"aku terima syaratmu, tapi terima juga syaratku, kael.."
mahiya melotot kesal,pria dingin itu hanya mengangguk datar.
"okeyyy..deal"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Lamaran keluarga kael berjalan lancar, disepakati pernikahan mereka seminggu lagi. Keluarga mahiya meminta akad nikah dilakukan di rumah mereka, dan setuju jika resepsinya dilakukan di kediaman keluarga laksana.
Mahiya kelimpungan, dalam minggu ini gadis itu mondar-mandir kek setrikaan, pergi dengan mommy dan omanya kael ke bridal designer, membantu umminya menyiapkan acara untuk akad nikahnya, dan belajar untuk ujian semester 4.
Kepala mahiya rasanya panas, dia duduk di depan cermin di ruangan tempat designer yang sedang ngobrol-ngobrol manja dengan calon mertuanya itu.
Mahiya mengamati bayangannya di cermin, dia memperhatikan kepalanya, dengan tangan seperti mengusir sesuatu dari kepala.
"kenapa sayang?" nyonya sandrina menatap heran,
"keknya kepala mahi berasap tan!"
Nyonya sandrina mengerutkan keningnya tak paham, tapi nggak lama, perempuan setengah baya yang masih cantik itu terbahak ngakak. Sepertinya selera humor perempuan itu nyambung dengan mahiya, mahiya nyengir lucu saat kepalanya di elus wanita itu.
"rada panas sih"
Keduanya terbahak, sampai sang oma menoleh heran. Oma nurmala menatap takjub calon istrinya kael itu, secepat itu bisa akrab dengan mommynya kael yang rada pemilih.
Irene saja, sampai detik ini belum bisa seakrab itu dengan sandrina, oma nurmala menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lucu.
"setelah ini, kita ke salon yah sayang!" sandrina menatap lekat mahiya yang hampir menggeleng, wajah cantik mahiya kelihatan enggan.
"iya tante.." sahutnya dengan suara malas.
Nyonya sandrina kagum, dia merasa calonnya kael ini berbeda dari perempuan kebanyakan. Bahkan dari clarissa, wanita yang sangat kael cintai itu.
"mahi, jangan panggil tante terus dong, mommy kan calon mertua kamu"
Mahiya mengangguk malu, mommynya kael selalu mengingatkannya. Tapi mahiya masih sungkan, dan lidah indonesianya rada sulit beradaptasi dengan ucapan dan istilah keluarga kael.
"mahi kelihatan lelah yah?" tanya sang oma tiba-tiba, mereka berjalan beriringan menuju mobil hitam mayb*ch yang terparkir di luar.
"iya oma, tadi malam mahi begadang, karena minggu depan ujian semester"
Tangan nyonya sandrina mengelus lembut punggung mahiya, wajah cantik wanita paruh baya itu menatap penuh simpati dengan senyum keibuannya
"sabar sebentar yah, setelahnya kamu pasti santai..heumm.."
Wajah cantik mommy kael itu terlihat berpikir,
"tapi mommy sedikit heran sebenarnya kenapa kael keknya ngebet banget"
Oma yang duduk di samping supir tertawa ngakak, mata tuanya mengerjab lucu.
"yah wajarlah kael ngebet, udah tua juga!"
Mommy kael langsung nyambung, perempuan yang terlihat anggun itu terbahak lucu nggak ada anggun-anggunnya
Mahiya nggak paham sebenarnya, tapi biar nggak kelihatan culun-culun amat, tuh gadis ikutan ngakak, ehh malah kedua wanita itu, mommy dan oma kael makin kencang ketawanya.
"nanti sekalian di massage seluruh badannya, biar agak enakkan" usul mommy kael yang dijawab dengan anggukan kepala mahiya.
********
Mahiya masih di kamarnya duduk di meja belajar, sayup-sayup telinganya mendengar ijab kabul di depan.
Perut mahiya mulas, antara gugup atau sesak BAB, sungguh dia nggak bisa ngebedainnya. Gaby yang duduk di depannya hampir ketawa melihat ekspresi mahiya.
"kamu kenapa sih?, kebelet?"
Mahiya mengangguk, wajahnya benar-benar nggak enak dipandang.
"jangan ngadi-ngadi deh mahi, udah cakep kebayaan begitu, bisa-bisanya elu kebelet"
Mahiya meringis, mungkin karena gugup kali yah, kebeletnya hilang-hilang timbul.
"saaaahhhh.."
Mahiya kaget setengah mati, teriakan dari ruang tengah langsung membuat kebeletnya hilang seketika. Ditambah gemuruh tepuk tangan, mahiya sudah keringat dingin nggak karuan.
"kenapa kamu yang keringetan, padahal pak kael yang sedang baca akad" mata gaby memicing heran.
"namanya juga sehati dan sejiwa, jadi aku yang grogi dia yang tenang" sahut mahiya asal, dia sibuk mengipasi wajahnya dengan tangannya sendiri.
"bawa keluar pengantin wanitanya" sesuara terdengar memerintah dari depan, mahiya langsung kalang kabut. Siapa sih itu sok bossy banget main perintah aja, gaby meraih lengan mahiya, tapi gadis itu malah menarik lengannya cepat.
"elo kenapa sih?" gaby melotot sewot, dengan gemas tangannya menarik paksa lengan mahiya.
"ayoo keluar!"
Mahiya melipir, melangkah gugup dengan gaby yang menuntun tangannya.
"masya Allah, cantiknya pengantin wanitanya"
Seruan terdengar sambung menyambung, mahiya yang lagi gugup, masih sempat tersenyum bangga dengan hidung yang kembang kempis, mertua mahiya, nyonya sandrina udah kepengen ngakak ngelihat ekspresi menantunya itu, tapi wanita paruh baya itu buru-buru menundukkan kepalanya, takutnya dia ngakak, suasana sakral yang sedang berlangsung langsung buyar.
Mahiya di dudukkan di samping kael yang menatapnya penuh cinta, mahiya langsung merinding sebadan-badan. Ekspresi pria itu, persis seperti ekspresi yang diharapkan semua penonton yang hadir.
"salim suami kamu mahi, sekarang dia adalah imammu"
Suara abinya menyadarkan mahiya yang masih merasa di alam mimpi, gadis itu menyambut tangan kael, mencium punggung tangan pria itu dan meletakkannya ke kening.
Kael, pria itu langsung mengecup kening mahiya yang tersentak kaget, rasa dingin dari bibir pria itu membuat mahiya meremang.
Terdengar kembali tepuk tangan dan seruan kekaguman dari para tetangga mahiya yang berisik.
"menantu pak rustam ganteng pisan euihhh"
"neng mahiya geulis pisan"
"cocok banget, ganteng dan cantik"
Suara semakin ramai, malah ada yang sampai bersiul, ada satu suara yang membuat mahiya menoleh jengkel. Tapi malah suara tawa mommy kael membuatnya tak urung tersenyum kecut.
"duh si eneng ajaib akhirnya sold out juga"
Mahiya, sebenarnya sudah kepengen banget pindah ke kutub utara, ngadem. Cuacanya luar biasa panas, padahal kipasnya berputar kencang, tapi tetap aja panasnya nauzubillah. Pelipis mahiya keringatan, gadis itu sudah kepengen membuka kebaya dan mencampakkannya ke tempat sampah, tiba-tiba kael mengusap keringat di pelipisnya, mahiya sedikit tersentak, untungnya hanya kael yang menyadarinya.
Pria itu tersenyum lembut, dengan suaranya yang berat, menghipnotis semua tamu.
"panas yah sayang?"
Mahiya hampir teriak kegelian, sekujur tubuhnya merinding seksi. Tapi gadis itu dengan cepat menyadari puluhan pasang mata menatap kagum ke arahnya.
"iya kak" sahut mahiya dengan suara lembut di merdu-merduin, menambah sempurnanya sandiwara buatan kael itu.
Lagi, suara siulan terdengar dari penonton usil di luar, mahiya menoleh kesal. Kepengen banget rasanya dia keluar, dan menjitak kepala yang bersiul tadi, norak banget. Yah walaupun, kalau di kasih kesempatan nonton nikahan orang lain, pasti dia juga bakalan ngelakuin hal yang sama.
"mahiya akan langsung kami boyong pak.." terdengar ucapan tuan adrian ayah kael, saat tuan penghulu bertanya.
"karena sampai resepsi pernikahan di gelar, kael juga masih di rumah keluarga, setelah resepsi, kael dan mahiya akan tinggal di kediaman kael"
Mahiya mulai gugup lagi, gimana mau ikut, semua tetek bengek perkuliahan mahiya ada di kamarnya, mana senin sudah ujian. Wajah mahiya gelap, segelap hatinya yang mendongkol kesal.
"buku-buku kuliahku gimana?" mahiya berbisik, kael memiringkan kepalanya. Dia mengangguk paham,
"besok siang kita ambil kemari" sahutnya balas berbisik.
Mahiya pasrah, saat tangannya di gandeng mommy kael dan oma, mahiya tahu nggak ada lagi jalan buat dia untuk melarikan diri dari pernikahan nggak jelas ini.
Bersambung...