NovelToon NovelToon
Perjuangan Driver Ojol Poligami

Perjuangan Driver Ojol Poligami

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.

Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.

Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Baju Baru - Wangi Parfum

Panggilan Nadia datang di hari Selasa sore, saat Arman baru saja selesai mengantarnya dari pertemuan dengan seorang eksportir kain. Suaranya di telepon terdengar berbeda, lebih lembut, beresonansi dengan sebuah tujuan.

"Mas Arman, besok saya ada kegiatan sosial dengan yayasan kecil yang saya bantu. Kita akan bagi-bagi sembako ke keluarga dhuafa di daerah Tambun. Saya butuh bantuan ekstra untuk logistik—bongkar muat, atur antrian, bagi-bagi paket. Apa Mas Arman bisa membantu? Ini di luar jam kerja, saya akan berikan uang lelah ekstra."

Hati Arman berdebar. Ini bukan sekadar tugas menyetir. Ini sebuah undangan ke dalam sisi lain kehidupan Nadia.

"Bisa, Mba. Saya siap," jawabnya tanpa ragu.

Keesokan harinya, Arman datang lebih awal ke alamat yang diberikan, sebuah gudang kecil milik yayasan. Nadia sudah ada di sana, mengenakan tunik panjang warna pastel mint dan celana linen lebar, dengan kerudung syal yang sederhana tapi elegan.

Dia terlihat sama sekali berbeda dari wanita pengusaha tegas yang ia kenal. Di sini, Nadia adalah pusat dari sekumpulan relawan muda. Dia mengarahkan dengan suara yang tenang namun jelas, tersenyum, dan tangannya tak segan mengangkat kardus berisi mie instan atau minyak goreng.

"Mas Arman, tolong bantu mas Yuda bawa paket-paket ini ke mobil pickup," pinta Nadia sambil tersenyum padanya.

Arman bekerja keras. Berkeringat, mengangkat kardus, mengatur tumpukan. Ia melihat bagaimana Nadia berinteraksi dengan para penerima bantuan. Dia jongkok, menyapa anak-anak dengan lembut, menepuk punggung para ibu dengan penuh empati.

"Semoga berkah, Bu. Jaga kesehatan."

"Terima kasih banyak, Mba Nadia. Semoga Allah balas kebaikan Mba," sahut seorang ibu tua dengan mata berkaca-kaca.

Rasa kagum Arman tumbuh subur. Di matanya, Nadia bukan lagi sekadar bos atau wanita mandiri yang menarik. Dia adalah sosok yang baik hati, dermawan, dan dihormati.

Ini adalah dimensi yang sama sekali tidak ia miliki dalam kehidupan sehari-harinya. Di sini, di antara bau dedak dan kardus, Arman merasa menjadi bagian dari sesuatu yang mulia, dan Nadia adalah bintangnya.

Acara berlangsung hingga sore. Saat para relawan lain berpamitan, Nadia mendekati Arman yang sedang membereskan sisa kardus.

"Terima kasih banyak, Mas Arman. Capek ya?"

"Alhamdulillah, Mba. Senang bisa membantu," jawab Arman tulus.

"Mau saya anter pulang? Atau kita minum sesuatu dulu? Saya juga belum pulang."

Arman mengangguk. Mereka naik ke SUV hitam yang kini terasa seperti ruang rahasia mereka berdua. Suasana di dalam mobil berbeda. Kelelahan bercampur dengan keintiman yang baru terbentuk dari kerja sama tadi.

"Kegiatan seperti ini yang bikin hidup terasa lebih berarti, ya," ucap Nadia tiba-tiba, "Melihat senyum mereka… itu mengobati kesepian."

"Kesepian?" tanya Arman, meski sudah bisa menduga.

Nadia menarik napas. "Iya. Rumah yang besar, usaha yang jalan, tapi pulang ke sana… hanya ada keheningan. Tidak ada yang menanyakan 'udah makan belum?' atau 'capek hari ini?'. Hanya TV dan dering ponsel."

Suaranya lirih, jujur. Lalu, saat mobil berhenti di lampu merah, tangannya yang sedang memindahkan gigi "secara tidak sengaja" menyentuh tangan Arman yang sedang tergeletak di pangkuannya. Sentuhan itu singkat, hangat, namun seperti sengatan listrik.

Nadia cepat menarik tangannya. "Maaf," bisiknya.

"Tidak apa-apa," balas Arman, suaranya serak. Batas yang selama ini ia jaga—batas bos dan karyawan, batas teman bicara dan wanita lain—tiba-tiba terasa sangat tipis, hampir transparan.

Di keheningan itu, Nadia tak lagi sekadar tempat curhat. Dia adalah seorang perempuan yang terluka dan kesepian, dan Arman, tanpa disadari, mulai merasa dibutuhkan bukan hanya sebagai sopir, tetapi sebagai… seseorang.

Beberapa hari kemudian, jadwal Nadia agak longgar.

"Saya perlu ke mall, Mas Arman. Mau beli beberapa kebutuhan untuk thrift shop. Temani saya?" undangnya.

Mereka pergi ke sebuah mall besar di Jakarta Barat. Nadia berbelanja dengan cepat dan efisien, memilih beberapa baju dan aksesoris vintage untuk stok onlinenya. Arman mengikuti dari belakang, membawa tas-tas belanjaan.

Setelah urusan bisnis selesai, mereka melewati sebuah toko pakaian pria dengan desain kasual namun modern. Nadia tiba-tiba berhenti.

"Masuk sini bentar, ya," ujarnya, masuk ke dalam toko.

Arman mengikutinya, bingung. Nadia langsung menuju rak kemeja. Dia mengambil sebuah kemeja lengan pendek warna biru navy dengan potongan slim fit, lalu membandingkannya dengan postur Arman.

"Coba ini, Mas. Cocok kayaknya," katanya, menyodorkan kemeja itu ke Arman.

Arman terkesiap. "Untuk saya, Mba?"

"Iya. Sebagai terima kasih atas bantuan di acara sosial dan kerja keras selama ini. Anggap saja bonus non-tunai," ucap Nadia dengan senyum yang sulit ditolak. "Coba ukurannya."

Terpana, Arman masuk ke fitting room. Kemeja itu pas di tubuhnya, membuatnya terlihat lebih muda dan rapi. Saat ia keluar, Nadia sudah menunggu dengan sepasang celana chino warna khaki.

"Ini pasangannya. Coba sekalian."

Setengah tidak percaya, Arman mencobanya. Saat ia keluar lagi, ia melihat dirinya di cermin besar. Ia seperti bukan dirinya sendiri. Ini adalah versi Arman yang lebih baik, lebih percaya diri.

"Perfect," bisik Nadia dari belakangnya, matanya berbinar. "Sekarang, lepas lagi. Saya beli."

"Mba, ini… saya nggak enak," bantah Arman lemah.

"Nonsense. Lihat ini sebagai investasi. Penampilan driver saya juga mencerminkan profesionalitas bisnis saya," ujar Nadia dengan logika yang meyakinkan.

"Dan… untuk acara-acara seperti bantuan sosial kemarin, kamu akan terlihat lebih pantas." Tanpa menunggu protes lebih lanjut, Nadia sudah menuju kasir dengan kedua set pakaian itu, plus sepasang sepatu kasual sederhana yang menurutnya cocok.

Arman hanya bisa melongo, perasaanya campur aduk: bersalah, malu, namun juga ada rasa manis yang menggelitik.

Tidak ada perempuan, selain ibunya dan Rani di awal pernikahan, yang pernah membelikannya pakaian. Dan pemberian Nadia ini terasa berbeda; penuh perhitungan dan perhatian yang membuatnya merasa istimewa.

Pulang ke rumah malam itu, Arman menyembunyikan tas belanja dari toko itu di jok motornya. Hatinya bergejolak. Rasa bersalah karena menerima pemberian dari wanita lain bergulat dengan rasa bangga dan kebahagiaan karena diperhatikan dengan cara yang begitu spesifik.

Ini hanya bonus profesional, ia berusaha meyakinkan diri. Tapi sentuhan di mobil, tatapan Nadia di fitting room, terngiang-ngiang.

Beberapa hari kemudian, saat gajian dari Nadia masuk ke rekening tersembunyinya, ia mengambil sebagian besar dalam bentuk tunai. Malam itu, di meja makan setelah Aldi tidur, ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dan meletakkannya di depan Rani.

"Ini, Ran. Dari proyek driver event kemarin yang aku ceritain. Lumayan," ujarnya, berusaha terdengar biasa.

Rani membuka amplop itu. Matanya membesar. Isinya sepuluh lembar uang seratus ribu, dan beberapa lembar lima puluh ribu. Jauh lebih besar dari "uang lelah" biasanya.

"Proyek driver event? Event apa?" tanya Rani, tanpa mengangkat wajah, jarinya menghitung uang itu dengan cepat.

"Ya… event perusahaan. Bawa-bawa tamu, urus logistik. Mereka butuh driver yang bisa diandalkan lebih dari sehari," jawab Arman, skenario yang sudah ia siapkan.

"Lama?"

"Tiga hari."

Rani akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya, yang biasanya lelah, kini jernih dan tajam seperti pisau. Dia memandang Arman, lalu memandang uang, lalu kembali ke wajah Arman.

"Arman," panggilnya, suaranya datar namun menggetarkan. "Beneran ini duit dari proyek event?"

"Beneran. Masa iya bohong?" Arman mencoba tertawa, tapi itu terdengar palsu.

"Karena uang segini… kelihatannya bukan cuma uang lelah driver biasa. Kelihatannya seperti… gaji."

Rani menyimpan uang itu, tetapi tidak memasukkan ke dalam laci. Dia meletakkannya di atas meja, di antara mereka, seperti sebuah barang bukti.

"Dan akhir-akhir ini, lo pulang… wangi. Bukan wangi keringat. Terkadang ada bau parfum ruangan. Seperti… bau mobil baru atau mall."

Arman merasa tenggorokannya kering. "Itu… ya wajar, kan. Eventnya di hotel, ruangannya ber-AC. Penumpangku juga pake parfum."

"Penumpangmu yang satunya lagi, yang pesen 'antar-jemput khusus' itu, dia siapa, sih, Arman? Kok sepertinya selalu ada aja orderannya? Kayaknya dia bergantung banget sama lo."

Rani mencondongkan badan, menatapnya langsung. "Siapa namanya?"

Ini pertanyaan jebakan. Arman berkeringat dingin. "Banyak, Ran. Nggak cuma satu."

"Tapi yang satu ini sering. Aku bisa rasa. Loe jadi beda sejak dapet 'orderan khusus' ini." Rani mengambil uang itu lagi, meremasnya di tangannya.

"Aku terima uang ini karena kita butuh. Tapi jangan kira aku bodoh, Arman. Ada yang lo sembunyiin. Dan aku…" suaranya tiba-tiba tercekat, "aku cuma bisa berdoa, itu bukan apa yang aku takutkan."

Dia berdiri, membawa uang itu ke dalam kamar, meninggalkan Arman sendirian di ruang makan yang tiba-tiba terasa sangat luas dan dingin.

Uang yang seharusnya menjadi bukti "keberhasilannya" justru menjadi bumerang. Rani tidak menolaknya.

Dia menerimanya, tapi dengan sebuah peringatan keras yang tak terucapkan.

Malam itu, Arman berbaring memandangi langit-langit.

Di satu sisi, ada Nadia yang memberinya pakaian baru, gaji tetap, dan pandangan penuh kekaguman.

Di sisi lain, ada Rani yang menerima uangnya namun menolak kebohongannya. Ia terjepit di antara kehangatan palsu yang nyaman dan kenyataan pahit yang menuntut kejujuran.

Dan dalam keputusannya, ia justru menggenggam tas berisi pakaian baru pemberian Nadia lebih erat dalam pikiran. Itu adalah bukti nyata dari dunia yang lebih baik, dunia di mana ia dihargai, dilihat, dan diberi pakaian yang pantas.

Sedangkan di dunia Rani, ia hanya mendapat kecurigaan dan tatapan pedas. Pilihannya, meski membuatnya gelisah, mulai tampak semakin jelas. Ia telah memakai pakaian baru itu di dalam hati, dan perlahan-lahan, ia mulai meninggalkan kulit lamanya—dan semua janji yang melekat padanya—di belakang.

1
La Rue
Semangat Arman 👍
Halwah 4g
Karya othor 1 ini suangaatttt keren.. sepertinya menuliskan pengalaman pribadinya sehingga sangat amazing ceritanya.. membolak-balikkan mood emak2 kaya kita.Andai tkohnya ada di depan mata pngen rasanya di bejek2
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 thanks for support nya kaka 👍
total 1 replies
falea sezi
hahaah gt klo pelakor niat emank menguasai
Suhainah Haris
sesuatu yang di paksakan akan berakhir juga dengan keterpaksaan, impian Arman menyatukan istri semakin jauh,bisa jadi malah kehilangan keduanya
La Rue: ada yg experts kah 🤣🤣🤣
total 2 replies
Suhainah Haris
Nadia mulai banyak kehendak,kalau mau suami yang utuh jangan laki orang kamu embat,ini konsekuensi yang harus kamu terima
Lee Mbaa Young
Karma pelakor dong Nadia bangkrut dan istri sah rani usahanya maju.
arman makin blangsak hidup nya.
falea sezi
cerai. lah. oon gagal. move on. laki. yg bekas lakor. situ g jijik. ya dan hadeh btw cinta boleh goblokk. jangannn/Hunger/
falea sezi
mbk. pelakor berasa korban ya haduh kayak. yg lagi viral. dehh uppss/Hey/
falea sezi
arman arman ne lacurmu playing victim bgt nanti lu di buang nadia jangan nanges ya/Shame/ sok. lembut ih lakor
Lee Mbaa Young
wanita baja ki berani ngambil keputusan kl bgini Rani sebagai wanita beragama ya dosa.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
Suhainah Haris: Rani hanya butuh waktu, keputusannya nanti mungkin berdasar pada sikap Arman ke Aldi,apakah dia konsisten dengan perjanjian mereka,
total 1 replies
Lee Mbaa Young
langsung urus surat cerai lah. ngapain mau ma laki model bgitu. Kl aku ya sory ae 🤣. soale sudah merasakan jd ku tendang lah laki ku.
Achnad Asbert: 🙏 maafkan aku sayang... aku khilaf... ,
total 2 replies
Suhainah Haris
thanks for update nya thor,semangat
Bp. Juenk: siap, thanks supportnya
total 1 replies
Suhainah Haris
intinya kamu gak berbakat buat poligami,betul kata Nadia harusnya kamu fokus sama dia,bukannya ini semua keinginanmu,
Bp. Juenk: Maruk Ka 😄
total 1 replies
Suhainah Haris
seandainya Arman dan Rani bercerai,demi mendapatkan simpati Arman kayaknya Nadia bakalan mempergunakan uangnya membantu Arman merebut hak asuh anaknya
Lee Mbaa Young
yakin lah sedih nya laki cm sebentar apalagi istri muda pendai ngambil hati plus bnyak uang🤣.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.
Bp. Juenk: /Whimper//Gosh//Gosh//Gosh/
total 2 replies
Suhainah Haris
aku tebak sih si Arman sedih pasti anaknya di bawa pergi,tapi pasti cuma sebentar,karena Nadia sangat pandai merayu dengan kata kata menenangkan
Suhainah Haris: Nadia itu perempuan manipulatif,dan dengan bodohnya si Arman terjebak,lihat saja nanti dia hanya akan di jadikan jongos
total 3 replies
Suhainah Haris
aku sepertinya sudah faham permainannya Nadia, berpura-pura polos dan pengertian,pada akhirnya tujuannya ingin memiliki Arman seorang diri dan tentu saja Aldi,dia ingin membuat Rani kehilangan suami dan anaknya,dan tentu saja si Arman yang super bodoh itu akan masuk perangkap
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 Isa ae nih othor horror
total 2 replies
Suhainah Haris
gak ada kebahagiaan bagi manusia rakus
Bp. Juenk: 👍 setuju ka
total 1 replies
falea sezi
urus cerai ran qm berhak bahagia laki g tau diri bkin cerai Thor laki. doyan selangor kayak gini g pantes dpet istri sebaik rani
Bp. Juenk: wkwkwk cerita horror yg sadis itu ya
total 3 replies
falea sezi
cerai ran
Bp. Juenk: setuju...👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!