Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.21 Bagaimana pinang dibelah dua
Dunia medis mengenal istilah mirror imaging pada anak kembar, di mana satu anak adalah refleksi sempurna dari yang lain. Namun, saat Sekar duduk hanya terpaut beberapa sentimeter dari Arini di beranda panti asuhan, ia tidak melihat refleksi medis. Ia melihat sebuah hantu yang hidup.
Setiap gerak-gerik Arini—cara dia memiringkan kepala saat berpikir, cara dia memegang pensil dengan jari telunjuk yang sedikit ditekuk—adalah replika sempurna dari Lukas.
Sekar merasa jantungnya diremas. Mereka kembar. Mereka seharusnya tumbuh bersama, berkelahi memperebutkan mainan, dan saling melindungi. Namun, satu tahun setelah kelahiran mereka, tangan dingin Ibu Wijaya memisahkan mereka seperti membelah nyawa menjadi dua bagian yang tidak utuh.
"Dokter? Kenapa Dokter melihatku seperti itu?" suara Arini memecah lamunan Sekar.
Sekar tersentak, segera mengatur ekspresi wajahnya. "Ah, maaf. Mata kamu... mengingatkan saya pada seseorang yang sangat berharga bagi saya."
Arini tersenyum, senyuman yang begitu tulus hingga terasa menyakitkan. "Banyak yang bilang mata saya unik. Tapi saya tidak tahu mirip siapa. Ibu panti bilang saya ditemukan di depan gerbang, tapi saya tahu itu bohong. Saya tahu saya dijual."
Kata-kata 'dijual' keluar dari mulut anak berusia sepuluh tahun itu dengan nada yang begitu datar, seolah-olah itu adalah fakta cuaca. Sekar harus menggigit bibir dalamnya agar tidak terisak.
Sore itu, saat Arini kembali ke kelasnya, sebuah mobil SUV hitam berhenti di depan panti. Sosok pria dengan kacamata hitam dan setelan kasual mahal keluar dari sana. Alvin.
Sekar menghampirinya di bawah pohon kamboja yang sedang meranggas. "Kenapa kamu terus muncul, Alvin? Belum cukupkah kamu mengacaukan hidupku?"
Alvin melepas kacamata hitamnya. Matanya yang biasanya penuh kilat sinis kini nampak redup, lelah. "Aku tidak sedang mengacau, Sekar. Aku menjaganya. Selama tiga tahun kamu mendekam di Berlin, akulah yang memastikan panti ini tidak digusur."
Alvin menatap Sekar dengan serius. "Akulah yang memastikan Arini mendapatkan guru privat gambar terbaik. Dan akulah yang memastikan tidak ada orang Wijaya atau Von Hess yang bisa mencium keberadaannya."
Sekar tentu saja tidak bisa melepaskan kecurigaan terhadap Alvin. Setelah semua yang dia lakukan, benarkah dia melakukan sesuatu yang tidak berguna seperti ini? Rasanya mustahil.
"Levian," panggil Sekar dengan serius. Alvin sontak menoleh. "Apa kamu ingin menjadikannya jaminan bisnis juga? Ingin menjual rahasianya pada keluarga Pratama?"
Alvin tertawa pahit, sebuah tawa kering yang tidak sampai ke matanya. Sudah lama sekali rasanya Sekar tidak memanggilnya seformal itu.
Pria itu menarik nafas dalam, sebelum akhirnya mengakui sesuatu yang benar-benar mengejutkan, "Aku mencintaimu, Sekar. Meskipun kamu menganggapku monster, meskipun kamu hanya melihat Rahman. Aku mencintaimu dengan cara yang paling brengsek, aku tahu. Memberitahumu tentang Lukas dan Arini adalah satu-satunya cara agar kamu tidak benar-benar mati di penjara itu."
"Kamu membiarkanku menderita dengan informasi itu selama tiga tahun!" seru Sekar tertahan.
"Karena aku butuh kamu tetap hidup! Kamu butuh alasan untuk bertahan!" Alvin melangkah mendekat, suaranya merendah. "Aku melakukan banyak dosa, Sekar. Tapi menjaga Arini adalah satu-satunya hal suci yang pernah kulakukan dalam hidupku. Aku membayar panti ini setiap bulan atas namamu, diam-diam. Aku ingin saat kamu bebas, kamu punya sesuatu yang utuh untuk diambil kembali."
Sekar tertegun. Ia melihat Alvin dari sudut pandang yang berbeda. Alvin yang manipulatif ternyata memiliki obsesi yang berbalut perlindungan. Pria itu mencintainya dengan cara yang destruktif namun protektif.
"Rahman meninggal tadi pagi," kata Alvin tiba-tiba.
Dunia seolah berhenti berputar sejenak bagi Sekar. Meskipun ia sudah menduga hal ini, mendengar kata-kata itu secara langsung terasa seperti palu yang menghantam paku terakhir di peti mati masa lalunya.
"Di Hamburg?" tanya Sekar datar.
"Iya. Gagal jantung vaskular. Dia tidak meninggalkan pesan apa pun lagi untukmu, karena dia tahu surat terakhirnya sudah cukup. Dia mati sendirian, Sekar. Tanpa keluarga, tanpa harta, tanpa kamu."
Sekar menatap langit Bandung yang mulai berubah jingga. Rahman, pria yang menjadi awal dari segala cinta dan bencinya, telah pergi.
Rahman membawa rahasia tentang Lukas dan Arini ke liang lahat, membiarkan Alvin yang menjadi penyampai pesan terakhirnya.
"Dia ingin aku memberitahumu satu hal," Alvin merogoh saku jasnya, menyerahkan sebuah medali kecil perak. "Ini milik Arini. Rahman menyimpannya sejak hari Arini dibawa pergi. Ada ukiran inisial 'L' dan 'A' di belakangnya. Lukas dan Arini."
Sekar menerima medali itu. Benda itu terasa dingin, namun menyimpan sejarah yang membakar. Sepasang kembar yang dipisahkan oleh keserakahan.
Malam itu, Sekar membantu Arini merapikan peralatan gambarnya di ruang tengah panti. Saat Arini pergi mengambil air minum, Sekar melihat sebuah buku gambar yang terbuka di bawah kolong meja.
Ia mengambilnya dan membuka lembar demi lembar. Jantungnya berdegup kencang saat melihat gambar-gambar di dalamnya. Arini tidak menggambar pemandangan atau bunga.
Arini menggambar seorang anak laki-laki yang berdiri di balik jendela kaca yang besar. Anak itu nampak pucat, mengenakan piyama garis-garis, dan di tangannya ada sebuah bola sepak.
Lukas.
Sekar hampir menjatuhkan buku itu. "Arini... ini siapa?" tanyanya saat Arini kembali.
Arini menatap gambar itu dengan pandangan bingung. "Saya tidak tahu, Dokter. Dia sering muncul di mimpi saya sejak saya kecil. Dia selalu menangis dan bilang dia kedinginan. Dia bilang namanya 'Lu'. Saya merasa... saya harus selalu menggambarnya agar dia tidak kesepian."
Sekar menutup mulutnya dengan tangan, air mata tumpah tak terbendung. Ikatan batin itu. Meskipun dipisahkan benua dan samudra, meskipun satu berada di laboratorium dan yang lain di panti asuhan, jiwa mereka tetap berkomunikasi. Arini telah menemani kesepian Lukas selama ini melalui mimpi-mimpinya.
"Dokter? Kenapa Dokter menangis lagi?" Arini mendekat, menyentuh lengan Sekar dengan cemas.
Sekar menarik Arini ke dalam pelukannya. Ia memeluk anak itu dengan seluruh tenaga yang ia miliki. "Maafkan Ibu, Arini... Maafkan kami."
Arini terdiam dalam pelukan itu. Ia tidak bertanya mengapa wanita yang baru dikenalnya beberapa hari ini menyebut dirinya 'Ibu'.
Mungkin, jauh di dalam lubuk hatinya, Arini sudah tahu. Mungkin 'Lu' di dalam mimpinya sudah memberitahunya bahwa malaikat pelindung mereka telah kembali.
Di luar panti, Alvin berdiri bersandar di mobilnya, merokok di kegelapan. Ia melihat bayangan Sekar dan Arini yang berpelukan melalui jendela kaca yang buram.
Ia tahu, dengan mempertemukan mereka, ia telah kehilangan Sekar selamanya. Sekar tidak akan pernah mencintai pria yang pernah menjadi bagian dari sistem yang menghancurkannya. Namun, bagi Alvin, melihat Sekar bisa bernapas kembali adalah satu-satunya bentuk cinta yang bisa ia berikan.
Ia membuang puntung rokoknya, masuk ke mobil, dan pergi meninggalkan panti itu. Ia telah menuntaskan tugasnya sebagai pelindung bayangan.
Di dalam panti, Sekar melepaskan pelukannya dan menatap mata Arini. "Arini, maukah kamu pergi ke sebuah tempat bersama saya? Sebuah tempat yang jauh dari sini, di mana kita bisa menggambar taman yang sebenarnya?"
Arini menatap Sekar lama, lalu mengangguk pelan. "Bersama 'Lu' juga?"
Sekar tersenyum pahit, sambil mengusap air matanya. "Iya. Dia akan selalu bersama kita. Di sini," Sekar menyentuh dada Arini, tepat di atas jantungnya.