Leticha gadis 22 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya demi menyelamatkan perusahaan. Seharusnya saudaranya yang dijodohkan, tetapi karena menurut sang ayah Leticha membutuhkan seorang pemimpin dalam keluarga, membuat sang ayah memilih untuk menjodohkannya.
Leticha berusaha dengan semampunya untuk membatalkan perjodohan dengan pria berusia 36 tahun. Pria agamis dengan segala ilmu pengetahuan, tetapi usahanya tidak berhasil yang akhirnya membuatnya menikah dengan pria tersebut.
Tidak sampai di sana, Leticha masih terus mencari cara agar bisa berpisah dari tingkah lakunya agar tidak disukai, tetapi suaminya memiliki hati dan sifat yang benar-benar sabar.
Jangan lupa terus ikuti cerita saya.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 Saling Bersama
Setelah beberapa menit akhirnya ciuman itu selesai. Rakash dan Letisha sama-sama membuka mata dengan keduanya saling melihat satu sama lain. Nafas keduanya masih sama-sama memburu.
Rakash tidak berkata apapun dan membawa Letisha ke dalam pelukannya. Letisha tidak menyangka jika hari ini bisa terjadi. Letisha juga begitu nyaman di dalam pelukan selamanya itu dengan mata terpejam dan lingkaran tangannya seolah-olah tidak ingin melepaskan.
Sementara Rakash mengusap-usap pucuk kepala sang istri, Rakash juga memejamkan mata yang merasa begitu nyaman. Saat ini suasana hati keduanya jauh lebih baik daripada sebelumnya tanpa mereka berbicara satu sama lain, mereka sudah mengetahui isi hati masing-masing.
*****
Rakash dan Letisha saat ini berada di dalam mobil, ketika keduanya berciuman romantis dan malah terlihat begitu canggung. Rakash berusaha fokus untuk menyetir dan sementara Letisha masih saja terlihat begitu gugup dengan kesulitan menelan ludah.
Gerak-gerik tubuhnya sebentar-sebentar ingin menoleh ke sebelahnya, tetapi di saat Rakash melihat dirinya dan kembali Letisha mengalihkan pandangannya.
"Kamu ingin mengatakan sesuatu kepada saya?" tanya Rakash.
"Hmmm, tidak, oh iya," Letisha sedikit begitu gugup karena setelah ciuman itu mereka tidak ada berbicara satu sama lain.
"Apa yang ingin aku katakan kepadanya?" Letisha kebingungan sendiri dengan isi pikirannya. Karena saat ini memang tidak tahu apa yang ingin dia bicarakan.
"Ada apa?" tanya Rakash.
"Hmmmm, anu itu....."Letisha terasa tidak mampu untuk mengungkapkan secara langsung kepada suaminya itu.
"Ada apa Letisha?" Rakash kembali bertanya hingga memastikan.
"Hmmmm, Papa mengundang kita untuk ke rumah, aku juga tidak tahu untuk apa," jawab Letisha.
Untung saja dia mengingat bahwa Richard ayahnya baru saja menelepon dan menyuruhnya datang ke rumah bersama dengan suaminya.
"Sekarang?" tanya Rakash.
"Hmmm, untuk makan malam," jawab Letisha.
"Baiklah kalau begitu kita langsung saja ke rumah orang tua kamu," ajak Rakash. Letisha menganggukkan kepala menuruti suaminya itu.
"Kenapa tiba-tiba saja aku menjadi orang yang tidak banyak bicara? Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiranku saat ini? Apa setelah ciuman itu berakhir dan maka semuanya juga selesai?"
"Ya Allah bagaimana ini? Apa ini benar-benar sungguhan?"
"Apa dia memang tipe orang seperti itu? tidak membicarakan apapun dan salah satu itu saja atau justru akan melupakannya?" Letisha berbicara sendiri dalam otaknya.
Letisha sampai memukul-mukul kepalanya.
"Ada apa Letisha?" tanya Rakash melihat kelakuan aneh sang istri.
"Tidak! Tidak apa-apa," jawabnya dengan cepat.
"Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Rakash lagi.
"Hmmm, kepalaku hanya sedikit sakit saja dan aku sama sekali tidak kenapa-napa," jawab Letisha dengan tersenyum terpaksa.
"Begitu," sahut Rakash.
"Huhhhh, Letisha tolong jaga sikap kamu, kamu jangan berperilaku seperti ini, kamu harus bisa menahan diri kamu anda jangan seperti anak kecil di hadapannya," batin Letisha berusaha untuk setenang mungkin.
*****
Kediaman Ricard.
Akhirnya pasangan suami istri itu tiba-tiba juga di kediaman orang tua Letisha. Seperti biasa Letisha tidak memiliki semangat jika harus menginjakkan kaki di tempat seperti itu.
Letisha menghentikan langkah ketika di parkiran terdapat beberapa mobil.
"Apa ada kamu lain selain kita?" tanya Letisha.
"Saya juga tidak tahu? Apa Papa mengatakan kepada kamu bahwa ada tamu lain?" tanya Rakash.
"Tidak juga sih," jawab Letisha.
"Kalian sudah datang!" keduanya sama-sama melihat ke arah pintu ketika mendengar suara yang tak lain adalah Richard.
Richard menghampiri anak menantunya itu.
"Papa senang jika kalian berdua tidak datang terlambat. Letisha permasalahan diantara kita belum selesai. Hari ini ada tamu penting dan Papa tidak akan membahas masalah kamu, papanya menunggu bagaimana kamu membuktikan bahwa kamu tidak bersalah dan Papa meminta untuk saat ini kamu menjemput sikap karena kita memiliki tamu penting!" tegas Richard mewanti-wanti putrinya itu.
"Sepenting apa tamu itu," gumam Letisha terdengar begitu kesal membuat Richard menatapnya serius karena sudah pasti mendengar protes dari Letisha.
"Iya-iya. Letisha tidak akan melakukan hal yang tidak disukai Papa," ucapnya.
"Baiklah, sekarang sebaiknya kita langsung masuk!" ajak Richard.
"Sebentar!" Richard kembali menghentikan Letisha membuat Letisha kebingungan.
"Kamu pakai ini?" Richard memberikan paper bag kecil yang sejak tadi dia pegang.
"Apa ini?" tanyanya mengeluarkan isi paper bag tersebut dan ternyata pashmina panjang.
"Tamu yang ada di dalam rumah adalah tokoh agama dan sangat tidak sopan jika salah satu Putri Papa tidak menutup auratnya," ucap Richard.
"Ya kalau begitu jangan menyerah Letisha datang ke rumah ini," ucap Letisha.
"Papa sudah mengatakan kepada kamu untuk satu hari ini saja. Kamu bersikap lebih baik dan jangan protes!" tegas Richard.
"Iya-iya," sahut Letisha benar-benar penuh dengan kekesalan.
Dengan sangat terpaksa Letisha memakai pashmina tersebut ala kadarnya dan Untung saja pakaian yang dia pakai sangat mendukung. Rakash mungkin dalam posisi seperti itu tidak bisa protes.
Ketika sudah menjamin bahwa Letisha cocok untuk bertemu dengan tamunya dan akhirnya Rakash bersama dengan istrinya memasuki rumah.
Benar apa yang dikatakan Richard bahwa tamu mereka memang bukan sembarangan, terlihat dua wanita bercadar dan bahkan seorang pria bersambung dengan jenggot berwarna putih dan juga terlihat satu orang pria dengan memakai sorban.
"Apa sedang ada acara maulid!" batin Letisha.
"Maaf jika saya terlalu lama keluar, hanya menjemput putri pertama saya dan juga menantu saya," jawab Richard dengan tersenyum.
"Tidak masalah tuan Richard," sahut pria tua tersebut.
Letisha bersama suaminya mengambil tempat duduk dengan duduk bersebelahan.
"Letisha perkenalkan mereka ini adalah tamu penting di rumah kita. Ini adalah Agam yang akan menjadi suami dari Vanilla. Papa mengundang kalian berdua untuk datang ke rumah ini agar saling mengetahui satu sama lain karena sebentar lagi Vanila akan menikah dengan Agam," jelas Richard.
"Begitu!" sahut Letisha terdengar begitu santai.
"Letisha kamu pasti kaget karena aku tiba-tiba menikah. Aku memang tidak suka untuk membicarakan hal-hal yang belum tentu terjadi dan takutnya jadi pamali," sahut Vanila.
"Tidak! kamu terlalu berlebihan menganggap reaksiku seperti itu. Aku tidak kaget sama sekali dan justru menganggap hanya itu biasa," sahut Letisha dengan santai.
"Lalu bagaimana dengan calon suamiku dan juga keluarga suamiku? Apa menurut kamu cocok denganku?" tanya Vanila.
Mata Letisha melihat ke arah pria yang akan menjadi kipernya itu dan pria itu sejak tadi menunjuk dan menjaga pandangannya.
"Hmmm, coco, kalian berdua sangat cocok, pasti kalian berdua adalah orang-orang yang pintar berbicara dan selalu membungkus dengan agama," jawab Letisha.
"Letisha!" tegur Richard.
Letisha hanya menghela nafas.
"Maaf putri saya memang terkadang berbicara suka bercanda," sahut Richard.
"Tidak apa-apa tuan Richard. Saya baru saja bertemu dengan putri Anda saat ini. Karena mereka berdua tidak terlihat mirip. Apa mereka saudara kandung?" tanya wanita bercadar itu.
"Tidak!" Letisha dengan semangat untuk tidak menjawab karena memang tidak ingin mengakui Vanila sebagai saudaranya.
"Ibu kandung saya sudah meninggal sejak lahir usia 10 tahun," jawab Letisha dengan tersenyum.
"Berarti tuan Richard kembali menikah setelah ibu dari Letisha meninggal?"tanya wanita itu lagi.
"Tidak!" lagi dan lagi Letisha yang menjawab dan bahkan tidak mengizinkan Richard untuk berbicara.
"Mereka sudah memiliki hubungan sebelum ibu saya meninggal dan saya juga tidak tahu kapan mereka menikah, jika istilah saat ini adanya perselingkuhan dalam rumah tangga, kalau bahasa trennya pelakor," ucap Letisha seolah-olah itu adalah ungkapan yang tersimpan selama ini.
"Letisha!" Tegur Richard semakin marah dengan putrinya itu yang semakin berbicara dengan lancang.
Rakash Tidak ikut-ikutan berkomentar dan mungkin yang mengetahui bagaimana perasaan istrinya sendiri adalah sang pemilik sendiri.
"Kurang ajar anak ini? Bisa-bisanya dia mempermalukanku di hadapan tamu penting saat ini," batin Liana sudah pasti sangat tersinggung dengan semua perkataan Letisha.
Bersambung......