Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.
Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.
Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.
Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.
Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Roda kereta kayu itu berderit, berpacu cepat di atas jalanan tanah yang tidak rata. Di kanan dan kiri, hutan rindang menyuguhkan pemandangan hijau yang melintas cepat, seiring dengan detak jantung Leon yang mulai memompa adrenalin.
Kini Leon, sang singa, telah melangkah maju. Ia sedang menuju takdirnya di sarang harimau.
Di dalam kabin kereta yang berguncang pelan, Leon menyandarkan punggungnya. Ia melirik Eiryn yang duduk diam di sampingnya dengan jemari yang saling bertaut erat.
Leon lalu mengalihkan pandangannya ke udara kosong di depannya, memanggil layar sistem yang hanya bisa dilihat olehnya.
...[ MISI KEJUTAN ] ...
...Tujuan: Ikuti seleksi keluarga dan masuk ke Akademi Asterlyn....
...Hukuman: Hidup jika mengikuti, MATI jika tidak mengikuti....
...Reward : [+150] [????]...
...Durasi: 5 jam 34 menit...
Leon menatap angka durasi yang terus berjalan mundur itu dengan tatapan dingin. Durasi itu semakin mempet, seperti jerat tak terlihat yang perlahan mencekik lehernya. Waktu kematiannya terus menghitung mundur.
"Hanya lima jam lagi," gumam Leon sangat pelan, hampir tak terdengar oleh derap kaki kuda.
Kereta terus melaju hingga pemandangan hutan berganti menjadi tembok batu raksasa yang menjulang tinggi.
Gerbang Kota Silverhold kini sudah berada di depan mata, tampak gagah dengan barisan prajurit berbaju besi yang berjaga ketat.
Antrean kereta dan pejalan kaki terlihat mengular di depan gerbang. Masinis kereta Leon segera menunjukkan plat identitas miliknya kepada prajurit jaga. Namun, prosedur tidak berhenti di sana.
Seorang prajurit dengan wajah kaku melangkah mendekat dan mengetuk pintu kereta Leon.
"Tunjukkan plat identitasmu," ucapnya dengan nada dingin dan memerintah.
Leon terdiam sejenak.
"Kau tidak memilikinya?" tanya prajurit itu, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Kalau begitu, kau dilarang masuk. Silakan putar balik."
Leon mengepalkan tangannya di bawah jubah. Ia baru menyadari bahwa masuk ke ibukota membutuhkan identitas khusus.
Leon tidak pernah keluar masuk dari kota, sekalinya keluar ia malah jadi monster dan menghancurkan seisi ibu kota kerajaan, setalah itu ia tidak pernah menginjak kota ini lagi, jadi ia tidak tahu soal ini.
Sepertinya mereka benar-benar tidak mengharapkan diriku kembali, sampai-sampai mereka sengaja tidak memberinya plat izin masuk. Batinnya
Namun, Leon tiba-tiba teringat sesuatu. Ia merogoh saku lain dan menemukan benda dingin berbahan logam. Apakah ini bisa digunakan? batinnya.
"Hey," panggil Leon pelan. Ia mengulurkan tangannya, mengacungkan plat besi Rank D miliknya.
Prajurit itu menyambar plat tersebut dengan kasar. Namun, begitu ia membaca identitas yang terukir di sana, wajahnya yang kaku langsung pucat pasi.
"Anhart?!" teriaknya kaget. Matanya berulang kali menatap plat itu lalu menatap wajah Leon.
Seketika, sikapnya berubah drastis. Ia membungkuk dalam-dalam dengan tubuh sedikit gemetar.
"Tu-Tuan... ini plat Anda. Silakan masuk!" ucapnya dengan nada yang kini sangat sopan, hampir terdengar memelas. "Maafkan saya karena telah menghambat perjalanan Anda, Tuan Leon."
Leon hanya menatap datar prajurit itu tanpa sepatah kata pun. Ia mengambil kembali platnya, dan kereta pun kembali bergerak masuk melewati gerbang besar yang terbuka lebar.
Di belakang, prajurit itu mengelap keringat dingin di dahinya sambil menatap kepergian kereta Leon. Ia hampir saja menyinggung salah satu darah biru dari keluarga paling berpengaruh di kota ini.
Kereta terus melaju membelah keramaian kota hingga akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan yang luar biasa megah.
Mansion Keluarga Anhart berdiri kokoh dengan tembok tinggi yang mengelilinginya. Di depan mereka, sebuah gerbang besar dengan ukiran kepala harimau yang sedang mengaum tampak sangat mengintimidasi.
Leon dan Eiryn turun dari kereta. Eiryn tampak gelisah, genggamannya pada gaunnya sendiri terlihat sangat erat.
Namun, saat mereka hendak melangkah mendekat, dua penjaga yang berdiri di sana serentak menyilangkan tombak mereka, menghalangi jalan.
Sring!
Denting logam tombak yang beradu itu memekakkan telinga.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Leon dengan suara rendah namun dingin. "Apakah baru kutinggalkan beberapa hari saja, kalian sudah melupakan siapa aku?"
"Maaf," jawab salah satu prajurit tanpa menurunkan tombaknya. Wajahnya datar, seolah-olah ia memang diperintahkan untuk melakukan ini.
Leon menyipitkan mata. "Apakah ayahku yang menyuruh kalian berbuat seperti ini?"
Kedua prajurit itu hanya saling pandang dalam diam.
"Atau... kakakku?" lanjut Leon sambil menatap tajam ke arah mata mereka satu per satu.
Kedua prajurit itu mulai bergetar. Mereka merasakan aura yang berbeda dari pemuda di depan mereka. Dia tidak terlihat seperti Leon yang biasanya pulang dalam kondisi mabuk dan meracau tak jelas.
"Pergi dan bilang kepada ayahku bahwa aku datang," perintah Leon tegas. "Jika dia tidak membiarkanku masuk, maka aku akan pergi".
Para penjaga itu kembali saling pandang, tampak bimbang di antara dua pilihan yang sulit.
"Apa kalian lebih takut kepada kakakku... atau ayahku?" tanya Leon lagi dengan nada yang lebih menekan.
Mendengar itu, salah satu prajurit akhirnya menyerah. Ia menurunkan tombaknya dan buru-buru berlari masuk ke dalam mansion untuk memberi tahu kepala keluarga.
"Tuan..." bisik Eiryn sambil memegang ujung jubah Leon. Jemarinya gemetar hebat, ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada tuannya.
Leon meraih tangan gadis itu, menggenggamnya dengan mantap, lalu memberikan senyuman tipis yang sangat tenang. "Tenanglah",
Di balik gerbang megah itu, suasana Mansion Anhart sedang memanas. Di tengah arena latihan yang luas, dentingan logam dan ledakan energi bergema ke seluruh penjuru area.
Dua sosok pemuda, Adrian dan Dante, sedang terlibat pertarungan hebat. Keduanya melesat secepat kilat, meninggalkan jejak aura hitam dan putih yang berhamburan setiap kali pedang mereka beradu. Udara di sekitar arena seolah bergetar hebat akibat tekanan yang dilepaskan.
TRAK!
Tebasan pedang yang terselimuti aura pekat itu menciptakan gelombang kejut yang menerbangkan debu di lantai arena.
Dari tribun kehormatan yang tinggi, Darius Anhart menonton dengan tatapan tajam yang tak terbaca. Di sampingnya duduk sang istri pertama yang terlihat anggun namun dingin, serta Julian, putra tertua sekaligus pewaris utama yang sejak tadi tak melepas pandangan dari arena.
Julian tersenyum tipis, matanya berkilat kagum. "Kemampuan Adrian dan Dante meningkat pesat. Seleksi Akademi Asterlyn kali ini sangat menarik," gumamnya bangga.
Namun, momen itu terganggu. Seorang prajurit penjaga gerbang berlari terengah-engah, langsung berlutut di hadapan Darius dan membisikkan sesuatu dengan suara gemetar.
Darius mengernyitkan alisnya. Matanya yang sedingin es menyipit.
"Biarkan dia masuk," ucap Darius singkat dengan nada berat yang tak terbantahkan.
"Baik, Duke!" Prajurit itu membungkuk dalam-dalam, lalu segera berbalik pergi untuk melaksanakan perintah.
Darius tidak mengatakan apa pun lagi. Ia kembali memfokuskan perhatiannya ke arena, menyaksikan pertarungan putra-putranya seolah kehadiran Leon hanyalah gangguan kecil yang tak berarti bagi keluarga Anhart.
Di gerbang, tak lama prajurit itu kembali terengah engah, lalu mebungkuk dan mepersilahkan leon untuk masuk
Leon melangkah masuk dengan tenang. Sepatu botnya menginjak lantai marmer mansion yang berkilau, suaranya bergema di lorong-lorong tinggi yang penuh dengan lukisan leluhur, Dan Eiryn berjalan rapat di belakangnya.
...[Durasi Misi: 2 Jam 2 menit]...