Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Pewaris
Pagi datang perlahan.
Cahaya matahari menembus tirai besar di kamar Rania, jatuh lembut di lantai kayu yang mengilap. Udara di dalam kamar terasa tenang, bahkan terlalu tenang dibandingkan kehidupan yang ia jalani selama tiga tahun terakhir.
Rania membuka matanya.
Beberapa detik ia hanya berbaring diam, menatap langit-langit kamar yang tinggi.
Kamar ini sangat luas. Jauh lebih besar dari kamar yang ia tempati di rumah keluarga Adrian.
Ia duduk perlahan di tempat tidur.
Selimut putih lembut itu jatuh ke pangkuannya.
Semua terasa asing… tapi juga sangat familiar.
Ini rumahnya.
Rumah keluarga Hartono.
Tempat ia dibesarkan.
Tiga tahun lalu ia meninggalkan rumah ini dengan tekad keras.
Ia ingin hidup tanpa bayangan nama besar keluarganya.
Ia ingin dicintai sebagai dirinya sendiri.
Dan sekarang ia kembali.
Rania berjalan menuju jendela besar di samping kamar.
Ia membuka tirai.
Di luar, taman luas terbentang seperti lukisan. Rumput hijau dipotong rapi, bunga-bunga berwarna cerah tumbuh di sepanjang jalan batu.
Beberapa pelayan terlihat sibuk di kejauhan.
Hidup di tempat ini terasa sangat berbeda.
Dulu ia menganggap semua ini biasa saja.
Namun setelah tiga tahun hidup sebagai “wanita biasa”, ia baru sadar betapa besar dunia yang sebenarnya ia miliki.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
“Nona Rania?”
Suara pelayan wanita terdengar lembut dari luar.
“Silakan masuk,” jawab Rania.
Pintu terbuka.
Seorang pelayan masuk sambil sedikit menunduk.
“Tuan besar menunggu Anda untuk sarapan.”
Rania mengangguk.
“Aku akan segera turun.”
Beberapa menit kemudian, ia berjalan menuju ruang makan besar di lantai bawah.
Meja makan panjang sudah dipenuhi berbagai hidangan.
Roti hangat. Buah segar. Jus. Kopi.
Di ujung meja duduk Tuan Hartono.
Pria tua itu membaca koran sambil memakai kacamata tipis.
Ketika melihat Rania datang, ia menurunkan korannya.
“Tidurmu nyenyak?” tanyanya.
Rania tersenyum kecil.
“Sudah lama sekali aku tidak tidur setenang ini.”
Tuan Hartono tertawa pelan.
“Rumah ini memang selalu menunggumu kembali.”
Rania duduk di kursi di seberangnya.
Seorang pelayan segera menuangkan kopi.
Beberapa detik mereka makan dalam keheningan.
Namun Rania tahu kakeknya bukan tipe orang yang suka berbasa-basi terlalu lama.
Dan benar saja.
“Pagi ini kau ikut denganku ke kantor,” kata Tuan Hartono tiba-tiba.
Rania mengangkat alis sedikit.
“Kantor?”
Pria tua itu mengangguk.
“Sudah waktunya kau kembali.”
Rania menatapnya beberapa detik.
Tiga tahun lalu ia menolak semua tawaran untuk terlibat dalam bisnis keluarga.
Ia ingin hidup sederhana.
Ia ingin mencoba dunia luar tanpa nama besar Hartono.
Namun sekarang semuanya terasa berbeda.
Rania mengambil cangkir kopinya.
“Aku ikut.”
Jawaban itu membuat Tuan Hartono tersenyum puas.
Dua jam kemudian…
Mobil hitam panjang berhenti di depan gedung tinggi di pusat kota.
Gedung itu sangat besar.
Di bagian atasnya terpampang logo perusahaan.
Hartono Group.
Salah satu perusahaan terbesar di negara itu.
Begitu mobil berhenti, beberapa staf keamanan langsung memberi hormat.
Rania keluar dari mobil.
Sudah lama sejak terakhir kali ia datang ke tempat ini.
Di dalam lobi, para karyawan mulai memperhatikan.
Bisik-bisik kecil terdengar.
“Siapa wanita itu?”
“Apa dia keluarga Tuan Hartono?”
“Dia cantik sekali…”
Namun tiba-tiba seorang manajer senior berjalan cepat mendekat.
Ia langsung menunduk hormat.
“Selamat pagi, Tuan.”
Tuan Hartono mengangguk.
Lalu ia berkata dengan tenang,
“Kumpulkan semua direktur di ruang rapat.”
Manajer itu terlihat sedikit bingung.
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Beberapa menit kemudian mereka berada di ruang rapat utama.
Ruangan besar dengan meja panjang dan dinding kaca yang menghadap kota.
Sekitar sepuluh orang sudah duduk di sana.
Para direktur perusahaan.
Ketika pintu terbuka dan Tuan Hartono masuk, semua orang langsung berdiri.
Namun mereka sedikit terkejut melihat wanita yang berjalan di belakangnya.
Rania.
Bisik-bisik kecil kembali terdengar.
Tuan Hartono duduk di kursi utama.
Rania duduk di kursi di sampingnya.
Pria tua itu mengetukkan jarinya pelan di meja.
“Perkenalkan.”
Semua orang langsung diam.
“Ini cucuku.”
Ruangan langsung sunyi.
Beberapa orang saling menatap.
Karena selama ini banyak orang tahu satu hal.
Tuan Hartono punya seorang cucu perempuan…
tapi ia menghilang tiga tahun lalu.
“Namanya Rania Hartono,” lanjutnya.
Beberapa orang langsung tampak terkejut.
Salah satu direktur bahkan hampir menjatuhkan pulpennya.
Rania hanya duduk tenang.
Tuan Hartono melanjutkan dengan suara tegas.
“Mulai hari ini, ia akan kembali bekerja di perusahaan.”
Ruangan itu langsung dipenuhi bisikan.
Namun tiba-tiba seseorang tertawa kecil dari ujung meja.
Seorang pria muda.
Usianya sekitar awal tiga puluh.
Wajahnya tampan, tapi ekspresinya dingin.
Ia menatap Rania dengan mata tajam.
“Sudah lama sekali,” katanya.
Rania mengenal suara itu.
Ia menoleh.
“Arsen.”
Pria itu tersenyum tipis.
Arsen Pratama.
Direktur muda yang paling berbakat di perusahaan.
Dan seseorang yang sudah mengenal Rania sejak lama.
“Tiga tahun,” kata Arsen santai.
“Semua orang mengira kamu menghilang dari dunia.”
Rania menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Aku hanya mengambil liburan yang terlalu panjang.”
Beberapa orang di ruangan itu tertawa kecil.
Namun Arsen tidak.
Ia menatap Rania beberapa detik sebelum berkata,
“Jadi… pria itu tidak layak untuk kamu?”
Ruangan kembali sunyi.
Semua orang bisa merasakan ada cerita di balik kalimat itu.
Rania tidak langsung menjawab.
Ia hanya tersenyum kecil.
“Aku baru menyadarinya sekarang.”
Arsen mengangguk pelan.
“Bagus.”
Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Karena dunia ini terlalu kecil untuk seseorang sepertimu.”
Rapat kemudian berlanjut dengan pembahasan bisnis.
Namun di tengah rapat, salah satu direktur membuka berkas baru.
“Ngomong-ngomong,” katanya, “ada proposal kerja sama baru.”
Ia menggeser berkas itu ke tengah meja.
“Perusahaan ini ingin menjadi mitra distribusi kita.”
Rania melirik berkas itu.
Ia tidak terlalu tertarik.
Namun tiba-tiba Arsen tertawa kecil.
“Menarik.”
Rania menoleh sedikit.
“Apa yang menarik?”
Arsen menunjuk nama perusahaan di berkas itu.
Rania melihatnya.
Dan untuk pertama kalinya hari itu…
ekspresinya berubah sedikit.
Nama itu tertulis jelas di halaman depan.
Pratama Corporation.
Perusahaan milik keluarga Adrian.
Arsen menatap Rania dengan senyum samar.
“Dunia memang kecil,” katanya pelan.
Rania menutup berkas itu dengan tenang.
Matanya kembali dingin.
Ia berkata dengan suara yang sangat tenang,
“Kalau begitu… mari kita lihat seberapa kecil dunia ini.”
Di suatu tempat di kota yang sama…
Adrian duduk di ruang kantornya.
Ia belum tahu satu hal penting.
Wanita yang dulu ia usir dari rumahnya
sekarang memegang kekuasaan yang bahkan bisa menentukan masa depan perusahaannya.
Dan pertemuan mereka berikutnya…
tidak akan lagi sama seperti dulu.