Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.
Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.
Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa.
Keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Namun ia memilih tetap rendah hati, menyembunyikan kejeniusannya demi menjaga rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati yang sayangnya disia-siakan oleh suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 12.
Tubuh Angkasa tiba-tiba sedikit limbung, tangannya refleks menekan pelipis yang mengeluarkan darah tipis.
Damar yang berdiri di sampingnya langsung sigap memapah. “Tuan, hati-hati.”
Ia lalu menoleh ke arah Arunika dengan ekspresi memohon. “Nona, Tuan Angkasa terluka saat menabrak mobil yang mencoba mencelakai Anda tadi. Bisakah Anda membantunya? Setidaknya menghentikan darahnya.”
Mata Angkasa berkedip pelan, dalam hati ia hampir tertawa. Damar… kau cukup pintar membaca situasi. Nanti kau akan dapat bonus.
Namun sebelum Arunika menjawab, Simon sudah lebih dulu memotong dengan nada kesal.
“Arunika bukan dokter, bawa saja atasanmu ke rumah sakit kalian!” katanya tajam. “Bukankah ada Dokter Jenius di sana? Suruh saja dia yang mengobati tuanmu!”
Damar terkekeh, menahan tawanya. Sebagai suami, Simon bahkan tidak tahu siapa Dokter Jenius yang dimaksud. Padahal orang itu berdiri tepat di depan mereka.
Arunika menghela napas pelan, lalu berkata tenang. “Aku ikut ke rumah sakit bersama kalian, sepertinya mobilku masih bisa digunakan. Kita pakai mobilku saja.”
“Arunika! Kamu—”
Belum sempat Simon menyelesaikan kalimatnya, Arunika sudah menyenggol bahunya yang menghalangi jalan. “Minggir!”
Nada suaranya dingin dan tegas. Tanpa menunggu respon lagi, ia membantu Damar memapah Angkasa menuju mobilnya.
Angkasa masuk ke kursi penumpang depan, Damar tidak ikut naik.
“Nona,” katanya sambil sedikit membungkuk, “Saya akan mengurus mobil Tuan di sini, tolong jaga Tuan saya.”
“Baik.” Arunika berjalan memutari mobil lalu duduk di kursi pengemudi.
Mesin dinyalakan.
Sebelum mobil itu bergerak, Angkasa sempat menoleh ke arah Simon melalui jendela. Ia tersenyum tipis, senyuman yang jelas-jelas penuh tantangan.
Wajah Simon langsung memerah menahan emosi, tangannya mengepal kuat.
“Arunika, jangan pergi dengannya!”
Simon menahan bingkai jendela mobil di sisi tempat Angkasa duduk, tangannya mencengkeram kuat seolah tak ingin kendaraan itu bergerak satu inci pun.
“Aduh!” Angkasa meringis, wajahnya menegang menahan sakit—entah sungguhan atau sekadar dibuat-buat.
“Simon! Lepaskan tanganmu!” seru Arunika dari dalam mobil.
“Tidak!” jawab Simon keras, rahangnya mengeras.
Damar yang sejak tadi berdiri di samping akhirnya ikut geram melihat keras kepala atasannya. Ia segera menarik lengan Simon.
“Tuan, jangan menghalangi pengobatan Tuan Angkasa. Lukanya bisa infeksi kalau tidak segera ditangani.”
Simon masih berusaha menahan beberapa detik lagi, namun cengkeramannya akhirnya terlepas saat Damar menariknya menjauh.
Begitu hambatan itu hilang, mobil Arunika langsung melaju meninggalkan mereka di tempat itu.
___
Di dalam mobil, suasana sempat hening. Arunika melirik sekilas ke arah Angkasa.
“Pelipis Anda jangan ditekan terus.”
Angkasa perlahan menurunkan tangannya. “Sepertinya lukanya cukup dalam.”
Arunika mengerutkan kening. “Pelipis saja yang terluka.”
“Ah… tapi kepalaku juga sedikit pusing.”
“Karena benturan?”
“Mungkin.”
Arunika tidak menjawab, ia fokus menyetir sampai akhirnya mobil berhenti di rumah sakit milik Angkasa. Mereka masuk ke ruang perawatan, Arunika mengambil kotak P3K lalu berdiri di depan Angkasa.
“Duduk diam.”
Angkasa menurut tanpa protes.
Arunika mulai membersihkan luka di pelipisnya dengan kapas antiseptik. “Perih?” tanyanya singkat.
Angkasa langsung mengerutkan wajah. “Lumayan.”
Padahal lukanya sebenarnya tidak terlalu serius. Namun ia sengaja sedikit menundukkan kepala agar Arunika lebih dekat. Jarak mereka kini hanya beberapa puluh sentimeter.
“Jangan bergerak,” kata Arunika lagi.
“Aku tidak bergerak.”
“Tadi Anda mengeluh pusing.”
“Masih.”
Arunika berhenti sebentar, lalu menatapnya.
“Kalau pusingnya semakin parah, sebaiknya kita periksa lebih dalam. Bisa saja ada bagian di kepala Anda yang mengalami cedera.”
Angkasa langsung menggeleng pelan. “Tidak perlu, kamu yang obati sudah cukup.”
Arunika menghela napas kecil, lalu kembali membersihkan lukanya.
Beberapa detik kemudian Angkasa kembali bicara. “Sepertinya lukanya cukup serius.”
“Tidak.”
“Mungkin perlu dijahit?”
“Tidak juga.”
“Kalau begitu… kenapa masih terasa sakit?”
Arunika akhirnya menatapnya datar. “Anda berpura-pura.”
Angkasa terdiam sebentar. Lalu tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia tersenyum. “Ketahuan?”
Arunika menaruh kapas bekas ke dalam kotak. “Saya sering menangani luka seperti ini.”
Angkasa menatap Arunika lekat. “Kalau begitu… izinkan aku sedikit manja hari ini.”
Arunika mengangkat alis. “Kenapa?”
“Karena orang yang mengobatiku adalah kamu.” Angkasa menjawab tenang, namun ekspresinya tampak serius.
Arunika terdiam beberapa detik. Tatapannya tetap datar, tetapi tangannya yang sedang menempelkan plester di pelipis Angkasa berhenti sejenak.
“Kalimat seperti itu tidak akan mempan untuk menggoda saya,” ujar Arunika dingin, ia menatap luka itu sekilas sebelum kembali mengalihkan pandangannya. “Luka Anda tidak serius, Anda sudah boleh pergi.”
Angkasa tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap wajah Arunika yang berada sangat dekat di depannya.
“Sayang sekali,” katanya pelan.
Arunika menaikkan alis. “Apa yang sayang?”
“Kalau lukaku serius, mungkin kamu akan merawatku lebih lama.”
Arunika menarik tangannya dari wajah pria itu. “Jangan bicara aneh, Tuan Angkasa.”
Namun bukannya tersinggung, Angkasa justru tersenyum kecil. “Aku hanya mengatakan kemungkinan.”
Arunika menutup kotak P3K. “Sudah selesai, Anda bisa pergi.”
Angkasa tidak bergerak. Sebaliknya, ia malah menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Kepalaku masih sedikit pusing.”
Arunika kembali menatap pria itu, kali ini dengan sorot yang jauh lebih tajam. “Kalau begitu, kita lakukan rontgen.”
Angkasa langsung membuka satu mata. “Tidak perlu.”
“Barusan Anda bilang pusing.”
“Sekarang sudah sedikit lebih baik.”
Arunika menghela napas panjang. Ia sudah cukup sering menghadapi pasien keras kepala, tetapi pria ini jelas berbeda.
“Baik. Kalau Anda pingsan nanti, itu bukan tanggung jawab saya.”
Angkasa terkekeh pelan. “Aku tidak akan pingsan.”
“Bagaimana Anda bisa yakin?”
“Karena kamu masih di sini.”
Arunika benar-benar berhenti bergerak sekarang, beberapa detik hening berlalu di ruangan kecil itu.
Lalu Arunika berkata dengan nada tenang namun tegas, “Tuan Angkasa, saya sudah mengatakan sebelumnya. Hubungan kita profesional.”
“Ya.”
“Jadi jangan mengatakan hal yang bisa disalahartikan.”
Angkasa menatap wanita itu tanpa berkedip. “Aku tidak mengatakan sesuatu yang salah.”
Arunika mengerutkan kening.
“Aku hanya jujur,” lanjut Angkasa tenang. “Aku tertarik padamu.”
Kalimat itu diucapkan begitu saja, tanpa ragu.
Arunika menatap pria itu beberapa saat. Lalu ia tertawa kecil. Bukan karena geli, tetapi lebih seperti tidak percaya. “Anda sangat percaya diri.”
“Biasanya begitu.”
“Tapi Anda lupa satu hal.”
“Apa?”
Arunika menatap Angkasa lamat-lamat. “Saya masih istri orang.”
Angkasa tidak mengalihkan pandangan. “Aku tahu, tapi kamu juga sudah mengatakan... bahwa kamu tidak akan kembali pada Simon. Aku akan menunggu—”
Arunika menyipitkan mata.
“Menunggu kau benar-benar bebas.” Ucap Angkasa dengan santai.
Hening kembali jatuh di antara mereka, Arunika tidak langsung membalas. Sementara Angkasa hanya duduk di sana dengan ekspresi tenang, seolah waktu memang selalu berpihak padanya.
terkadang yg terlalu baik yg Manis tu yg lebih berbahaya ,,
km harus lebih hati2 arunika ,,
musuh jaman sekarang byk yg cosplay jd org baik ,,
org yg peduli ,,
tu yg lebih bahaya dr pda org yg terang2an emnk gx suka sama qta ,,
dtggu next ny yx kak ,,
☺️☺️