NovelToon NovelToon
LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Baru Herza

Langkah kaki Lauren terasa ringan meski hari sudah beranjak gelap. Kalimat Herza masih terngiang, memberikan kehangatan yang asing di dadanya. Mereka berjalan menuju sebuah gudang tua di balik aula sekolah yang jarang dilewati siswa. Di sana, di antara tumpukan kursi kayu berdebu dan meja-meja patah, Lauren menemukan tempat persembunyian yang sempurna.

Herza melayang masuk menembus pintu kayu yang terkunci. Lauren menyelinap melalui jendela kecil yang kacanya sudah pecah. Di dalam, udara terasa sesak oleh bau apek, namun Herza tampak tidak terganggu. Ia mendarat pelan di atas tumpukan matras olahraga yang sudah robek.

"Tempat ini tenang," kata Herza sambil menatap sekeliling.

"Tidak banyak residu emosi negatif di sini. Hanya debu."

Lauren duduk di atas kotak kayu, menatap sosok transparan di depannya.

"Kamu bilang kamu sudah lama di sini. Kenapa? Apa kamu tidak bisa pergi ke... ke sana?"

Herza menatap tangannya sendiri yang tampak berpendar biru pucat.

"Aku meninggal sepuluh tahun lalu. Aku siswa di sini, sama sepertimu. Sebuah kecelakaan di laboratorium kimia saat latihan praktikum malam hari. Aku terjebak karena ada penyesalan yang belum usai."

"Penyesalan apa?" tanya Lauren hati-hati.

"Aku menjanjikan adikku untuk datang ke pertunjukan tari pertamanya. Aku tidak pernah sampai ke sana. Janji itu menjadi rantai yang mengikatku pada koridor-koridor sekolah ini," jawab Herza. Suaranya tidak terdengar sedih, hanya kosong.

Lauren menunduk, memainkan ujung seragamnya.

"Lalu, kenapa kamu membantuku? Aku hanya orang asing."

"Karena kamu berbeda, Lauren. Kamu bukan sekadar indigo yang bisa melihat kami. Di duniaku, kamu terlihat seperti mercusuar di tengah badai. Cahayamu sangat terang, dan itu berbahaya," Herza berdiri, melayang mendekati Lauren hingga hawa dingin menyentuh kening gadis itu.

"Makhluk-makhluk kegelapan tidak hanya ingin menakutimu. Mereka lapar. Mereka ingin mengonsumsi energimu agar bisa memanifestasikan diri secara fisik di dunia manusia."

Lauren berjengit. Mengonsumsi? Ia membayangkan dirinya habis dilalap oleh bayangan hitam besar yang ia temui di koridor tadi.

"Itulah sebabnya mereka menyebutku kunci?"

"Benar. Jiwamu adalah kunci yang bisa membuka gerbang antara dimensi bayangan dan dimensi nyata. Jika mereka berhasil menguasaimu, mereka tidak perlu lagi bersembunyi di balik bayang-bayang," jelas Herza serius.

"Apa yang harus kulakukan? Aku tidak tahu cara melawan," isak Lauren pelan.

Herza tersenyum tipis, mencoba memberikan ketenangan.

"Belajar. Kamu harus belajar membedakan mana arwah yang tersesat dan mana entitas yang sengaja memburu. Dunia gaib punya aturannya sendiri. Energi adalah mata uang kami. Jika kamu bisa mengendalikan energimu, kamu bisa menciptakan perisai yang tidak bisa ditembus oleh mereka."

Malam itu, dalam kesunyian gudang tua, Lauren mendengarkan setiap penjelasan Herza tentang hirarki dunia bawah. Ia belajar tentang larva energi yang tercipta dari kebencian manusia, hingga entitas purba yang sudah ada bahkan sebelum sekolah ini dibangun. Rasa takutnya belum hilang sepenuhnya, namun rasa ingin tahunya mulai tumbuh, menjadi tunas kekuatan baru.

Tiga hari berlalu sejak pertemuan itu. Hidup Lauren di sekolah mulai berubah. Ia tidak lagi berjalan menunduk. Herza selalu ada di sampingnya, meski tidak terlihat oleh orang lain. Kehadiran Herza seperti pemandu yang memberikan peringatan dini setiap kali ada aura jahat yang mendekat.

"Jangan lewat toilet dekat kantin hari ini," bisik Herza saat jam istirahat.

"Ada residu kemarahan yang besar di sana karena seorang siswa baru saja diputus pacarnya. Entitas parasit mulai berkumpul."

Lauren mengangguk kecil dan memilih jalan memutar. Teman-teman sekelasnya masih menganggapnya aneh, namun Lauren tidak lagi peduli. Ia punya rahasia. Ia punya teman yang lebih nyata daripada mereka yang memiliki raga.

Suatu sore, saat sekolah sudah mulai sepi, Herza mengajak Lauren ke balkon lantai tiga yang menghadap langsung ke lapangan basket. Ada seorang siswa laki-laki, kakak kelas Lauren, yang sedang duduk sendirian di pinggir lapangan. Siswa itu tampak sangat lesu, matanya kosong menatap lantai semen.

"Lihat dia, Lauren," bisik Herza.

Lauren menyipitkan mata. Awalnya ia tidak melihat apa-apa selain siswa yang kelelahan. Namun, Herza menyentuh bahu Lauren, memberikan sedikit energinya agar penglihatan Lauren menjadi lebih tajam.

Seketika, pemandangan itu berubah mengerikan. Di punggung siswa itu, menempel sesosok makhluk kecil yang menyerupai lintah raksasa berwarna abu-abu keruh. Makhluk itu memiliki banyak kaki kecil yang menancap ke leher sang siswa, menghisap uap tipis berwarna kuning yang keluar dari kulitnya.

"Apa itu?" tanya Lauren dengan suara tercekat.

"Itu adalah Ghoulish Parasite. Makhluk kelas rendah yang hidup dengan mencuri energi kehidupan manusia," jawab Herza dingin.

"Siswa itu tidak sakit secara medis. Dia hanya sedang depresi karena gagal masuk tim basket, dan makhluk itu memanfaatkan celah mentalnya untuk berpesta."

Lauren menutup mulutnya, ngeri melihat bagaimana makhluk itu berdenyut setiap kali menghisap energi.

"Kita harus membantunya, Herza! Dia bisa mati!"

Herza menggeleng pelan.

"Jika kamu mengusirnya sekarang tanpa persiapan, makhluk itu akan menyerangmu sebagai gantinya. Dan lihat ke arah gerbang sekolah."

Lauren mengalihkan pandangannya. Di bawah bayangan gerbang besi yang besar, berdiri sesosok bayangan tinggi dengan jubah hitam compang-camping. Sosok yang sama yang pernah meneror Lauren di taman rumahnya. Sosok itu tidak bergerak, namun mata merahnya menatap lurus ke arah balkon, tepat ke arah Lauren.

"Dia sengaja menunjukkan itu padamu," bisik Herza. Suaranya terdengar tegang untuk pertama kalinya.

"Dia ingin memancingmu keluar dari perlindunganku. Dia ingin menunjukkan bahwa dia bisa mengambil siapa pun di sekitarmu jika kamu tidak menyerahkan diri."

Jantung Lauren berdegup kencang. Ia merasakan hawa dingin yang luar biasa mulai merambat naik dari lantai balkon. Bayangan di gerbang itu perlahan-lahan mengangkat tangannya, menunjuk ke arah siswa di lapangan basket. Tiba-tiba, makhluk lintah itu menggigit leher sang siswa lebih dalam hingga siswa itu jatuh tersungkur dan kejang-kejang.

"Lauren, jangan bergerak!" perintah Herza.

Namun, teriakan minta tolong dari bawah sana membuat kaki Lauren bergerak sendiri. Ia tidak bisa diam melihat orang lain dikorbankan demi memancing dirinya. Saat Lauren berlari menuju tangga, bayangan di gerbang itu menghilang dalam kepulan asap hitam, dan lampu-lampu di koridor lantai tiga mulai meledak satu per satu secara berurutan, mengejar langkah kaki Lauren.

1
`|aley|`
Semangat kak
Laila ANT: tunggu kak lagi nulis ini 🙂‍↕️🙂‍↕️
total 2 replies
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
cerai aja laki bloon gt ajarin lah anak mu arahin ke yg paham soal indigo oon bgt ibunya
Laila ANT: hi kak sabar kak sabar ini masih permulaan 💪💪
total 1 replies
falea sezi
q suka neh horor gini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!