Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinding Waras
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden sutra, menerangi debu-debu yang menari di udara penthouse. Di dalam kamar mandi, suara gemericik air shower menandakan Zeus sedang membersihkan diri.
Nomella baru saja hendak meraih jubah tidurnya ketika sebuah getaran hebat merobek keheningan.
Bzzz... Bzzz... Bzzz...
Nomella mematung. Itu bukan nada dering ponselnya. Ia juga tahu persis bunyi getaran ponsel utama Zeus yang biasanya tergeletak di nakas. Suara ini lebih teredam, lebih rahasia. Dengan rasa ingin tahu yang membuncah, Nomella mengikuti sumber suara itu hingga ke arah balkon.
Di sana, di atas kursi rotan yang tersembunyi di balik pot tanaman palem besar, sebuah ponsel hitam model lama bergetar hebat.
Jantung Nomella berdegup kencang. Ponsel kedua? Apa Zeus menyembunyikan selingkuhan? Ataukah ini bagian dari bisnis gelap keluarganya?
Nomella mengangkat ponsel itu. Ia tidak mengucapkan "Halo". Ia hanya diam, menahan napas, membiarkan kebisingan angin balkon menjadi latar belakang.
"Tuan Zeus?" suara seorang laki-laki paruh baya terdengar di seberang sana. Suaranya berat, tenang, namun mengandung nada otoritas medis yang kental.
"Tuan Zeus, asisten saya baru saja melaporkan bahwa sudah genap sebulan Anda tidak mengambil resep obat penenang dan obat delusi Anda. Ini sangat berbahaya bagi stabilitas Anda, Tuan. Kapan Anda akan memulai jadwal konseling kembali? Gejala disosiasi Anda bisa memburuk tanpa pengawasan. Tuan Zeus? Anda masih di sana?"
Deg.
Dunia Nomella seolah berhenti berputar. Ponsel itu hampir terlepas dari jemarinya yang mendadak dingin.
Obat penenang? Obat delusi? Konseling psikologis?
Kata-kata itu menghantam Nomella seperti godam raksasa. Tiba-tiba, memori yang selama ini ia kunci rapat di sudut terjauh otaknya meledak keluar. Ia teringat rekaman medis yang pernah ia curi waktu itu, tentang seorang pria yang hancur, dan tentang Zeus yang selama Tiga tahun ini hidup dalam identitas kakaknya yang sudah mati, pria yang jiwanya retak.
Selama sebulan ini, Nomella terlalu sibuk dengan egonya sendiri. Ia terlalu asyik dengan perang benci-tapi-cinta mereka. Ia begitu terbiasa dengan sosok Zeus yang "narsis" dan "protektif" hingga ia lupa satu fakta krusial: Matahari kampus itu memang bukan Zeus yang sebenarnya. Itu adalah sebuah konstruksi mental yang rapuh.
"Ya Tuhan..." bisik Nomella pelan, suaranya tertelan angin. "Sudah sebulan? Sejak kami menikah? Dia tidak meminum obatnya selama sebulan ini?"
Potongan-potongan kejadian seminggu terakhir berputar di kepalanya. Cara Zeus bicara pada perutnya, ritme lembutnya saat berhubungan intim, kegigihannya menyebut dirinya "Daddy"... itu bukan sekadar drama untuk publik. Itu bukan sandiwara untuk memenangkan perdebatan.
Itu adalah delusi yang nyata.
Tanpa obat-obatan itu, Zeus benar-benar percaya bahwa ada nyawa di dalam rahim Nomella. Dia benar-benar percaya bahwa dia memiliki kesempatan kedua untuk menjadi seorang pelindung, bukan pembunuh.
Nomella cepat-cepat mematikan ponsel itu dan menyembunyikannya kembali di tempat semula. Ia berlari kecil kembali ke kamar, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya.
Pintu kamar mandi terbuka. Uap hangat menguar keluar, bersamaan dengan Zeus yang hanya mengenakan handuk di pinggangnya, rambutnya basah dan acak-adakan.
Melihat Zeus, Nomella tidak bisa menahan dirinya. Rasa bersalah yang teramat sangat menyesakkan dadanya. Ia telah membiarkan pria yang sakit ini tenggelam dalam kebohongannya sendiri demi kepuasan egonya.
Nomella menghambur ke pelukan Zeus, melingkarkan tangannya di pinggang pria itu dan membenamkan wajahnya di dada bidangnya yang masih basah. Ia memeluk Zeus dengan kekuatan yang seolah-olah ia sedang mencoba menyatukan kembali kepingan jiwa Zeus yang pecah.
"Sayang? Ada apa?" suara Zeus terdengar sangat lembut, sangat penuh kasih sayang. Ia mengusap punggung Nomella dengan gerakan menenangkan.
"Apa jagoan kita sedang rewel pagi ini? Apa Mommy merasa mual?"
Nomella mengangguk dalam pelukan Zeus, air mata mulai mengalir tanpa bisa dibendung. "Iya... dia rewel sekali pagi ini, Zeus. Sangat rewel."
Zeus tersenyum kecil, sebuah senyum yang tampak begitu tulus hingga menyakitkan mata yang melihatnya. Ia menggendong Nomella seperti koala, membawa gadis itu kembali ke ranjang mereka dengan kelembutan yang luar biasa. Zeus membaringkan Nomella, lalu ia berlutut di depan perut istrinya.
Ia mencium perut rata itu dengan hikmat, seolah-olah di sana ada altar suci. "Sayang... apa lagi ini? Kamu menendang Mommy lagi? Jangan nakal ya, Papa di sini."
Nomella menutup mulutnya dengan tangan, isakannya pecah. Air matanya mengalir deras, membasahi bantal. Ia menangis sejadi-jadinya, bukan karena bahagia, tapi karena duka yang amat sangat. Ia menangis untuk Zeus yang kehilangan akal sehatnya, dan untuk dirinya sendiri yang telah menjadi katalis bagi kegilaan ini.
"Iya, Daddy..." bisik Nomella di sela isakannya, suaranya parau oleh duka. "Dia menendang sangat keras. Dia merindukanmu."
Zeus mendongak, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang nyata. Ia mengusap air mata di pipi Nomella. "Jangan menangis, Mommy. Kita akan ke rumah sakit nanti, oke? Kita akan pastikan dia baik-baik saja."
Nomella mengangguk lemah. "Iya, Zeus. Kita harus ke rumah sakit."
Drama bayi itu berlanjut hingga ke meja makan. Sepanjang sarapan, Zeus tidak berhenti bicara tentang masa depan.
Dia bicara tentang sekolah yang akan dipilih, warna kamar bayi, hingga rencana liburan keluarga mereka tahun depan. Setiap kata yang keluar dari mulut Zeus terasa seperti sembilu yang menyayat hati Nomella.
Nomella menunduk, menatap piringnya yang masih penuh. Di bawah meja, tangannya meremas serbet hingga kusut. Maafkan aku, Zeus, batinnya menjerit. Maafkan aku karena telah melupakan bahwa kau masih sakit. Maafkan aku karena telah memanfaatkan kegilaanmu untuk kepentinganku.
Di seberang meja, Zeus tersenyum lebar, menatap perut Nomella dengan binar harapan yang begitu murni, sementara Nomella tahu bahwa di dalam sana hanya ada ruang kosong yang dingin—sama seperti kenyataan yang akan segera menghancurkan Zeus jika kebenaran ini terungkap.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰