“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”
Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.
Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.
Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu 8
“Memangnya Nadya kaya apa, Bu?” Bu Harmi yang sedari tadi memperhatikan turut menyahut.
Wanita yang jarang berkata keras itu sampai beranjak dari mesin jahitnya lantaran geram dengan tuduhan yang dilayangkan Bu Sar kepada Nadya.
“Tau apa Bu Sar tentang Nadya, kok menuduhnya seperti mengenal Nadya luar dalam saja.” imbuh Bu Harmi sambil menatap sinis ke arah Bu Sar.
Mendapat perlawanan dari dua pihak nyali Bu Sar sedikit menciut, tatapannya blingsatan, namun nada bicaranya masih dibuat tajam.
“Jadi, Bu Harmi juga sudah ke makan rayuannya si Nadya? Bu Harmi, harusnya Ibu itu bisa mikir, mana ada perempuan baik-baik, rela nyusuin bayi yang bukan anaknya, statusnya masih gadis pula. Kalo nggak biasa di umbar, apa ya mungkin?” tuduh Bu Sar semakin menjadi-jadi.
“Astagfirullah'hal'adzim, Sampean sudah keterlaluan, Bu. Nadya menerima tawaran Rizal karena tidak tega melihat Adam yang sudah membiru di inkubator, dan kalau tidak cepat ketemu Nadya, mungkin Adam akan menyusul Sukma. Apa ibu sudah lupa saat dokter menjelaskan kondisi Adam waktu di RS?” balas Bu Harmi sambil mengelus dadanya.
“Alahh, itu cuma akal-akalan si Nadya aja. Aslinya dia juga ngincer Rizal. Lagipula, sedari awal dokter bilang Dewi bisa, kenapa pula Rizal harus repot cari orang lain yang nggak jelas asal-usulnya,” sungut Bu Sar.
“Mamah, udahlah, mau sampai kapan sih ngeributin masalah ini!” sahut Rizal, lelah.
“Sampai kamu sadar kalo Nadya itu nggak baik buat Adam. Kita mana tau sudah bekas siapa aja teteknya si Nadya itu. Kamu kok bisa milih dia buat netekin anak kamu. Kalau Adam sampai ketularan penyakit ber—”
Byurrr!
Belum sempat Bu Sar menyelesaikan ucapannya, Nadya muncul dengan satu bak air bekas mandi Adam dan langsung menyiramkan ke wajah wanita paruh baya itu.
Sontak, mata Bu Sar mendelik tajam, tangannya mengepal di samping badan.
“Ka—”
“Apa!” sergah Nadya. “Kamu pikir saya nggak berani mentang-mentang ada Bang Rizal di rumah! Seenaknya ngatain orang. Pikir. Kamu juga punya anak gadis, belum tentu anak gadismu itu kelakuannya lebih baik dari saya!” hardik Nadya.
“Kamu benar-benar kurang ajar, ya—”
“Mah, Sudah! Malu di lihat warga.” Rizal dengan napas yang tersengal menyergah sambil menahan pundak Bu Sar yang berniat menyerang Nadya. “Kamu masuk, Nad,” titahnya kemudian pada gadis yang masih diliputi amarah itu.
“Sebentar,” sahut Nadya. Ia kemudian menatap tajam ke arah Bu Sar, “dengar, ya, sekali lagi saya denger kamu ngomong macam-macam tentang saya, bukan cuma air bekas mandi Adam yang bakal saya guyur, tapi air comberan, biar sama busuknya dengan mulut kamu!” imbuhnya lalu berjalan dengan santai masuk ke dalam rumah.
Baik Bu Sar maupun Rizal masih terperangah di tempatnya. Ada raut tidak percaya di wajah mereka melihat keberanian Nadya.
Sementara itu di seberang, beberapa ibu-ibu yang sedang berkumpul di mobil sayur, menonton sambil berkasak-kusuk. Sesekali mereka tertawa bersama saat melihat raut murka Bu Sartini.
“Akhirnya ada juga yang berani ngelawan nenek sihir itu,” celetuk tetangga depan rumah Rizal—Bu Farida namanya.
“Betul, biar tau rasa itu orang, dipikir selama ini orang diem karena takut? Cih, kalo nggak mikir Sukma istrinya Rizal, sudah dari dulu mulut itu di sambit orang,” sahut Zaenap, yang tinggal di samping rumah Bu Farida.
“Masih ingat betul gimana dia ngefitnah Hasna, biar Rizal mau sama Sukma, eh ... Allah lebih adil, Sukma nggak panjang umurnya. Sekarang kebingungan sendiri dia nawarin si Dewi biar nggak lepas ATM hidupnya,” Timpal Yuli—seorang ibu muda yang masih seusia Rizal.
“Ya gimana, kalo sampe hubungan dia sama keluarga Bu Harmi putus, mampus dia nggak bisa begaya. lha selama ini yang biayain hidupnya ama si Dewi Bang Rizal,” imbuh Bu Farida yang sering keppo tiap Bu Sar datang bertamu ke rumah Bu Harmi.
Tawa mereka pun pecah bersamaan.
Mendengar dirinya menjadi gunjingan, Bu Sartini kembali meradang. Dengan tatapan nyalang ia menegur ibu-ibu itu.
“Heh tukang gosip, diem kalian!” pekiknya sambil berkacak pinggang.
Rizal yang tidak mau keributan itu semakin panjang, kembali menahan badan Bu Sar. “Mah, sudah, mah. Mending mamah pulang sekarang.” ucapnya dengan suara penuh penekanan.
Bu Sartini seketika menoleh ke arah Rizal, wajahnya merah. “Kamu ngusir mamah. Kok kamu tega sekali sama mamah, Zal?!”
Rizal menyurai rambutnya kasar sambil menghela napas berat. “Bukan ngusir, Mah. Tapi, baju mamah basah kuyup begitu, nanti bisa masuk angin.”
“Alah, alasan kamu aja itu, bilang aja kamu ngusir mamah!” hardik Bu Sartini tidak terima.
“Iya kami memang ngusir sampean, bisa darah tinggi saya lama-lama kalau begini caranya. Besok lagi kalau Bu Sar datang cuma mau bikin keributan mending nggak usah datang, saya pusing rumah saya di jadikan tempat ribut setiap hari,” sela Bu Harmi seraya menarik Rizal masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu dengan kencang.
Brak!
“Dasar tidak tau terimakasih. Ini balasan kalian sama saya setelah apa yang dikorbankan anak saya untuk kalian! Rizal buka pintunya!” teriak wanita itu, namun tidak ada respon dari dalam hingga ia memilih pergi diiringi tatapan mencemooh dari para tetangga.
Di dalam rumah, Rizal menghempaskan bokongnya di kursi meja makan, napas laki-laki itu masih sedikit tersengal dengan wajah yang memerah.
“Minum air hangat dulu, Zal,” ucap Bu Harmi sambil menyodorkan segelas air hangat untuk putra semata wayangnya.
Rizal menenggak habis air yang diberikan sang Ibu, napasnya mulai sedikit teratur meski kilat amarah masih tergaris di wajah tampannya. “Kenapa semejak kepergian Sukma semua jadi semakin runyam begini, Bu?” gumamnya pelan.
Bu Harmi yang mendengar keluhan sang putra, menepuk pelan pundak tegap Rizal, lalu turut duduk di kursi sebelahnya.
“Ini bukan perkara ada atau tidak ada Sukma, Zal. Tapi, memang Mamah mertuamu itu yang sudah keterlaluan. Dari zaman Sukma dulu dia memang selalu begitu to, apa-apa diatur dan harus sesuai keinginan dia. Sesekali kita juga perlu melawan, Zal,” ujarnya kemudian.
“Iya sih, Bu. Tapi kenapa mamah semakin parah begitu?”
“Ya karena bukan Dewi yang kamu pilih buat ngurusin Adam. Lagipula, aneh-aneh saja minta kamu turun ranjang, dikira ibu betah apa besanan sama dia,” sungut Bu Harmi.
Ia kemudian beranjak dari kursinya, meninggalkan Rizal yang masih terpaku sambil memijit pelipisnya.
Niatnya tidak ke areal ladang sawit karena ingin beristirahat dan bermain dengan Adam, tapi siapa sangka pagi yang sudah diawalinya dengan segelas kopi manis justru menjadi awal pahit untuk harinya.
Rizal masih terdiam di meja makan, tatapannya datar, tanganya sesekali memijat pelipisnya yang nyeri. Ia memejamkan mata sejenak, menghela napas dalam sebelum beranjak dan berjalan menuju kamar sang putra.
Tangan laki-laki itu sudah terulur untuk mengetuk pintu, namun suara Nadya sedang berbicara dengan Adam menghentikan niatnya sejenak.
“Alangkah susah pengen hidup tenang aja, Ndut.”
Bersambung
Ada yang mau punya mertua atau besan macam Bu Sar?
BTW Author pernah punya, sampe baby shark bukan baby bluse lagi setiap hari. Kwaakkkakakakkk😆
Semangat 🔥