Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
BAB 10
GEJOLAK DALAM SILOGISME
Adrian Aratama selalu percaya bahwa otak manusia adalah sebuah superkomputer yang bisa diprogram. Jika ada data yang rusak, hapus. Jika ada emosi yang mengganggu produktivitas, karantina. Namun, selama beberapa malam terakhir, sistem pertahanan mental yang ia bangun selama tiga dekade mulai mengalami glitch yang parah.
Penyebabnya sederhana, namun mustahil untuk didefinisikan secara matematis: Aisha Humaira.
Malam itu, Adrian terbangun dengan napas memburu di penthouse-nya yang sunyi. Keringat dingin membasahi keningnya. Ia baru saja mengalami mimpi yang sama untuk ketiga kalinya minggu ini. Dalam mimpi itu, ia berdiri di tengah gedung Green Oasis yang sudah selesai dibangun. Ruangannya dipenuhi cahaya keemasan matahari terbenam. Di ujung koridor kaca, Aisha berdiri menatap cakrawala.
Dalam mimpi tersebut, Aisha perlahan berbalik. Tangannya bergerak anggun, membuka simpul kain hitam di balik kepalanya. Namun, tepat sebelum kain itu jatuh dan menyingkap wajah yang selama ini menghantui rasa penasarannya, Adrian selalu terbangun. Ia selalu terjebak di ambang penyingkapan, sebuah climax yang terputus, meninggalkannya dalam kehampaan yang menyesakkan.
"Sial," umpat Adrian sambil bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan menuju dapur minimalisnya dan menenggak air es langsung dari botol.
Ia menyalakan lampu ruang tengah. Ruangan itu tampak begitu dingin dan kaku—persis seperti hidupnya. Ia duduk di sofa kulit nappa yang harganya bisa membeli satu rumah mewah di pinggiran kota, namun ia merasa tidak nyaman. Logikanya mulai bekerja, mencoba membedah apa yang baru saja terjadi.
Analisis Masalah: Adrian Aratama, seorang CEO yang memuja rasionalitas, mulai mengalami fiksasi bawah sadar terhadap rekan bisnisnya.
Penyebab: Rasa penasaran yang tertekan karena adanya penghalang visual (cadar) dan ideologis.
Solusi: Abaikan. Fokus pada profit. Kembali ke mode profesional.
Namun, hatinya memberikan argumen balik yang tidak bisa ia bungkam. Ini bukan sekadar rasa penasaran. Ada getaran aneh yang ia rasakan setiap kali Aisha menjelaskan konsep arsitekturnya dengan binar mata yang penuh keyakinan. Ada rasa hormat yang tumbuh menjadi sesuatu yang lebih gelap dan lebih mendalam setiap kali ia melihat Aisha bersujud di waktu Ashar.
Keesokan paginya di kantor, Adrian berusaha menjadi pria yang sama seperti biasanya: dingin, tajam, dan tidak kenal ampun. Namun, keberadaan Aisha di ruang rapat seolah menjadi magnet yang menarik seluruh konsentrasinya.
"Pak Adrian, ini adalah draf final untuk pemilihan vendor struktur baja," kata Sarah, meletakkan dokumen di meja.
Adrian tidak melihat dokumen itu. Matanya justru tertuju pada Aisha yang sedang berdiskusi kecil dengan salah satu asisten insinyur di sudut ruangan. Ia memperhatikan bagaimana Aisha menjaga jaraknya, bagaimana ia tidak pernah tertawa berlebihan namun selalu memberikan aura yang menenangkan bagi siapa pun di dekatnya.
"Pak Adrian?" Sarah memanggil lagi, lebih keras.
"Ya, taruh saja di sana," jawab Adrian ketus. "Dan Sarah... kenapa suhu di ruangan ini terasa begitu panas? Perbaiki sistem AC-nya."
Sarah mengerutkan kening. "Suhu di sini stabil 22 derajat, Pak. Itu standar kenyamanan Anda."
"Kalau begitu turunkan ke 18. Aku butuh udara yang lebih tajam untuk berpikir."
Setelah Sarah keluar, Adrian mencoba fokus pada angka-angka di depannya. Namun, angka-angka itu seolah mencair dan membentuk siluet mata Aisha. Ia merasa frustrasi. Bagaimana mungkin seorang wanita yang bahkan tidak ia ketahui bentuk bibirnya bisa mengacaukan mekanisme berpikirnya sehebat ini?
Logika Bisnis vs Perasaan: Pikiran Adrian mulai bertempur.
Sisi Logika: "Dia adalah aset profesional. Menyukainya adalah tindakan amatir. Dia memiliki keyakinan yang bertolak belakang denganmu. Hubungan ini tidak memiliki ROI (Return on Investment) yang jelas. Dia tidak akan bisa diajak ke pesta koktail mewah tanpa menimbulkan pertanyaan. Dia akan menolak bersentuhan tangan denganku selamanya. Ini adalah investasi yang buruk."
Sisi Insting: "Tapi kau merasa lebih 'hidup' saat berdebat dengannya. Kau merasa ingin melindunginya meskipun dia lebih tangguh darimu. Kau ingin tahu apa yang dia doakan saat dia bersujud. Kau ingin menjadi alasan di balik binar matanya."
Adrian memukul meja kerjanya dengan kepalan tangan. "Ini tidak masuk akal!" geramnya pelan.
Sore itu, mereka harus melakukan peninjauan mendadak ke gudang penyimpanan material. Perjalanan di dalam mobil SUV mewah itu terasa begitu sempit karena keheningan yang canggung. Adrian duduk di kursi belakang sebelah kanan, sementara Aisha di sebelah kiri.
Adrian pura-pura sibuk dengan tabletnya, namun sudut matanya terus mencuri pandang ke arah Aisha. Aisha sedang menatap ke luar jendela, memandangi kemacetan Jakarta.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Adrian tiba-tiba. Suaranya terdengar lebih kasar dari yang ia maksudkan, sebuah mekanisme pertahanan untuk menyembunyikan kegugupannya.
Aisha menoleh. "Saya sedang memikirkan bagaimana pembangunan gedung ini akan memengaruhi pemukiman padat di belakang lokasi proyek, Pak. Saya ingin memastikan drainase kita tidak merugikan mereka."
"Kau terlalu banyak khawatir tentang hal-hal kecil yang tidak masuk dalam neraca laba-rugi," sahut Adrian dingin.
"Bagi saya, itu bukan hal kecil, Pak. Itu adalah bagian dari tanggung jawab moral kita sebagai manusia yang menempati bumi ini."
Adrian mendengus. "Moralitas adalah konsep yang subjektif, Aisha. Bisnis adalah objektif."
"Justru karena objektiflah kita harus adil," balas Aisha tenang. "Jika kita mengambil ruang, kita harus memberikan kompensasi lingkungan yang setara. Itu hukum alam."
Adrian terdiam. Lagi-lagi, Aisha memberikan perspektif yang membuatnya merasa dangkal. Ia merasa ingin marah, tapi ia juga merasa ingin terus mendengarkan suara Aisha yang tenang itu.
Tiba-tiba, mobil mengerem mendadak karena sebuah sepeda motor yang memotong jalan. Tubuh Aisha terdorong ke depan. Secara refleks, Adrian mengulurkan tangannya untuk menahan bahu Aisha agar tidak terbentur kursi depan.
Telapak tangan Adrian menyentuh kain gamis Aisha di bagian lengan atas. Hanya satu detik. Namun bagi Adrian, itu terasa seperti ledakan listrik yang menyengat syarafnya.
Aisha segera memperbaiki posisinya dan sedikit menjauhkan diri, kembali ke batas fisiknya yang ketat. "Terima kasih, Pak Adrian. Saya baik-baik saja."
"Sopir ceroboh," gerutu Adrian, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Ia menarik tangannya kembali dan mengepalkannya di atas lutut. Ia merasa benci pada dirinya sendiri karena merasakan debaran itu.
Ingat, Adrian, bisik logikanya. Dia tidak akan pernah menjadi milikmu dengan cara yang kau inginkan. Dia milik Tuhannya, milik aturannya, milik dunianya yang tidak bisa kau masuki.
Konflik internal itu mencapai puncaknya saat mereka tiba di gudang. Adrian berjalan mendahului Aisha dengan langkah lebar, berusaha menciptakan jarak. Ia tidak ingin melihat mata itu lagi untuk sementara waktu. Ia butuh kembali menjadi CEO yang ateis, yang skeptis, yang hanya percaya pada apa yang bisa ia sentuh dan ia ukur.
Namun, di dalam gudang yang dingin dan berbau besi itu, ia mendengar suara Aisha yang sedang menjelaskan spesifikasi baja kepada kepala gudang. Suaranya menggema di antara pilar-pilar raksasa. Dan di sana, di tengah tumpukan material yang mati, Adrian menyadari satu hal yang paling menakutkan:
Logikanya mungkin bisa menolak Aisha sebagai pilihan bisnis yang masuk akal, tapi jiwanya sudah memilihnya sebagai satu-satunya hal yang ingin ia pahami lebih dalam.
Ia terjebak dalam paradoks. Semakin ia mencoba menjauh dengan alasan profesionalisme, semakin kuat tarikan tak kasat mata itu menariknya kembali. Adrian Aratama, pria yang selalu memiliki rencana cadangan, kini menyadari bahwa ia tidak memiliki rencana apa pun untuk menghadapi hatinya sendiri.
Babak pertama dari pergolakan dunia ini ditutup dengan sebuah kenyataan pahit bagi Adrian: Dia telah jatuh cinta pada sebuah misteri, dan logikanya adalah musuh terbesarnya saat ini.