akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 – Dunia yang Disembunyikan
Pintu cahaya itu terbuka perlahan di dalam markas kecil Unit Khusus.
Boy yang berdiri paling dekat langsung melangkah mundur refleks.
“Whoa—apa itu?”
Rey menoleh padanya.
“Tempat rahasiaku.”
Sila berdiri di samping kakaknya, menyilangkan tangan.
“Tempat yang sangat indah.”
Leoni menghela napas.
“Dan yang tidak boleh diketahui pemerintah.”
Rey melangkah lebih dulu ke dalam cahaya.
Sila menyusul.
Leoni masuk setelah memastikan tidak ada orang luar yang melihat.
Boy ragu sejenak… lalu ikut masuk.
Dunia di balik pintu itu membuat Boy terdiam.
Padang rumput hijau terbentang luas.
Sungai jernih mengalir perlahan.
Udara terasa sejuk dan segar, berbeda jauh dengan udara dunia luar yang penuh debu dan bau darah monster.
“Ini…” Boy melongo.
“…bukan hanya ruangan penyimpanan.”
“Ini dunia kecil,” jawab Rey.
Boy berputar pelan.
“Gila… Kamu Rey, ini… ini seperti surga.”
Sila tersenyum tipis.
“Makanya kita bisa sembuh cepat di sini.”
Boy menatap Rey dengan ekspresi campur aduk.
“Jadi selama ini… kamu sembunyikan ini dari pemerintah?”
Rey mengangguk.
“Kalau mereka tahu…”
“…tempat ini akan jadi milik mereka.”
Leoni menambahkan,
“Dan Rey akan kehilangan kendali atas satu-satunya tempat aman yang kita punya.”
Boy terdiam lama.
Lalu ia tertawa kecil.
“Oke. Aku ngerti sekarang.”
“Ini bukan tempat buat orang yang suka mengatur segalanya.”
Rey menepuk bahu Boy.
“Terima kasih... maaf ya karena selama ini merahasiakan ini darimu.”
Mereka berjalan ke bagian lain ruang dimensi.
Tanah di sana telah digali rapi.
Beberapa baris tanaman mulai tumbuh: kentang, sayur hijau, dan umbi-umbian yang Rey ambil dari benih dunia luar.
“Aku sudah coba tanam sejak beberapa hari lalu,” kata Rey.
“Tanah di sini subur. Airnya bersih.”
Sila berjongkok dan menyentuh daun tanaman.
“Jadi… kita bisa bikin makanan sendiri?”
“Ya,” jawab Rey.
“Dan menyimpannya tanpa takut dirampok.”
Rey juga menunjukan sudut lain tempat itu yang berisi banyak makanan yang tersusun rapi.
Boy mengangguk pelan.
“Ini… senjata yang lebih penting dari api atau listrik.”
Leoni tersenyum kecil.
“Senjata melawan kelaparan.”
Rey menatap sungai kecil di kejauhan.
“Monster bisa dibunuh.”
“Tapi kalau manusia mati karena lapar…”
“…dunia ini tetap habis.”
Saat mereka kembali ke markas, suasana di dalam lebih tenang.
Anak kecil yang ditemukan Leoni duduk di pojok ruangan, memeluk lutut.
Rey menghampirinya perlahan.
“Kamu…”
Anak itu mengangkat kepala.
Mata hitamnya besar dan masih tampak sembab.
“Aku Deva,” katanya pelan.
“Umurku lima tahun.”
Rey berjongkok agar sejajar dengan matanya.
“Aku Rey.”
Sila ikut duduk di sampingnya.
“Aku Sila.”
Boy melambaikan tangan.
“Boy.”
Leoni menyilangkan tangan.
“Dan aku Leoni.”
Deva menatap mereka satu per satu.
“Kalian… tidak seperti tentara.”
Rey tersenyum tipis.
“Kami cuma orang yang ingin bertahan hidup.”
Deva ragu-ragu, lalu mengangkat tangannya.
Kembali dia menunjukan kekuatan nya pada cangkir kosong di meja tiba-tiba berhenti jatuh…
melayang di udara.
Semua terdiam.
Lima detik kemudian, cangkir itu jatuh ke lantai dan pecah.
Deva langsung lemas.
“Aku cuma bisa sedikit…” katanya takut.
“Dan kalau capek… sakit kepala…”
Rey menatap Leoni.
“Kekuatan waktu.”
Leoni mengangguk.
“Hanya objek kecil. Lima detik.”
Boy menggaruk kepala botaknya.
“Anak lima tahun dapat kekuatan sehebat itu…”
Sila menatap Deva dengan lembut.
“Kamu hebat Deva.”
Deva tersenyum.
“Aku ingin lebih kuat…”
“…biar bisa menolong”
Ruangan hening.
Rey menutup mata sebentar.
Lalu membuka lagi.
“Kamu akan lebih kuat,” katanya.
“Kita akan berlatih bersama dan terus menjadi lebih kuat.”
Deva menatapnya ragu.
“Benarkah?”
Rey mengangguk mantap.
“Benar.”
Malam itu, mereka memindahkan sebagian persediaan makanan dari ruang dimensi.
Karung beras.
Kaleng-kaleng makanan.
Benih tanaman.
Boy membawa satu karung besar keluar dari ruang dimensi.
“Serius… ini seperti cheat.”
Rey tersenyum tipis.
“Cheat yang harus disembunyikan.”
Leoni bersandar di dinding.
“ Bagaimana kalau pemerintah mulai bertanya dari mana kita dapat makanan.”
“Dan kita jawab apa?” tanya Boy.
Rey menjawab singkat.
“Dari reruntuhan.”
Leoni terkekeh.
“BoHong profesional.”
Rey menatap pintu ruang dimensi yang kini tertutup.
“Tempat ini…”
“…tidak boleh jatuh ke tangan mereka.”
Sila berdiri di sampingnya.
“Kalau mereka tahu…”
“…mereka akan jadikan ini gudang nasional.”
Boy menyeringai.
“Atau markas rahasia.”
Rey menatap Deva yang sudah tertidur di kursi.
“Dan anak itu…”
“…sepertinya tidak asing.”
Leoni mengepalkan tangan.
“Jadi apa selanjutnya.”
Di luar markas, kota masih gelap.
Namun untuk pertama kalinya sejak kelaparan dimulai…
Unit Khusus memiliki harapan.
Makanan.
Tempat aman.
Dan satu tambahan kekuatan.
Rey berdiri di depan jendela.
Monster bukan satu-satunya musuh…
manusia juga bisa jadi ancaman.
Ia menatap pantulan wajahnya sendiri.
“Dan aku…”
“…harus lebih kuat.”
Di dalam ruang dimensi, tanaman kecil terus tumbuh.
Diam-diam…
menjadi fondasi bagi masa depan.