Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.
Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.
Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konspirasi Iblis
Pagi itu, sekolah terasa berbeda.
Bukan karena cuaca.
Bukan karena jadwal pelajaran.
Melainkan karena rumor telah sampai ke lingkungan yang tak seharusnya tersentuh.
Nama Kazehaya beredar pelan di antara bisikan siswa.
Beberapa pura-pura tidak peduli.
Beberapa terang-terangan penasaran.
Dan beberapa… menikmati.
Di lorong kelas, langkah Itadaki Inosuke terhenti.
Matanya menangkap satu adegan sederhana.
Aurelia berjalan melewati koridor.
Dan di sisi lain, Douma berdiri bersandar pada jendela, memandang keluar seperti biasa.
Namun ketika Aurelia hampir melewatinya—
Douma berkata pelan, cukup untuk didengar satu orang saja.
“Kau terlambat dua hari.”
Aurelia berhenti.
Ia menoleh.
“Aku… ada urusan.”
“Tidak,” jawab Douma datar. “Kau menghindar.”
Hening.
Aurelia menatapnya beberapa detik.
Aneh.
Ia tidak merasa dihakimi.
Tidak pula disindir.
Hanya… ditegaskan.
“Aku tidak ingin membuat orang lain tidak nyaman,” katanya lirih.
Douma memalingkan wajah ke arah luar jendela.
“Orang selalu tidak nyaman dengan sesuatu.”
Ia menoleh lagi, tatapannya lurus.
“Itu bukan alasan untuk menghilang.”
Kata-kata sederhana.
Namun membuat dada Aurelia terasa hangat.
Seolah seseorang benar-benar melihatnya.
Dari kejauhan, Inosuke menyaksikan.
Ekspresinya tak berubah.
Namun ada garis tipis di antara alisnya.
Douma.
Aurelia.
Interaksi itu tidak terlihat romantis.
Tidak ada sentuhan.
Tidak ada ekspresi manis.
Namun Inosuke menangkap sesuatu.
Resonansi.
Ia berjalan mendekat.
“Douma.”
Nada suaranya datar, tapi cukup memotong percakapan.
Aurelia sedikit terkejut.
Douma menoleh.
“Kau....”
Inosuke menatap mereka bergantian.
“Kau tampak sibuk akhir-akhir ini.”
“Tidak juga.”
Tatapan Inosuke beralih pada Aurelia.
“Putri Tuan Kazehaya.”
Aurelia menegang sedikit.
“Apa kabar reputasi keluargamu?”
Pertanyaan itu terdengar biasa.
Tapi tajam.
Douma melirik Inosuke.
Satu detik.
Dua detik.
Aurelia menunduk.
“Kami sedang berusaha memperbaiki keadaan.”
“Berusaha?” Inosuke menyeringai tipis. “Pasar tidak peduli pada usaha.”
Douma memotong.
“Pasar juga tidak peduli pada opini pribadi.”
Inosuke dan Douma saling tatap.
Aura tipis berdesir di antara mereka.
Tidak terlihat.
Tapi terasa.
Aurelia merasakan ketegangan itu.
Dan entah mengapa—
ia merasa Douma sedang berdiri di depannya.
Melindungi.
Inosuke akhirnya tersenyum tipis.
“hmm.”
Ia berbalik.
“Tetaplah fokus pada turnamen, Douma.”
“Selama kau tidak menghalangi jalanku,” jawab Douma tanpa ekspresi.
Langkah Inosuke berhenti sesaat.
Lalu ia pergi.
Aurelia menghembuskan napas yang tak ia sadari ia tahan.
“Kau tidak perlu melakukan itu,” katanya pelan.
“Melakukan apa?”
“Membalasnya.”
Douma mengangkat bahu.
“Aku hanya menjawab.”
Aurelia tersenyum kecil.
Kau tidak sedingin yang kau perlihatkan, pikirnya.
---
Investigasi yang Tak Terlihat
Malam itu, Douma duduk di depan layar transparan di kamarnya.
Data finansial Kazehaya Group terpampang dalam grafik tiga dimensi.
Ia tidak memiliki akses resmi.
Namun ia memiliki kecerdasan—dan jaringan kecil yang tak diketahui banyak orang.
Penurunan saham terlalu sinkron.
Terlalu terkoordinasi.
Beberapa akun anonim memulai rumor.
Lalu media kecil mengangkatnya.
Lalu investor panik.
Pola yang rapi.
Bukan kebetulan.
Ia memperbesar tampilan.
Ada transaksi besar yang dilakukan beberapa jam sebelum rumor pertama muncul.
Seolah seseorang tahu.
Seolah seseorang… mengatur.
“Ini bukan sekadar bisnis,” gumamnya pelan.
Cahaya layar memantul di mata peraknya.
Lalu—
getaran halus.
Bukan dari perangkat.
Dari udara.
Energi yang hampir tak terasa.
Douma berdiri.
Jendela terbuka sedikit.
Angin malam masuk.
Di antara hembusan itu… ada sesuatu yang salah.
Jejak.
Tipis.
Seperti bau logam terbakar.
Ia mengenali sensasi itu.
Bukan manusia.
“Iblis…” katanya lirih.
Potongan-potongan mulai menyatu.
Kehancuran reputasi.
Tekanan psikologis.
Keputusasaan.
Jiwa yang rapuh jauh lebih mudah ditarik.
Dan keluarga Kazehaya… sedang dipaksa menuju jurang itu.
Sengaja.
Sistematis.
Douma mengepalkan tangan.
“Jadi ini caranya.”
---
Dimensi Bayangan
Sosok-sosok hitam berdiri dalam lingkaran.
“Target mulai retak.”
“Putrinya hampir melompat.”
“Variabel kembali mengintervensi.”
Lucifer berdiri di tengah.
“Kita tidak butuh kecepatan,” suaranya menggema. “Kita butuh tekanan.”
Simbol merah menyala di udara.
“Perbesar rumor. Hancurkan perlahan. Biarkan keputusasaan mengendap.”
Salah satu iblis bertanya, “Bagaimana dengan anak muda yang bernama Douma?”
Lucifer tersenyum samar.
“Biarkan ia menyadari.”
“Kesadaran tanpa kekuatan hanyalah beban.”
---
Taman Belakang Sekolah
Sore hari.
Aurelia duduk di bangku kayu di bawah pohon sakura.
Tangannya memegang ponsel, tapi layar mati.
Douma datang tanpa suara.
Ia duduk di ujung bangku yang sama.
Beberapa detik hening.
“Kau membaca komentar lagi?” tanya Douma.
Aurelia menggeleng.
“Aku mencoba berhenti.”
“Bagus.”
Hening lagi.
“Douma,” panggilnya pelan.
“Apa?”
“Kenapa kau menolongku malam itu?”
Pertanyaan itu tidak pernah ia tanyakan langsung.
Douma menatap ke depan.
“Karena itu tindakan bodoh.”
Aurelia tersenyum tipis.
“Aku tahu itu bodoh.”
“Dan aku tidak suka hal bodoh terjadi di depanku.”
Jawaban yang dingin.
Logis.
Tanpa emosi.
Namun anehnya—
Aurelia merasa jantungnya berdebar.
“Kau selalu bicara seperti itu,” katanya pelan. “Seolah semuanya hanya soal logika.”
“Bukankah memang begitu?”
Ia menoleh padanya.
“Kau salah.”
Douma terdiam.
Aurelia menarik napas dalam.
“Malam itu… saat kau menarikku…”
Suaranya melembut.
“Kau memelukku erat.”
Angin sore bergerak pelan.
“Orang yang hanya mengandalkan logika tidak akan memeluk seseorang seperti itu.”
Douma tidak segera menjawab.
Untuk pertama kalinya, ia terlihat berpikir.
“Aku hanya memastikan kau tidak terluka.”
“Ya,” bisik Aurelia. “Dan kau memastikan lebih dari itu.”
Tatapan mereka bertemu.
Hening panjang.
Aurelia merasakan sesuatu tumbuh.
Bukan ledakan.
Bukan obsesi.
Hanya rasa hangat kecil yang menyebar perlahan.
Kepercayaan.
Dan mungkin… lebih.
“Aku tidak ingin menjadi lemah,” katanya pelan.
“Kau tidak lemah.”
“Aku hampir melompat.”
“Itu bukan kelemahan,” jawab Douma. “Itu tekanan.”
Ia menatapnya lurus.
“Kelemahan adalah ketika kau menyerah setelah diselamatkan.”
Jantung Aurelia berdegup keras.
“Aku tidak akan menyerah.”
“Bagus.”
Aurelia tersenyum.
“Kalau begitu… tetaplah di sisiku sampai aku kuat.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Ia sendiri terkejut.
Douma menatapnya beberapa detik. Kenapa aku?
“Aku tidak berjanji.”
Jawaban itu seharusnya mengecewakan.
Namun entah kenapa—
Aurelia justru tertawa kecil.
“Kau benar-benar aneh.”
“Mungkin.”
“Tapi aku senang.”
Hening.
Bunga sakura jatuh pelan di antara mereka.
Douma memalingkan wajah sedikit.
“Aurelia.”
“Ya?”
“Jangan biarkan mereka menentukan nilai dirimu.”
Nada suaranya lebih lembut dari biasanya.
Dan itu cukup.
Sangat cukup.
Aurelia menunduk, tersenyum.
Di dadanya, benih kecil itu mulai berakar.
Bukan karena Douma manis.
Bukan karena ia romantis.
Tapi karena ia nyata.
Karena ia tidak pernah berpura-pura.
Dan karena di balik sikap dinginnya—
ia hadir.
---
Bayangan yang Mengamati
Dari gedung seberang, Inosuke berdiri di balkon lantai atas.
Ia melihat mereka di taman.
Tidak mendengar percakapan.
Namun cukup untuk memahami arah angin.
“Douma…” gumamnya.
Sinyal iblis di dalam dirinya bergetar halus.
Permainan ini bukan lagi sekadar turnamen.
Bukan lagi sekadar rivalitas.
Ada sesuatu yang lebih besar bergerak.
Dan ia tidak suka menjadi penonton.
Ia menutup mata.
Energi gelap berdesir tipis di sekelilingnya.
Jika Douma adalah variabel—
maka ia akan memastikan variabel itu tidak mengacaukan rencana.
---
Dan jauh di balik dimensi—
Lucifer tersenyum.
“Benih emosi mulai tumbuh.”
“Semakin mereka terikat… semakin menyakitkan ketika dipisahkan.”
Permainan belum selesai.
Ini baru babak awal.
---