NovelToon NovelToon
STREET FIGHTER

STREET FIGHTER

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang pria yang jago berkelahi dan memulai petualangannya di sebuah kota dan bertemu cinta sejati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 3

Kehidupan baru Andi tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Meski "Cobra" telah dinyatakan tewas secara resmi dalam catatan kepolisian Komisaris Wijaya, bayang-bayang masa lalu tetap mengintai di sudut-sudut gelap Jakarta.

Tiga bulan setelah insiden pelabuhan, Andi kini mengelola sebuah bengkel kecil di samping sekolah marjinal. Tangannya yang dulu mematahkan leher lawan, kini terampil memperbaiki mesin motor warga dan mengajarkan anak-anak jalanan cara mengganti oli.

Suatu sore yang tenang, sebuah mobil sedan mewah berwarna perak berhenti di depan bengkelnya. Seorang wanita anggun dengan kacamata hitam turun. Ia bukan anggota geng, bukan pula polisi.

"Andi 'Cobra' Sulistyo," ucap wanita itu sambil melepas kacamatanya. Matanya tajam, penuh wibawa. "Atau haruskah aku memanggilmu Pak Guru sekarang?"

Andi menghentikan pekerjaannya, mengelap tangannya yang berlumuran oli dengan kain kumal. "Siapa Anda?"

"Namaku Ratih. Aku adalah pengacara dari yayasan yang mendanai sekolah ini selama sepuluh tahun terakhir," jawabnya. "Dan aku di sini bukan untuk merusak kedamaianmu. Aku di sini karena seseorang mengirimkan ini untukmu."

Ratih menyerahkan sebuah map cokelat tebal. Di dalamnya terdapat sertifikat kepemilikan tanah atas nama Andin—tanah sekolah marjinal tersebut dan seluruh blok di sekitarnya.

"Seseorang telah melunasi semua sengketa tanah ini. Tanpa nama pengirim, hanya sebuah pesan: 'Hutang nyawa sudah lunas.'"

Andi tertegun. Ia teringat pada Bara. Sebelum diserahkan ke polisi, Bara pernah berbisik bahwa ia telah menyembunyikan "dana darurat" The Venom di sebuah rekening rahasia. Tampaknya, dari balik jeruji besi, Bara memilih untuk memberikan penghormatan terakhir pada mantan bosnya dengan cara yang paling tidak terduga: mengamankan masa depan Andin.

Ancaman yang Tersisa

Namun, di saat Andi merasa semua beban telah terangkat, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel lamanya yang ia simpan di laci bengkel. Ponsel yang seharusnya sudah mati itu bergetar.

“Cobra tidak mati di air. Ia hanya berganti kulit. Sampai jumpa di Singapura.”

Andi meremas ponsel itu. Ia tahu The Anchor belum sepenuhnya hancur. Sindikat internasional itu seperti hidra; potong satu kepala, tumbuh dua lainnya. Mereka tahu ia masih hidup.

Andi menoleh ke arah kelas. Di sana, Andin sedang tertawa sambil membantu seorang murid membaca. Sinar matahari sore menerpa wajahnya, membuatnya tampak seperti malaikat di tengah kerasnya Jakarta Utara.

Andi menyadari satu hal: Kedamaian bukanlah ketiadaan konflik, melainkan keberanian untuk menjaganya.

Ia tidak akan lari ke Singapura. Ia tidak akan kembali menjadi Cobra. Tapi, ia akan menjadi "penjaga gerbang" yang tak terlihat. Malam itu, Andi tidak pergi ke ring tinju bawah tanah. Ia duduk di atap sekolah, menatap pelabuhan dari kejauhan dengan teropong.

Ia tahu mereka akan datang suatu saat nanti. Namun kali ini, Andi tidak akan bertarung sendirian. Ia telah membangun komunitas, ia memiliki kepercayaan polisi, dan yang terpenting, ia memiliki alasan untuk tetap hidup.

Penutup: Warisan Sang Cobra

Tahun-tahun berlalu. Sekolah marjinal itu berkembang menjadi sekolah teknik yang disegani. Andi tetap menjadi pria pendiam yang memperbaiki mesin, sementara Andin menjadi kepala sekolah yang dicintai.

Anak-anak di sana tidak tahu bahwa pria yang mengajari mereka cara mengelas adalah legenda mafia terbesar di Jakarta. Mereka hanya mengenalnya sebagai "Pak Andi", pria yang selalu memastikan tidak ada preman yang berani mendekati area sekolah mereka.

Di dunia bawah tanah, nama Cobra menjadi mitos. Sebuah peringatan bagi siapa pun yang ingin mengusik jalur logistik utara: Jangan sentuh wilayah itu, atau kau akan berhadapan dengan hantu yang tidak pernah meleset.

Andi telah menemukan bentuk "tanah liat"-nya sendiri. Ia tidak menghapus masa lalunya, tapi ia menjadikannya fondasi yang kokoh untuk melindungi masa depan orang-orang yang ia cintai.

Ternyata, "Tamat" hanyalah sebuah ilusi bagi pria seperti Andi. Dunia hitam memiliki cara kerja yang mirip dengan kanker; kau pikir kau sudah membedahnya sampai bersih, tapi sel-sel kecilnya masih mengalir di dalam darah, menunggu saat yang tepat untuk bangun kembali.

Ketukan di pintu bengkel malam itu bukan berasal dari tangan manusia. Melainkan sebuah drone kecil yang mendarat tepat di atas meja kerja Andi. Drone itu memproyeksikan sebuah hologram buram di dinding bengkel yang penuh noda oli.

"Cobra... kau pikir kau bisa membuang koin perak itu dan selesai begitu saja?" suara itu terdengar serak, terdistorsi oleh mesin.

Layar hologram menampilkan sebuah koordinat GPS dan sebuah video live feed: Andin sedang berjalan kaki pulang dari pasar, dan di belakangnya, sebuah van hitam membuntuti dengan perlahan.

"Jangan sentuh dia," desis Andi, urat-urat di lehernya menonjol. Amarah yang ia tekan selama berbulan-bulan meledak seketika.

"Kami tidak menginginkan nyawanya, Andi. Kami menginginkan 'The Archive'," ucap suara itu. "Bara tidak hanya menyimpan uang. Dia menyimpan daftar aset korup The Anchor di Asia Tenggara. Dan dia memberikan kunci enkripsinya padamu melalui sertifikat tanah itu."

Andi tertegun. Ia segera mengambil map cokelat dari Ratih tadi. Benar saja, di balik segel lilin sertifikat itu, terdapat mikrosemen tipis yang hampir tak kasat mata.

Perburuan Global Dimulai

Andi sadar, selama The Archive ada di tangannya, sekolah dan Andin akan selalu menjadi sasaran empuk. Ia tidak bisa lagi hanya menjadi "penjaga gerbang" yang pasif. Ia harus menyerang jantung pertahanan lawan.

Ia menelepon Komisaris Wijaya.

"Pak Kompol, ambil Andin. Bawa dia ke rumah aman (safe house) kepolisian. Jangan tanya kenapa, lakukan saja sekarang atau kau akan menemukan mayat di sektor empat besok pagi," ucap Andi tanpa basa-basi.

"Andi? Apa yang terjadi?"

"Ular itu sedang ganti kulit lagi, Pak. Dan kali ini, aku butuh tiket ke Singapura."

Pelarian dan Penyamaran

Dua belas jam kemudian, Andi berada di kapal feri menuju Batam, sebelum menyeberang ke Singapura dengan identitas palsu. Ia tidak membawa senjata. Ia membawa sesuatu yang lebih berbahaya: pengetahuan tentang semua titik lemah logistik The Anchor.

Di Singapura, ia tidak pergi ke hotel mewah. Ia menuju ke Geylang, daerah remang-remang di mana informasi dijual lebih murah daripada nyawa. Di sebuah bar bawah tanah, ia bertemu dengan kontak lamanya, seorang informan tunawisma bernama Lau.

"Cobra? Semua orang bilang kau sudah jadi santapan hiu di Priok," Lau tertawa, giginya yang kuning tampak kontras dengan lampu neon bar.

"Aku butuh lokasi Vektor. Orang yang mengendalikan drone di Jakarta kemarin," kata Andi sambil meletakkan segepok uang di meja.

Lau berhenti tertawa. "Vektor bukan orang sembarangan, Andi. Dia adalah 'hantu' digital The Anchor. Dia bersembunyi di sebuah server farm di kawasan industri Jurong. Keamanannya lebih ketat daripada penjara Changi."

Andi berdiri, mengenakan topi baseball-nya rendah-rendah. "Aku pernah menjebol pelabuhan yang dijaga satu batalyon. Jurong bukan masalah."

Sabotase di Jurong

Malam itu, Andi melakukan apa yang paling ia kuasai: infiltrasi. Tanpa jaket kulit hitamnya yang mencolok, ia tampak seperti buruh migran biasa. Ia memanjat pagar kawat berduri, menghindari sensor panas dengan menggunakan selimut darurat yang memantulkan radiasi tubuh.

Di dalam pusat data yang dingin dan bising oleh suara kipas komputer, ia menemukan Vektor—seorang pria kurus dengan belasan layar di depannya.

"Siapa kau—" Vektor belum sempat berteriak saat tangan Andi sudah mengunci tenggorokannya.

"Matikan semua umpan di Jakarta. Sekarang," perintah Andi dingin.

"Aku... aku hanya pesuruh! The Anchor punya bos besar di lantai atas!" gagap Vektor.

Tiba-tiba, lampu ruangan berubah menjadi merah. Alarm melengking. Dari intercom, suara yang sangat familiar terdengar. Suara yang seharusnya membusuk di penjara Jakarta.

"Selamat datang di rumah barumu, Bos."

Itu suara Bara.

Andi terbelalak. "Bara? Bagaimana mungkin...?"

"Uang bisa membeli kunci penjara, Andi. Dan The Anchor punya banyak sekali uang. Aku bukan lagi tangan kananmu. Aku adalah pemegang kendali baru di sini. Dan kau... kau hanyalah umpan agar aku bisa mendapatkan The Archive secara lengkap."

Pintu baja ruangan itu tertutup otomatis. Gas saraf mulai menyembur dari ventilasi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!