NovelToon NovelToon
Owned By The Cold CEO

Owned By The Cold CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jee Jee

"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."

Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.

Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

...

Fajar di Hallstatt pagi itu terasa sangat berbeda. Salju yang semalam turun dengan buas menutupi lereng bukit kini telah berhenti, menyisakan hamparan putih murni yang menutupi jejak-jejak kekacauan di halaman vila. Sinar matahari mulai menyembul pelan dari balik pegunungan Dachstein, memantulkan cahaya perak pada permukaan danau yang tenang, seolah-olah alam sedang berusaha membersihkan diri dari sisa-sisa kegelapan semalam.

Di dalam vila, suasana jauh lebih sunyi. Aroma antiseptik bercampur dengan bau kayu pinus dari perapian yang masih menyala redup di ruang tengah. Liam Jionel duduk di sofa besar, membiarkan Aris mengobati luka tembak di bahu kirinya. Liam tidak mengenakan atasan, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang kokoh namun kini dihiasi bercak darah dan memar. Ia tidak meringis sedikit pun saat cairan pembersih luka menyentuh kulitnya; matanya tetap terpaku pada pintu kamar di lantai atas, tempat Kalea dan Leo berada.

"Lukanya tidak menembus tulang, Tuan, tapi Anda kehilangan cukup banyak darah. Saya sarankan Anda beristirahat total selama empat puluh delapan jam ke depan," ucap Aris sambil membalut bahu Liam dengan perban bersih.

Liam hanya mengangguk singkat, suaranya parau. "Pastikan Clarissa sudah berada di bawah pengawasan otoritas tertinggi di Wina. Gunakan semua koneksi diplomatik kita. Aku tidak ingin dia melihat cahaya matahari lagi seumur hidupnya."

"Sudah dilakukan, Tuan. Pengacara kita juga sedang mengurus dokumen deportasi bagi sisa pengikutnya. Area Hallstatt sekarang sudah steril," jawab Aris sebelum merapikan peralatan medisnya dan mengundurkan diri dengan hormat.

Hening kembali merayap. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka dari lantai atas. Kalea turun perlahan, langkah kakinya terdengar ringan di atas tangga kayu. Ia mengenakan sweater rajut longgar berwarna krem, wajahnya pucat dan matanya sembab, namun ada ketegasan yang baru di sana. Ia berjalan menuju dapur, menuangkan segelas air hangat dan beberapa tetes madu, lalu membawanya ke hadapan Liam.

Liam menerima gelas itu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Terima kasih," bisiknya.

Kalea duduk di kursi tunggal di depan Liam, menatap perban di bahu pria itu. "Tiga tahun aku berlari, Liam. Aku pindah dari London ke Krakow, lalu berakhir di desa kecil ini. Aku mengganti namaku, aku menghapus identitasku, aku bahkan membuang semua barang yang bisa mengingatkanku padamu. Aku pikir aku sudah berhasil."

Kalea menarik napas panjang, suaranya bergetar karena emosi yang meluap. "Tapi semalam... saat aku melihatmu berdiri di depan pintu ruang aman itu, berlumuran darah hanya untuk memastikan Clarissa tidak menyentuh Leo... aku sadar bahwa pelarianku sia-sia. Bukan karena kau terlalu kuat, tapi karena takdir seolah-olah ingin menertawakanku."

Liam meletakkan gelasnya di meja. Ia menatap Kalea dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan yang tidak lagi mengandung obsesi gila, melainkan penyesalan yang tulus. "Aku tahu aku adalah monster dalam ceritamu, Kalea. Aku tahu aku adalah orang yang membeli malammu seharga satu miliar dan menghancurkan harga dirimu. Aku membawa kutukan Jionel ke hidupmu yang tenang."

Liam mencondongkan tubuhnya ke depan, mengabaikan rasa perih di bahunya. "Tapi ketahuilah satu hal. Penjara mengubahku. Bukan karena hukumannya, tapi karena setiap detik di sana aku dihantui oleh bayanganmu yang menangis saat melempar cincin berdarah itu. Aku melepaskanmu ke London karena aku ingin kau bahagia. Tapi saat aku tahu kau hamil... aku tidak bisa membiarkan anakku tumbuh tanpa perlindungan dari musuh-musuhku."

"Dia bukan anakmu, Liam. Dia adalah anakku," potong Kalea cepat.

"Dia memiliki matamu, tapi dia memiliki keras kepalaku," Liam tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh duka. "Dia adalah perpaduan dari kita berdua, Kalea. Dan semalam membuktikan bahwa seberapa jauh pun kau lari, musuh-musuh Jionel akan selalu mencium aroma darahnya. Aku di sini bukan untuk mengurungmu lagi. Aku di sini untuk menjadi perisai bagi kalian berdua."

Satu minggu berlalu sejak malam mencekam itu. Liam tidak memaksa Kalea untuk pindah ke Jakarta. Sebaliknya, ia benar-benar menetap di Hallstatt. Ia menyewa sebuah kantor kecil di Salzburg untuk mengurus bisnis globalnya lewat jarak jauh, sementara setiap harinya ia habiskan di rumah kayu Kalea.

Pagi itu, di toko bunga "Lili’s Garden", suasana tampak kembali normal. Kalea sedang merangkai bunga mawar putih pesanan pelanggan saat ia melihat sebuah pemandangan yang dulunya mustahil. Liam sedang duduk di teras depan, memangku Leo sambil membacakan buku tentang tata surya dalam bahasa Jerman.

"Papa, kenapa planet Saturnus punya cincin?" tanya Leo polos.

Liam tertegun mendengar panggilan "Papa". Ia menoleh sejenak ke arah Kalea yang juga sedang terpaku di ambang pintu toko. Liam menelan ludah, emosinya membuncah. Ia mengusap rambut Leo dengan sangat lembut. "Karena dia ingin melindungi intinya, Leo. Cincin itu adalah pelindung, sama seperti rumah ini yang melindungi kita."

Leo mengangguk-angguk cerdas. "Berarti Papa adalah cincinnya Mama dan Leo?"

Liam tersenyum, kali ini senyumannya benar-benar mencapai matanya. "Iya, Sayang. Papa akan menjadi cincin terkuat buat kalian."

Kalea memalingkan wajah, menyembunyikan air mata yang mulai jatuh. Ia benci betapa mudahnya Leo menerima Liam, tapi ia juga tidak bisa memungkiri bahwa kehadiran Liam membawa warna baru dalam hidup putranya. Leo kini lebih ceria, lebih percaya diri, dan seolah memiliki pahlawan nyata dalam hidupnya.

Malam harinya, setelah Leo terlelap di pelukan tidurnya, Liam dan Kalea berdiri di dermaga kayu depan rumah. Angin malam bertiup sejuk, membawa aroma pinus yang segar. Liam meraba saku mantelnya, mengeluarkan kotak beludru kecil yang berisi cincin lili putih—bukan berlian satu miliar yang angkuh, melainkan perak murni yang melambangkan ketulusan.

"Aku tidak memintamu memakainya malam ini, Kalea," ucap Liam sambil meletakkan kotak itu di telapak tangan Kalea. "Aku juga tidak memintamu memaafkan masa lalu di Jakarta. Aku hanya memintamu memberiku satu kesempatan. Bukan sebagai tuanmu, bukan sebagai pembelimu, tapi sebagai pria yang ingin menua bersamamu di tepi danau ini."

Kalea menatap cincin itu. Cahaya bulan terpantul di permukaannya. "Jika aku menerimamu, itu bukan karena uangmu, Liam. Dan bukan karena aku sudah melupakan luka itu."

"Aku tahu," jawab Liam tulus.

"Aku menerimamu karena Leo butuh ayahnya. Dan mungkin... karena aku lelah berlari sendirian," Kalea menatap mata Liam. "Tapi satu kali saja kau berbohong padaku, atau satu kali saja kau mencoba mengontrol hidupku seperti dulu, aku akan menghilang ke tempat yang bahkan Tuhan pun tidak bisa menemukanku."

Liam menarik Kalea ke dalam pelukannya. Kali ini, Kalea tidak meronta. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Liam, mendengarkan detak jantung pria itu yang stabil. Ia merasa aman. Di tempat ini, di antara pegunungan Alpen yang kokoh, Kalea merasa ia bukan lagi barang dagangan.

"Aku janji, Kalea. Hidupku adalah milikmu sekarang," bisik Liam.

Di kejauhan, lampu-lampu desa Hallstatt mulai padam satu per satu, menyisakan kesunyian yang damai. Kontrak satu miliar itu kini benar-benar telah hangus, menjadi abu yang diterbangkan angin gunung. Yang tersisa hanyalah dua manusia yang hancur, mencoba menyusun kembali kepingan hidup mereka di atas pondasi cinta yang baru tumbuh dari sisa-sisa dendam.

"Satu miliar untuk satu malam," gumam Kalea di dalam dekapan Liam.

"Dan selamanya untuk menebusnya," jawab Liam sambil mencium kening Kalea.

Kisah mereka bermula dari sebuah kamar hotel yang dingin di Jakarta, namun berakhir di sebuah pelukan hangat di tepi danau Austria. Kehormatan yang dulu terjual, kini telah kembali dalam bentuk harga diri seorang ibu dan cinta seorang ayah. Dan di bawah langit Hallstatt yang luas, mereka tahu bahwa perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
lia juliati
semoga hatinya selalu hangat oleh kalea
arilias
thor kpn cerita nya di lanjut?
arilias
masyaalloh cerita nya bagus bgt. awal awal bikin aku gregetan. dan sekarang cerita nya bikin aku penasaran sama bab selanjutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!