Lu Mingyu adalah seorang gadis muda yang bergabung di kelompok dunia bawah, tugasnya sebagai mata mata di kelompoknya, Mingyu sudah terbiasa mendapat luka tembak ataupun benda tajam di tubuhnya, bagi Mingyu itu adalah simbol dari sosoknya yang pemberani dan tidak takut pada apapun, selain itu Mingyu juga memiliki sifat yang babar dan juga suka ceplas ceplos saat berbicara, menurut Mingyu yang paling menakutkan bukanlah musuh yang ingin membunuhnya, melainkan jika tidak punya uang, karna Mingyu gadis yang sangat matrealistis.
Dan suatu hari Mingyu tidak pernah terpikirkan kalau dirinya akan masuk ke jebakan lawan, mobil Mingyu berhasil di sabotase, yang menyebabkan remnya blong dan menabrak pembatas jalan hingga meledak, dan api besar itu melalalap habis tubuh Mingyu yang terkunci di dalam mobil.
Dan saat membuka matanya Mingyu berfikir kalau dia sudah berpindah ke alam baka, karna melihat bangunan sekelilingnya di penuhi dengan warna kuning keemasan, di tambah saat dia melihat tam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Di kamarnya Mingyu mengobati sendiri tangannya yang melepuh karna tersiram sup panas tadi, karna sudah dua hari yang lalu Xiao Fei kembali ke kampung halamannya, setelah mendapat kabar jika ibunya jatuh sakit.
Tidak expresi apapun di wajah Mingyu, dia sama sekali tidak meringis saat mengoleskan salep di tangannya yang melepuh, seakan akan dia sudah terbiasa mengalami hal itu, tapi memang seperti itulah jiwa Mingyu yang sekarang, di kehidupannya dulu jangkan hanya tersiram sup panas, bahkan Mingyu pernah beberapa kali menggunakan tangannya untuk menahan pisau dari musuhnya, dan beberapa bagian tubuh yang lain juga pernah menjadi sarang peluru dari lawan.
Usai mengoleskan salep di tangannya, Mingyu terdiam menatap cermin di depannya, kini dia tahu kenapa Jendral Rong menganggap pernikahan hanya sebagai formalitas saja, karna wanita yang dia nikahi bukan tujuan hidupnya, mungkin pandangan Jendral Rong tentang pernikahan akan berubah jika yang dia nikahi Gu Nian.
Tok
Tok
Tok
''Nona''
Mingyu perlahan beranjak berdiri lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Krek
''Ada apa Paman Han?'' tanya Mingyu.
''Di depan ada perdana mentri Lu, beliau mencari anda''
''Ayah''
Tanpa menunggu lama Mingyu langsung bergegas ke depan untuk menemui sang Ayah.
Dari jauh Mingyu melihat Ayahnya berdiri membelakanginya di teras kediaman, lalu dia semakin mempercepat langkahnya.
''Ayah''
Tuan Lu membalikkan badannya, dan tersenyum menatap putri semata wayangnya yang berjalan ke arahnya, namun perlahan senyumnya memudar saat melihat tangan putrinya yang melepuh.
''Mingyu, tangan kamu kenapa?'' tanya Tuan Lu dengan expresi hawatir.
Mingyu melihat tangannya yang melepuh lalu tersenyum.
''Tidak apa apa Ayah, tadi saat sarapan Mingyu tidak sengaja menyenggol mangkuk sup'' ucapnya berbohong.
Tuan Lu menghela nafasnya. ''Lain kali hati hati, jangan sampai kejadian ini terulang lagi ya''
Mingyu menganggukkan kepalanya, perlahan hatinya menghangat, saat merasakan perhatian dari sosok seorang Ayah yang belum pernah ia rasakan sama sekali di kehidupan pertamanya.
''Ayah ada perlu apa mencari Mingyu?'' tanya Mingyu.
Seketika Tuan Lu tersadar, melihat tangan putrinya yang terluka membuatnya hampir lupa dengan tujuan kedatangannya.
''Oh ya, ini ada undangan dari sepupumu'' ucap Tuan Lu sembari mengeluarkan kertas undangan dari balik bajunya, dan ia berikan pada Mingyu.
''Undangan apa Ayah?''
''Lusa, sepupumu akan menikah, keluarganya berharap kamu dan Pangeran Rong bisa hadir'' jawab Tuan Lu.
''Kenapa dia tidak langsung ke seini memberikan undangannya?, kenapa harus nyuruh Ayah?'' tanya Mingyu.
''Katanya mereka agak takut kalau ketemu Pangeran Rong'' tukas Tuan Lu sembari di iringi kekehan kecil.
''Sudahlah, kalau begitu Ayah kembali dulu, pekerjaan Ayah masih banyak'' pamit Tuan Lu sembari mengusap surai hitam putrinya.
''Em, Ayah hati hati''
Setelah Tuan Lu beranjak pergi dan menghilang di balik gerbang, Mingyu segera masuk kembali ke dalam.
Saat waktu makan malam tiba, Mingyu celingak celinguk mencari keberadaan Jendral Rong yang tak kunjung muncul di ruang makan, biasanya pria sialan itu yang menunggunya di ruang makan pikirnya.
''Nona, anda mencari Pangeran?'' tanya Paman Han sembari menuangkan air putih ke dalam gelas yang terbuat dari porselin.
''Hem, dimana dia?''
''Pangeran masih di ruang belajar, sepertinya malam ini Pangeran tidak makan malam di sini'' ujar Paman Han.
''Kenapa?, apa dia masih marah, jadi tidak mau bertemu denganku?'' sahut Mingyu, lalu meneguk air putih.
''Saya kurang tahu Nona'' tukas Paman Han.
Mingyu tidak bicara lagi, dia mulai menyantap makan malamnya karna sudah sangat lapar, dia juga tidak perduli kalau Jendral Rong masih marah dan tidak mau bertemu dengannya, menurutnya dirinya tidak salah, liontin giok itu bisa jatuh dan hancur juga karna Jendral Rong yang tidak sabaran merebutnya darinya.
Usai makan malam Mingyu berdiri di depan ruang belajar Jendral Rong, sembari membawa secangkir teh herbal buatannya, lalu dia mengetuk daun pintu di depannya.
Tok
Tok
Tok
''Masuk!!''
Mendengar sahutan dari dalam Mingyu perlahan mendorong pintu di depannya, lalu masuk ke dalam dan menutupnya kembali.
Mingyu melihat Jendral Rong duduk di kursi belajarnya, sedang menempel kembali pecahan liontin giok yang mungkin sudah tak bisa kembali seperti semula.
"Sepertinya pria sialan ini memang sangat mencintai Gu Nian" batin Mingyu.
''Untuk apa kamu ke sini?'' cetus Jendral Rong tanpa menoleh sedikitpun.
Mingyu sama sekali tidak marah meskipun Jendral Rong bersikap ketus padanya, Mingyu sadar kalau memang dirinya yang mencari masalah duluan.
''Saya buatkan teh herbal untuk Pangeran'' ucap Mingyu sembari meletakkan secangkir teh yang di bawanya di atas meja.
Jendral Rong melirik sekilas teh buatan Mingyu di depannya, namun pandangannya jatuh pada tangan Mingyu yang melepuh, Jendral Rong ingin bertanya tapi di urungkannya, karna dia masih marah pada Mingyu, sekaligus dia ingin memberi pelajaran pada Mingyu dengan cara mendiamkannya, agar Mingyu tidak lagi bertingkah seenaknya pada orang lain.
Sebenarnya Mingyu ingin memberitahu perihal undangan pernikahan sepupunya pada Jendral Rong, tapi melihat Jendral Rong diam saja, Mingyu memilih berpamitan untuk kembali ke kamar, dia akan mengatakannya saat acara hampir tiba saja pikirnya.
Saat Mingyu sudah keluar dan menutup pintunya, Jendral Rong buru buru mencicipi teh herbal buatan Mingyu.
''Lumayan'' gumamnya.
Tok
Tok
Tok
''Pangeran''
Mendengar suara Paman Han di luar, Jendral Rong kembali menutup cangkir teh buatan Mingyu, lalu dia kembali memasang expresi serius.
''Masuk!!'' serunya.
Ceklek
Paman Han masuk sembari membawa nampan berisikan makan malam untuk Tuannya, lalu ia letakkan di atas meja.
''Pangeran, silahkan'' ucap Paman Han dengan sopan.
''Hem'' sahut Jendral Rong.
''Paman, apa Paman tahu kenapa tangan Mingyu melepuh?, barusan dia kesini mengantarkan teh herbal, aku lihat tangannya melepuh?'' tanya Jendral Rong.
Paman Han terdiam sejenak, lalu bertanya. ''Pangeran, apa anda tidak ingat?''
''Maksud Paman?'' Jendral Rong balik bertanya.
''Tadi pagi saat Nona Lu ingin minta maaf, anda malah mendorongnya, akibatnya Nona Lu terhuyung lalu tidak sengaja menyenggol mangkuk sup yang masih panas, dan supnya tumpah ke tangan Nona Lu'' papar Paman Han.
Jendral Rong seketika mematung di tempatnya, jadi dirinya yang menyebabkan tangan Mingyu terluka, tiba tiba rasa bersalah memenuhi dadanya.
''Apa Xiao Fei sudah mengobati tangannya?'' tanya Jendral Rong, terlihat jelas kehawatiran di wajah Jendral Rong, membuat Paman Han menggelengkan kepalanya.
''Nona Lu mengobati sendiri lukanya, karna Xiao Fei sedang pulang sejak dua hari lalu'' sahut Paman Han.
Larut malam Jendral Rong diam diam masuk ke kamar Mingyu, karna tidak di kunci jadi Jendral Rong bisa masuk dengan mudah.
Jendral Rong dengan langkah yang sangat pelan, berjalan ke arah rajang, lalu dia berdiri di sana menatap Mingyu yang sudah terlelap dengan sangat nyenyak. Lalu Jendral Rong berjongkok memposisikan dirinya agar sejajar dengan Mingyu, perlahan dia mengusap tangan Mingyu yang melepuh dengan sangat lembut dan menciumnya.
''Maaf''
Gumamnya lirih, tadi pagi karna terlalu terbawa emosi, sampai tidak sadar kalau sudah melukai Mingyu.