Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Malam itu, di dalam kesunyian ruang kerjanya yang sunyi, Arga terus menatap foto Geo yang ia ambil tadi siang. Ada binar gemas di matanya, namun perlahan redup berganti rasa sesak yang menghantam dada.
Rasa sakit itu mulai merayap. Sakit karena menyadari ia telah melewatkan segalanya,detik-detik saat Geo masih berupa degup jantung di rahim Ayu, tangis pertamanya saat menghirup udara dunia, hingga langkah-langkah kecilnya yang kini sudah bisa berlari. Arga merasa seperti pencuri yang baru saja melihat harta karun miliknya sendiri setelah lima tahun terbuang sia-sia.
Tatapan Arga kemudian beralih pada sebuah plastik klip kecil di atas meja. Di dalamnya terdapat beberapa helai rambut,bukti yang akan menjawab segalanya. Apakah benar Geo adalah benih yang ia tanam di tengah dinginnya hutan pinus malam itu, ataukah ia hanya sedang mengejar bayangan?
Pintu diketuk. Damar, asisten pribadinya, masuk dengan langkah teratur setelah dipanggil. Arga langsung menyodorkan bungkusan kecil itu dengan tangan yang sedikit bergetar, meski wajahnya tetap sedingin es.
"Bawa ini ke laboratorium sekarang," perintah Arga, suaranya rendah namun penuh penekanan.
Ia menatap Damar tajam, seolah nyawanya bergantung pada benda kecil itu. "Aku mau hasilnya secepat mungkin. Tak peduli berapa pun biaya yang harus dikeluarkan, atau siapa yang harus kau suap. Lakukan dengan cepat!"
"Baik, Tuan. Saya mengerti," jawab Damar patuh. Ia membungkuk dalam, memberikan hormat yang tulus sebelum berbalik pergi membawa harapan besar tuannya.
Arga kembali menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran, menatap langit-langit ruangan dengan napas yang tertahan.
"Tidak seharusnya aku melakukan tes ini,karena aku yakin Geo memang putraku, tapi untuk mengadapi wanita sepertimu aku memang butuh bukti."Ucap Arga lirih.
Hari berikutnya, Damar kembali dengan amplop cokelat tersegel rapat. Di ruangan yang pengap oleh aroma kopi pahit dan ambisi, Arga merobek amplop itu dengan tangan yang nyaris gemetar,sebuah pemandangan langka bagi pria sedingin dia.
Matanya bergerak cepat menyisir baris-baris angka medis, hingga berhenti pada satu kalimat yang mengunci napasnya: “Probabilitas Hubungan Ayah-Anak: 99,99%.”
Dunia seolah berhenti berputar. Arga menyandarkan punggungnya, memejamkan mata rapat-rapat saat sebuah tawa getir sekaligus lega lolos dari bibirnya. Bayangan hutan pinus lima tahun lalu berkilas balik, disusul wajah Geo yang memanggilnya "Uncle Tua".
"Kau benar-benar keterlaluan, Ayu," bisiknya pada keheningan. "Kau menyembunyikan mahkotaku selama lima tahun."
Arga membuka matanya, dan kini sorot itu bukan lagi penuh keraguan, melainkan tekad yang mematikan. Ia berdiri, menghampiri jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Amsterdam.
"Damar," panggilnya tanpa menoleh.
"Iya, Tuan?"
"Batalkan semua jadwal kepulanganku ke Indonesia minggu depan. Aku akan menetap di sini sedikit lebih lama." Arga menyesap minumannya, matanya menyipit tajam. "Siapkan kontrak akuisisi untuk perusahaan xxxx dan cari tahu semua hutang atau kelemahan bisnisnya. Aku tidak ingin menyeretnya pulang dengan paksa... aku ingin dia datang sendiri kepadaku, memohon perlindungan, dan menyerahkan dirinya dengan sukarela."
"Baik Tuan."Jawab Damar.
Arga menyeringai tipis, bayangan kemenangannya sudah di depan mata.
"Aku biarkan sebentar kamu dengan peranmu,sayang.Setelah itu bersiaplah untuk kembali ke pelukanku."
*
"Cepat beri tahu Mimi, Geo. Dari mana kamu dapat pesawat ini?" cecar Ayu dengan nada cemas yang tertahan. Ia menatap nanar kotak mainan di pelukan putranya,sebuah barang mewah dengan harga yang bahkan tak masuk akal untuk sekadar mainan anak-anak.
"Dari Uncle, Mimi. Dari Uncle yang baik," jawab Geo polos sembari terus mengusap permukaan kotak yang elegan itu. Matanya berbinar, mengingat betapa hebatnya pesawat itu saat terbang tadi.
Ayu menggeleng, dadanya berdegup kencang karena firasat buruk.
"Sudahlah, Ayu. Jangan marahi Geo terus, kasihan dia. Mungkin orang yang memberinya memang tulus menyukai anak itu," Ardan mencoba menengahi dari balik meja makan.
"Bukan begitu, Bang. Aku hanya ingin dia paham, jangan pernah menerima pemberian berlebihan dari orang asing," sahut Ayu, suaranya sedikit bergetar.
Belum sempat perdebatan itu berlanjut, seorang pria muncul dari balik pintu dan berdiri tepat di belakang Ayu.Wanita itu segera memalingkan muka, mencoba menyembunyikan kegelisahan di wajahnya, meski ia tetap merasa tak nyaman dengan kehadiran pria itu.
"Hai, Son. Mau ikut Uncle jalan-jalan?" tawar Alex dengan senyum lebar, mencoba meraih perhatian Geo.
Namun, Geo justru memalingkan muka. Responnya dingin, jauh berbeda dari caranya menyambut Arga tadi siang. "Tidak mau. Aku mau tidur," jawabnya singkat. Tanpa menoleh lagi, Geo berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Geo! Uncle Alex sudah baik hati mengajakmu main!" teriak Ayu, merasa tak enak hati pada pria di belakangnya.
"Tidak mau, Mimi!" sahut Geo dari kejauhan.
Alex menghela napas, mencoba tetap terlihat sabar. "Sudahlah, Ayu.Dia hanya anak kecil. Oh ya, kamu sudah siap?"
Ayu mengangguk pelan, mencoba mengenyahkan bayangan "Uncle misterius" yang memberikan hadiah pada anaknya. "Sudah."
"Baiklah, kita pergi sekarang?"
"Ayo."
Alex meraih lengan Ayu dengan protektif. Mereka melangkah keluar setelah berpamitan pada Ardan.
Dengan gestur yang begitu perhatian, Alex membukakan pintu mobil untuk Ayu, memastikan wanita itu duduk dengan nyaman sebelum menutupnya kembali dengan lembut.
"Terima kasih," ucap Ayu tulus saat Alex sudah menempati kursi kemudinya.
"Sama-sama, baby. Kau tahu sendiri, jangan pernah sungkan padaku," balas Alex lembut sembari mengusap pelan tangan Ayu.
Ayu hanya membalasnya dengan senyum tipis,senyum yang entah mengapa terasa berat untuk dilepaskan. Tak lama kemudian, mesin mobil menderu halus dan Alex mulai melajukan kendaraannya, membelah jalanan yang mulai tertutup kabut tipis.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada badai yang sedang tertahan.
Arga berdiri mematung di balik bayang-bayang pohon besar, hanya beberapa meter dari tempat mobil itu semula terparkir. Tangannya mengepal begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih, menusuk telapak tangannya sendiri. Wajahnya yang biasa dingin tanpa ekspresi, kini merah padam menahan luapan amarah yang mendidih.
Matanya yang tajam bak elang terus mengunci mobil yang perlahan menjauh itu, seolah ingin membakarnya hanya dengan tatapan mata.
"Baby?" desis Arga pelan, suaranya terdengar sangat berbahaya di tengah kesunyian. "Nikmatilah sisa waktumu dengannya, Ayu. Karena setelah ini, aku tidak akan membiarkan pria mana pun menyentuh bahkan seujung rambutmu."
BERSAMBUNG...
Penasaran dengan tindakan Arga selanjutnya? tunggu bab selanjutnya ya.Jangan lupa suscribe,like dan koment. BUdayakan juga membaca cerita dari bab 1 sampai akhir tanpa skip ya
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it