Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam
Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.
Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.
Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mall
Tepat pukul 09.30 pagi Dewa susah berdiri di depan Apartemen Anggrek dengan perasaan campur aduk. Hari ini ia tidak membawa motor bututnya, tidak membawa helm, hanya dompet tipis setipis kulit rusa dan hati berdegup lonceng gereja.
" Jangan lupa pagi Minggu temani ibu jalan jalan ke mall naik mobil, berdua saja."
Apakah ini mimpi ? Dewa mencubit lengannya terasa sakit berarti ini nyata, memang tugasnya menjemput ibu Dian dan didepan sana memang apartemen Bu Dian Wulandari bukan kastil setan, atau rumah nenek sihir.
Tepat pukul 09.45, pintu apartemen terbuka perempuan berwajah lembut itu keluar. Dan tiba tiba Dewa... lupa cara menarik napas, mulutnya menganga sebesar kawah gunung Semeru, matanya melotot bola basket NBA, dan semua ketegangan berada di dalam tubuhnya.
Ibu Dian tidak mengenakan blazer, atau kemeja formal tapi long dress motif bunga-bunga kecil—warna biru muda kontras dengan kulitnya terlihat cerah. Rambut terurai sebahu, tas selempang kecil. Dan sepatu kets putih. Segala keindahan putri cantik film walt Disney mulai Cinderella, Rapunzel, Barbie tidak sebanding dengannya.
Itu pikiran Dewa yang memang lagi jatuh cinta, siapa pun gadis yang disandingkan dengan ibu DR DIAN WULANDARI, MSi akan nyungsep ke parit
Ia tidak seperti dosen killer menatap tajam dan berkata: "Mahasiswa semua, presentasi kalian sangat membosankan, seandai Putin, Donal Trump mendengar nya niscaya kalian akan di rudal balistik.
Anak anak menahan tawa, ada yang menunduk, ada pula yang menutup mulutnya
" Dan kamu Joko, Budi, Rina ibu perhatikan kalian sering kali menggosip di kantin, persis Mak Mak Arisan, ditambah lagi dengan Roby."
Mereka menatap dewa yang tertunduk nun jauh di pulau rote tanpa ada persidangan, aman tenteram lancar terkendali
" Bangke itu aman, " bisik Rina kepada Sari di sebelahnya
" Lha ialah, Dewa asdos nya."
" Awas keripik tempe itu, bakal gue hajar selesai kuliah" Rina mengatup bibirnya menahan amarah.
" Ya, mentang mentang."
" Rina, Sari, apa yang kalian bisikan? Kalian pasti gosipin Dewa?"
Mereka tergagap diam tertunduk
"Saudara saudara semuanya," Mata Bu dosen menatap tajam, "saya menginformasikan bahwasanya Dewa adalah asisten dosen."
Laki laki itu hanya diam saat pandangannya jatuh kepadanya
" Kalian jangan berprasangka yang tidak tidak akan hubungan saya dengannya."
Anak anak menatap seakan tidak percaya bahwa kerempeng toge itu menjadi asdos dosen killer.
"Kok diem?" Ibu Dian menepuk bahunya tiba tiba.
" Eh...gak Bu," Dewa tersadar dari lamunannya berdehem kecil. "Ibu... sangat beda."
"Memangnya biasanya aku kayak apa?"
Ia ingin mengatakan ibu galak menakutkan menjadi mimpi buruk mahasiswa. Tapi yang keluar malah "Biasanya ibu ..."
Perempuan itu tertawa seperti bel berbunyi "Pasti kamu mau mengatakan saya galak, ayo..."
" Eh..gak kok Bu, Ibu hari ini cantik."
" Apa? "Roman wajahnya berubah seperti tomat.
Dewa tersedak
---
Pukul 10.00, di dalam mobil.
City car silver melaju pelan di tengah macet kota Jakarta. Dewa di kursi kemudi, sementara Dian di sampingnya. Radio memutar lagu melodi memories—sesuatu tentang cinta yang datang terlambat.
Gadis itu memasang sabuk pengaman, Gerakannya membuat aroma parfum—sesuatu yang soft, seperti linen baru dijemur—mengambang ke arah hidung Dewa.
Ia fokus ke setir. Fokus..jangan hirup. Jangan hirup—nanti pingsan
"Napa wajah mu pucat begitu, Dewa ?Kamu kagok membawa mobil."
"Bisa, kok Bu. Tapi jarang."
" Lho kemarin kamu biasa aja ke Bandung."
" Oke Bu, tapi ..."
" Tapi apa ?"
" Hari ini saya seperti membawa tuan putri kerajaan ke Mall."
Dian tertawa lepas, matanya berair menahan tawa" kamu ya pinter ngerayu, bukan seperti dewa dikampus."
" Maaf Bu, saya ...keceplosan."
"Tenang aja, Dewa, saya bukan Dian Wulan yang suka gigit, saya senang kamu seperti Ini."
Dewa tersenyum, kalimat itu terasa... Walaupun seperti lelucon tapi terasa hangat. Terlalu hangat untuk ukuran hari biasa.
Situasi jalan macet. Mobil berhenti. Tangan Dewa di setir, tangan Dian di pangkuannya—jaraknya tidak lebih dari 30 sentimeter.
30 sentimeter, pikir Dewa jarak antara "teman" dan "seseorang yang ingin disentuh tapi takut pecah."
Dewa ingin ganti channel radio tapi tangannya tidak bergerak. "Bu, boleh nanya?"
"Boleh."
"Kenapa tiba-tiba Ibu ajak saya ke mall? Kan bisa belanja online."
Dian memandang jendela. Suaranya turun setengah oktaf. " Hampir 10 tahun saya gak nggak ke mall Dewa."
"Apa?"
"Serius, Semenjak pindah dari Bandung, saya jarang keluar, kampus-rumah, rumah-kampus. Belanja online. Makan antar." Jeda. "Saya menjadi lupa seperti apa rasanya menjadi orang lepas."
Dewa ingin bertanya, lupa, atau takut diingatkan? Tapi ia hanya diam.
"Makasih, Dewa."
"Bu... saya nggak ngapa-ngapain."
Matanya—untuk pertama kalinya tanpa penjagaan—menatapnya langsung. "Kamu selalu menemani, itu lebih dari cukup."
Dewa merasa ada yang bergerak di dadanya. Bukan jantung tapi sesuatu yang lebih berbahaya bisa jadi hatinya melompat.
---
Pukul 11.00, sebuah mall di Jakarta Selatan.
Mereka turun di parkiran. Perempuan itu memakai kacamata hitam mungkin untuk menghindari orang yang mungkin ia kenal, mahasiswa atau dosen koleganya. Namun, aura akademisnya tetap terpancar, sedikit janggal di antara hiruk-pikuk keluarga muda dan gerombolan remaja yang nongkrong.
"Bu, Ibu mau cari apa?" tanya Dewa sedikit bingung . Sejak tadi di dalam mobil, ia terus bertanya-tanya, 'Apa maunya ibu dosen membawanya ke mall?'
Ia berpikir sesaat, "Baju mungkin, atau buku. Atau..." Ia menghela napas, melepas kacamata hitam sebentar lalu memakainya lagi. "Saya nggak tahu yang penting jalan."
Dewa tersenyum canggung. "Siap bu, saya temenin."
Mereka masuk. AC mall yang dingin langsung menyapa. Mall ramai. Suara anak-anak kecil berlarian bercampur dengan musik latar dari berbagai tenant. Keluarga, pasangan muda, pegawai kantoran yang sedang makan siang.
Dian berjalan pelan, matanya mengitari sekeliling dengan rasa ingin tahu hampir child like. Ia seperti baru pertama kali melihat food court atau dekorasi gantung di atrium.
"Dulu... waktu masih kuliah, saya sering ke mall bersama teman-teman. Nonton. Makan es krim. Ngobrol ngalor-ngidul." Ia tersenyum mengenang nostalgia. "Rasanya... seperti mimpi."
Dewa mengangguk, kikuk. Ia tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Di kepalanya, ia masih membayangkan Dian sebagai sosok tegas di balik meja kayu ruang dosen, bukan sebagai seseorang yang berjalan santai di mall.
"Mimpi yang bagus, Bu?"
Ia menatap tak terbaca di balik kacamata hitam. "Mimpi yang membuat saya sadar betapa jauhnya saya sekarang."
Dewa tidak tahu harus menjawab apa. Kecanggungan merayap lagi. Ponsel di saku celananya bergetar—pasti teman-temannya yang nge-tag di grup wa, Ia abaikan hanya mengikutinya dari dekat, menjaga jarak setengah langkah di belakang—dekat untuk ada, jauh untuk memberi ruang. Jarak yang sama seperti saat seminar proposal, pikirnya.
Pukul 12.00, sebuah toko buku.
Di sini, perempuan itu terlihat lebih hidup. Tangannya dengan lembut menyusuri punggung-punggung buku. Sesekali ia berhenti, mengambil satu, membaca blurb-nya, lalu tersenyum kecil.
Dari balik rak, Dewa mengawasi sambil pura-pura membaca buku manajemen. Matanya melihat baris demi baris, tapi tak satu kata pun masuk ke otaknya. Pikiran sibuk sendiri: "Gila, gue lagi nemenin Bu Dian milih novel. Dosen killer yang kalau ngasih revisi bisa sampai 15 halaman itu, lagi senyum-senyum baca buku genre teenlit."
Tiba-tiba—
"Dewa?"
Ia menoleh wajahnya langsung pucat pasi.
makanya jujur aja deh Wa, jangan cm dipendam tok gimana bu Dian tau kalo kamu cm diem aja