Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terapi tertawa dan insiden kostum ayam
Tiga hari setelah "penolakan" di kostan Gia, suasana di kampus terasa makin hambar. Tanpa Gia, grup WhatsApp mereka hanya berisi keluhan Juna soal tugas yang menumpuk dan foto makanan Rhea yang tampak kurang berselera. Dewi Laras merasa ada potongan puzzle yang hilang. Kursi di sebelah Laras di ruang kuliah terasa sangat luas dan dingin.
"Gue nggak tahan lagi," seru Eno Surya saat mereka berkumpul di gazebo belakang fakultas. "Gia itu kayak bumbu penyedap rasa. Tanpa dia, hidup kita cuma kayak sayur bening tanpa garam. Hambar, Ras! Hambar!"
"Terus lo mau ngapain lagi, No? Kemarin kita udah datengin tapi diusir halus," sahut Rhea Amara sambil menusuk-nusuk ciloknya dengan muram.
"Kali ini beda. Kita nggak akan nanya dia kenapa. Kita bakal bikin dia ketawa sampai lupa sama masalahnya. Kita bakal ngadain... TERAPI TERTAWA!" Eno berdiri di atas kursi gazebo dengan gaya heroik yang malah bikin dia kelihatan kayak orang mau benerin lampu jalan.
Bagas Putra yang sedari tadi sibuk memutar-mutar kunci motornya di jari, akhirnya angkat bicara. "Caranya?"
"Kita bikin pertunjukan di depan kostannya. Pakai kostum, bawa spanduk, atau apa pun yang konyol. Pokoknya dia harus buka pintu karena malu punya temen kayak kita!" Eno nyengir lebar.
Anehnya, ide gila itu disetujui. Mungkin karena mereka semua sudah terlalu frustrasi melihat Gia yang mengurung diri.
Sore harinya, rencana itu dijalankan. Laras bertugas sebagai koordinator lapangan, alias yang memegang ponsel untuk merekam kejadian bersejarah ini. Bagas dan Juna bertugas memegang spanduk bertuliskan: "GIA, KELUAR ATAU ENO BAKAL NYANYI LAGU ANAK-ANAK PAKAI MIC MUSHOLA!"
Dan yang paling epik adalah Eno Surya. Cowok itu entah bagaimana caranya berhasil menyewa kostum ayam kuning raksasa yang perutnya sangat buncit.
"No, lo beneran mau pakai itu?" tanya Juna Pratama dengan wajah antara pengen ketawa dan pengen pura-pura nggak kenal.
"Demi persahabatan, Jun! Lagian kostum ini sirkulasi udaranya bagus, meskipun baunya kayak bekas keringat maskot minimarket," jawab Eno dari balik paruh ayam plastik.
Mereka sampai di depan kostan Gia. Suasana sore itu cukup ramai oleh penghuni kost lain yang baru pulang kuliah. Bayangkan reaksi mereka saat melihat seorang ayam raksasa, dua cowok ganteng bawa spanduk aneh, dan dua cewek yang sibuk nahan tawa di belakang.
"Satu... dua... tiga! Mulai!" komando Laras.
Eno mulai melakukan dance konyol ala ayam yang sedang kena strok ringan, sementara Bagas dan Juna menggoyang-goyangkan spanduk. Rhea meniup-niup peluit dengan semangat.
"GIAAA! KELUAR GIIIAAA! AYAMNYA UDAH LAPEEER!" teriak Eno.
Jendela kamar lantai dua terbuka perlahan. Gia muncul di sana. Dia melihat ke bawah, melihat Eno yang sedang bergoyang heboh dan hampir jatuh karena perut kostumnya terlalu besar. Detik pertama, Gia tampak bingung. Detik kedua, dia menutup mulutnya. Dan detik ketiga... suara tawa pecah dari lantai dua.
Itu adalah suara tawa Gia yang paling tulus yang pernah mereka dengar dalam seminggu terakhir.
Gia akhirnya turun. Dia berdiri di depan pintu kost dengan mata yang masih sedikit bengkak, tapi ada binar yang mulai kembali. "Kalian... kalian bener-bener orang paling nggak waras yang pernah gue kenal," katanya sambil tertawa tipis.
"Misi berhasil!" teriak Eno sambil membuka kepala kostum ayamnya. Wajahnya merah padam dan penuh keringat, tapi dia tampak sangat bangga.
Mereka akhirnya duduk melingkar di teras kostan Gia. Gia akhirnya bercerita sedikit, meski tidak semua. Ternyata, ayahnya baru saja kehilangan pekerjaan dan mereka terancam tidak bisa membiayai kuliah Gia semester depan. Sebagai anak pertama yang ambisius, Gia merasa dunianya runtuh. Dia merasa gagal sebelum berperang.
"Gi, kenapa lo nggak bilang?" tanya Laras lembut sambil memegang tangan Gia.
"Gue malu, Ras. Kalian semua kayaknya lancar-lancar aja. Gue nggak mau jadi beban," jawab Gia pelan.
"Beban apa sih?" Bagas menyahut sambil memberikan botol minum ke Gia. "Kita ini satu paket, Gi. Kalau satu ban kempes, ya kita berhenti bareng-bareng buat mompanya. Kita cari solusinya. Eno bisa kerja part time jadi maskot ayam beneran kalau perlu, ya kan No?"
"Iya! Bayarannya lumayan tahu buat beli pulsa!" celetuk Eno yang langsung mencairkan suasana.
Malam itu, mereka pulang dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Bagas kembali membonceng Laras. Di bawah lampu jalan yang kekuningan, Laras merasa jarak antara dia dan Bagas makin menipis.
"Gas," panggil Laras pelan.
"Hmm?"
"Makasih ya. Gue tahu tadi lo sebenernya malu banget pegang spanduk itu, tapi lo tetep lakuin buat Gia."
Bagas terdiam sejenak, lalu dia membawa tangan kiri Laras untuk masuk ke saku jaketnya—sebuah gerakan yang sangat tidak terduga. "Buat temen, apa sih yang nggak? Apalagi kalau koordinatornya lo. Gue mana berani nolak."
Laras terpaku. Jantungnya berdebar sangat kencang sampai dia takut Bagas bisa merasakannya dari punggungnya. Tapi di tengah kebahagiaan kecil itu, Laras melihat sebuah mobil hitam mewah terparkir di depan rumahnya saat mereka sampai.
Laras tidak mengenali mobil itu, tapi dia melihat ekspresi ibunya di teras yang tampak sangat tegang. Sepertinya, setelah masalah Gia selesai, giliran "badai" di kehidupan Laras yang akan dimulai.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...