lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 27
"Kamp Sampah" itu segera menjadi legenda di antara para pengembara. Kabar burung menyebar bahwa siapa pun yang masuk ke wilayah tersebut akan mengalami sakit kepala hebat dan alat-alat elektronik mereka akan mati seketika. Bagi dunia luar, tempat itu adalah lubang hitam; bagi Jek, itu adalah benteng.
"Kita butuh aturan baru," ujar Jek suatu sore, sambil duduk di atas tumpukan pipa paralon yang ia jadikan kursi. Di depannya, Gidion dan beberapa kepala keluarga kamp berkumpul. "Sektor Inti menganggap kita zona radiasi, dan kita harus mempertahankan citra itu. Tidak ada lampu listrik, tidak ada radio yang menyala keras, dan jika ada orang asing lewat, kalian semua harus terlihat semenyedihkan mungkin."
Gidion mengangguk cepat. "Kami sudah melatih anak-anak untuk berpura-pura mengejar bayangan, Tuan... maksud saya, Jek. Tapi bagaimana dengan urusan perut? Ladang kita tidak cukup untuk memberi makan semua orang jika kita terus menutup diri."
Jek melirik Maya yang sedang mengutak-atik sebuah dinamo sepeda.
"Kita akan berdagang secara manual," sahut Maya tanpa menoleh. "Kita punya keunggulan: kita bisa memperbaiki barang-barang mekanik yang dianggap sampah oleh orang Sektor Inti. Gidion, kau akan jadi wajahnya. Kau bawa barang-barang yang sudah 'dibetulkan' secara kasar ini ke pasar perbatasan. Bilang saja kau menemukannya di tumpukan rongsokan."
Kehidupan di Kamp Sampah mulai memiliki ritme yang unik. Di siang hari, mereka adalah kumpulan petani kumal yang tampak tidak punya masa depan. Namun di malam hari, di bawah temaram lampu minyak dan di balik dinding-dinding yang kedap suara, Jek dan Maya memimpin sebuah "sekolah mekanik" rahasia. Mereka mengajarkan warga cara bertahan hidup dengan teknologi analog—cara menjernihkan air tanpa filter digital, cara menanam tanpa nutrisi sintetis, dan cara membaca cuaca tanpa satelit.
Rara menjadi jantung dari komunitas itu. Ia mengatur pembagian pangan dan menjaga moral warga. Di sela-sela kesibukannya, ia sering menemukan Jek sedang melamun menatap mur kusam di jarinya.
"Memikirkan masa lalu?" tanya Rara, duduk di samping Jek sambil membawa dua gelas air jahe hangat.
Jek tersenyum tipis, menyesap minumannya. "Hanya berpikir betapa lucunya dunia ini. Dulu aku ingin menyatukan semua orang dalam satu pikiran agar mereka damai. Sekarang, aku justru memisahkan mereka dari dunia agar mereka tetap hidup."
"Itu karena kedamaian yang dipaksakan hanyalah keheningan, Jek," balas Rara pelan. "Apa yang kita miliki sekarang adalah kegaduhan yang jujur. Berisik, melelahkan, dan miskin... tapi setidaknya ini milik kita."
Tiba-tiba, Maya masuk dengan napas memburu. "Jek! Sensor distorsi kita di sektor utara... ada sesuatu yang menembusnya. Bukan kendaraan besar, tapi frekuensi yang sangat spesifik. Sangat halus."
Jek berdiri, kewaspadaannya kembali ke level puncak. "Frekuensi digital?"
"Bukan," Maya menelan ludah. "Ini frekuensi biologis yang terenkripsi. Mirip dengan pola saraf Jaringan Hijau, tapi... ini lebih manusiawi."
Dari kegelapan hutan jati, sesosok anak kecil muncul. Ia mengenakan pakaian yang jauh lebih bersih daripada warga kamp, namun matanya kosong. Di tangannya, ia memegang sebuah mawar kecil yang terbuat dari jalinan kabel perak yang sangat halus—satu-satunya benda yang tidak terpengaruh oleh zona distorsi Jek.
Anak itu berjalan lurus ke arah Jek, mengabaikan tatapan ngeri warga lainnya. Ia mengulurkan mawar kabel itu.
"Seseorang mengirimkan ini untukmu," suara anak itu terdengar datar, berlapis-lapis seperti suara mesin yang berusaha meniru manusia. "Dia bilang, kau tidak bisa menyembunyikan cahaya perak di bawah tumpukan sampah selamanya, Jek."
Jek menerima mawar itu. Saat jarinya menyentuh kabel perak tersebut, ia merasakan getaran kecil di tulang belakangnya—sebuah ping data singkat yang hanya bisa dibaca oleh sisa-sisa sel sarafnya yang pernah menyatu dengan sistem.
Pesan itu hanya berisi satu lokasi: Mercusuar.
Jek mengepalkan tangannya, menghancurkan mawar kabel itu hingga hancur menjadi debu. "Mereka menemukan kita."
"Siapa?" tanya Rara dengan nada cemas.
Jek menatap ke arah utara, ke arah kota yang gelap. "Sisa-sisa kesadaran yang tertinggal. Ternyata aku tidak benar-benar sendirian saat melakukan hard reset itu."
"Mercusuar bisa menunggu sampai besok," ujar Jek, suaranya tiba-tiba melunak saat ia melihat ketakutan di mata warga yang mengintip dari balik tenda. "Malam ini, kita punya alasan yang lebih penting untuk berkumpul."
Ia berpaling pada Rara dan Maya, lalu mengangkat kantong beras pemberian Gidion yang sempat terlupakan. "Kita punya beras, kita punya ubi, dan aku dengar Bang Toyib baru saja mendapatkan pasokan garam asli dari pesisir. Maya, matikan sensor distorsinya sebentar. Kita butuh malam yang tenang."
"Kau yakin?" tanya Maya ragu. "Bagaimana kalau mereka melacak kita?"
"Biarkan saja," jawab Jek mantap. "Jika ini adalah malam terakhir kita sebagai orang asing, maka setidaknya kita harus merayakannya sebagai sebuah keluarga."
Malam itu, Kamp Sampah berubah. Di tengah lapangan yang biasanya hanya berisi tumpukan besi tua, sebuah api unggun besar dinyalakan. Tidak ada lampu hologram, tidak ada musik digital. Hanya suara kayu yang berderak dan aroma nasi yang dimasak di dalam bambu—sebuah kemewahan yang membuat air liur siapa pun menetes.
Gidion datang membawa seekor ayam hutan hasil tangkapannya, sementara warga lain mengeluarkan simpanan rahasia mereka: jagung manis, madu hutan, hingga sisa-sisa kopi bubuk yang diseduh di dalam kaleng bekas.
"Untuk Kaisar Pingsan kita!" teriak Bang Toyib sambil mengangkat gelas kalengnya tinggi-tinggi. Gelak tawa pecah di seluruh penjuru kamp. "Terima kasih sudah menjadi orang paling bodoh yang menyelamatkan generator air kami!"
Jek duduk di samping Rara, mengenakan baju goninya yang paling bersih. Ia memegang piring daun pisang berisi nasi hangat dan sepotong kecil ayam bakar. Rasanya jauh lebih nikmat daripada simulasi nutrisi mana pun yang pernah ia rasakan saat menjadi pusat sistem.
"Lihat mereka," bisik Rara, menyandarkan kepalanya di bahu Jek. "Mereka tidak peduli kau ini dewa atau gembel. Bagi mereka, kau adalah orang yang membuat perut mereka kenyang malam ini."
"Dan orang yang bau sabunnya sangat ikonik," timpal Maya, yang sedang asyik mengunyah jagung bakar dengan wajah belepotan arang. "Jujur saja Jek, perjamuan miskin ini seratus kali lebih baik daripada pesta protokol di Sektor Inti."
Jek tersenyum, lalu ia berdiri di depan api unggun. Suasana perlahan hening. Mur kusam di jarinya memantulkan cahaya api, tampak lebih indah daripada berlian paling murni.
"Malam ini kita makan sebagai manusia," suara Jek terdengar tenang namun tegas. "Mungkin besok dunia akan kembali mengetuk pintu kita dengan kekerasan. Mungkin besok kita harus kembali bersembunyi. Tapi ingatlah rasa nasi ini. Ingatlah hangatnya api ini. Karena selama kita masih bisa berbagi dalam kemiskinan, tidak ada satu pun sistem yang bisa benar-benar menguasai kita."
Mereka makan, bernyanyi, dan bercerita hingga larut malam. Gidion bahkan mulai mengajari anak-anak cara membetulkan sendal jepit dengan kawat, sementara Maya sibuk berdebat dengan Bang Toyib soal cara terbaik menyeduh kopi tanpa ampas.
Saat api mulai mengecil menjadi bara, Jek menggenggam tangan Rara erat-alih-alih menatap Mercusuar yang jauh di cakrawala, ia memilih untuk menatap wajah Rara.
"Apa pun yang ada di Mercusuar itu, Ra," bisik Jek. "Dia tidak akan bisa mengambil ini dari kita."
Rara tersenyum, menutup matanya dan menikmati sisa kehangatan malam. Di tengah dunia yang hancur dan ancaman yang mengintai, perjamuan miskin itu menjadi benteng terakhir yang tidak bisa ditembus oleh algoritma mana pun.