"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Eksekusi Dingin
## **Bab 27: Eksekusi Dingin**
Kegelapan di barak staf Kenzi hanya diterangi oleh pendar biru dari terminal komputer yang masih menyala. Di layar tersebut, sebuah grafik sedang bergerak turun dengan sudut kemiringan yang ekstrem—representasi visual dari kehancuran finansial Wijaya Corp. Algoritma "Blackout" yang dilepaskan Kenzi bekerja seperti parasit digital, melahap aset likuid, membekukan akun luar negeri, dan memicu penarikan saham massal secara otomatis.
Kenzi menyandarkan tubuhnya, matanya terpaku pada jendela kecil di sudut layar yang menampilkan umpan kamera pengawas dari ruang kerja Tuan Wijaya.
---
Di dalam monitor, Tuan Wijaya tidak lagi tampak seperti singa yang menguasai rimba beton Jakarta. Pria itu berdiri di depan meja jatinya, tangannya gemetar saat memegang gagang telepon. Cahaya dari monitor komputer di mejanya memantulkan angka-angka berwarna merah yang terus berkedip.
"Bagaimana mungkin?!" suara Wijaya terdengar pecah melalui penyadap suara. "Hapus virus itu! Panggil tim keamanan siber terbaik sekarang!"
Namun, Kenzi tahu itu sia-sia. Virus yang ia tanam memiliki protokol *self-mutating*. Setiap kali tim IT Wijaya mencoba menghapusnya, virus itu akan menyalin diri ke sub-server lain dan menghancurkan data cadangan.
Wijaya jatuh terduduk di kursinya. Wajahnya yang biasanya angkuh kini tampak menua sepuluh tahun dalam hitungan menit. Ia menatap telapak tangannya sendiri, seolah tidak percaya bahwa kekuasaan yang ia bangun di atas keringat dan darah orang lain—termasuk orang tua Kenzi—bisa menguap begitu saja.
*Logika Balas Dendam: 92% tercapai. Subjek mengalami guncangan psikologis tingkat akut. Kehilangan status sosial dan ekonomi terkonfirmasi.*
Kenzi memperhatikan tanpa ekspresi. Tidak ada rasa puas yang melonjak di dadanya, hanya sebuah penyelesaian tugas yang dingin. Ini adalah eksekusi tanpa peluru. Ia telah membunuh "Wijaya sang Penguasa", menyisakan hanya seorang pria tua yang bangkrut.
---
Keheningan di barak Kenzi pecah saat pintu kamarnya digedor dengan keras. Ia tidak perlu melihat kamera keamanan untuk tahu siapa itu. Frekuensi langkah kaki dan pola ketukan itu sudah terekam di otaknya.
Kenzi mematikan layar hologram utama, namun ia membiarkan umpan kamera pengawas ruang kerja Wijaya tetap aktif di sudut kecil. Ia membuka pintu.
Alana berdiri di sana dengan napas terengah-engah. Ponsel di tangannya menampilkan berita utama dari situs finansial: **"Wijaya Corp Runtuh: Skandal Peretasan Terbesar Abad Ini."**
"Kau melakukannya, bukan?" Alana bertanya, suaranya parau karena emosi yang tertahan. "Malam ini... setelah kau menyelamatkanku dari bom itu, kau kembali ke sini dan menghancurkan ayahku."
Kenzi menatapnya datar. "Saya hanya mempercepat proses yang sudah tidak terelakkan, Nona."
"Kenapa, Kenzi? Kenapa kau sangat membencinya hingga kau tega menghancurkan segala yang ia miliki?" Alana melangkah masuk, memaksanya mundur. "Jika kau ingin uang, ayahku akan memberikannya! Jika kau ingin posisi, dia menawarkannya!"
"Ini bukan soal uang atau posisi, Alana," suara Kenzi rendah, mengandung getaran dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. "Ini soal keseimbangan. Ayah Anda membangun kerajaan ini di atas pondasi yang korup. Saya hanya mengembalikan pondasi itu ke tanah."
Alana melihat ke arah layar komputer yang masih menyala. Ia melihat ayahnya di monitor—pria yang selama ini tampak tak terkalahkan kini sedang meremas rambutnya sendiri dalam keputusasaan.
"Dia adalah satu-satunya orang tua yang kumiliki!" Alana berteriak, air mata mulai mengalir. "Kau menyelamatkan nyawaku hanya untuk membiarkanku melihat ayahku hancur? Itu lebih kejam daripada membiarkan bom itu meledak!"
---
Kenzi tidak menjawab. Ia merasakan sebuah anomali dalam sistem otonomnya. Sebuah dorongan untuk menjelaskan, untuk membela diri, namun ia menekannya dengan rigoritas logika.
"Alana, dengarkan baik-baik," Kenzi mencengkeram bahu Alana, memaksanya fokus. "Dunia yang Anda tempati selama ini adalah ilusi. Ayah Anda bukan pahlawan. Dia adalah pria yang menghapus nyawa orang lain demi angka-angka di layar itu. Saya hanya memberikan fakta yang sebenarnya."
"Tapi aku mencintainya!" Alana memukul dada Kenzi. "Dan aku... aku pikir aku mulai mempercayaimu!"
Kalimat terakhir itu menghantam Kenzi lebih keras daripada interogasi manapun. *Kepercayaan.* Sebuah konsep yang tidak ada dalam kamus "The Erasers".
Tiba-tiba, alarm perimeter di pergelangan tangan Kenzi bergetar.
*Peringatan: Deteksi pergerakan di sektor 1. Tim taktis tak dikenal mendekati kediaman. Otorisasi: Tidak teridentifikasi.*
Kenzi segera menarik Alana ke belakang tubuhnya. Matanya kembali berubah menjadi mata pemburu. "Diam. Jangan bersuara."
Ia menyadari bahwa kehancuran finansial Wijaya telah memicu efek domino yang lebih cepat dari perkiraannya. Dengan perlindungan finansial yang hilang, musuh-musuh Wijaya tidak lagi ragu untuk melakukan serangan fisik secara terang-terangan. Dan yang lebih buruk, organisasinya sendiri mungkin sudah mengirim tim pembersih untuk memastikan tidak ada saksi yang tersisa.
Kenzi mengambil senjata laras pendek dari laci mejanya dan memeriksa magasin. "Permainan dua muka ini sudah berakhir, Alana. Sekarang, kita harus bertahan hidup dari kekacauan yang saya buat."
---