NovelToon NovelToon
Dokter Meets Mafia

Dokter Meets Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Mafia / Dokter
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.

Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.

Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.


Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.


Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Evelyn berdiri tegak di tengah ruang pemeriksaan, jas dokternya yang putih bersih tampak kontras dengan kesibukan yang tak pernah benar-benar berhenti di sekelilingnya. Sebagai seorang dokter bedah, hari-harinya nyaris selalu dipenuhi dengan tanggung jawab besar, bukan hanya soal menyembuhkan, tapi juga tentang mempertaruhkan harapan hidup seseorang di atas kedua tangannya.

Hari itu, daftar pasiennya cukup panjang.

Satu per satu pasien dipanggil masuk ke ruangannya. Evelyn memeriksa mereka dengan teliti, matanya tajam mengamati setiap detail kecil yang mungkin terlewat oleh orang lain. Tangannya bergerak terampil, sesekali menekan perlahan area tertentu untuk memastikan diagnosisnya tidak keliru.

“Coba tarik napas dalam, lalu keluarkan perlahan,” ucapnya lembut pada seorang pasien pria paruh baya yang tampak meringis menahan nyeri di bagian perut.

Pasien itu menurut, meski wajahnya menegang. Evelyn mengangguk pelan, lalu mencatat sesuatu di rekam medisnya. Dari hasil pemeriksaan awal, ia sudah memiliki dugaan kemungkinan besar pasien ini membutuhkan tindakan operasi.

Namun, sebagai dokter bedah yang berpengalaman, Evelyn tidak pernah gegabah.

“Rasa sakitnya sejak kapan?” tanyanya lagi, suaranya tenang namun penuh penekanan.

“Sejak dua hari lalu, Dok... tapi tadi pagi semakin parah,” jawab pasien itu terbata.

Evelyn menghela napas pelan. Ia lalu menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami, tanpa mengurangi keseriusan kondisi pasien tersebut.

“Kita perlu lakukan pemeriksaan lanjutan. Kemungkinan ada peradangan yang cukup serius. Kalau hasilnya sesuai dugaan saya, kita harus segera ambil tindakan operasi,” jelasnya.

Pasien itu tampak cemas, begitu juga dengan keluarganya yang menunggu di luar. Namun, cara bicara Evelyn yang tenang dan penuh keyakinan sedikit banyak mampu menenangkan mereka.

Setelah pasien pertama keluar, pasien berikutnya langsung masuk. Rutinitas itu terus berulang.

Meski lelah mulai terasa di pundaknya, Evelyn tetap menjaga profesionalismenya. Tidak ada satu pun pasien yang diperlakukan dengan terburu-buru. Baginya, setiap orang yang duduk di hadapannya adalah nyawa yang berharga.

Di sela-sela kesibukan, seorang perawat mengetuk pintu dan masuk dengan wajah sedikit tegang.

“Dokter Evelyn, pasien di ruang IGD membutuhkan konsultasi segera. Diduga kasus trauma abdomen akibat kecelakaan,” lapornya.

Evelyn langsung mengangkat kepala. Sorot matanya berubah serius dalam sekejap.

“Siapkan ruang operasi. Saya akan ke sana sekarang,” ucapnya tegas.

Tanpa membuang waktu, ia melepas sarung tangan medisnya dan berjalan cepat keluar ruangan. Langkahnya pasti, penuh tujuan. Dalam hitungan detik, ia sudah berganti dari dokter poliklinik menjadi seorang dokter bedah yang siap menghadapi situasi darurat.

Di lorong rumah sakit, suara langkah kakinya menggema pelan. Perawat-perawat yang berpapasan dengannya langsung memberi jalan. Mereka tahu, ketika Evelyn berjalan secepat itu, artinya ada sesuatu yang tidak bisa ditunda.

Sesampainya di IGD, ia langsung mendekati pasien yang terbaring dengan kondisi kritis. Darah masih terlihat di beberapa bagian tubuh pasien, sementara alat monitor menunjukkan tanda-tanda vital yang tidak stabil.

“Tekanan darah?” tanyanya cepat.

“Menurun, Dok. 90 per 60,” jawab perawat.

Evelyn mengangguk. Tangannya segera bergerak memeriksa kondisi pasien, memastikan titik-titik vital yang harus segera ditangani.

“Kita tidak punya banyak waktu. Ada kemungkinan perdarahan internal. Kita bawa ke ruang operasi sekarang,” perintahnya tanpa ragu.

Dalam situasi seperti itu, tidak ada ruang untuk ketakutan. Hanya ada keputusan, kecepatan, dan ketepatan.

Beberapa menit kemudian, Evelyn sudah berdiri di dalam ruang operasi, mengenakan pakaian bedah lengkap. Lampu operasi menyala terang di atasnya, menerangi tubuh pasien yang kini sepenuhnya berada di bawah tanggung jawabnya.

Ia menatap sejenak ke arah pasien itu.

Dalam diam, ada satu hal yang selalu ia jaga—sebuah janji tak terucap bahwa ia akan melakukan yang terbaik.

“Scalpel,” ucapnya mantap.

Alat itu segera diberikan ke tangannya.

Dan dalam detik itu, dunia di sekitarnya seakan menghilang. Tidak ada lagi suara selain instruksi yang ia berikan dan detak mesin monitor. Fokusnya hanya satu, menyelamatkan nyawa yang kini bergantung pada keahliannya.

Evelyn bukan hanya seorang dokter. Ia adalah garis terakhir antara hidup dan kematian.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Enzo menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang, satu alisnya terangkat tinggi mendengar jawaban polos yang keluar dari mulut kecil Azzura. Sejak gadis kecil itu duduk di sampingnya, rasanya tidak ada satu pun kalimat yang benar-benar bisa ia tebak.

Matanya melirik sekilas ke arah Azzura yang sedang asyik memainkan ujung selimut ranjang, seolah percakapan mereka hanyalah obrolan ringan tanpa beban. Padahal bagi Enzo, ini seperti sesi interogasi... hanya saja versi mini dan jauh lebih berbahaya.

“Orang tuamu ke mana? Kenapa kamu ikut aunty-mu kerja?” tanya Enzo lagi, mencoba memastikan bahwa pendengarannya tidak salah tadi.

Azzura langsung menoleh, wajahnya polos tanpa dosa. “Lagi cibuk buat adik bayi,” jawabnya santai.

Enzo mengerjap. “…Apa?”

“Adik bayi om. Makanya Jula di culuh ngungci dulu, bial cepat jadi kata papa,” lanjut Azzura tanpa merasa ada yang aneh dengan penjelasannya.

Hening. Enzo menarik napas panjang. Sampai rasanya paru-parunya ikut mempertanyakan keputusan hidupnya yang berujung pada percakapan ini.

Dia menatap langit-langit kamar, lalu kembali melihat Azzura. Gadis kecil itu masih terlihat santai, bahkan kini mengayun-ayunkan kakinya dengan riang.

“Orang tuamu… kreatif juga, ya,” gumam Enzo pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Azzura mengangguk bangga. “Iya dong. Papa bilang kalau mau adik cepat datang halus fokus.”

Enzo langsung menutup wajahnya dengan tangan.

Fokus?

Dia bahkan tidak yakin ingin tahu fokus seperti apa yang dimaksud.

Beberapa detik kemudian, Enzo menurunkan tangannya. Tatapannya kini berubah sedikit lebih serius, atau setidaknya berusaha terlihat serius.

“Menurutmu aunty Eve sudah punya kekasih belum?” tanyanya, mencoba mengalihkan topik ke sesuatu yang… lebih aman. Setidaknya, ia berharap begitu.

Azzura langsung menoleh cepat, matanya berbinar seperti menemukan topik favorit.

“Belum,” jawabnya singkat.

Enzo mengangguk pelan. Entah kenapa, jawaban itu membuat dadanya sedikit lebih ringan.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

“Tapi yang di cuka ada,” lanjut Azzura.

Enzo membeku. “Yang… di suka?” ulangnya perlahan, memastikan.

Azzura mengangguk mantap. “Iya. Banyak malah.”

“Banyak?” Nada suara Enzo naik satu oktaf.

Azzura menghitung dengan jari kecilnya. “Satu… dua… tiga… eh, banyak deh pokoknya. Jula campai lupa" katanya sambil tertawa kecil.

Enzo kembali menghela napas. Kali ini lebih pendek, tapi sarat makna. “Memangnya siapa?” tanyanya, berusaha terdengar santai, meski jelas-jelas tidak.

Azzura menyeringai kecil, ekspresinya berubah seperti sedang menyimpan rencana besar.

“Om ganteng.”

“Om ganteng yang mana?” tanya Enzo cepat.

Azzura menunjuk lurus ke arahnya.

“Kamu.”

Enzo benar-benar kehabisan kata-kata. Dia menatap Azzura, lalu menunjuk dirinya sendiri. “Aku?”

Azzura mengangguk penuh keyakinan. “Iya. onty celing celita kok ke Jula" katanya bohong.

Enzo langsung duduk lebih tegak. “Serius?”

“Iya. Tapi muka om cangat galak, jadi onty takut” tambah Azzura tanpa beban.

Enzo terdiam, lalu tanpa sadar merapikan rambutnya dengan satu tangan.

“Oh… gitu ya…” gumamnya, berusaha menyembunyikan senyum yang mulai muncul.

Namun belum sempat ia menikmati momen itu lebih lama.

“Tapi kadang onty juga cuka dokter Falhan,” sambung Azzura santai. Beberapa kali Evelyn pernah curhat kepada ponakannya tentang pria itu.

Senyum Enzo langsung hilang. “Siapa?” tanyanya datar.

“Itu loh, doktel yang celing bikin onty cenyum cendili” jawab Azzura polos.

Kali ini, Enzo benar-benar bersandar lemas ke ranjang. Dia menatap langit-langit lagi, seolah mencari jawaban atas takdir hidupnya.

“Anak kecil sekarang… berbahaya juga,” gumamnya pelan.

Sementara itu, Azzura hanya tertawa kecil, merasa percakapan mereka sangat menyenangkan.

Dan Enzo?

Dia baru saja sadar satu hal penting, Mengorek informasi dari anak kecil ternyata jauh lebih melelahkan daripada menghadapi musuh di medan perang.

1
Atik Marwati
musuh sesungguhnya yang tak bisa ditebak
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣...dimakan mucang katanya👻👻👻👻
Atik Marwati
semangat Evelyn kamu akan dapatkan enzo😂
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣🤣 teryata drama
Abidin Ariawan
,,, cerita semacam ini,, gengster/mafia,, biasanya menghindari RS , bahkan punya dokter/tenaga medis sendiri meski ilegal,, untuk menghindari hukum/aparat,, apalagi bos nya lebih privat lagi,,, tp dicerita ini,,, terserah penulis siih
Atik Marwati
dia ketua mafia..
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐
Atik Marwati
mohon maaf lahir dan batin
stela aza
dikit bener 🤦
Nia Nara
Thor lanjut dong..
Atik Marwati
dokter Evelyn kamu keren🥰🥰🥰
Atik Marwati
🤣🤣🤣 salah sendiri kabur kaburan..
Atik Marwati
kurang perhitungan Enzo di lawan
Atik Marwati
tar pasti tahu tahu Enzo udah ada di kamar rawatnya lagi🤣🤣
stela aza
lanjut thor up-nya double y
Atik Marwati
mau perang dia gak betah tidur lama lama😂😂
Atik Marwati
sudah ku duga🤭🤭🤭🤭
Atik Marwati
ditunggu kebucinan mafia enzo🧐🧐🧐🧐
Atik Marwati
wkwkwkw...mafianya mleyot
Atik Marwati
gabung thor🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!