Clarissa wanita cantik yang sangat ceria, berumur 22 tahun, ia adalah anak perempuan yang kuat dan mandiri.
Ibunya memperlakukannya dengan buruk, ibunya lebih menyayangi anak laki-lakinya. Bahkan ibunya lebih menyayangi menantu perempuannya di banding Clarissa.
Tantangan hidupnya tidak sampai di sana,
Clarissa jatuh cinta pada Zayn Austin, cinta pada pandang pertama.
Namun pria yang Clarissa sukai selalu berwajah datar dan bersikap dingin. Tapi itu semua tidak meredupkan semangat Clarissa untuk mengejar cintanya.
Akankah Clarissa mampu meluluhkan hati Zayn?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 Takut Mati
"Ayo Kak! " Aditya berusaha menarik Clarissa, sedangkan sang kakak justru menolak dengan keras, ia takut mati.
Aditya tidak peduli dengan penolakan kakanya, ia melepaskan sepatunya dan juga melepaskan sepatu yang di gunakan kakaknya dengan paksa.
Clarissa panik, ia berusaha melawan adiknya. Namun sial tenaganya tak mampu melawan Aditya, hingga tubuh Clarissa terasa melayang, ternyata Aditya memanggul Clarissa bak karung beras.
Clarissa sudah melawan semampunya, bahkan Clarissa juga menjerit-jerit agar Aditya melepaskannya.
"Dit!! "
"Jahat kamu Dit! "
"Jika Aku sampai mati! Aku akan menghantuimu seumur hidupmu! "
Clarissa terus berteriak. Tapi Aditya tidak peduli, ia masih menampakkan senyum, meski sang kakak telah mengutuknya.
Clarissa dan Aditya meluncur dari ketinggian, Clarissa memucat dan berpegang kuat pada Aditya, Clarissa terus menjerit-jerit hingga sampai ke bawah dan mendarat dengan aman tanpa lecet sedikitpun apalagi sampai mati.
Clarissa membuka mata saat sudah tak ada pergerakan, "Apa Aku benar-benar mati? "
Clarissa berkata sambil sedikit mengintip, hingga celetukan Aditya membuatnya tersadar,
"Dasar bodoh!" celetuk Aditya.
Clarissa langsung mendelik, "Tak sopan! "
Clarissa memperhatikan tubuhnya, "Aku selamat! "
"Bagai mana apa merasa lebih baik? " tanya Aditya berdiri lebih dulu lalu membantu kakaknya.
Clarissa terdiam sesaat, mencerna maksud ucapan adiknya, "Dit? "
Aditya menarik Clarissa ke tempat aman, lalu menatap wajah kakaknya, "Bagaimana perasaan mu Kak? apa sudah jauh lebih baik? "
Mata Clarissa berkaca-kaca, ia merasakan sesuatu yang menimpa dirinya telah tiada, sulit di jelaskan. Tapi Clarissa merasakan hatinya yang lega.
Aditya langsung menarik kakaknya kedalam pelukan, "Aku sengaja melakukan ini semua, agar hatimu merasa lega. "
Clarissa menangis di pelukan adiknya, sungguh ia merasakan sesuatu yang aneh, perasaan itu sulit di ungkapan. Perasaan seperti dirinya memanggul beban berat selama bertahun-tahun kini hilang menguap begitu saja.
"Terimakasih Dit," ujar Clarissa dengan tulus, ia tidak tahu kenapa bisa seperti ini.
"Sekarang kita mau kemana lagi? " ujar Aditya kini menyerahkan keputusan pada Clarissa, terserah sang kakak ingin pergi kemana, Aditya akan ikut saja.
"Ayok naik sekali lagi! " pinta Clarissa yang kini justru mengajak, padahal beberapa saat lalu Clarissa menolak dengan keras.
"Apa kali ini Kakak akan mengutuk ku lagi? " ledek Aditya.
"Hehe, tidak akan, kutukan ku yang tadi ku tarik kembali," ujar Clarissa.
Kini ia kembali meluncur, namun masih berteriak. Tapi bukan berteriak karena takut. Tapi karena ingin menjerit mengeluarkan kekecewaan yang tidak bisa Clarissa obati.
Clarissa tertawa puas saat sudah mendarat dengan sempurna. Tapi suaranya sedikit serak, ia mengulurkan tangannya pada Aditya, kini ia merasa bahagia, Aditya kini sudah beranjak dewasa dan mampu ia andalkan.
Aditya mengenakan sepatunya, lalu ia berjongkok untuk membantu sang kakak. Tapi tangan Aditya langsung di tepis, "Tidak perlu," ujar Clarissa dengan suara lembut.
...****************...
Clarissa dan Aditya baru saja keluar dari bioskop, "Kita kemana lagi? " tanya Aditya.
"Emmm...Temani Aku belanja yok, " ujar Clarissa, yang teringat alat mandi dan dan kebutuhan sehari-harinya sudah hampir habis.
"Emmm. Tapi duit ku tinggal dikit Kak," ujar Aditya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Tenang saja, uang ku masih utuh, karena Aku baru saja gajian hari ini, " ujar Clarissa memasang wajah sombong membalas sang adik.
Keduanya tertawa kecil, "Tapi, kalau Aku pulang malam, nanti ibu marah gak ya? " tiba-tiba Clarissa terpikirkan.
"Menurut ku, ibu tidak akan bicara kasar lagi," ujar Aditya yang juga tidak begitu yakin.
"Kenapa? " Clarissa merasa penasaran, juga tidak percaya.
"Karena bapak pernah menegur ibu, dan bapak mengancam untuk meninggalkan ibu, jika ibu masih memperlakukan kakak dengan kasar," ujar Aditya.
"Kapan? Kok Aku gak tahu," ujar Clarissa yang tidak pernah mendengar pak Malik menegur bu Mulan.
"Setelah Kakak bicara pada bapak, malam itu bapak seperti mendiamkan ibu, hingga saat bapak pulang kerja, ibu memasang wajah masam dan mengoceh tak jelas. "
"Saat itulah sepertinya bapak sudah tidak bisa menahan diri lagi dan menegur Ibu, bapak bilang Ibu sangat kejam karena memperlakukan kakak seperti itu, " ujar Aditya yang merasa tak nyaman, sungguh ia juga tak menyukai saat ibunya lebih menyayangi Diana sang menantu.
Bukan Aditya tidak menyukai kakak iparnya. Tapi sikap ibunya yang pilih kasih begitu terang-terangan, membuat Aditya jadi kurang menyukai kakak iparnya, apalagi kakak iparnya juga beberapa menjelek-jelekkan Clarissa pada ibunya, Aditya mendengarnya langsung.
Tangan Clarissa di genggam oleh Aditya, Clarissa menatap Aditya yang kini mengkhawatirkan dirinya, "Aku sekarang sudah tidak peduli lagi tentang kasih sayang ibu, yang penting ibu dan bapak akur. "
"Bapak sangat menyayangiku, dan sekarang kamu juga begitu peduli padaku, itu semua sudah cukup untuk ku," ujar Clarissa bicara dengan serius.
Like
Komen