Vilov tidak pernah berniat jatuh cinta dua kali.
Awalnya, ia yakin Putra adalah sosok yang tepat—hadir, hangat, dan selalu ada di sisinya.
Namun satu tatapan pada Tora mengubah segalanya.
Tora bukan siapa-siapa bagi Vilov. Ia dingin, pendiam, dan bahkan tak pernah menyadari keberadaannya.
Tapi sejak saat itu, hati Vilov berhenti mendengarkan logika.
Banyak yang mendekat. Banyak yang ingin memiliki Vilov.
Namun di antara tawa palsu dan hubungan yang tak pernah benar-benar ia rasakan, satu nama selalu tinggal di hatinya.
Tora.
Di usia remaja, Vilov belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki.
Akankah ia bertahan pada perasaan sepihak yang perlahan melukainya?
Ataukah ia akan memilih cinta baru—yang hadir, nyata, dan benar-benar menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Halusinasi dan Kejutan Liburan
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden kamar Vilov, menusuk lembut matanya yang masih terpejam rapat. Dengan gerakan malas dan mata yang masih setengah sadar, Vilov meraba-raba area di samping bantalnya untuk mencari benda yang selalu ia pegang. Ia meraih ponselnya, berniat hanya sekedar mengecek apakah ada pesan penting atau hanya ingin melihat kembali foto kemenangannya kemarin.
Namun, saat layar ponsel itu menyala dan menampilkan angka digital yang menunjukkan waktu, Vilov mendadak membeku. Matanya yang tadinya sipit karena kantuk, langsung membelalak lebar seolah ditarik paksa.
"HAH?! JAM SEMBILAN?!" teriak Vilov spontan. Suaranya menggema di seluruh sudut kamar yang sunyi.
Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat sebelum akhirnya berpacu dengan kecepatan maksimal. Tanpa berpikir panjang, Vilov langsung melompat dari kasur empuknya, membuat selimutnya terlempar berantakan ke lantai. Dengan gerakan panik yang luar biasa, ia berlari kencang ke arah kamar mandi. Di dalam pikirannya hanya ada satu hal: ia sudah terlambat sekolah dan pasti akan dihukum habis-habisan oleh guru piket.
Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit bagi Vilov untuk mandi—sebuah rekor mandi tercepat dalam sejarah hidupnya. Ia keluar dari kamar mandi dengan napas terengah-engah, segera memakai seragam sekolahnya yang tergantung di balik pintu, lalu mengenakannya dengan tergesa - gesa. Kaos kaki ia tarik dengan terburu-buru, rambutnya yang masih basah hanya ia sisir asal dengan jari-jari tangan.
Setelah merasa semua siap, Vilov segera mengambil tas sekolahnya dan berlari menuju ruang tamu. Langkah kakinya yang berat terdengar berisik di atas lantai keramik. Saat ia sudah sampai di depan pintu rumah dan bersiap membukanya, sebuah suara lembut namun penuh keheranan menghentikannya.
"Mau ke mana kamu, Vilov?" tanya Mama Vilov yang sedang duduk santai di meja makan sambil menyesap teh pagi.
"Sekolah, Mah! Vilov sudah terlambat banget ini!" jawab Vilov dengan nada suara yang terengah-engah, wajahnya tampak merah padam karena panik dan lelah berlari.
Mama Vilov mengerutkan dahi, menatap anak bungsunya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan bingung. "Sekolah?" ulang Mamanya singkat.
"Iya, Mah! Mama kenapa sih malah nanya terus? Aku lagi buru-buru banget ini, nanti gerbangnya dikunci!" ucap Vilov dengan suara yang mulai serak, hampir menahan tangis karena membayangkan konsekuensi keterlambatannya.
Melihat ekspresi panik luar biasa di wajah anaknya, Mama Vilov tiba-tiba tidak bisa menahan tawa. Tawa itu meledak begitu saja, membuat Vilov semakin bingung dan kesal. "Heh, ya ampun... anak Mama ngelindur ya? Ini hari libur loh, Vil! Kemarin kan hari terakhir turnamen, dan hari ini memang tanggal merah!"
Vilov terpaku di depan pintu. "Hah? Serius, Mah?"
Dengan tangan gemetar, Vilov berjalan menuju kalender dinding yang tergantung di dekat dapur. Saat ia membuka dan memperhatikan tanggalnya dengan seksama, matanya tertuju pada angka yang berwarna merah. Ia juga teringat pengumuman sekolah bahwa ada hari libur sekolah.
Seketika, seluruh tenaga di tubuh Vilov seolah menguap. Jantung yang sedari tadi berdegup kencang seperti drum perang, kini mulai melambat. Rasa lega yang luar biasa menyelimuti hatinya, namun di sisi lain, ia merasa sangat bodoh. Air mata yang tadi sempat tertahan di pelupuk mata karena rasa takut, kini berubah menjadi rasa malu yang amat sangat.
Bruk!
Vilov membantingkan badannya di sofa ruang tamu dengan lemas. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, meratapi kekonyolannya sendiri. Sementara itu, Mamanya masih terus tertawa kecil melihat tingkah laku anaknya yang selalu berhasil menciptakan kejadian lucu dan tak terduga.
"Aduh, Vilov... Vilov. Makanya kalau bangun itu baca doa dulu, jangan langsung lari-lari. Ya udah, sana ganti baju lagi, terus sarapan. Mama sudah buatkan nasi goreng tuh di meja," ucap Mamanya sambil berlalu menuju dapur.
Vilov lalu berdiri dengan sigap, kakinya terasa lemas setelah aksi lari maraton di dalam rumah tadi. Ia kembali ke kamarnya, melepaskan seragam sekolah yang baru ia pakai beberapa menit lalu, dan menggantinya kembali dengan kaos santai. Begitu selesai berganti baju, ia tidak langsung menuju ruang tamu untuk sarapan. Sebaliknya, ia kembali merebahkan badannya di atas kasur dan menarik selimutnya tinggi-tinggi.
Ia ingin menikmati setiap detik momen liburan ini seolah-olah tidak mau kehilangan satu momen santai pun. Di bawah dekapan selimutnya, Vilov kembali merogoh ponselnya.
"Aduh, Vilov... bisa-bisanya lu nggak tahu tanggal. Ini pasti gara-gara semalaman kerjanya cuma liatin foto Putra terus nih," gumam Vilov menyalahkan dirinya sendiri. Ia membuka aplikasi galeri kembali, dan benar saja, foto Putra adalah hal pertama yang muncul di layar.
Vilov menatap layar itu dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan. "Nggak nyangka banget gue bisa sedekat ini sama lu, Put, haha. Kira-kira... lu ada rasa juga nggak ya sama gue? Atau cuma gue doang yang baper sendiri?" ucap Vilov dalam hati. Ia terus menggulir layar, melihat beberapa foto Putra yang lain yang sempat ia ambil secara diam-diam saat di lapangan maupun saat mereka sedang mengobrol.
Saat ia sedang asyik berkelana dalam lamunannya tentang Putra, tiba-tiba ponsel yang ia pegang bergetar dan berdering nyaring. Sebuah nama muncul di layar: Tije.
Vilov segera menekan tombol hijau. "Iya, Tije?"
"Tumben lu udah bangun, Vil? Biasanya jam segini lu masih molor kayak kerbau," ucap suara Tije dari seberang telepon dengan nada meledek.
"Iyalah bangun! Tadi pas gue setengah sadar, gue pikir sekolah hari ini. Buru-buru gue bangun, mandi, pakai seragam, eh untung ada nyokap gue langsung ingetin kalau libur, haha," Vilov menceritakan kejadian konyol yang baru saja ia alami dengan nada bicara yang berapi-api.
"Hahaha! Vilov, Vilov... kayaknya emak lu sabar banget ya punya anak seajaib lu. Gue kalau jadi nyokap lu sudah gue masukin karung kali," Tije tertawa terbahak-bahak mendengar cerita sahabatnya itu.
Setelah tawanya reda, Tije kembali berbicara dengan nada yang lebih serius namun tetap santai. "Eh, omong-omong, lu mau main nggak hari ini? Kita kumpul-kumpul santai."
Vilov menghela napas panjang, matanya menatap langit-langit kamar dengan malas. "Kaga ah, Je. Sayang banget libur gue kalau dipakai buat main. Mending gue tidur seharian, badan gue masih berasa remuk sisa tanding kemarin."
"Yakin nggak mau ikut? Ya udah deh kalau gitu, padahal tadi anak-anak bilang Putra juga ikut sih..." ucap Tije dengan nada bicara yang sengaja digantung, seolah sedang melempar umpan.
Mendengar nama itu disebut, mata Vilov yang tadinya sayu langsung terbuka lebar. Rasa lelah yang tadinya ia keluhkan seolah hilang tertiup angin dalam sekejap.
"Apa?! Apa?! Putra ikut?! Oke, gue ikut! Tunggu, gue akan ikut!" teriak Vilov heboh.
"Dih, katanya tadi mau tidur? Gimana sih lu, labil banget!" ledek Tije di seberang sana.
"Bodo amat! Kalau ada Putra, stamina gue langsung pulih 100 persen! Kirim lokasinya sekarang!" jawab Vilov penuh semangat sambil segera bangkit dari kasurnya, bersiap untuk dandan secantik mungkin.