NovelToon NovelToon
Mahkota Duri Dinasti Yang Terluka

Mahkota Duri Dinasti Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pelakor / CEO / Hamil di luar nikah / Dark Romance / Balas Dendam
Popularitas:67
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: SIMFONI KEGILAAN DI RUANG HAMPA

Di bawah tekanan ribuan atmosfer, di mana cahaya matahari adalah mitos yang sudah lama mati, kapsul isolasi Miyu melayang seperti peti mati kaca. Di dalam ruangan sempit berukuran dua meter itu, waktu bukan lagi sebuah garis lurus, melainkan lingkaran setan yang penuh dengan rasa sakit. Miyu tidak lagi tahu berapa hari telah berlalu sejak Renji—sang malaikat maut berwajah porselen—menjebaknya dalam siklus harapan palsu.

Oksigen di dalam kapsul diatur secara fluktuatif oleh algoritma yang didesain sendiri oleh Renji melalui Matsuda-Sato Neuro-Life Systems. Terkadang udara terasa begitu segar hingga membuat paru-parunya perih, namun di saat lain, kadar CO2 ditingkatkan hingga Miyu harus mencakar dinding kaca hanya untuk menghirup sisa-sisa napasnya.

"Bernapaslah, kakak," suara Renji terdengar melalui interkom, jernih tanpa distorsi. "Ayah selalu bilang bahwa manusia paling jujur saat mereka berada di ambang mati lemas. Kau sudah sangat jujur hari ini."

Di tengah kabut halusinogen yang disemprotkan secara berkala, penglihatan Miyu mulai pecah. Di sudut kapsul yang seharusnya kosong, sesosok bayangan mulai memadat. Awalnya hanya berupa gumpalan gelap, namun perlahan membentuk siluet wanita dengan gaun putih yang robek dan berlumuran darah.

"Shizuka?" bisik Miyu, suaranya kini hanya berupa desisan parau.

Sosok itu menoleh. Wajahnya adalah wajah Shizuka pada malam ledakan itu—setengah hancur, dengan mata yang menatap kosong namun penuh tuduhan. Shizuka tidak berbicara dengan suara, melainkan dengan pikiran yang menusuk langsung ke otak Miyu yang sudah rapuh.

"Kenapa kau membiarkan aku terbakar, Miyu? Kenapa kau hidup sementara aku menjadi abu?"

"Aku mencoba menyelamatkanmu!" teriak Miyu, memukul kaca kapsul hingga buku jarinya berdarah. "Aku bersumpah aku mencoba!"

Di ruang observasi, Renji memperhatikan grafik gelombang otak Miyu yang melonjak tajam. Ia menyesap cokelat panasnya dengan tenang, matanya yang perak berbinar melihat lonjakan dopamin dan adrenalin yang bertabrakan.

"Menarik," gumam Renji. "Subjek mulai memproyeksikan rasa bersalahnya menjadi manifestasi visual. Mari kita tambahkan sedikit bumbu."

Renji menekan beberapa tombol di konsolnya. Seketika, suhu di dalam kapsul turun drastis hingga mencapai titik beku. Kristal es mulai terbentuk di dinding kaca, dan di tengah kabut es itu, halusinasi Shizuka merangkak mendekati Miyu, jari-jarinya yang dingin seolah mencekik leher Miyu.

"Lihatlah dia, Shizuka," Miyu meracau, menunjuk ke arah kamera pengawas tempat ia tahu Renji sedang menonton. "Itu putra mereka! Dia adalah monster yang mereka lahirkan untuk menghukum kita!"

Halusinasi Shizuka tertawa—suara tawa yang terdengar seperti gesekan pisau pada logam. "Dia bukan menghukummu, Miyu. Dia hanya membersihkan sampah. Kita adalah sampah yang gagal dibakar oleh Kenzo. Dan sekarang, putra kesayangannya sedang menyelesaikan pekerjaan itu dengan sangat rapi."

"Tidak... aku akan keluar... aku akan membunuh mereka semua..."

"Kakak Miyu," suara Renji kembali memotong, terdengar sangat sopan dan penuh empati yang palsu. "Siapa yang sedang kau ajak bicara? Sensor biometrikku menunjukkan hanya ada satu denyut jantung di sana. Apakah kau sedang berbicara dengan hantu? Atau mungkin kau sedang menyadari bahwa di dunia ini, kau memang ditakdirkan untuk sendirian?"

Renji mematikan lampu di dalam kapsul secara total. Kegelapan absolut menyelimuti Miyu. Dalam kegelapan itu, halusinasi Shizuka terasa semakin nyata. Miyu bisa merasakan napas dingin di telinganya dan bisikan yang tak henti-hentinya menyalahkan setiap keputusan yang pernah ia ambil.

Renji tidak puas hanya dengan siksaan mental. Ia mengaktifkan fitur Tactile Illusion melalui Matsuda-Sato Haptic-Tech. Tiba-tiba, Miyu merasakan ribuan serangga merangkak di bawah kulitnya—sebuah simulasi saraf yang dirancang untuk membuat korban merasa jijik dan menderita secara fisik tanpa ada luka luar.

"Hentikan! Renji, kumohon hentikan!" Miyu memohon, berlutut di lantai kapsul yang membeku.

"Aku melakukan ini karena aku peduli, Bibi," jawab Renji dengan nada bicara seorang anak kecil yang sedang menjelaskan tugas sekolah. "Ayah ingin kau mati, tapi aku ingin kau abadi dalam penderitaanmu. Jika kau mati, eksperimenku berakhir. Jika kau tetap hidup dalam kegilaan ini, kau menjadi monumen hidup bagi kemenangan keluarga Matsuda. Kau adalah karya seniku yang paling berharga."

Renji kemudian memutar video holografik di dinding sel. Video itu menampilkan Kenzo dan Hana yang sedang berdansa di pesta ulang tahun Renji yang kesepuluh. Mereka terlihat sangat bahagia, sangat penuh cinta, seolah dunia luar tidak ada yang menderita. Kontras antara kebahagiaan di layar dan neraka di dalam kapsul itu membuat kewarasan Miyu retak sepenuhnya.

Miyu mulai tertawa. Tawa yang melengking, panjang, dan mengerikan. Ia mulai menari di dalam kapsulnya, mengikuti irama musik dansa yang diputar Renji, sementara halusinasi Shizuka yang berdarah menari bersamanya.

"Itu dia," bisik Renji, senyum tipis tersungging di bibirnya yang kemerahan. "Pecah. Sempurna."

Renji mematikan transmisi interkom. Ia berdiri dan merapikan jasnya yang tanpa celah. Ia harus segera kembali ke lantai atas. Ibunya, Hana, pasti sudah menunggunya untuk membacakan laporan harian.

Sebelum pergi, Renji menoleh sekali lagi ke arah monitor. Miyu kini sedang menciumi dinding kaca, membisikkan nama Shizuka berulang kali sambil menggambar pola aneh dengan darah dari jemarinya.

"Jaga dia tetap di level ini," perintah Renji kepada AI penjaga, Sato-System Intelligence. "Pastikan dia tidak pernah benar-benar mati, dan jangan biarkan Ayah tahu aku menggunakan fasilitas ini untuk hobiku. Ini adalah rahasia antara aku dan kaka Miyu."

Renji melangkah keluar dari ruang observasi dengan langkah kaki yang ringan. Di wajahnya terpancar aura seorang anak yang sangat mencintai orang tuanya, seorang putra teladan yang bersedia melakukan hal-hal paling kotor di dunia bawah hanya agar wajah orang tuanya tetap bersih dan bercahaya di puncak dunia.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!