Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 - Sahabat Ogi (Dadang)
Dadang menggedor pintu rumah Ogi. Penampilannya sangat berbeda dibanding warga desa yang lain. Mengenakan celana corduroy, kaos baju kuning menyala dengan tangan yang dipenuhi gelang. Pakaian Dadang memang nyentrik begitu, karena memang itu menggambarkan karakter dan pekerjaan yang digelutinya.
Manusia ajaib, itulah ejekan yang sering disematkan Ogi pada Dadang. Sama seperti Ogi, Dadang juga punya usaha yang sukses di desa Cikawening. Yaitu sebagai pemilik satu-satunya salon. Dadang bahkan punya usaha rias pengantin. Meskipun begitu, Dadang tak seperti tukang salon lelaki kebanyakan yang gemulai. Malah sebaliknya, dia sangat maskulin dan berusaha selalu menekankan itu. Karena bagi Dadang, tak semua lelaki yang tertarik dengan seni rias wajah itu banci.
“Keterlaluan nya anjeun, Gi! Anjeun nganggap abdi naon salila ieu, hah?! Tina sakabéh jalma di lembur ieu, anjeun leuwih milih ngabéjaan nikah ka Pak RT! Anjeun malah teu kungsi nyaritakeun rék nikah! (Keterlaluan ya kau, Gi! Kau anggap apa aku selama ini, hah?! Dari semua orang di desa ini, kau lebih memilih memberitahukan pernikahanmu pada Pak RT! Kau bahkan nggak cerita akan menikah!)" Dadang mengomel sambil berkacak pinggang. “Padahal abdi nu salila ieu sok ngadukung anjeun! Méré tips sangkan usaha anjeun hasil! (Padahal aku yang selama ini selalu mendukungmu! Memberi tips agar usahamu berhasil!)"
"Dadang..." Ogi perlahan membuka pintu. Dia tak gugup, dan justru tersenyum untuk menyambut Dadang.
“Dadang geus maot! (Dadang sudah mati! Huh!)" Dadang sigap membuang muka. Menunjukkan ekspresi marahnya. Terlihat jelas dari kerutan di wajahnya.
“Hayu asup atuh, Dang. Abdi rék nyaritakeun sagalana. Tanpa disaring, jeung abdi pastikeun anjeun nu pangheulana apal kana alesan kunaon abdi nikah, (Ayo masuk atuh, Dang. Aku akan ceritakan semuanya. Tanpa filter dan aku pastikan kau lah yang pertama tahu tentang alasan kenapa aku menikah,)" tutur Ogi seraya membuka pintu lebih lebar.
Dengan wajah cemberut, Dadang masuk ke rumah. Dia dan Ogi duduk di ruang tamu. Di sana Ogi benar-benar menceritakan semuanya. Terutama alasan kenapa dirinya mendadak menikah. Ia benar-benar menceritakan yang sebenarnya pada Dadang.
“Bener kitu? Jeung anjeun langsung hayang nikah jeung manéhna kitu waé? (Benarkah itu? Dan kau langsung mau menikahinya begitu saja?)" tanya Dadang.
Ogi mengangguk dan tersenyum tipis.
“Ulah nyebut salah sahiji alesan anjeun nikah jeung manéhna téh sabab ngarasa sarua nasib? Henteu kitu, nya? (Jangan bilang salah satu alasan kau menikahinya karena merasa senasib? Tidak bukan?)" tukas Dadang.
“Eta salah sahijina. Tapi niat abdi leuwih sabab hayang nulungan bapana. Waktu kuliah, manéhna geus loba mantuan abdi. Malah mayar waragad kuliah nalika abdi teu bisa mayar, (Itu salah satunya. Tapi niatku lebih karena ingin membantu ayahnya. Saat kuliah, dia sudah banyak membantuku. Bahkan membayarkan uang kuliah saat aku tak bisa bayar,)" jelas Ogi.
“Tapi nikah téh saumur hirup, Gi. Anjeun yakin rék hirup babarengan jeung jalma nu teu dipikaresep saumur hirup? (Tapi pernikahan itu seumur hidup loh, Gi. Kau yakin ingin bersama orang yang nggak kau sukai seumur hidup?)" timpal Dadang.
"Hush!" Ogi mencondongkan kepala ke arah Dadang dan berbisik, "Abdi jeung Neng Arisa geus sapuk rék papisah dina waktu nu pas… (Aku dan Neng Arisa sudah sepakat akan berpisah di waktu yang tepat...)"
“Éta mah leuwih parah, Gi. Anjeun keur maénkeun nikah. Padahal nikah téh lain hal nu bisa dipaénkeun ku anjeun! (Itu lebih parah, Gi. Kau mempermainkan pernikahan. Dan pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa kau permainkan!)" balas Dadang.
Plak...
Ogi menampar pelan wajah Dadang. Karena sahabatnya itu terus mencari kesalahannya. Jujur saja, Ogi hanya bersikap begitu pada Dadang. Sosok yang sudah bersahabat dengannya sejak SD.
“Naha anjeun bisa ngadukung abdi? Abdi keur usaha ayeuna, (Bisakah kau mendukungku? Aku sedang berusaha sekarang,)" kata Ogi.
"Baiklah, aku akan berhenti membantah. Kau tahu aku selalu mendukungmu. Bahkan saat kau dikhianati oleh kakakmu yang sialan itu," ujar Dadang sambil memegangi pundak.
Ogi sigap menyuruh diam. “Muhunlah, abdi eureun ngabéla deui. Anjeun terang abdi salawasna ngadukung anjeun. Malah waktu anjeun dihianat ku lanceuk anjeun nu sial éta, (Hush! Kumohon rahasiakan itu. Aku nggak mau Neng Arisa tahu tentang yang dilakukan kakakku. Itu aib keluarga,)" pungkasnya.
"Iya, iya... Sekarang mana Neng Arisa? Aku ingin berkenalan dengannya," kata Dadang sambil mengedarkan pandangan ke sekitar.
Bersamaan dengan itu, Arisa langsung masuk ke kamar. Sebenarnya tadi dia diam-diam menguping pembicaraan Ogi dan Dadang. Namun sayang, dari pembicaraan itu, dia tidak mengerti sedikitpun apa yang mereka bicarakan.
"Mereka bicara apa sih? Bikin kepo aja," gumam Arisa.
"Neng? Kau di kamar?" tanya Ogi yang mendekat.
"Iya, Kang? Ada apa?" tanggap Arisa.
"Ini temanku mau berkenalan sama kamu atuh. Ayo keluar dulu sebentar," suruh Ogi.
Arisa terpaksa keluar dan menemui Dadang. Pupil mata Dadang seketika melebar karena terpana dengan kecantikan Arisa.
"Astaga... Pantesan kau mau menikahinya, Gi. Aku juga kalau dapat tawaran kayak kamu, pasti nggak bakalan nolak atuh!" cerocos Dadang. Dia langsung dapat cubitan dari Ogi di perut.