“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI 25
“MALING!” Teriakan makin kencang, orang makin ramai mengejar. Miranda berbelok ke gang proyek, bersembunyi di balik tembok sambil memeluk kantung plastik berisi nasi uduk.
Derap langkah orang makin ramai, dada Miranda berdegup kencang, keringat membasahi dahi, lututnya gemetar. Miranda berjongkok, “Ya Allah tolong aku, aku hanya ingin mencari rezeki halal,” ucap Miranda dalam hati.
Dia memejamkan mata saat derap langkah orang terus mendekat.
Miranda membayangkan dirinya di pukuli banyak pria wajahnya babak belur badannya sakit semua. Dia meringis dengan hanya membayangkannya saja
Lututnya terasa lemah, dahinya berkeringat dingin, nafasnya tak beraturan
Derap langkah orang semakin mendekat, dada Miranda semakin sesak.
Matanya makin kuat terpejam, “ Ya Allah aku Pasrah” gumam miranda dengan bibir gemetar.
Miranda sudah pasrah dan siap menerima rasa sakit
Namun beberapa saat matanya terpejam dia tidak merasakan apapun, tidak ada yang memukulinya.
Miranda membuka mata dan melihat orang orang masih berlarian tapi tidak mengejar dirinya
“jadi dari tadi mereka tidak mengejar aku” gumam miranda
Lelaki paruh baya yang tak kuat lari akhirnya duduk di samping Miranda.
Miranda penasaran akhirnya berkata, “Mas, sebenarnya ada apa tadi?” tanya Miranda.
“Itu ada maling motor, maling motor sekarang memang enggak tahu waktu, pagi-pagi sudah maling motor.”
“Oh,” hanya itu yang keluar dari mulut Miranda.
Ternyata dia salah sangka, mereka tidak mengejar dirinya tapi mengejar maling motor.
“Pak, jam berapa ya sekarang?” tanya Miranda.
“06.20,” jawab lelaki paruh baya sambil melihat jam.
Pria itu kemudian kembali mengejar maling dan meninggalkan Miranda.
Miranda melangkah ke gerbang proyek yang terbuat dari seng, beberapa ekskavator terlihat dari luar.
Miranda mengedarkan pandangan, dahi Miranda mengernyit.
“Kenapa enggak ada orang?” ucap Miranda.
Gugup melanda Miranda, dan pikiran buruk kembali datang.
“Apa jangan-jangan aku terlambat?”
“Apa orang-orang proyek itu sudah tidak ada?”
“Astaga Tuhan, aku sudah direndahkan ibu-ibu, aku sudah berlari karena aku merasa dituduh maling, kakiku pegal ya Allah, kenapa aku harus gagal setelah semua ini,” ucap Miranda dalam hati.
Miranda melangkah ke gerbang seng lalu mengetuknya beberapa kali, tapi tidak ada yang keluar.
“Astaga, seperti inikah beratnya perjuangan mencari nafkah,” ucap Miranda. Ternyata berdagang tak semudah yang dia bayangkan, semalaman tidak tidur, dihina karena dianggap tidak mampu bayar, berlari seperti orang kesetanan, dan orang yang memesan malah tidak ada.
Air mata menetes, Miranda membalikkan badan hendak pergi. Dia akan membalikkan nasi uduk itu, dan dia sudah pasti akan dijadikan bahan hinaan lagi.
“Mau ke mana?”
Miranda membalikkan badan, pria memakai helm merah keluar. Miranda menyipitkan mata, Miranda mengenal dia sebagai salah seorang pekerja proyek yang memesan nasi uduk.
“Kirain saya pada enggak ada,” ucap Miranda merasa lega dan dia menyeka air matanya.
“Itu orang-orang lagi beres-beres karena bos besar mau pantau proyek nanti siang,” ucap lelaki memakai helm itu.
Miranda tersenyum lalu menyerahkan kantung plastik berisi nasi uduk itu.
“Tunggu ya,” ucap lelaki itu, “saya ambilkan uangnya dulu.”
Miranda menganggukkan kepala. Miranda tadi mendengar akan ada bos besar, tapi melihat gerbang proyek tidak bersih, dia melihat ada sapu dan serok. Dengan refleks Miranda menyapu gerbang itu sampai bersih, sampai tidak ada sampah sama sekali. Dia menyeka keringat dan tersenyum melihat gerbang sudah bersih.
“Kenapa lama sekali ya,” ucapnya.
Miranda mau masuk ke area proyek, tapi ada spanduk besar bertuliskan, “AREA BERBAHAYA, TIDAK MENGGUNAKAN ALAT PELINDUNG DIRI DILARANG MASUK.”
Miranda mengurungkan langkahnya, dia harap-harap cemas.
Akhirnya pintu dari seng itu terbuka.
“Maaf ya, Mbak, lama,” ucapnya sambil memberikan uang 220.000.
“Saya carikan kembalian dulu ya, Mas,” ucap Miranda.
Pria yang menggunakan helm merah tidak menanggapi Miranda karena dia fokus pada area gerbang yang sudah bersih.
“Mbak yang bersih-bersih?” tanyanya.
Miranda tak menjawab. Lelaki itu melihat tangan Miranda dan baju Miranda yang agak kotor.
Miranda merasa bersalah karena dia lancang membersihkan area proyek tanpa izin dan akhirnya berkata, “Maaf, Mas, tadi saya dengar ada bos datang jadi saya ikut bersihkan tempat ini,” ucap Miranda.
“Kamu enggak usah kembalikan uangnya,” ucap pria itu. “Saya hanya heran kok halaman gerbang jadi bersih seperti ini. Ini halaman belakang jadi kami tak bersihkan, tapi untunglah ada kamu.”
Miranda merasa lega, ternyata tindakannya tidak disalahkan. Mulutnya miranda terbuka akan mengucapkan terima kasih, namun tiba-tiba sebuah mobil SUV datang. Miranda tertegun dan melangkah menjauh, bersembunyi, takutnya petugas yang sedang razia KTP.
Pria helm merah tampak gugup. “Pak Firman,” gumamnya.
Firman turun dari mobil memakai rompi merah, ada pelat kuning menyilaukan, memakai sepatu safety dan memakai helm putih.
Dia mengedarkan pandangan, kemudian mendekat ke arah pria helm merah.
“Pak Firman, selamat datang. Pegawai sudah menunggu Anda di depan, kenapa Anda lewat sini?” ucap pria helm merah.
“Kenapa tempat ini jadi bersih?” tanya Firman, tentu saja mengabaikan pertanyaan pria helm merah.
Pria helm melihat ke arah tempat Miranda, namun dia kaget Miranda sudah tidak ada di tempat. Dia menelan ludah.
“Kamu sudah tahu ya saya akan lewat sini makanya kamu bersihkan tempat ini?” ucap Firman.
Pria helm merah belum bisa menjawab, sedang mencari jawaban yang tepat.
Sementara itu sebenarnya Miranda bersembunyi di balik tumpukan kayu palet.
Miranda merasa gugup, takut kalau tindakan dia malah jadi masalah.
“Saya hanya ingin membersihkan area ini saja,” ucap pria berhelm merah itu.
Firman menepuk pundak pria berhelm merah. “Bagus, berarti kamu punya inisiatif yang bagus.”
“Pokoknya saya mau walau bangunan ini belum jadi, tapi kebersihan area harus diperhatikan. Nanti akan saya beri bonus kamu,” ucap Firman.
Kemudian Firman melangkah masuk ke dalam proyek dan pria berhelm merah mengekor dari belakang.
Miranda merasakan lega.
,,
,,
Beberapa saat kemudian
Narti dan Mirna akhirnya membeli nasi uduk di tempat lain, mereka harus berjalan agak jauh.
Dan tentu saja mereka langsung mendapatkan protes dari keluarga karena rasa nasi uduknya berbeda. Di rumah mereka terjadi pertengkaran kecil gara-gara nasi uduk. Mirna dan Narti merasa kesal, dan semua ini tentu saja karena si gembel Miranda.
Mereka duduk di dipan sambil bergosip ria sambil mencari kutu. Mirna duduk di bawah sedangkan Narti di atas, menyemai rambut Mirna. Dia mendapatkan kutu lalu dengan refleks memakannya.
“Kesel banget gue, suami gue marah gara-gara nasi uduk,” ucap Mirna.
“Sama gue juga,” ucap Narti.
Kemudian pandangan mereka melihat Ibu Salamah sedang menanti di depan pintu.
“Kayaknya dia pusing,” ucap Narti, “si gembel itu pasti enggak akan datang kan.”
“Kita samperin yuk,” ucap Mirna.
Mereka berdua bangkit lalu menghampiri Ibu Salamah.
“Hmm, sudah saya bilang kan, gembel itu tidak akan datang Bu,” ucap Narti melihat sinis pada Ibu Salamah.
“Diamlah kalian,” ucap Ibu Salamah.
“Dasar keras kepala, sudah dibilangin dia mau nipu.”
“Kalau dia enggak datang terus kalian mau apa?” tanya Ibu Salamah.
“Ibu harus beli saya nasi uduk lima bungkus tiap hari selama seminggu.”
“Terus kalau dia datang kalian mau melakukan apa untuk saya?” ucap Ibu Salamah.
Merasa akan menang, Narti berkata, “Saya akan antar Ibu beli sayuran pakai motor saya selama tiga hari gratis enggak usah bayar.”
“Kalian memang pelit, tapi ya sudah saya pegang ucapan kalian,” ucap Ibu Salamah.
“Oke aku yakin dalam waktu lima menit dia enggak akan datang,” ucap Narti.