Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Lidya mengutuki dirinya sendiri karena merasa seperti orang bodoh saat Kevin tadi mendekatinya. Ia bahkan menahan napas beberapa detik, seolah jarak yang menyempit itu benar-benar mampu menghentikan detak jantungnya.
“Benar-benar memalukan,” gumam Lidya pelan tanpa sadar.
“Kamu bicara apa?” tanya Kevin yang samar-samar mendengar suara Lidya.
Mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah sakit, sementara Anton yang duduk di kursi kemudi beberapa kali melirik ke kaca spion karena menyadari suasana yang tidak biasa di kursi belakang.
“Sepertinya Bu Lidya sakit, wajahnya merah, Pak?” sela Anton sebelum Lidya sempat menjawab.
Kevin langsung menoleh dan menatap wajah Lidya dengan serius, bukan seperti tadi yang sempat menggoda. “Kamu benar-benar sakit?” tanyanya sambil mengangkat tangan untuk memeriksa keningnya.
Lidya segera menepis tangan itu sebelum menyentuh kulitnya dan berusaha terdengar normal. “Aku baik-baik saja. Mungkin cuaca di luar panas jadi wajahku memerah.”
“Tapi mobil ini ber-AC, Bu,” sahut Anton polos.
Tanpa berpikir panjang Lidya menendang ringan sandaran kursi depan. “Diam kamu, Anton.”
Anton langsung berdeham dan kembali fokus menyetir.
Kevin tidak menambahkan komentar apa pun, hanya sudut bibirnya yang terangkat tipis sebelum ia kembali bersandar dan memalingkan wajah ke jendela. Mobil melaju stabil, tetapi ketegangan kecil tetap tertinggal di antara mereka.
Beberapa menit kemudian Lidya berusaha mengalihkan pikirannya dan membuka percakapan dengan nada yang lebih profesional. “Bagaimana situasi sekarang?”
Kevin menoleh sedikit. “Situasi apa?”
“Maksudku tentang perceraianmu dengan wanita itu dan rencanamu setelahnya,” jelas Lidya dengan lebih tegas.
Kevin kembali menatap ke depan. Ekspresinya tetap tenang, seolah topik itu bukan sesuatu yang mengguncangnya. “Minggu depan mulai mediasi. Semua sudah ditangani pengacara. Nenekmu yang memilih langsung timnya.”
Jawaban itu terdengar singkat dan tertutup, bukan karena ia marah, melainkan karena semuanya sudah diputuskan. Lidya mengangguk pelan dan tidak melanjutkan pertanyaan. Ia paham kapan harus berhenti.
Keheningan yang muncul kali ini terasa lebih terkendali. Kevin bersikap sama seperti saat ia mengambil alih kembali perusahaan, penuh perhitungan dan tanpa keraguan, seakan perceraian itu hanyalah satu langkah yang memang perlu diselesaikan.
“Kamu tidak perlu terlalu memikirkan itu,” katanya kemudian.
“Aku hanya memastikan jadwalmu tidak berantakan,” jawab Lidya tetap profesional.
Kevin menoleh sebentar dan menatapnya dalam. “Jadwalku tidak akan berantakan lagi dan aku juga tidak akan mundur.”
Nada itu mengandung sesuatu yang lebih dari sekadar urusan pekerjaan, tetapi ia tidak menjelaskannya lebih jauh.
Mobil akhirnya memasuki area rumah sakit. Kevin merapikan lengan kemejanya sebelum turun, lalu berjalan dengan langkah tenang menuju ruang pemeriksaan bersama Lidya. Namun beberapa langkah kemudian ia berhenti.
Di depan mereka berdiri Iren bersama Vano.
Iren terlihat pucat dan lebih lemah dari biasanya. Rambutnya hanya diikat sederhana, riasannya nyaris tidak terlihat. Jelas ia tidak dalam kondisi baik.
“Kevin!” panggilnya dengan suara bergetar.
Kevin tidak menunjukkan keterkejutan. Ia hanya mengamati sekilas kondisi Iren, lalu kembali memasang ekspresi netral.
Sejak semalam Iren berusaha menghubunginya tanpa ada jawaban. Tekanan perusahaan dan kurang tidur membuat tubuhnya drop hingga Vano datang pagi tadi dan membawanya ke rumah sakit. Namun yang ia lihat sekarang justru membuat dadanya terasa semakin berat.
“Bagus ya. Kamu malah berduaan dengan wanita lain, sementara karena ulahmu aku jadi seperti ini,” ucapnya dengan nada emosional.
Kevin menatapnya tanpa ekspresi. “Seperti ini bagaimana?”
Sementara Lidya yang berdiri di samping Kevin tetap diam. Ia tidak menyela, tidak pula menunjukkan reaksi berlebihan meskipun perdebatan itu melibatkan dirinya.
“Aku mencarimu semalaman. Teleponku tidak kamu angkat.”
“Aku tahu,” jawab Kevin singkat.
“Lalu kenapa tidak menjawab?”
Kevin tidak langsung menjawab. Pandangannya bergeser pada Vano yang masih menopang lengan Iren, kemudian kembali pada wajah istrinya.
“Karena tidak ada yang perlu dibicarakan.”
Jawaban itu tenang tetapi tegas.
“Tidak perlu?” ulang Iren dengan suara bergetar. “Aku istrimu.”
“Kamu masih ingat kalau kamu ini istriku?” jawab Kevin pelan, “tetapi kamu juga tidak pernah menjaga batas.”
Ucapan itu membuat Vano langsung bereaksi. “Kevin, kenapa kamu bersikap seperti ini pada Iren? Aku tahu kamu salah sangka dengan hubunganku. Iren itu istrimu, dan dia sedang sakit.”
“Aku tidak salah sangka,” sahut Kevin dengan nada datar. “Kalian pernah bertunangan. Itu fakta.”
“Iya, kami memang pernah bertunangan,” balas Vano, “tetapi sekarang ada jarak di antara kami, dan jarak itu adalah kamu.”
Kevin tertawa pelan, bukan karena terhibur melainkan karena merasa ironi. Seolah Vano lupa bagaimana semua ini bermula, seolah dirinya yang datang merebut sesuatu, padahal dulu justru ia yang menjadikan hubungan itu sebagai taruhan.
Tatapan Kevin berubah lebih tajam, tetapi suaranya tetap terkendali. “Jangan bicara seolah kamu korban. Kamu tahu persis bagaimana semuanya dimulai.”
Vano lebih mendekat ke arah Iren, seolah ingin menegaskan posisinya sekaligus melindungi perempuan itu dari tekanan. Gerakan itu sederhana, tetapi cukup jelas.
Kevin memperhatikan tanpa perubahan ekspresi. Ia tidak terpancing, tidak pula mundur. Tatapannya justru turun pada tangan Vano yang masih berada di lengan Iren, lalu kembali naik menatap wajah pria itu dengan tenang.
“Kamu tidak perlu berdiri di depan seperti itu,” ucap Kevin pelan. “Aku tidak sedang menyerangnya.”
Nada suaranya rendah dan terkontrol, tetapi justru itulah yang membuat suasana semakin tegang.
Iren yang sejak tadi menahan emosi perlahan melepaskan lengannya dari genggaman Vano. Ia berusaha berdiri sendiri walau tubuhnya masih lemah.
“Cukup,” katanya lirih, meski suaranya belum sepenuhnya stabil. “Kamu selalu bilang aku tidak menjaga batasan. Sekarang antar aku ke ruang pemeriksaan.”
Kevin menatapnya tanpa perubahan ekspresi.
“Mengantarmu? Iren, meminta tolong pun harus dengan sikap yang benar,” sahutnya tenang.
“Kevin! Aku sudah memberimu kesempatan untuk membawaku. Sebagai istri, apa aku harus memohon padamu dengan keadaanku seperti ini?” ucap Iren, suaranya meninggi karena campuran lelah dan kesal.
“Tentu saja,” jawab Kevin datar. “Karena aku takut kalau aku menyentuhmu nanti penyakitmu malah bertambah parah.”
Kalimat itu terdengar ringan, tetapi jelas menyimpan luka lama. Dulu saat Iren sakit, Kevin merawatnya sepenuh hati. Ia yang berjaga semalaman, ia yang mengurus obat, ia yang memastikan semua kebutuhan terpenuhi. Namun yang ia terima justru kata-kata hinaan dan tuduhan bahwa dirinya menjadi penyebab kondisi Iren semakin memburuk.
“Kevin!” teriak Iren, suaranya melemah karena menahan nyeri yang berdenyut di kepalanya.
Tangannya terulur ke arah Kevin, seolah masih ingin mengatakan sesuatu. Bibirnya bergerak, tetapi kata-kata itu tak pernah sempat keluar. Pandangannya mengabur, tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dalam hitungan detik, Iren merasa tidak kuat lagi dan tubuhnya mulai goyah.
Sebelum tubuh Iren menyentuh lantai dua tangan menangkapnya, Iren pun tersenyum dan menyebut satu nama.
"Kevin."