bawah cahaya fajar yang mulai menyemburat, Aisha tampak seperti malaikat dengan mukena putihnya.
"Terima kasih," ucap Aisha tulus. "Anda telah melakukan sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Anda telah membebaskan Ayah saya dari penjara kebenciannya."
"Dan apakah aku juga sudah membebaskanmu, Aisha?" tanya Adrian penuh harap.
Aisha tersenyum di balik kain mukenanya yang menutupi separuh wajah. "Anda baru saja membuka pintunya, Adrian. Tapi untuk melangkah keluar bersama, kita masih harus melihat... apakah Anda sanggup menjalani hidup tanpa kilau Aratama di belakang Anda?"
Adrian tersenyum mantap. "Aratama adalah namaku, Aisha. Tapi mulai hari ini, arti dari nama itu akan aku tulis ulang. Bukan dengan tinta emas, tapi dengan amal nyata."
Adrian kemudian menyusul Fikri dan Zulkifli menuju masjid. Ia masuk ke barisan sholat, berdiri di antara orang-orang biasa, buruh pabrik, dan pensiunan. Saat imam memulai takbiratul ihram, Adrian mengikuti dengan khusyuk.
Untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan harga saham. Ia tidak memikirkan persaingan bisnis. Ia hanya merasakan ketenangan yang luar biasa saat dahinya menyentuh sajadah yang harum debu sujud. Di sana, di masjid kecil itu, Adrian Aratama menyadari bahwa menara paling tinggi yang pernah ia bangun bukanlah Green Oasis, melainkan jembatan permohonan maaf yang baru saja ia selesaikan.
Matahari mulai terbit, menyinari gang sempit itu dengan warna keemasan. Adrian keluar dari masjid dengan hati yang lapang. Ia melihat Aisha masih menunggu di depan pagar, membawa nampan berisi kopi dan singkong rebus.
"Selamat datang di duniaku yang sederhana, Adrian," sapa Aisha.
Adrian mengambil sepotong singkong, merasakannya dengan penuh syukur. "Dunia ini jauh lebih mewah daripada apa pun yang pernah aku miliki di atas sana, Aisha. Karena di sini, aku tidak perlu memakai topeng untuk dihargai."