Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
# TERPISAH OLEH DINDING AGAMA
## BAB 14: Ketika Diam Menjadi Jawaban
Minggu pagi. Alek bangun dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Semalam dia hampir tidak tidur—pikirannya terus berputar ke satu hal yang tidak bisa dia lepaskan.
Khansa.
Kenapa dia tiba-tiba berubah? Kenapa dia jaga jarak? Apa yang terjadi?
Alek duduk di tepi kasur, menatap lantai dengan tatapan kosong. Matahari pagi sudah masuk dari celah gorden, membuat garis-garis cahaya di karpet kamarnya. Tapi keindahan pagi itu tidak terasa sama sekali bagi Alek.
"Gue harus cari tau," tekadnya.
Tapi caranya bagaimana? Dia tidak punya nomor Khansa. Dia tidak kenal siapa-siapa di pesantren. Dan dia tidak mungkin datang langsung ke pesantren dan minta ketemu santriwati—itu pasti akan ditolak.
Alek berbaring lagi, menatap langit-langit.
"Maryam," gumamnya tiba-tiba.
Maryam selalu ada di setiap kegiatan. Maryam teman dekat Khansa. Dan yang terpenting—Riki pernah ngobrol cukup banyak dengan Maryam saat kegiatan-kegiatan sebelumnya.
Alek langsung ambil hape, buka WhatsApp, cari nama Riki.
**Alek:** "Rik, lo punya kontak Maryam nggak?"
Tiga menit kemudian, balasan masuk.
**Riki:** "Hmm ada kayaknya. Waktu kita koordinasi kegiatan sosial pertama. Kenapa?"
**Alek:** "Gue perlu ngomong sama dia. Tentang Khansa."
**Riki:** "Lo serius?"
**Alek:** "Serius. Tolong Rik."
**Riki:** "Oke. Tapi lo harus cerita dulu kenapa lo segitu khawatirnya."
Alek menghela napas. Lalu mengetik panjang—menceritakan semua yang dia rasakan kemarin. Cara Khansa tiba-tiba pucat saat keluar dari toilet. Cara Khansa menghindar. Cara Khansa langsung naik bus tanpa kasih kesempatan ngobrol.
**Riki:** "Hmm. Gue juga notice sih kemarin. Tapi gue pikir dia cuma capek."
**Riki:** "Oke gue coba hubungin Maryam. Tapi lewat jalur yang bener ya. Bukan langsung nanya soal Khansa—itu nggak sopan. Gue akan coba pelan-pelan."
**Alek:** "Oke. Makasih, Rik."
***
Sementara itu, di Pesantren Al-Hikmah, Khansa bangun dengan mata bengkak. Dia sudah shalat Subuh, tapi hatinya masih berat. Semalam dia menangis hampir sampai jam satu malam sebelum akhirnya tertidur di atas sajadah.
Maryam, yang tidur di kasur sebelahnya, langsung notice saat sarapan pagi.
"Khansa, kamu kenapa? Matamu bengkak," kata Maryam pelan sambil menyendokkan nasi ke piring Khansa.
"Nggak apa-apa, Mar. Semalam kurang tidur aja."
"Bohong." Maryam menatap Khansa tajam—tatapan seorang sahabat yang sudah bertahun-tahun kenal. "Kamu habis nangis kan?"
Khansa diam.
"Kenapa? Ada yang salah waktu kegiatan kemarin?"
Khansa menatap Maryam lama. Dia ingin cerita. Sangat ingin. Tapi kalau cerita, Maryam pasti akan lapor ke ustadzah. Dan ustadzah pasti akan melarang mereka ikut kegiatan sosial lagi.
"Nggak ada apa-apa, Mar. Serius."
Maryam tidak percaya. Tapi dia tidak mau memaksa. Dia hanya menggenggam tangan Khansa di bawah meja. "Kalau kamu mau cerita, aku selalu ada. Kapanpun."
Khansa tersenyum tipis. "Makasih, Mar."
Tapi di dalam hatinya, dia tahu—dia tidak bisa simpan ini sendiri selamanya.
***
Senin siang, Riki berhasil dapat kesempatan ngobrol dengan Maryam. Mereka kebetulan ada di grup WhatsApp koordinasi kegiatan sosial yang sama, dan Riki dengan santai mengirim pesan pribadi ke Maryam—berpura-pura menanyakan tentang jadwal kegiatan sosial berikutnya.
Setelah beberapa balasan santai, Riki pelan-pelan masuk ke topik yang sebenarnya.
**Riki:** "Oh iya, Maryam. Waktu kegiatan kemarin, gue notice Khansa kelihatan nggak sehat pas sore hari. Dia baik-baik aja kan? Gue khawatir."
Beberapa menit berlalu tanpa balasan. Riki mulai menyerah. Tapi tiba-tiba hapenya bergetar.
**Maryam:** "Mas Riki... boleh minta tolong sesuatu nggak?"
Riki mengernyit. "Ini nggak biasanya," gumamnya. Dia langsung membalas.
**Riki:** "Boleh. Kenapa?"
**Maryam:** "Kalau Mas Riki ketemu Mas Alexander... tolong bilang ke dia. Kemarin, setelah Khansa pergi ke toilet... ada dua orang yang ngancam dia."
Riki langsung bangkit dari duduknya, jantungnya berdegup. "Ngancam?!"
**Riki:** "Ngancam gimana? Siapa?"
**Maryam:** "Dua cowok. Teman-temannya Mas Alexander dulu kayaknya. Mereka bilang... Khansa harus jauhi Mas Alexander. Atau akan ada konsekuensinya."
**Riki:** "..."
**Riki:** "Khansa cerita sendiri ke Maryam?"
**Maryam:** "Tidak. Aku lihat dari jauh. Aku tidak sengaja. Aku cari Khansa karena dia lama di toilet, terus aku lihat dia dihadang dua cowok di gang. Aku mau menghampiri tapi mereka sudah pergi."
**Maryam:** "Khansa tidak mau cerita ke aku. Dia bilang baik-baik saja. Tapi matanya bengkak semalam. Aku khawatir."
**Riki:** "Maryam, lo bisa describe dua cowok itu? Tinggi, wajah, baju?"
**Maryam:** "Yang satu tinggi, rambut cepak, kaos abu-abu. Yang satunya agak pendek, rambut gondrong sedikit, kaos hitam."
Riki menelan ludah keras. Dia tahu siapa itu.
Kevin. Dan Bagas.
**Riki:** "Oke Maryam. Makasih udah kasih tau. Gue akan urus ini."
**Maryam:** "Tolong jaga Khansa ya, Mas. Dia... dia orang baik. Dia nggak pantas diperlakukan kayak gitu."
**Riki:** "Gue janji."
Riki menutup hape, lalu langsung menghubungi Alek.
***
Alek sedang di kantin saat Riki menghampirinya dengan langkah cepat dan wajah serius.
"Lex. Kita harus ngomong. Sekarang."
Melihat wajah Riki, Alek langsung berdiri. "Kenapa? Ada apa?"
"Bukan di sini." Riki menarik lengan Alek ke sudut kantin yang sepi. Mereka duduk di bangku pojok, jauh dari hiruk pikuk siswa lain.
"Gue udah hubungin Maryam," kata Riki langsung.
Alek menegang. "Terus?"
"Lex..." Riki menatap sahabatnya dengan tatapan yang campuran antara khawatir dan marah. "Kemarin, saat Khansa ke toilet... Kevin sama Bagas ngancam dia."
Dunia Alek seolah berhenti berputar.
"Apa?"
"Kevin sama Bagas ngepung dia di gang. Mereka suruh Khansa jauhin lo. Mereka bilang kalau dia masih deket-deket sama lo... ada konsekuensinya."
Alek menatap Riki dengan tatapan tidak percaya. Lalu perlahan, tatapan itu berubah. Dari tidak percaya menjadi shock. Dari shock menjadi marah. Marah yang sangat dalam, sangat panas, seperti api yang baru dinyalakan di dadanya.
"MEREKA NGANCAM KHANSA?!"
"Ssh! Pelan-pelan!" Riki memegang bahu Alek. "Jangan bikin scene di sini."
Alek mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. Giginya terkatup rapat. Napasnya berat, tidak teratur.
"Mereka..." suaranya bergetar antara marah dan menahan diri. "Mereka berani... ngancam dia?"
"Maryam yang lihat dari jauh. Kebetulan dia nyariin Khansa. Dia lihat Khansa dihadang di gang." Riki menggenggam bahu Alek lebih kuat. "Lex. Gue tau lo marah. Gue juga marah. Tapi... lo nggak bisa reaktif. Lo udah janji keluar dari kekerasan."
"Mereka ngancam Khansa, Rik." Alek menatap Riki dengan mata yang mulai berkaca-kaca—bukan karena sedih, tapi karena amarah yang tertahan. "Dia nggak ada salahnya. Dia nggak pernah minta gue keluar dari geng. Dia nggak pernah minta apa-apa. Dan mereka berani ngancam dia?"
"Gue tau, Lex. Gue tau."
"Makanya Khansa jaga jarak dari gue kemarin." Alek tertunduk, tangannya gemetar. "Dia takut. Dia takut kalau deket sama gue, dia bakal kena."
Hening sejenak. Di luar kantin, suara siswa lain terdengar ceria, kontras dengan suasana di sudut pojok ini.
Riki melepas cengkeramannya dari bahu Alek, duduk di seberangnya. "Lo mau ngapain sekarang?"
Alek terdiam lama. Pikirannya berputar kencang. Ada bagian dirinya yang ingin langsung cari Kevin dan Bagas, hajar mereka habis-habisan, kasih pelajaran yang tidak akan mereka lupakan.
Tapi ada bagian lain yang berbisik. Suara yang lebih tenang. Suara yang terdengar seperti... kata-kata Khansa.
*"Setiap orang punya cara belajarnya sendiri. Kita nggak bisa maksa. Yang bisa kita lakukan cuma... bimbing dengan lembut."*
Bimbing dengan lembut.
Alek menarik napas dalam-dalam. Lalu menghembuskannya perlahan.
"Gue... gue nggak akan pukul mereka," kata Alek akhirnya dengan suara berat.
Riki terlihat lega. "Bagus."
"Tapi gue harus konfrontasi mereka. Gue harus bilang langsung—jangan ganggu Khansa. Jangan pernah deket-deket sama dia lagi."
"Lo yakin bisa nahan diri?"
"Gue akan coba." Alek menatap Riki. "Bantuin gue, Rik. Kalau gue mulai kehilangan kontrol... stop gue."
Riki mengangguk. "Deal."
***
Jam istirahat kedua. Alek dan Riki berjalan menyusuri koridor, mencari Kevin dan Bagas. Mereka tidak perlu cari lama—Kevin dan Bagas biasanya nongkrong di tangga belakang gedung olahraga, tempat yang jarang dilewati guru.
Dan benar saja. Kevin duduk di anak tangga paling atas sambil main hape. Bagas berdiri di sebelahnya, merokok meski itu jelas melanggar aturan sekolah.
Saat melihat Alek, Kevin langsung menyeringai. "Wah, siapa nih. Si mantan preman yang sekarang jadi anak baik."
Alek berhenti di depan mereka. Jarak sekitar dua meter. Cukup jauh untuk tidak memancing provokasi fisik.
"Kev," kata Alek dengan suara rendah tapi tegas. "Kita perlu ngomong."
"Oh ya? Mau ngomong apa?" Kevin berdiri, memasukkan hape ke saku. "Mau nangis minta perlindungan lagi?"
Bagas membuang puntung rokok, berdiri juga. Mereka berdua sekarang menghadap Alek dengan tatapan menantang.
Alek menarik napas. Dia bisa merasakan amarahnya mendidih. Tapi dia tahan.
"Lo tau kenapa gue di sini."
"Nggak tau." Kevin pura-pura bingung. "Enlighten gue dong."
"Kemarin. Kegiatan sosial." Alek menatap Kevin langsung ke mata. "Lo dan Bagas ngancam Khansa."
Hening sesaat. Kevin dan Bagas saling pandang. Lalu Kevin tertawa—tawa yang sinis dan tidak ada lucunya.
"Oh itu." Kevin mengangguk santai. "Iya, gue ngobrol sama dia. Emangnya kenapa?"
"Itu bukan ngobrol. Itu ngancam." Alek maju satu langkah. "Lo suruh dia jauhin gue. Lo bilang ada konsekuensinya kalau dia nggak nurut."
"Terus?" Bagas ikut bicara, senyum jahat di wajahnya. "Salah? Gue cuma kasih saran ke dia. Gratis lagi."
"Dia nggak ada salahnya, Bagas." Suara Alek mulai bergetar—bukan karena takut, tapi karena menahan amarah yang sangat kuat. "Dia nggak ada hubungannya sama urusan lo sama gue. Kenapa lo libatin dia?"
"Karena dia yang bikin lo jadi pengecut!" Kevin tiba-tiba membentak, wajahnya memerah. "Karena gara-gara dia, lo ninggalin geng! Gara-gara dia, Dimas jadi lemah! Gara-gara dia, nama Venom Crew jadi bahan ketawaan!"
"Itu urusan lo sama gue!" balas Alek dengan suara yang tidak kalah kerasnya, satu langkah lagi maju. "Jangan bawa-bawa dia! Dia nggak pernah minta gue keluar! Dia bahkan nggak tau gue ada perasaan ke dia!"
"OH JADI LO NGAKUIN SEKARANG?!" Kevin tertawa keras. "Lo suka dia! Dan gue akan pastiin dia nggak mau liat muka lo lagi seumur hidup!"
Alek mengepalkan tangan. Riki sudah bergerak di sebelahnya, siap memegang kalau Alek mulai bergerak.
Tapi Alek... berhenti.
Dia menutup mata sedetik. Menarik napas dalam. Lalu membuka mata kembali, menatap Kevin dengan tatapan yang sudah lebih tenang—meski dingin.
"Gue dateng ke sini bukan buat berantem, Kev," kata Alek dengan suara yang kembali rendah dan terkontrol. "Gue dateng buat bilang satu hal aja."
Kevin menatap Alek dengan alis terangkat, seperti menantang.
"Jangan pernah dekati Khansa lagi," kata Alek tegas. Setiap kata keluar dengan jelas dan berat. "Jangan ancam dia. Jangan bikin dia takut. Jangan ganggu dia dengan cara apapun. Ini bukan permintaan. Ini peringatan."
"Peringatan?" Kevin tertawa lagi. "Lo mau ngapain kalau kita nggak nurut? Lo udah keluar dari geng. Lo nggak punya backing lagi. Lo nggak punya kekuatan apa-apa."
"Gue nggak butuh kekuatan geng buat lindungi orang yang gue peduliin." Alek menatap Kevin tanpa berkedip. "Dan kalau lo berani ganggu dia lagi... gue akan pastiin lo menyesal. Bukan dengan cara yang dulu. Tapi dengan cara yang jauh lebih... permanen."
Keheningan jatuh di antara mereka. Kevin dan Bagas tidak bergerak.
"Lo ngancam gue?" kata Kevin akhirnya, suaranya lebih pelan.
"Bukan ngancam. Gue cuma kasih tahu konsekuensinya." Alek tersenyum tipis—senyum yang tidak ada hangatnya. "Sama kayak yang lo bilang ke Khansa kemarin."
Kevin mengepalkan tangannya. Bagas meletakkan tangan di bahunya, menahan.
"Pelan-pelan, Kev," bisik Bagas.
Kevin dan Alek saling tatap panjang. Dua tatapan yang sama-sama keras, sama-sama tidak mau mengalah.
Lalu Alek berbalik. "Gue udah ngomong apa yang perlu gue omongin. Sisanya... terserah lo."
Dia berjalan pergi bersama Riki, meninggalkan Kevin dan Bagas di tangga belakang.
Saat sudah cukup jauh, Riki menepuk punggung Alek. "Lo keren tadi, Lex. Lo nahan diri."
"Gue hampir nggak bisa." Alek mengakui dengan suara berat. "Kalau lo nggak di sana..."
"Tapi lo bisa. Dan itu yang penting."
Alek menghela napas. "Masalahnya... gue nggak tau mereka akan berhenti atau nggak."
"Kita lihat dulu. Kalau mereka berani lagi..." Riki mengepalkan tangan, "...kita pikirkan langkah selanjutnya."
***
Sore itu, Alek pulang dengan pikiran yang berat. Dia duduk di meja belajarnya, membuka buku tapi tidak membaca. Matanya menatap halaman kosong.
Khansa takut. Karena dia. Khansa jaga jarak. Karena dia. Khansa menangis—dia yakin itu—karena dia.
"Ini salah gue," gumamnya pelan. "Kalau gue nggak pernah ikut kegiatan sosial itu... kalau gue nggak pernah dekatin dia... dia nggak akan kena masalah ini."
Tapi kemudian suara lain berbisik. "Tapi kalau lo nggak pernah ikut... lo nggak akan berubah. Lo masih akan jadi monster yang sama."
Alek menutup buku, bersandar di kursi.
Ini rumit. Sangat rumit.
Dia membuka hape, membuka browser. Tanpa berpikir panjang, jarinya mengetik:
**"Dalam Islam, bagaimana cara melindungi orang yang kamu sayangi?"**
Artikel pertama yang muncul berbicara tentang doa perlindungan dalam Islam—doa yang bisa dibaca untuk melindungi orang-orang yang disayangi.
*"Bismillahillazi la yadurru ma'asmihi syai'un fil ardhi wa la fis sama'i wa huwas sami'ul 'alim."*
*"Dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun di bumi dan langit yang dapat membahayakan dengan nama-Nya. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."*
Alek membaca kalimat itu berulang kali. Perlahan, dia membacanya dengan suara yang sangat pelan—hampir tidak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.
"Bismillahillazi la yadurru..."
Lidahnya tidak terbiasa dengan bahasa Arab. Pengucapannya pasti salah. Tapi ada sesuatu yang aneh terjadi saat dia membaca kalimat itu.
Hatinya... tenang.
Bukan tenang yang dibuat-buat. Tapi tenang yang datang tiba-tiba, seperti gelombang yang menenangkan lautan yang bergejolak.
Alek menutup matanya sebentar. Menikmati ketenangan yang tidak biasa itu.
"Ya Allah," bisiknya pelan—untuk pertama kalinya dia memanggil nama itu dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar kata yang didengar dari Khansa. "Kalau Engkau ada... kalau Engkau dengar gue... tolong lindungi Khansa. Dia nggak ada salahnya. Dia orang baik. Jangan biarkan orang-orang jahat itu sakitin dia."
Ruangan kamar terasa lebih hening dari biasanya.
Alek membuka mata, menatap langit-langit. Ada basah di sudut matanya yang tidak dia sadari.
"Gue harus ketemu dia," tekadnya. "Gue harus bilang ke dia... bahwa gue tahu apa yang terjadi. Bahwa dia nggak perlu takut. Bahwa gue yang akan urus ini."
Tapi bagaimana caranya? Kegiatan sosial berikutnya mungkin masih beberapa minggu lagi. Dan dia tidak punya nomor Khansa.
Alek terdiam lama. Lalu sebuah ide muncul.
"Maryam," gumamnya. "Maryam bisa sampaikan pesan."
Dia mengambil hape, mengirim pesan ke Riki.
**Alek:** "Rik, minta tolong satu hal lagi."
**Riki:** "Apaan?"
**Alek:** "Minta Maryam sampaikan sesuatu ke Khansa dari gue."
**Riki:** "Pesan apa?"
Alek terdiam. Dia memikirkan kata-kata yang tepat. Kata-kata yang tidak akan membuat Khansa lebih takut. Kata-kata yang sopan tapi jelas.
Lalu dia mengetik.
**Alek:** "Bilang ke Maryam untuk sampaikan ke Khansa: 'Gue tahu apa yang terjadi kemarin. Gue minta maaf karena lo jadi kena masalah gara-gara gue. Lo nggak perlu takut lagi. Gue sudah urus masalah itu. Dan... lo nggak perlu jaga jarak dari gue karena takut. Keputusan ada di tangan lo. Tapi gue akan selalu menghormati apapun keputusan lo.'"
Riki membaca pesan itu lama. Lalu membalas.
**Riki:** "Lex... ini... ini bagus banget. Lo udah dewasa banget."
**Alek:** "Tolong sampaikan, Rik."
**Riki:** "Oke. Gue coba sekarang."
***
Malam itu, di kamar asrama Pesantren Al-Hikmah, Maryam menghampiri Khansa yang sedang membaca Al-Quran.
"Khansa," panggil Maryam pelan.
Khansa menoleh. "Apa, Mar?"
"Ada... pesan buat kamu." Maryam duduk di sebelah Khansa, wajahnya sedikit canggung. "Dari Mas Riki. Katanya... dari Mas Alexander."
Khansa terdiam. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Maryam membacakan pesan itu dengan pelan dan jelas. Setiap kata.
*"Gue tahu apa yang terjadi kemarin. Gue minta maaf karena lo jadi kena masalah gara-gara gue. Lo nggak perlu takut lagi. Gue sudah urus masalah itu. Dan... lo nggak perlu jaga jarak dari gue karena takut. Keputusan ada di tangan lo. Tapi gue akan selalu menghormati apapun keputusan lo."*
Khansa mendengarkan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tangannya yang memegang Al-Quran meremas halus sampai sedikit gemetar.
Maryam menggenggam tangan Khansa. "Aku lihat kemarin, Khansa. Aku lihat mereka ngancam kamu. Aku minta maaf karena aku nggak langsung bantu."
"Kamu... kamu lihat?" bisik Khansa.
"Iya. Tapi mereka sudah pergi sebelum aku sempat menghampiri." Maryam menatap Khansa dengan tatapan penuh empati. "Kamu nggak perlu takut lagi. Mas Riki bilang... Mas Alexander sudah konfrontasi mereka hari ini."
Khansa menutup matanya. Dua bulir air mata jatuh pelan di pipinya.
"Mas Alexander..." bisiknya sangat pelan.
"Kamu... kamu mau balas pesannya?" tanya Maryam hati-hati.
Khansa terdiam lama. Tangannya membelai sampul Al-Quran yang dipegangnya.
"Aku... aku perlu istikharah dulu, Mar," jawabnya akhirnya. "Aku perlu minta petunjuk dari Allah. Tentang semua ini. Tentang... apa yang harus aku lakukan."
Maryam mengangguk paham. "Iya, Khansa. Aku ngerti."
Setelah Maryam pergi ke kamar mandi untuk wudhu, Khansa duduk sendirian dengan Al-Quran di pangkuannya. Dia membuka halaman yang sedang dia baca tadi—Surah Al-Baqarah, ayat 286.
*"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."*
Khansa membaca ayat itu berulang kali. Bibir bergerak pelan mengikuti huruf-huruf Arab yang sudah dihafalnya.
"Ya Allah," doanya dalam hati, "Engkau tidak membebani hamba melebihi kesanggupan hamba. Jadi beban ini... pasti bisa hamba tanggung. Berilah hamba kekuatan. Dan berilah hamba petunjuk—apa yang harus hamba lakukan?"
Dia menutup Al-Quran, meletakkannya dengan hati-hati di rak kecil di sisi kasurnya. Lalu dia berbaring, menatap langit-langit kamar asrama yang sederhana.
Di dalam hatinya, ada pertarungan kecil. Antara ketakutan dan kepercayaan. Antara ingin menjauh dan ingin tetap ada. Antara menjaga diri sendiri dan tidak ingin meninggalkan seseorang yang sedang berjuang menemukan jalannya.
*"Gue akan selalu menghormati apapun keputusan lo."*
Kata-kata itu bergema di kepalanya. Sopan. Tulus. Tidak memaksa.
Khansa menutup mata.
Malam itu, dia tertidur lebih cepat dari semalam. Tidak dengan tangisan. Tapi dengan satu doa yang diulang sampai dia tidak sadar sudah tertidur.
"Ya Allah, tunjukkan jalan yang terbaik."
***
Alek berbaring di kasurnya, menatap langit-langit sambil menunggu kabar dari Riki. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sebentar lagi waktu untuk tidur—setidaknya mencoba.
Hapenya bergetar.
**Riki:** "Pesan sudah tersampaikan. Maryam sudah bilang ke Khansa."
**Alek:** "Responsnya gimana?"
**Riki:** "Maryam bilang... Khansa nangis waktu denger pesannya. Tapi bukan nangis sedih. Maryam bilang kayaknya nangis lega."
Alek menghembuskan napas yang sudah dia tahan lama. Matanya terpejam sebentar.
**Alek:** "Dia bilang sesuatu nggak?"
**Riki:** "Dia bilang perlu istikharah dulu. Kata Maryam, itu doa minta petunjuk dari Allah."
Alek membaca kata itu. Istikharah. Dia tidak familiar dengan kata itu. Tapi dia bisa merasakan maknanya—Khansa membutuhkan waktu. Dia sedang berdoa, meminta petunjuk untuk mengambil keputusan.
Dan itu... Alek bisa menghormati itu
hehe semangat bangg
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg