NovelToon NovelToon
Pengantin Genderuwo

Pengantin Genderuwo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Dunia Lain / Suami Hantu
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kemarahan Siti

​Malam itu, rembulan tertutup awan tebal, menyisakan kegelapan yang pekat di atas atap megah rumah Paman Broto. Di dalam kamarnya yang beraroma dupa melati, Mirasih duduk di tepi ranjang sutranya. Di tangannya, selembar kertas kusam pemberian Tono terasa begitu berat. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia mulai membaca baris demi baris tulisan tangan yang sangat ia kenali—tulisan tangan Aditya.

​Isi surat itu bagaikan guntur di siang bolong. Aditya bercerita tentang kerinduan yang mendalam, tentang sakit yang ia derita, dan tentang janji suci yang masih ia genggam erat untuk segera pulang dan menikahi Mirasih. Kalimat-kalimatnya begitu hangat, tulus, dan penuh harapan—sangat bertolak belakang dengan surat dingin berisi pemutusan hubungan yang diterima Mirasih beberapa waktu lalu.

​Sejenak, benteng es di hati Mirasih retak. Setitik air mata menggenang di pelupuk matanya. “Apakah mungkin... apakah benar dia masih mencintaiku? Apakah surat yang dulu itu bukan darinya?” bisik batinnya yang paling dalam. Harapan yang sempat mati itu seolah ingin berkecambah kembali.

​Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa detik.

​Hawa dingin yang menusuk tulang tiba-tiba memenuhi ruangan. Lampu minyak meredup, dan dari balik bayangan kelambu, muncullah sosok lelaki tampan dengan pakaian bangsawan Jawa kuno yang sangat rapi. Ia adalah Ki Ageng Gumboro dalam wujud manusianya. Ia melangkah mendekat dengan senyum tipis yang penuh muslihat.

​"Kau meragukan penglihatanmu sendiri, Permaisuriku?" suara baritonnya menggema, terasa seperti getaran di dalam dada Mirasih.

​"Tuan... surat ini... isinya sangat berbeda," ucap Mirasih lirih, mencoba menyembunyikan surat itu di balik bantal.

​Ki Ageng Gumboro tertawa kecil, suara tawa yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia mengibaskan tangannya di udara, dan seketika itu juga, permukaan cermin besar di depan Mirasih berubah menjadi cair. Di dalam cermin itu, muncul gambaran yang sangat jelas—gambaran Jakarta di sore hari.

​Mirasih terpaksa melihat. Di sana, ia melihat Aditya sedang berjalan di sebuah pasar malam. Di sampingnya, seorang gadis bernama Ningsih tertawa riang sambil menggandeng lengan Aditya dengan erat. Mereka terlihat sangat bahagia, duduk berdua di bangku taman sambil berbagi makanan. Ki Ageng Gumboro memutar "film" itu sedemikian rupa, memperlihatkan saat Aditya menepuk bahu Ningsih dengan lembut—yang oleh mata batin Mirasih yang sudah diracuni, terlihat seperti belaian cinta yang dalam.

​"Laki-laki itu sedang memainkan sandiwara, Mirasih," bisik sang Genderuwo tepat di telinga Mirasih. "Dia mengirim surat rindu padamu hanya agar hatimu tetap bisa ia nikmati saat ia pulang nanti, sementara di sana, hatinya sudah milik wanita lain. Lihatlah... apa dia tampak seperti orang yang merana merindukanmu?"

​Kemarahan Mirasih meledak. Harapan yang baru saja tumbuh itu seketika dibakar oleh api cemburu yang luar biasa. Ia meremas surat Aditya hingga lecek. Matanya yang tadi berkaca-kaca kini berkilat merah karena dendam.

​"Cukup, Tuan! Aku sudah melihat cukup banyak!" teriak Mirasih. "Dia memang sama saja dengan lelaki lain. Manis di bibir, busuk di hati!"

​Keesokan paginya, Mirasih bangun dengan tekad yang sudah bulat seperti batu karang. Ia mengenakan kebaya hitam yang anggun namun memancarkan aura kegelapan. Tanpa memedulikan tatapan heran Paman Broto, Mirasih berjalan kaki menuju rumah Mak Inah. Ia tidak menggunakan mobil atau pengawal, ia ingin menyampaikan "pesan kematian" cintanya secara langsung.

​Sesampainya di gubuk Mak Inah, ia menemukan calon ibu mertuanya itu sedang menjemur kain.

​"Mirasih? Nduk, ada apa pagi-pagi kemari?" tanya Mak Inah dengan wajah ceria, berharap ada kabar baik.

​Mirasih tidak menjawab sapaan itu dengan senyuman. Ia langsung menyodorkan surat Aditya yang sudah lecek ke tangan Mak Inah.

​"Mak, ini surat dari Aditya. Dia mengirimkannya lewat temannya kemarin," ucap Mirasih dengan nada datar dan dingin.

​Mak Inah menerima surat itu dengan tangan gemetar karena senang. "Alhamdulillah... akhirnya dia kirim surat. Kenapa wajahmu begini, Nduk? Harusnya kamu senang."

​Mirasih mendengus sinis. "Senang? Bagaimana saya bisa senang, Mak? Di surat ini dia bicara manis seolah saya ini satu-satunya. Tapi Mak tahu tidak? Ada teman saya yang baru pulang dari Jakarta melihat Aditya di sana sudah hidup bahagia dengan wanita lain namanya Ningsih. Mereka jalan-jalan ke bioskop, ke pasar malam, sudah seperti suami istri."

​Mak Inah tertegun, wajahnya mendadak pucat pasi. "Tidak mungkin, Mir... Aditya bukan anak seperti itu. Dia anak yang setia, dia..."

​"Kesetiaan itu harganya murah di kota besar, Mak!" potong Mirasih tajam. "Saya kemari hanya ingin bilang, tolong beritahu anak Mak itu: jangan kirim-kirim surat lagi pada saya. Urus saja wanita barunya itu. Saya sudah muak dengan segala kebohongannya."

​Tanpa menunggu jawaban, Mirasih berbalik dan pergi dengan langkah yang angkuh. Ia meninggalkan Mak Inah yang langsung luruh ke lantai tanah, mendekap surat itu sambil menangis sesenggukan. Hati Mak Inah hancur; ia terjepit antara rasa sayangnya pada Aditya dan fakta menyakitkan yang baru saja dilontarkan Mirasih dengan begitu meyakinkan.

​Beberapa saat kemudian, Siti pulang dari sekolah. Ia melihat ibunya terduduk lesu di lantai dapur dengan mata yang bengkak karena terlalu banyak menangis. Siti segera berlari dan memeluk ibunya erat-erat.

​"Ibu! Ada apa, Bu? Kenapa Ibu menangis seperti ini?" tanya Siti panik.

​Dengan suara terputus-putus, Mak Inah menceritakan kedatangan Mirasih dan berita tentang pengkhianatan Aditya di Jakarta. Siti terdiam, dadanya terasa sesak. Di satu sisi, ia tidak percaya kakaknya sejahat itu, namun di sisi lain, ia melihat betapa yakinnya Mirasih saat bercerita.

​"Kalau memang benar Kak Adit seperti itu... Siti kecewa sekali, Bu," ucap Siti dengan nada marah yang tertahan. "Kita di sini susah payah membela dia, mendoakan dia, tapi dia malah asyik-asyikan dengan wanita lain?"

​Amarah remaja Siti meledak. Ia tidak tahan melihat ibunya disakiti secara tidak langsung oleh kelakuan kakaknya. Sore itu juga, Siti mengambil selembar kertas. Dengan penuh amarah, ia menulis surat balasan untuk Aditya. Isinya penuh dengan makian dan kekecewaan, menyuruh Aditya tidak perlu pulang jika hanya untuk membawa malu bagi keluarga dan menyakiti hati Mirasih.

​"Siti akan antarkan ini ke Tono, Bu. Dia bilang besok baru pulang ke kota," ucap Siti sambil menyeka air matanya.

​Siti segera mengayuh sepedanya sekuat tenaga menuju rumah Tono di desa sebelah. Jantungnya berdebar kencang, ia ingin surat kemarahannya itu segera sampai agar kakaknya tahu betapa hancurnya perasaan ibu mereka.

​Namun, sesampainya di rumah Tono, Siti mendapati rumah itu sudah sepi. Istri Tono yang sedang hamil tua tampak sedang duduk di teras.

​"Mbak, Mas Tono-nya ada?" tanya Siti terengah-engah.

​"Walah, Siti... Tono sudah berangkat tadi jam dua siang. Katanya ada urusan mendadak dari mandornya, jadi dia dipanggil kembali ke kota lebih cepat," jawab istri Tono dengan wajah polos.

​Siti lemas. Ia memegang surat di tangannya dengan perasaan frustrasi. Surat kemarahannya tidak sempat terkirim, dan itu berarti ia tidak punya cara untuk melampiaskan kekesalannya pada Aditya saat ini.

​Ia berdiri terpaku di jalan desa yang mulai gelap. Di kejauhan, ia melihat lampu-lampu megah di rumah Mirasih mulai menyala satu per satu, sementara di sisi lain, mushola tempat Budi berada tampak tenang dengan cahaya lampu yang temaram.

​Siti merasa dunianya seolah sedang runtuh. Kakak yang ia banggakan ternyata seorang pengkhianat, dan wanita yang ia kagumi (Mirasih) kini telah berubah menjadi sosok yang dingin dan penuh benci. Dalam kegalauannya, Siti tanpa sadar mengayuhkan sepedanya menuju ke arah mushola. Ia butuh ketenangan, ia butuh seseorang yang bisa mendengarkan keluh kesahnya tanpa menghakimi.

​Di teras mushola, Budi baru saja selesai merapikan mukena. Ia melihat Siti datang dengan wajah yang kacau balau.

​"Dik Siti? Kenapa menangis sore-sore begini?" tanya Budi dengan nada khawatir yang tulus.

​Siti tidak menjawab, ia hanya menunduk dalam-dalam sambil meremas surat yang gagal dikirimnya. Di bawah bayang-bayang pohon jati yang mulai gelap, Siti merasa bahwa hanya di mushola inilah ia bisa menemukan sedikit kedamaian di tengah badai fitnah dan dendam yang sedang menguliti desanya.

1
Nurr Tika
kasian adit padahal ga salah
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
apakah Mak Inah meninggal?
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
baru sadar kau Adit ,
membawa Ningsih ke desa adalah
kehancuran mu
Nurr Tika
lanjut thor
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
Aditya terlalu lemah
sampai kapan kau biarkan keadaan bgini
bahkan kau pun tak kan bisa membawa Mirasih kembali menemukan jiwa nya yg tergadai iblis
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
ruwett ruwet
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
penjelasnmu tak kan mampu
menarik kembali Mirasih yg dlu Aditya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
kamu tdk akan bisa kembali memiliki Mirasih Aditya
selama kemewahan dari iblis dinikmati Mirasih yg dgn sukarela menggadaikan nyawa nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
andaikan Mirasih tdk terbujuk rayu iblis yang memiliki jiwa nya ..
semua kepalsuan itu di tanganmu sendiri Mirasih ...
mata hati mu tertipu iblis yg dulu kau benci
Nurr Tika
kamu akan menyesal mirasih
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
Mirasih matii sisi manusia nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
masa pubertas sitii
jodoh ngga ya sama mas Budi
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
badai yang diciptakan oleh Mirasih
kabut ghoib genderuwo tak akan membiarkan Mirasih lepas darinya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
setitik nafas Mirasih masih mengingat Tuhan ,tapi mengingkarinya
mungkin kah Budi penawar luka Mirasih setelah kehilangan Aditya
Nurr Tika
knp ga dari awal mirasih ikut adit ke kota
Nurr Tika
kenapa kamu mau menuruti mereka
Nurr Tika
sungguh kasihan mirasih
Nurr Tika
tega sekali meraka
Nurr Tika
mending kabur aja
Nurr Tika
ga tega liat mirasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!