Kejutan yang Freya siapkan untuk William berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki pria itu berselingkuh. Tanpa niat melabrak, Freya justru merekam pengkhianatan tersebut dan bersumpah akan membalasnya.
Namun, sebelum rencananya selesai, Freya diculik dan dipaksa menerima perjodohan dengan Steven, pria dingin dan berkuasa.
Menolak tunduk, Freya kabur dan menghancurkan karier William dengan menyebarkan video perselingkuhannya.
Tapi, masalah tidak berhenti di sana. Steven murka karena Freya melarikan diri. Ia mengerahkan anak buah untuk menangkap gadis itu, tanpa menyadari bahwa mereka akan bertemu dengan cara yang tak terduga, yang mana Freya menyamar sebagai laki-laki, dan menjadi bodyguard barunya dengan nama Boy.
Kedekatan mereka memicu konflik yang lebih berbahaya, saat Steven mulai merasakan perasaan terlarang pada sosok yang ia yakini sebagai seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Freya dan Miko terus mengikuti ke mana pun Steven melangkah. Setiap kali pria itu berhenti untuk berbincang dengan rekan bisnisnya, keduanya akan setia berdiri beberapa langkah di belakangnya, waspada seperti bayangan yang tidak terpisahkan.
Tentu saja, hal itu membuat Freya bosan setengah mati. Sejak tadi ia menahan lapar, menelan ludah setiap kali matanya menangkap deretan hidangan mewah yang tersaji di sepanjang aula. Namun, Miko tidak henti mengingatkannya untuk menjaga sikap dan tetap fokus melindungi Steven.
Steven menyadari kegelisahan kecil itu. Ia melirik sekilas ke arah Denis dan yang lain, yang tampak sibuk menjilat ke sana kemari demi perhatian para tamu penting, lalu mengalihkan pandangan pada Freya dan Miko.
"Kalian tidak perlu terus mengikuti ku," ujarnya tenang. "Nikmati saja pestanya."
Mata Freya seketika berbinar. Senyumnya merekah lebar, nyaris lupa diri. Namun detik berikutnya, Miko menyenggol lengannya pelan, memberi isyarat tegas. Saat itu juga, senyum itu menghilang.
"Terima kasih, Tuan. Kami cukup menikmati pesta ini dari sini," ucap Miko sopan.
Freya memutar bola matanya. Bibirnya bergerak-gerak kecil, menggerutu tanpa suara.
Steven menangkap reaksi itu dan tersenyum tipis. "Aku tahu, kalian ingin memastikan aku aman." Dagu Steven terangkat, menunjuk ke arah Denis. "Lihat saja, mereka sedang sibuk sekarang. Mereka tidak akan membuat masalah denganku. Jadi, kalian boleh menikmati hidangan yang ada."
Mata Freya kembali berbinar. Kali ini, ia tidak memberi Miko kesempatan untuk menolak.
"Baik, Tuan. Terima kasih banyak. Saya tidak akan sungkan," ucapnya cepat. Ia langsung berbalik dan melangkah menuju meja hidangan, matanya berbinar seperti anak kecil menemukan harta karun.
Miko refleks hendak menghentikannya, tetapi Steven lebih dulu mengangkat tangan.
"Biarkan saja. Kau juga, nikmati pestanya," ujar Steven.
Miko terdiam sejenak, lalu menunduk patuh. "B-baik, Tuan."
Freya berdiri di depan meja hidangan, matanya berbinar saat jemarinya sibuk memilih kue kecil berlapis krim. Baru saja ia hendak menggigit, sebuah suara dingin menyapanya dari samping.
"Menarik sekali."
Freya menoleh. Rena berdiri di sana, dengan senyum tipis terukir di bibirnya.
"Pesta semewah ini tapi, pelayannya sibuk memenuhi perut sendiri," lanjut Rena santai, sorot matanya merendahkan.
Freya mengernyit, menahan diri agar tidak langsung membalas. Ia lalu menegakkan bahu. "Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"
Rena mendekat selangkah. "Ada. Tapi, bukan di sini." Ia melirik sekeliling lalu, menatap Freya dengan sorot penuh perhitungan. "Ikut aku sebentar. Kita perlu bicara."
Freya ragu sejenak namun, akhirnya mengangguk pelan dan mengikuti langkah Rena menuju balkon yang lebih sepi.
Dari kejauhan, Steven menangkap pemandangan itu. Keningnya mengerut saat melihat bodyguard nya berjalan bersama Rena. Ada sesuatu dalam bahasa tubuh keduanya yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Tanpa menarik perhatian, Steven mengikuti mereka, menjaga jarak, hingga keduanya berhenti di balkon yang temaram. Ia berhenti di balik pilar besar, cukup dekat untuk mendengar namun, cukup jauh untuk tidak terlihat.
Angin malam berembus pelan saat Rena menyandarkan diri pada pagar balkon.
"Kau tahu, orang sepertimu seharusnya tidak membuang hidup untuk seseorang seperti Steven," ucap Rena tanpa berbasa-basi.
Freya menegang. "Apa maksud Anda?"
Rena terkekeh kecil. "Jangan berpura-pura bodoh. Kau cerdas, setia dan, jelas... berguna."
Freya terdiam, sedikit paham maksud wanita itu.
"Aku membutuhkan orang sepertimu," lanjut Rena, suaranya merendah namun, beracun. "Bekerja untukku. Beri aku informasi tentang Steven. Ke mana dia pergi? Siapa yang dia temui? Apa rencananya? Apapun itu."
"Aku akan membayar dua kali lipat dari apa yang dia berikan padamu. Uang, perlindungan dan, kehidupan yang jauh lebih layak tentunya." Rena tersenyum samar. "Kau hanya perlu memilih, siapa yang pantas kau lindungi."
Di balik pilar, tangan Steven mengepal keras. Rahangnya mengeras, napasnya terasa berat. Tanpa ingin mendengar lebih jauh, ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan balkon dengan dada yang sesak oleh amarah dan sesuatu yang lebih pahit dari itu, kekecewaan.
Di balkon, Rena melangkah lebih dekat pada Freya. "Pikirkan baik-baik," ucapnya lembut, seolah penuh perhatian. "Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali."
Ia meraih kartu nama dari tas kecilnya dan menyelipkannya ke tangan Freya. "Hubungi aku kalau kau sudah membuat keputusan." Setelah itu, Rena berbalik dan pergi, meninggalkan Freya sendirian di balkon.
Freya menatap kartu nama di tangannya cukup lama. Angin malam mengibaskan nya pelan, namun tatapannya tetap tertambat pada huruf-huruf mengilap itu.
Perlahan, senyum sinis terbit di sudut bibirnya. "Ingin menyuap ku?" gumamnya lirih. "Kalau begitu, setidaknya siapkan jumlah yang lebih banyak dari uang papa."
Ia mendengus pelan, lalu membalikkan tubuh, memandang taman yang temaram dengan lampu-lampu kecil berpendar redup. Dada Freya naik turun saat ia menghirup udara malam.
"Karena wanita itu, nafsu makanku jadi hilang," gerutunya kesal.
"Benarkah?"
Freya tertegun. Belum sempat ia bereaksi, sebuah tangan tiba-tiba menarik telinganya dengan kasar.
"A-aw!" pekiknya kaget.
"Bagus, ya?" suara dingin itu menyusup ke telinganya. "Kabur dari rumah, lalu menyamar jadi pria."
Freya membelalakkan mata. Ia menoleh cepat. "M-mama?" suaranya nyaris tercekat.
Evelyn mendengus, lalu melepaskan cubitan itu. "Kenapa? Terkejut mama bisa mengenalimu?"
Freya mengusap telinganya yang perih. "Bagaimana mama tahu ini aku?" gumamnya pelan.
"Jangan meremehkan insting seorang ibu." Evelyn menatapnya tajam. "Sekali lihat saja, mama sudah tahu. Putri mama itu terlalu ceroboh untuk bisa benar-benar menghilang."
Freya mengerucutkan bibir. "Padahal aku sudah menyamar sebaik mungkin. Bahkan, Risa saja tidak mengenaliku. Tapi, tetap saja, aku tidak bisa membohongi mata singa betina satu ini," batinnya kesal.
"Jadi, apa yang wanita itu katakan padamu?" tanya Evelyn.
Freya mengangkat kartu nama di tangannya. "Dia mencoba menyuap ku."
"Kau menerimanya?"
"Tentu tidak." Freya menggeleng cepat. "Aku tidak kekurangan uang."
Evelyn menghela napas panjang. Nada suaranya melunak, meski sorot matanya tetap tegas. "Kenapa kau kabur, Frey? Dan... Menyamar seperti ini? Pulanglah, sayang. Mama dan papa merindukanmu."
Freya menunduk sejenak. "Ma... kau tahu alasannya. Aku belum ingin menikah. Aku masih ingin bebas."
"Dengan menjadi bodyguard Steven?" potong Evelyn tajam.
Freya terdiam.
"Kenapa?" Evelyn menatapnya penuh selidik. "Kau menyukainya?"
"A-aku... " Ingatan Freya berputar pada satu momen saat Steven menciumnya. Meski, pria itu tidak sepenuhnya sadar. Namun, cukup untuk membuat jantungnya berdetak tidak karuan.
"Aku apa, hah?" desak Evelyn.
"Aku... tidak tahu, Ma," jawab Freya lirih.
Evelyn tersenyum tipis, penuh makna. "Bukan tidak tahu. Kau hanya belum berani mengakuinya." Ia lalu mengangkat dagu Freya, mengarahkannya ke tengah aula pesta. "Lihat!"
Freya mengikuti arah pandangnya. Seorang wanita bergaun elegan tengah melangkah mendekati Steven.
Tatapan Freya langsung menggelap. "Wanita rubah itu... " Tanpa pamit, Freya melangkah cepat meninggalkan balkon, meninggalkan Evelyn yang hanya menghela napas pelan di belakangnya.
"Kau kabur karena tidak ingin menikah. Tapi, sekarang kau justru menjadi bodyguard calon suamimu sendiri?" Evelyn menggeleng pelan. "Sulit di percaya."