Genre: Fantasi-Wanita, Reinkarnasi, Petualangan, Aksi, Supernatural, Misteri, Kultivasi, Sihir.
[On Going]
Terbangun di hutan asing tanpa ingatan, Lin Xinyi hanya membawa satu hal bersamanya—suara misterius yang menanamkan pengetahuan sihir ke dalam pikirannya.
Di dunia di mana monster berkeliaran dan hukum kekuatan menentukan siapa yang hidup dan mati, ia dipaksa belajar bertahan sejak langkah pertama.
Siapakah sebenarnya Lin Xinyi?
Dan kenapa harus dia? Apakah dia adalah pembawa keberuntungan, atau pembawa bencana?
Ini adalah kisah reinkarnasi wanita yang tak sengaja menjadi dewi.
2 hari, 1 bab! Jum'at libur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 — Lin Xinyi vs Jian Yu
Xuan bawah.
Jian Yu dan Han Jiuye telah menyusup jauh ke dalam hutan. Dengan langkah ringan namun cepat, keduanya bergerak menembus rimbunnya pepohonan, melompati akar besar dan semak tanpa kesulitan berarti.
Wilayah Xuan bawah jauh lebih lebat dibanding titik lain. Cabang-cabang saling bertaut, dedaunan menutup langit, membuat cahaya sulit menembus hingga ke tanah. Bagi petarung jarak dekat, tempat seperti ini bisa menjadi jebakan mematikan jika berhadapan dengan penyihir jarak jauh.
Segala jenis sihir bisa dimanfaatkan di sini. Namun yang paling merepotkan adalah kemampuan untuk menyembunyikan keberadaan. Dengan medan seperti ini, seseorang bisa menghilang sepenuhnya dan hanya terlihat saat menyerang.
Jian Yu memahami itu.
Ia memberi isyarat pada Han Jiuye untuk meningkatkan kewaspadaan. Dalam kondisi seperti ini, Han Jiuye yang hanya penyihir tingkat 4 jelas akan menjadi sasaran utama.
Sambil terus bergerak lurus, Han Jiuye mengaktifkan sihir perlindungan di sekeliling tubuhnya.
Sementara itu Jian Yu sengaja membuka celah. Ia berniat menjadi umpan. Siapapun yang bersembunyi pasti akan menyerangnya lebih dulu. Setelah itu Han Jiuye bisa mengambil peran.
"Bisa dirasakan... namun tidak diketahui letaknya," gumamnya pelan. "Penyihir ini, apa dia tidak memahami cara untuk menyembunyikan keberadaan."
Langkah Jian Yu tiba-tiba terhenti. Tubuhnya berputar cepat.
Han Jiuye langsung mengikuti gerakannya.
"Ada apa?"
"Tenang. Rasanya ada yang aneh."
Jian Yu menangkapnya. Ada gelombang halus yang mengusik instingnya.
Ia kembali berbalik.
Tepat pada saat itu, tombak yang terbentuk dari sihir es dan angin melesat, memotong udara dengan desingan tajam.
Jian Yu mengepalkan tangan. Api merah membungkus tinjunya, berputar dalam pusaran panas yang membakar udara di sekitarnya.
"Sihir Penciptaan Api: Flame Fist!"
Ledakan keras mengguncang hutan saat keduanya berbenturan.
Udara bergetar hebat. Pecahan es terhambur ke segala arah, bercampur percikan api yang masih menyala di antara serpihan yang mencair. Debu dan asap membumbung, menelan pandangan dalam kabut tebal.
Untuk sesaat, dunia hanya dipenuhi gema benturan.
Namun serangan tidak berhenti.
Dari belakang Han Jiuye, sebuah bayangan melintas cepat.
Han Jiuye yang menyadarinya segera berbalik dan mencabut pedangnya.
KTANKK!
Dua bilah bertabrakan keras.
Saat debu mulai memudar, sosok itu terlihat jelas.
Dia adalah Xinyi.
"Kau!" Han Jiuye mengubah arah pedangnya.
Bilah itu hampir saja menebas leher Xinyi. Hanya selisih setipis kertas yang menyelamatkannya.
"Cepat. Gerakannya terlalu cepat," pikir Han Jiuye.
Begitu menghindari, Xinyi langsung mengubah arah pedangnya. Ia sedikit merendah lalu melancarkan tebasan vertikal ke atas.
WUSH!
Udara terbelah. Han Jiuye mundur tepat waktu, namun beberapa helai rambutnya terpotong dan beterbangan ke tanah.
Xinyi tidak membiarkan celah terbuka. Ia segera melompat mundur, menjaga jarak.
"Hentikan!"
Suara itu datang bersamaan dengan kedatangan Jian Yu dari samping. Dengan kecepatan yang tak wajar, ia muncul dan mengayunkan tinjunya ke arah Xinyi.
Xinyi menyadari bahaya itu dalam sepersekian detik. Pedangnya langsung ia lempar ke dalam penyimpanan dimensi.
Ia beralih ke sihirnya.
"Sihir Peningkatan Kekuatan: Physical Boost!"
Cahaya putih menyelimuti kedua tangannya, berdenyut seperti aliran energi yang hidup.
Xinyi memijakkan kaki kanannya kuat di tanah. Tubuhnya sedikit condong. Tangannya terayun ke depan.
Ia tidak hanya akan bertahan.
Ia akan membalas.
Satu detik kemudian, kedua tinju itu bertemu.
Ledakan energi mengguncang area sekitar. Burung-burung beterbangan panik dari pepohonan. Tanah bergetar ringan, dedaunan berjatuhan seperti hujan.
Debu kembali menyelimuti pandangan.
Memanfaatkan momen itu, Xinyi langsung mundur dan menghilang di antara bayangan pepohonan.
Tidak ada luka pada tubuhnya setelah benturan tadi.
Peningkatan yang ia gunakan menutupi selisih kekuatan. Terlebih lagi, ia kini berada di tingkat 5. Kekuatannya tidak lagi bisa diremehkan.
Jian Yu menyadari lawannya telah lenyap dari hadapannya. Ia segera memutar pandangan ke segala arah, nalurinya bekerja keras.
"Kekuatannya mengerikan. Dia tingkat 5, tapi masih dibawahku. Hanya saja, keahliannya bersembunyi benar-benar merepotkan," gumamnya.
Ia melangkah mendekat hingga punggungnya bersentuhan dengan Han Jiuye. Keduanya berdiri saling membelakangi, menjaga sisi masing-masing.
"Jangan lengah sedikit pun. Jika ingin me mengalahkannya, harus berusaha lebih."
Hutan kembali sunyi.
Namun kesunyian itu terasa jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.
Di atas mereka berdua, sebuah lingkaran sihir raksasa perlahan terbentuk.
Cahayanya kuning terang, berputar dengan tulisan-tulisan kuno yang mengelilinginya. Simbol-simbol itu bersinar semakin kuat, memancarkan tekanan yang membuat udara di sekitar bergetar.
"Sihir Penciptaan Petir: Thunder Strike!"
Han Jiuye yang pertama menyadarinya.
"Lari!"
Petir itu tidak menyembur.
Ia jatuh.
Lurus dari langit, seperti murka yang diarahkan dengan sengaja.
Dalam sekejap, cahaya menyambar menembus debu dan asap. Kilat itu membidik tepat ke arah mereka. Udara mendesis, bau ozon terbakar memenuhi hidung. Bayangan keduanya menyala sesaat sebelum cahaya itu hampir menelan segalanya.
Han Jiuye mengaktifkan Ventus Step. Tubuhnya menghilang dari titik semula dan muncul beberapa meter jauhnya tepat sebelum sambaran petir menghantam tanah.
Ledakan cahaya memekakkan telinga.
"Huh... huh..."
Napasnya memburu.
Sementara itu Jian Yu mengandalkan kekuatan fisik dan refleksnya yang luar biasa. Ia melompat ke samping tepat sebelum petir menghantam posisi sebelumnya. Tanah di bawahnya meledak, membentuk kawah hitam yang masih berasap.
"Itu dia!" Jian Yu menunjuk ke langit.
Di atas sana, Xinyi melayang. Tubuhnya seolah tak tersentuh gravitasi, rambutnya berkibar pelan tertiup arus energi.
Namun hanya sesaat.
Tubuhnya turun kembali ke tanah. Dalam waktu yang sama, ia menambahkan sihir kecepatan pada dirinya. Sosoknya menghilang dari pandangan dan muncul tepat di depan Han Jiuye.
Tinju itu menghantam perutnya.
BUGH!
"Ughh!"
Han Jiuye tak sempat bereaksi. Rasa sakit yang luar biasa meledak di dalam tubuhnya. Napasnya terhenti. Dunia berputar.
Tubuhnya ambruk dan kesadarannya hilang seketika.
"Sial, dia mengincar Han Jiuye lebih dulu!"
Jian Yu menerjang maju, hendak membalas.
Namun Xinyi lebih cepat.
Ia meraih tubuh Han Jiuye yang tak sadarkan diri dan melemparkannya ke arah Jian Yu.
Jian Yu terpaksa menghentikan langkahnya. Ia menangkap tubuh rekannya itu sebelum jatuh keras ke tanah. Dengan cepat ia membaringkannya dengan hati-hati.
Pada saat itulah ia menyadari sesuatu.
Xinyi sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Pulanglah."
Tangannya terayun.
"Haghhh!"
BUGH!
Tinju Xinyi tidak mengenai wajah Jian Yu.
Tangan pria itu terangkat, menahan pukulan tersebut tepat sebelum menyentuh wajahnya.
"Apa?" Xinyi segera meloncat mundur, menjaga jarak.
"Mana miliknya berbeda dari yang tadi... apa yang sebenarnya ia lakukan," pikirnya.
Ia tetap waspada. Kedua tangannya masih diselimuti cahaya sihir. Siap menyerang kapan saja.
"Kau memiliki kekuatan yang hebat, tapi sayang sekali malah bertemu denganku." Jian Yu memasang kuda-kuda. Kedua tangannya mengepal di depan dada, tubuhnya condong sedikit seperti binatang buas yang siap menerkam.
Mana dalam tubuh Xinyi melonjak. Aura hitam berputar mengelilinginya seperti arus air yang liar. Energi gelap itu membentuk lapisan pelindung di kedua tangannya.
"Pulanglah, aku tidak akan membunuh kalian," ucap Xinyi.
Jian Yu tersenyum sinis. "Kau tidak membunuh kami, maka kami akan membunuhmu."
Tanah di bawah kaki Jian Yu mulai retak perlahan. Tekanan dari mana yang ia lepaskan membuat permukaan tanah tak sanggup menahannya.
Xinyi tidak lengah sedikit pun. Ototnya menegang, mana berputar semakin cepat di sekeliling tubuhnya.
Keduanya saling menatap.
Dalam satu detik sunyi itu, tak ada yang bergerak.
Lalu tekanan di udara berubah.
Pertarungan sesungguhnya dimulai.
apa ada sejarah dengan nama itu?