Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.
Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?
Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.
Sementara di sisi lain.
Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.
Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Harus Saya?
Nina menajamkan matanya, guna memastikan tulisan yang tertera di sana. Dia sampai mengucek matanya, berpikir bahwa netra-nya yang bermasalah. Tapi nyatanya, setelah berkali-kali memastikan. Tulisan itu benar adanya. Nina ditawari mengandung anak dari lelaki asal Timur Tengah bernama Ammar.
Nina menoleh pada lelaki di sebelahnya. "Pak Sabar, bukannya saya mau jadi pembantu di rumah bos bapak?" Dia masih berusaha berpikir positif, mungkin saja calon majikannya itu salah memberikan kontrak kerja.
Bukannya menanggapi, Sabar justru bangkit dari duduknya. "Tuan Ammar dan Mister Damian, saya pamit undur diri." Dia menundukkan kepalanya sejenak. "Nin, barang-barang kamu akan saya antar besok." Ujarnya, lalu beranjak dari sana. Seolah tak peduli akan pertanyaan yang tadi terlontar padanya.
Lalu Nina, hanya bisa menatap nanar kepergian suami dari Darmi. Dia sendiri bingung harus berbuat apa.
"Ehmmm ..." Ammar berdehem memberikan kode pada asistennya.
Sebagai orang yang peka, Damian langsung bangkit berdiri. "Nyonya Nina ..." Panggilnya. Yang bersangkutan menoleh dan memberikan tatapan bingung, tapi Damian tak peduli. "Mari saya antar ke rumah sakit. Anda harus memulai pemeriksaan menyeluruh."
Nina menggeleng tak setuju, dia merasa terjebak. "Maaf Mister, kedatangan saya kesini karena saya pikir akan bekerja sebagai pembantu rumah tangga." Nina merasa perlu meluruskan. "Mungkin anda salah orang." Dia meremas ujung jilbab yang dikenakannya. Rasa takut mulai menjalar.
Sialnya kedua lelaki itu tidak menanggapinya. Mereka justru berkomunikasi menggunakan bahasa, yang sama sekali tidak Nina mengerti. Entah apa yang dibicarakan, tapi Nina pikir mereka sedang membicarakan dirinya.
" Maaf Mister, saya akan pulang sekarang." Nina bangkit dari duduknya. Dia berusaha memberanikan diri, meski rasanya bingung cara keluar dari sana. Apa harus melalui elevator tadi?
Tapi seingatnya, Sabar menggunakan kartu. Jadi harus apa Nina sekarang?
"Tunggu Nyonya Nina!"
Perkataan Damian, menghentikan langkah Nina. Tapi tak membuat perempuan berhijab maroon itu menoleh, dengan kata lain Nina berdiri membelakangi dua pria itu.
"Anda hanya perlu memeriksa kesehatan, terutama organ reproduksi. Kalau anda tidak sehat, kemungkinan kontrak ini gagal." Tutur Damian menjelaskan.
Nina memejamkan matanya, dia menguatkan diri. Ada harapan untuk kali ini saja, dirinya tidak sehat dan kontrak itu otomatis gagal.
Bukan apa-apa, Nina tidak ingin lagi menjalin hubungan dengan lelaki manapun. Dia masih trauma dengan ulah mantan suaminya, walau sudah belasan tahun berlalu dan yang bersangkutan telah berpulang.
Baginya cukup fokus dengan membesarkan anak-anaknya.
Walau ini hanya sekedar kontrak, tapi hamil lagi?
Membayangkan rasa sakitnya proses kehamilan, melahirkan, repot-nya mengurus dua bayi seorang diri membuat dadanya nyeri.
Walau bayarannya fantastis, tapi Nina benar-benar tak ingin terlibat dengan hal seperti ini. Bukankah ini dilarang dalam agama?
Nina harus hamil tanpa menikah, meskipun tidak sampai tidur bersama. Tapi bukankah, anaknya nanti tidak akan bisa dinisbatkan pada sang pemilik sper**?
"Lalu kalau saya sehat? Bagaimana?" Walau rasanya takut luar biasa. Nina berusaha menguatkan diri.
Damian masih berdiri pada tempatnya, lelaki yang mengenakan setelah formal lengkap itu memilih menjaga jarak. "Anda akan segera melakukan prosedur inseminasi dan akan harus siap mengandung anak dari Tuan Ammar." Jelasnya.
Helaan napas keluar dari mulut Nina, rasa dadanya semakin nyeri. Bukan, ini bukan karena dirinya sakit jantung atau paru-paru. Tapi lebih seperti faktor psikis. Kenapa dirinya selalu dimanfaatkan begini?
Nina berbalik menatap dua lelaki yang menurutnya asing itu. "Kalau saya hamil dan melahirkan, bagaimana dengan status anak yang saya lahirkan?" Tanyanya memastikan.
"Tentu saja akan menjadi hak sepenuhnya Tuan Ammar. Anda hanya perlu mengandung dan melahirkan saja."
Nina paham maksudnya, dengan kata lain mereka menyewa rahimnya. Tapi seingatnya dia pernah mendengar dari salah satu ustadz, bahwa hal itu tidak diperbolehkan. "Itu dilarang dalam keyakinan yang saya anut." Sahutnya tegas. Entah dapat kekuatan dari mana, Nina berbicara dengan nada meninggi. "Itu sama saja berzina. Anak itu akan dinisbatkan pada saya, ibunya."
Ammar mendelik mendengar ucapan perempuan yang akan mengandung calon pewarisnya.
"Silahkan cari perempuan lain." Usul Nina. "Uang yang sudah dibayarkan untuk sekolah anak-anak saya, akan saya bayar dengan cara dicicil." Sudah cukup di masa lalu harga dirinya diinjak-injak.
Nina berbalik dan melangkah menuju elevator, namun sialnya kotak besi itu tak bisa terbuka walau dia sudah menekan tombol untuk turun.
Pada akhirnya Nina kembali menemui dua lelaki yang menurutnya asing itu. "Tolong bukakan lift-nya, saya mau pulang." Pintanya.
"Jadi mau kamu apa?" Kali ini bukan Damian, tapi Ammar yang sedari tadi tak banyak bicara. "Kamu mau aku nikahi, begitu?" Tanyanya sinis.
Nina menggeleng tak setuju, "saya tidak mau menyewakan rahim, apalagi menikah." Tolaknya mentah-mentah.
Astaga, Ammar tak habis pikir. Seumur-umur dirinya hidup, baru kali ini ada wanita yang menolaknya mentah-mentah. Ini benar-benar melukai harga dirinya sebagai lelaki.
"Silahkan anda cari perempuan lain, mungkin yang masih perawan. Bukan janda seperti saya."
Kali ini Ammar melototi asistennya yang memiliki ide aneh menurutnya. Seolah dadi tatapannya meminta agar Damian bertanggung jawab atas rencana konyol tersebut.
Damian melangkah lebih dekat kearah perempuan beranak dua itu. Feeling-nya tak pernah salah.
"Nyonya Nina, kami ini bukan lembaga amal atau bank yang bisa menerima pembayaran dengan cara dicicil. Jadi tolong bayar uang yang sudah saya keluarkan berikut bunga lima puluh persen per hari." Lelaki blasteran Amerika-Indonesia itu, berbicara dengan santai sambil memasukan kedua tangan ke saku celana-nya.
Nina jelas terkejut. Saat ini sisa uangnya hanya hitungan ratus ribu saja. Bagaimana bisa dia mengganti uang sebanyak itu berikut bunganya. "Saya tidak pernah minta anda membayar uang sekolah anak-anak saya."
Sudah hampir dua puluh tahun Damian terbiasa dengan negosiasi bisnis. Dia adalah orang yang kompeten dalam bidang ini. Jadi ini hal sepele untuknya. "Nina Khairunisa ... Anda tinggal menerima ini dan hidup anda serta anak-anak anda akan terjamin. Masa depan kalian akan cerah." Damian melangkah kembali lebih dekat, jarak mereka hanya beberapa jengkal saja. Dia menunduk dan membisikkan sesuatu.
Sontak mata Nina melebar. Raut wajahnya terlihat ketakutan. Dia diancam.
"Silahkan ikuti prosedur yang sudah saya tentukan. Dan urusan kita akan beres dalam kurun waktu satu tahun saja." Damian kembali menegakan tubuhnya.
"Tapi mister ..." Mata Nina berkaca-kaca. "Kenapa harus saya?" Tanyanya. "Saya ini hanya seorang janda dan usia juga sudah tidak muda lagi." Pertanyaan yang ini dia ketahui jawaban pastinya.
Damian tak menjawab, dia justru melangkah menuju tuannya dan mengajak pergi menuju rumah sakit untuk pemeriksaan kesehatan.