novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan
Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Suasana di koridor menuju ruang operasi bedah utama Delphi Medical Centre terasa sangat berat. Cahaya lampu neon yang putih bersih memantul di lantai marmer, menciptakan kesan dingin yang menusuk. Di ujung lorong, kerumunan kecil petinggi rumah sakit dan beberapa staf medis senior sudah menunggu, menciptakan tekanan mental yang luar biasa bagi siapa pun yang akan masuk ke sana.
Lyra berjalan di samping Pharma. Meskipun ia berusaha mengatur napas, suara langkah sepatunya sendiri terdengar seperti dentuman jantung di telinganya.
"Grogi?" tanya Pharma tiba-tiba. Suaranya rendah, hanya bisa didengar oleh Lyra di tengah kebisingan koridor.
"Dikit... eh, enggak! Saya cuma... kedinginan," bohong Lyra, sambil merapatkan blazer yang menutupi scrub-nya.
Pharma berhenti melangkah mendadak tepat di depan pintu ruang sterilisasi. Ia berbalik, menatap Lyra dari atas ke bawah. Tanpa aba-aba, ia mengulurkan tangannya dan merapikan kerah baju Lyra yang sedikit terlipat. Sentuhan jarinya yang dingin namun mantap membuat Lyra mematung.
"Dengar, Lyra," ucap Pharma, matanya menatap tajam ke dalam mata Lyra tanpa ada jejak keisengan seperti semalam. "Di dalam sana, tidak ada bos, tidak ada perwakilan dokter, dan tidak ada drama. Hanya ada saya, kamu, dan jantung Lord Sterling. Kalau kamu ragu, pasien itu mati. Jadi, simpan rasa takutmu di luar pintu ini."
Lyra menelan ludah, lalu mengangguk mantap. "Siap, Dokter Pharma."
Di Meja Operasi: Menit-Menit yang Menentukan
Begitu mereka masuk, suasana berubah total. Ruangan itu sangat sunyi, hanya ada suara mesin anestesi dan monitor jantung. Lord Sterling sudah terbaring di meja operasi, tertutup kain hijau steril.
Pharma mengambil posisi sebagai operator utama, sementara Lyra berdiri tepat di hadapannya sebagai asisten pertama. Ini adalah posisi yang sangat prestisius sekaligus berbahaya. Semua mata di galeri observasi tempat para petinggi RS menonton dari balik kaca tertuju pada mereka.
"Pisau bedah nomor 10," suara Pharma bergema, dingin dan otoriter.
Operasi dimulai. Pharma bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Setiap gerakannya sangat efisien, seolah-olah dia bisa melihat menembus daging pasien. Lyra harus bekerja ekstra keras untuk mengimbangi kecepatan Pharma. Ia melakukan pengisapan darah (suction) dan pemasangan klem dengan presisi yang membuat Pharma sesekali meliriknya dengan tatapan puas.
"Dokter Lyra, ambil alih retractor ini. Tahan dengan stabil, jangan sampai bergeser satu milimeter pun," perintah Pharma.
Lyra memegang alat itu. Otot lengannya mulai terasa pegal karena harus mempertahankan posisi yang sama selama puluhan menit. Keringat mulai muncul di dahi Lyra.
Tiba-tiba, Pharma mendekat. Sangat dekat. Ia harus menjangkau area jantung yang lebih dalam, yang mengharuskan bahunya bersentuhan langsung dengan bahu Lyra.
"Tahan," bisik Pharma di balik maskernya. "Jangan goyang. Sedikit lagi kita sampai di aorta."
Bau antiseptik bercampur dengan aroma khas Pharma kembali memenuhi indra penciuman Lyra. Di tengah situasi hidup dan mati ini, Pharma masih sempat-sempatnya melakukan aksi "caper" terselubung. Ia sengaja sedikit menekan bahunya ke bahu Lyra untuk memberi dukungan, seolah memberi kekuatan tambahan agar tangan Lyra tidak jatuh.
Krisis di Tengah Operasi
"Pendarahan!" seru salah satu perawat instrumen.
Monitor jantung tiba-tiba berbunyi liar. Tekanan darah Lord Sterling merosot tajam. Ada pembuluh darah kecil yang pecah di area yang sangat sulit dijangkau. Seluruh tim di ruangan itu panik.
"Tenang!" bentak Pharma, suaranya menggelegar membuat semua orang terdiam.
Pharma mencoba menghentikan pendarahan, tapi posisinya terhalang oleh struktur anatomi yang rumit. Ia melirik Lyra.
"Lyra, tanganmu lebih kecil dari tangan saya. Masuk ke celah ini, jepit pembuluh darah di bawah arteri koroner itu. Sekarang!"
Lyra tertegun. Itu adalah manuver yang sangat berisiko. Kalau dia salah jepit, Lord Sterling bisa tewas seketika.
"Saya... saya nggak yakin, Sir," cicit Lyra.
Pharma menatap mata Lyra dengan sangat dalam. "Saya yakin kamu bisa. Saya yang akan memandu arah gerakanmu. Percaya pada saya, Lyra."
Pharma kemudian memegang pergelangan tangan Lyra dengan lembut namun kuat, menuntun jari-jari Lyra masuk ke dalam rongga dada pasien. Posisi mereka sekarang benar-benar intim; Pharma hampir memeluk Lyra dari belakang agar bisa melihat sudut pandang yang sama.
"Tiga... dua... satu... jepit!" bisik Pharma.
KLIK.
Suara instrumen medis itu terdengar sangat memuaskan. Monitor jantung perlahan kembali stabil. Bunyi beeping yang tadi histeris kini kembali teratur. Pendarahan berhenti.
Pharma mengembuskan napas lega yang terasa hangat di leher belakang Lyra. "Kerja bagus, Lyra. Sangat bagus."
Lyra merasa lututnya lemas. Ia baru saja menyelamatkan nyawa seorang bangsawan Inggris di bawah bimbingan langsung sang "Tangan Tuhan".
Setelah Operasi: Sisi Lain Sang Boss
Dua jam kemudian, operasi dinyatakan sukses total. Lyra keluar dari ruang operasi dengan tubuh yang terasa seperti jeli. Ia duduk di bangku lorong yang sepi, menangkupkan wajahnya di tangan.
Tiba-tiba, sebotol minuman energi dingin ditempelkan ke pipinya. Lyra terlonjak kaget.
"Masih mau pingsan?" Pharma berdiri di depannya, sudah berganti pakaian dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung sampai siku, menampakkan lengan yang atletis.
"Sir... Anda beneran hobi ngagetin ya?" keluh Lyra sambil menerima minuman itu.
Pharma duduk di samping Lyra, memberikan jarak yang sangat tipis. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding dan memejamkan mata sejenak. Wajahnya tampak sangat lelah, tapi masih terlihat tampan yang sangat menyebalkan bagi Lyra.
"Kamu tadi hebat, Lyra. Tidak banyak dokter yang berani melakukan manuver itu di hari kedua mereka," ucap Pharma tanpa membuka mata.
"Itu kan karena Anda yang maksa," gumam Lyra, meski hatinya berbunga-bunga.
"Saya tidak memaksa orang yang saya tahu akan gagal," balas Pharma. Ia kemudian menoleh ke arah Lyra, memberikan senyuman tipis senyuman tulus pertama yang Lyra lihat, bukan senyum sinis atau caper. "Mungkin... ide kamu soal 'cuci mata' itu tidak buruk juga. Besok malam ada acara makan malam perayaan di kediaman Sterling. Kamu harus datang."
"Hah? Saya juga diundang?"
"Tentu saja. Kamu asisten bedahnya," Pharma berdiri dan merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kartu akses VIP. "Pakai gaun yang paling bagus. Saya tidak mau dibilang membawa asisten yang kancing gaunnya miring."
"PHARMA!!" teriak Lyra kesal sambil melempar tutup botol ke arah Pharma yang sudah berjalan menjauh sambil tertawa kecil.
> Dokter syalan! Lyra tersenyum lebar sambil menatap kartu akses itu. Caper terus sampai sukses ya, Bos! Tapi... oke lah, kali ini gue maafin karena lo emang keren banget di meja operasi tadi.Begitu pintu keluar rumah sakit terbuka, kilatan lampu flash dari puluhan kamera jurnalis langsung menyambar Lyra dan Pharma. Berita mengenai keberhasilan operasi Lord Sterling yang mustahil itu telah menyebar ke seluruh London layaknya api yang ditiup angin.
"Dokter Pharma! Apakah ini adalah teknik bedah terbaru dari Delphi?"
"Dokter Lyra! Bagaimana rasanya bekerja sama dengan 'Tangan Tuhan' di bawah tekanan sebesar itu?"
Lyra, yang belum pernah berhadapan dengan media internasional sebanyak ini, mendadak kaku. Ia refleks menutup matanya karena silau. Di tengah kerumunan yang saling dorong, ia merasa sebuah tangan besar dan hangat melingkar di pinggangnya, menariknya mendekat agar tidak terhimpit.
"Tetap di samping saya, Lyra," bisik Pharma. Ia tidak melepaskan tangannya, justru sengaja merangkul bahu Lyra dengan protektif di depan kamera.
Pharma mengangkat satu tangannya untuk menenangkan massa. Dengan wibawa yang luar biasa, ia mulai berbicara dalam bahasa Inggris yang sangat elegan.
"Operasi ini sukses berkat kerja sama tim. Dan rekan saya, Dokter Lyra Raven dari Indonesia, menunjukkan bahwa kompetensi medis tidak mengenal batas negara. Dia adalah salah satu asisten terbaik yang pernah bekerja di meja operasi saya," ucap Pharma tegas, sambil melirik Lyra dengan tatapan yang untuk pertama kalinya di depan publik terlihat sangat bangga.
> DUARRR! Batin Lyra seolah meledak. Ini orang beneran raja caper sedunia! Dia barusan muji gue di depan seluruh wartawan London?! Mana tangannya masih nempel di pundak gue lagi! Besok pasti muka gue masuk koran dengan judul 'Dokter Misterius di Samping Pharma Andriend'!
Para wartawan makin menggila melihat kedekatan mereka. "Dokter Pharma, apakah ada hubungan khusus di antara kalian selain rekan kerja?" tanya salah satu wartawan dari Daily Mail.
Pharma tidak langsung menjawab. Ia justru menunduk sedikit ke arah Lyra, tersenyum miring yang sangat menyebalkan tapi mematikan, lalu kembali menatap wartawan itu.
"Dia adalah dokter yang kancing jasnya sering saya periksa. Sisanya, biarkan menjadi urusan internal Delphi," jawab Pharma ambigu, yang tentu saja langsung membuat suasana makin riuh.
Lyra mencubit pelan pinggang Pharma karena jawabannya yang memancing gosip itu. "Sir! Jangan ngaco deh!" bisiknya tajam.Lyra baru saja akan memasukkan kartu akses itu ke dalam sakunya ketika pintu lobi otomatis terbuka. Kilatan flash kamera dan suara riuh rendah langsung menyerbu mereka bagaikan ombak. Wartawan dari berbagai media, mulai dari kanal berita medis hingga tabloid ternama London, sudah berkerumun layaknya semut yang mencium gula.
"Dokter Pharma! Benarkah operasi Lord Sterling berhasil karena bantuan dokter asing?"
"Bagaimana tanggapan Anda mengenai asisten baru Anda ini?"
Lyra tersentak, hampir terjatuh ke belakang jika sebuah lengan kokoh tidak segera melingkar di bahunya. Pharma, dengan gerakan yang terlihat sangat alami namun penuh proteksi, menarik Lyra merapat ke tubuhnya. Wangi kemeja putihnya yang segar langsung menyelimuti indra penciuman Lyra.
"Tetap tenang," bisik Pharma di dekat telinganya, memberikan sensasi geli yang membuat bulu kuduk Lyra meremang. "Ikuti saja alur saya."
Pharma mengangkat dagunya, menatap barisan jurnalis itu dengan aura penguasa yang sangat dominan. "Lord Sterling dalam kondisi stabil. Dan ya, keberhasilan ini tidak akan terjadi tanpa presisi luar biasa dari Dokter Lyra Raven," ucap Pharma dengan suara bariton yang menggema, sengaja mempererat rangkulannya di pundak Lyra.
Lyra hanya bisa melongo. Gila ya ini orang! batinnya. Di depan media malah makin-makin capernya! Dia nggak tahu apa jantung gue udah mau copot dari tadi?
Seorang wartawan wanita dengan agresif menyodorkan mikrofon. "Dokter Pharma, beredar rumor bahwa Anda jarang sekali memilih asisten pribadi sesingkat ini. Apakah ada hubungan spesial antara Anda berdua?"
Pharma terdiam sejenak, melirik Lyra yang wajahnya sudah semerah kepiting rebus. Bukannya membantah dengan tegas, ia malah memberikan senyuman miring yang misterius. "Dia memiliki tangan yang sangat berbakat... dan saya sangat menyukai cara dia menjaga 'kancing' saya tetap pada tempatnya," jawab Pharma dengan nada bercanda yang sangat ambigu.
"APA?!" Lyra membelalak, refleks mencubit pinggang Pharma di balik jasnya.
Kerumunan wartawan makin histeris, terus memotret momen intim tersebut. Pharma hanya terkekeh rendah, mengabaikan cubitan Lyra, dan terus menuntunnya menembus kerumunan menuju mobil sport putihnya yang sudah menunggu.
Begitu mereka berhasil masuk ke dalam mobil dan pintu tertutup rapat, Lyra langsung meledak. "Pharma! Lo gila ya?! Besok pagi muka gue bakal terpampang di seluruh koran London dengan berita yang nggak-nggak!"
Pharma mulai menginjak gas, membelah kerumunan dengan santai. "Anggap saja itu bonus popularitas, Lyra. Lagipula, bukankah kamu bilang mau 'cuci mata' kemarin? Sekarang seluruh dunia yang sedang mencuci mata melihat kehebatanmu."
"Tapi nggak pake gosip kancing baju juga kali!" seru Lyra sambil mengacak rambutnya frustrasi.
Pharma melirik Lyra lewat spion tengah, matanya berkilat jahil. "Bersiaplah untuk besok malam. Di pesta Lord Sterling, mata yang melihatmu akan jauh lebih banyak daripada kamera tadi. Pastikan kamu tidak mempermalukan saya."