Satu malam dalam keadaan mabuk berat, Permana merusak hidup seorang wanita yang bahkan tak ia kenal.
Wanita itu—Aaliyah, putri dari orang terpandang di kota London. Ia merasa bersalah sudah menodai wanita itu, sampai kata - kata yang di ucapkan oleh Aaliyah pada malam itu masih terus terngiang di kepala Praman.
“Bertaubatlah !! Kasihani orang tua mu. Aku tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Sejak saat kejadian itu, Pramana. Merasa bersalah pada Aaliyah. meretakkan cintanya pada sang kekasih, mengguncang keyakinannya, dan menyeretnya pada pertanyaan terbesar:
mampukah ia menebus dosanya selama ini ia lakukan atau justru tenggelam dalam masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Millea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Hari berlalu begitu cepat. Selama beberapa bulan belakangan ini Pramana mengalami ngidam dan morning sickness seperti ibu hamil pada umumnya.
Doa yang waktu itu ia minta, supaya dirinya saja yang mengalami ngidam dan morning sickness di jabah langsung oleh Allah.
Setiap pagi Pramana selalu merasakan mual dan muntah yang hebat. Sampai - sampai ketika ia bekerja, Pramana jatuh pingsan dan di bawa ke klinik perusahaan oleh Michael dan rekan seruangannya.
" Kamu makan apa sih, Pram. Sampe bisa pingsan kaya gini ? " Tanya Michael dengan raut penasaran setelah Pramana telah tersadar dari pingsannya.
Pramana tak langsung menjawab, ia masih ngelek setelah sadar dari pingsan. Apa yang sudah terjadi padanya ? Kenapa dirinya bisa tiba - tiba pingsan kaya gini ? Apa jangan - jangan...
" Entah. Aku sudah beberapa hari ini sering mual dan muntah. Kepala juga sering terasa pusing. " Jawab Pramana lirih.
" Udah kaya ibu hamil aja kau Pram. Persis seperti kakak ku saat Hamil Rebecca, keponakan ku. " saut Michael, dirinya jadi merasa aneh dengan penuturan Pramana.
Michael jadi ingat pas saat sang kakak hamil dulu. Kakaknya itu selalu mengeluh pusing, mual dan muntah. Sama yang di keluhkan oleh Pramana barusan. Kan ngga mungkin kalo temannya ini hamil ?
Sedangkan Pramana terdiam mendengar ucapan Michael. Apa jangan - jangan Allah mengabulkan atas doanya waktu itu ? Supaya Pramana saja yang mengalami mual, muntah dan ngidam hebat, jangan Aaliyah. Makannya ia mengalami penyakit seperti ini sekarang.
Tak apa lah ia mengalami penyiksaan yang namanya morning sickness. Biyar Pramana selalu ingat dengan dosa yang telah ia perbuat pada Aaliyah beberapa bulan yang lalu.
' Tak apa, ya Allah. Aku yang merasakan morning sickness ini, supaya aku selalu mengingat kesalahan fatal yang telah ku perbuat pada gadis itu.' gumam Pramana dalam hati dengan pasrah.
Sedangkan di Turki Aaliyah menjalani hari - harinya dengan tentram dan penuh kehangatan dari Kakek dan Neneknya.
Selama beberapa hari ini Aaliyah meras lebih baikan. Ia sudah tak merasakan mual dan muntah seperti satu bulan yang lalu, sebelum dirinya mengetahui kalo ia sedang hamil.
" Darling, Ane lihat kamu ngga pernah ngidam atau mual - mual kaya ibu hamil pada umumnya, ya ? " Ucap Nenek Zainab pada Aaliyah. Kebetulan dua wanita beda usia itu sedang duduk santai di teras belakang mansion, sambil menikmati teh hangat di pagi hari.
" Alhamdulillah ngga, Anane. Awal - awal aja aku sering mual, tapi kesininya aku udah ngga pernah mual lagi. " Jawab Aaliyah pernuh rasa syukur, calon anaknya tidak rewel. Ia juga merasa lega tidak mengalami morning sickness seperti kemarin - kemarin lagi.
" Semisalnya kamu ngidam ingin sesuatu langsung bilang Anane ya. Biyar anak mu ngga ngecesan, karena ngidam Ibunya yang tak tersampaikan. "
Aaliyah tersenyum tipis pada nenek lalu mengangguk, " Aal, pasti akan bilang pada Anane atau Opa. Kalo Aal ingin sesuatu nantinya. Tapi memangnya kalo ngidam tak keturutan, anaknya bener akan ngecesan ? "
" Iya, darling. Makannya kalo semisalnya kamu ngidam langsung bilang, jangan di pendam. Anane nggak mau cicit ku ngecesan. " Ucap Nenek Zainab dengan cepat. Dirinya sebenarnya senang akan mendapatkan cicit dari cucu kesayangannya.
Tapi.... Bukan dengan cara seperti ini. Jujur dari dalam hati kecilnya Nenek Zainab merasa sedih dan terluka dengan kejadian yang menimpa Aaliyah. Ia harus terus selalu ada di samping sang cucu dan akan terus memberikan dukungan pada Aaliyah.
" Di minum teh mu, nak. Nanti dingin tak enak. " Ucap Nenek Zainab sambil menyodorkan satu cangkir teh pada Aaliyah.
Aaliyah menerima cangkir tersebut lalu meminumnya sedikit demi sedikit. Rasa teh buatan sang Nenek memang salalu enak dan nikmat.
' Tumbuh kuat di rahim, Mommy ya sayang. Mommy menyayangi mu. ' ucap Aaliyah dalam hati, sambil mengelus lembut purutnya yang mulai terlihat sedikit membuncit.
Aaliyah sudah mulai mau menerima anak yang sedang tumbuh di rahimnya. Ketika mengetahui dirinya hamil, Aaliyah sempat membenci calon anaknya dan tak mau menerima kehadirannya. Setelah mendengar kata - kata penyemangat dan dukungan dari keluarganya. Aaliyah menerima anak tersebut dan mulai menyayangi nya dengan sepenuh hati.
Dua wanita berbeda generasi itu terus bercerita tentang banyak hal. Nenek Zainab juga mulai menceritakan tentang masa kecil Mommy Amira pada Aaliyah. Tidak hanya cerita masa kecil Mommy Amira saja, nenek Zainab juga menceritakan anak – anaknya yang lain.
Aaliyah mendengar cerita sang nenek sangat begitu semangat. Kapan lagi bisa mendengar cerita tentang Mommy dan Paman – pamannya, seperti ini.
“ Apa Anane ? Mommy pernah kecebur sawah ? “ tanya Aaliyah tak percaya kalo semasa kecil Ibunya sangat begutu nakal. Sampai – sampai pernah tercebur kedalam sawah.
“ Iya, Mommy mu kecil itu sangat bar – bar. Tidak hanya sawah, kecebur got pun Mommy mu juga pernah, nak.“
Aaliyah semakin shock mendengar ibunya pernah kecebur got segala. Ya ampun seberapa bar – bar nya Ibunya kecil dulu. Sampai – sampai Got dan Sawah Ibunya ceburin.
Jujur, ini pertama kalinya Aaliyah mendengar cerita masa kecil ibunya langsung dari sang nenek, saat mereka pulang ke kampung halaman Opa Rasyid di Solo. Kesempatan itu datang ketika saudara Opa Rasyid mengadakan acara pernikahan.
Neneknya sangat jarang bercerita tentang masa kecil anak-anaknya ketika mereka masih tinggal di Indonesia kepada cucu-cucunya.
Namun kali ini, Aaliyah yang tahu betapa nakal dan bar-bar-nya ibu serta kedua pamannya dulu. Nenek Zainab terus menceritakan kisah itu kepada Aaliyah, tentang saat mereka semua masih tinggal di Indonesia.
Hingga akhirnya mereka memutuskan pindah dan tinggal di Turki setelah anak-anaknya menempuh pendidikan di benua Eropa. Opa Rasyid dan Nenek Zainab sengaja pindah ke Turki agar tetap dekat dengan anak-anaknya. Penerbangan antara Turki, Inggris, dan Jerman hanya memakan waktu tiga jam saja, sehingga pasangan itu bisa kapan saja bertemu dengan anak-anaknya. Berbeda jika mereka masih tinggal di Indonesia, pasti jarang bisa bertemu dengan putra-putrinya.
Sedangkan di depan pintu menuju halaman belakang mansion Opa Rasyid menatap kedua wanita berbeda usia itu dengan mata berkaca - kaca. Akhirnya cucu nya itu bisa tersenyum dan tertawa lagi seperti dulu lagi. Tak ada raut wajah sedih seperti pertama kali Aaliyah di bawa pindah ke mansion ini oleh Mommy Amira.
" Terus lah tersenyum seperti itu, sayang. Opa sedih melihat mu terus menangis dan sendu seperti kemarin. " ucap Opa Rasyid dengan rasa haru yang tertahankan.
Opa Rasyid tak mau mengusik kedua wanita kesayangannya. Ia memilih pergi menuju ruang kerjanya saja. Padahal tadi ia ingin bergabung dengan mereka. Tapi kalo di lihat - lihat lebih baik, ia memberikan istri dan cucunya itu waktu untuk bercerita.
Bersambung.....