Setiap hari sebelum fajar menyingsing, dapur kecil itu sudah mengepulkan asap. Di sana, seorang ibu bergelut dengan tepung, mentega, dan panasnya oven tua untuk menciptakan ribuan keping kue. Bagi orang lain, itu hanyalah camilan manis, namun bagi sang ibu, setiap loyang adalah taruhan untuk masa depan anaknya.
tangan yang melepuh terkena minyak panas, punggung yang semakin membungkuk karena beban keranjang, dan jam tidur yang dikorbankan demi recehan rupiah. Melalui sudut pandang sang anak, kita diajak melihat bagaimana sebuah pengorbanan tanpa pamrih perlahan-lahan merajut mimpi yang mustahil menjadi nyata. Sebuah kisah melankolis tentang cinta yang dipanggang dalam kesabaran dan ketulusan yang tak bertepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah besar di kampung
Nak, pasar lama kebakaran. Lapak Ibu habis, semua loyang dan ovenmu juga ikut hangus."
Suara Ibu di telepon umum itu terdengar datar, seolah nyawanya sudah ikut menguap bersama asap di pasar. Tidak ada tangisan, hanya kekosongan yang jauh lebih menyakitkan daripada jeritan.
Duniaku serasa runtuh di pinggir jalan Jakarta yang bising. Uang yang baru saja kukirim minggu lalu pasti sudah habis untuk menutupi kerugian, atau mungkin ikut terbakar di bawah tumpukan kayu lapak yang jadi abu. Modal yang dikumpulkan Ibu selama puluhan tahun—alat-alat yang sudah dianggapnya sebagai teman hidup—hilang dalam satu malam.
"Ibu nggak apa-apa? Ibu luka?" suaraku bergetar, tanganku mencengkeram gagang telepon sampai buku jariku memutih.
"Ibu selamat, Nak. Tapi... Ibu bingung besok mau jualan apa. Tepung sudah mahal, loyang nggak ada lagi."
Aku terdiam. Di saku celanaku hanya ada sisa uang makan untuk tiga hari ke depan. Jakarta yang tadinya mulai terasa ramah, tiba-tiba kembali menjadi monster yang dingin. Aku melihat gedung-gedung tinggi di depanku; mereka punya segalanya, sementara Ibuku kehilangan satu-satunya alat untuk menyambung nyawa.
"Ibu tenang ya. Jangan menangis. Jakarta ini luas, Bu. Aku akan kerja dua kali lebih keras. Kalau perlu, aku nggak tidur biar bisa belikan Ibu oven baru yang lebih bagus dari yang lama."
Setelah menutup telepon, aku tidak pulang ke kontrakan. Aku kembali ke warung Pak Kumis, meski jam kerjaku sudah habis.
"Pak, saya butuh kerja tambahan. Apa saja. Cuci piring sisa pesanan catering, bersih-bersih gudang, atau antar pesanan sampai subuh. Saya butuh uang lebih, Pak. Sekarang juga."
Malam itu, di bawah lampu neon warung yang berkedip, aku tidak lagi mencuci piring dengan air mata. Aku mencucinya dengan amarah—amarah pada kemiskinan yang mencoba merenggut senyum Ibuku. Jika api pasar bisa menghanguskan modal Ibu, maka keringatku harus bisa menjadi air yang membangunnya kembali.
Tragedi ini menjadi titik balik. Ia bukan lagi sekadar "bekerja", tapi sedang "berperang". Mentalitas anak penjual kue ini kini teruji: apakah ia akan ikut padam bersama abu pasar, atau justru makin membara?
******
"Bapak nggak punya uang lebih buat gaji tambahan, tapi Bapak punya motor tua di belakang. Kamu bisa pakai buat antar pesanan katering sampai subuh," kata Pak Kumis sambil melemparkan kunci karatan ke meja.
Malam itu, Jakarta yang dingin menjadi saksi bisu. Aku tidak lagi tidur. Selesai mencuci piring di warung jam sepuluh malam, aku langsung memacu motor tua itu menembus kabut polusi.
Menjadi kurir makanan dadakan, mengantar nasi kotak ke kantor-kantor yang lembur atau ke rumah-rumah mewah yang pagarnya lebih tinggi dari cita-citaku.
Setiap kali mataku berat karena kantuk yang menyiksa, aku membayangkan wajah Ibu yang menatap puing-puing pasar yang menghitam. Aku membayangkan tangannya yang gemetar mencari sisa loyang yang mungkin masih bisa diselamatkan dari abu.
"Sedikit lagi, Bu. Sedikit lagi," bisikku setiap kali melewati lampu merah yang terasa sangat lama.
Tiga minggu aku hidup seperti mesin. Tidur hanya dua jam di atas tumpukan karung beras, makan hanya sisa-sisa gorengan yang sudah dingin. Badanku menyusut, mataku cekung, tapi isi dompetku mulai menebal. Setiap lembar uang yang masuk, aku cium aromanya—bukan bau parfum, tapi bau perjuangan yang lebih wangi dari apa pun.
Puncaknya, sebulan setelah kebakaran itu, aku berdiri di depan toko alat dapur di Glodok. Aku menunjuk sebuah oven gas yang besar, berkilat, dan punya pengatur suhu yang canggih—jauh lebih mewah dari oven manual Ibu yang sudah karatan.
"Kirim ke alamat ini, Pak. Di kampung," kataku sambil menyerahkan gepokan uang receh ribuan dan lima ribuan yang sudah kuikat rapi dengan karet gelang.
Si penjual menatapku heran, melihat bajuku yang penuh noda minyak dan wajahku yang kusam.
Tapi dia tidak tahu, di dalam tumpukan uang receh itu, ada jam tidur yang kuhapus, ada rasa lapar yang kutahan, dan ada harga diri seorang anak yang tidak mau melihat Ibunya menyerah pada nasib.
Saat menelepon Ibu sore harinya, suaranya terdengar pecah. "Nak... ada orang antar oven besar sekali ke rumah. Katanya dari kamu. Kamu dapat uang dari mana? Kamu nggak macam-macam kan di sana?"
Aku tersenyum pedih di balik telepon umum, sambil mengusap air mata dengan lengan baju yang bau asap motor. "Aku cuma meminjam sedikit tenaga Jakarta buat ganti lelah Ibu, Bu.
Besok Ibu mulai manggang lagi ya? Jangan berhenti. Adonan Ibu itu napas aku."
Oven baru itu adalah simbol bahwa api di dapur Ibu tidak akan pernah padam selama jantung anaknya masih berdetak di Jakarta.
_______"
"Bapak nggak pernah lihat orang sekeras kamu, Nak. Kamu itu kayak adonan yang makin dipukul makin kalis," kata Pak Kumis suatu pagi, sambil memberikan segelas kopi hitam kental padaku.
Aku hanya tersenyum lelah. Mataku merah, kantung mataku menghitam karena sudah tiga minggu aku hanya tidur tiga jam sehari. Pagi di warung soto, malam mengantar katering, dan di sela-selanya aku mencari rongsokan kardus di sekitar gudang untuk dijual kembali. Setiap rupiah yang masuk ke kantongku bukan lagi sekadar uang, tapi kepingan nyawa untuk dapur Ibu di kampung.
"Pak, saya mau titip ini," kataku sambil menyodorkan sebuah amplop cokelat yang tebalnya tidak seberapa, tapi beratnya terasa seperti memikul gunung.
Isinya bukan cuma uang. Di dalamnya ada foto oven gas terbaru yang sudah kupesan lewat toko alat dapur di Glodok untuk dikirim langsung ke alamat rumah. Aku juga menyelipkan selembar surat pendek: "Bu, api di pasar boleh padam, tapi api di dapur kita harus tetap nyala. Pakai ini ya, biar tangan Ibu nggak perlu kena arang lagi."
Seminggu kemudian, telepon dari tetangga rumah berdering di warung Pak Kumis. Suara Ibu pecah di seberang sana. Bukan suara sedih, tapi suara tangis yang lega, seperti orang yang baru saja menemukan air di tengah gurun.
"Nak... ovennya datang. Besar sekali. Ibu sampai takut mau menyentuhnya. Tetangga semua datang melihat, mereka bilang ini oven paling bagus di desa kita," isak Ibu.
Aku bersandar di tembok warung yang berlumut, memejamkan mata sejenak. Rasa pegal di punggungku mendadak hilang. "Ibu mulai manggang lagi ya? Jangan dipikirin harganya. Itu hasil keringat Jakarta yang pengen makan kue Ibu."
"Ibu sudah buat adonan pertama, Nak. Tadi subuh. Bau kuenya... bau kemenangan kamu," bisik Ibu parau.
Hari itu, aku kembali mencuci piring dengan semangat yang berbeda. Aku sadar, Jakarta tidak berhasil menghancurkanku. Jakarta justru menjadi oven besar yang mematangkan mentalku. Aku bukan lagi butiran tepung yang mudah terbang ditiup angin, aku adalah roti yang sudah matang karena panasnya ujian.
Dapur di kampung kembali berasap, dan di Jakarta, seorang anak mulai berani menatap gedung-gedung tinggi tanpa rasa takut lagi.