Dawai Asmara, seorang fresh graduate sekaligus guru Bahasa Inggris baru di SMA Bina Bangsa, sekolah menengah atas yang terkenal elite.
Perawakan Dawai yang imut membuatnya menjadi target sasaran permainan dari Rendra, siswa kelas dua belas, ketua dari geng the Fantastic Four, geng yang terdiri dari siswa-siswa paling keren di sekolah, yang merupakan putra dari dewan komite sekolah.
Suatu ketika, Rendra mengatakan "I love you, Miss," pada Dawai. Dawai yang sering menjadi sasaran keanehan sikap Rendra, tak menghiraukan pernyataan cinta Rendra.
Apakah Rendra hanya becanda mengatakan itu? Atau serius? Temukan jawabannya hanya di I Love You, Miss!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat Jadi Cinta?
"Eee~ jadi bokap sama anaknya sama-sama tertarik sama lo? Wah, bener-bener, sahabat gue satu ini daya pikatnya luar biasa," komentar Disa sambil terkekeh saat Dawai menceritakan tentang Pak Raharja.
"Nggak usah ngeledek," kata Dawai sebal.
"Sorry, sorry. Eh, tapi bener sih kata lo. Bokapnya keren," kata Disa kemudian.
"Kaaan?"
"Trus? Gimana anaknya?" tanya Disa sambil lalu.
"Oh iya! Keajaiban!" kata Dawai heboh.
"Hah? Kenapa?" tanya Disa penasaran.
"Pagi tadi, dia minta maaf sama aku atas semua perbuatannya dia," kata Dawai.
"Serius?" tanya Disa tak percaya. Dawai mengangguk.
"Kesambet kali," komentar Disa.
"Tapi, dari matanya, dia keliatan serius," kata Dawai sambil mengingat-ingat ekspresi Rendra saat meminta maaf padanya. Disa menggut-manggut.
"Bagus deh," kata Disa akhirnya.
"Tapi, aku kok malah jadi nggak tenang ya?" kata Dawai. Disa mengerutkan kedua alisnya, bingung.
"Kok gitu?" tanya Disa. Dawai mengangkat kedua bahunya.
"Entah. Kek ngerasa mungkin dia merencanakan sesuatu gitu," kata Dawai.
Disa menatap Dawai yang sedang asyik menyantap es krim. Dia merasa Dawai sedikit demi sedikit tertarik dengan Rendra.
"Ya udah. Tetep waspada aja. Buat jaga-jaga," kata Disa. Dawai mengangguk sambil memasukkan sesendok es krim ke mulutnya.
"Besok anter lagi?" tanya Disa pada Dawai, memastikan apakah Dawai sudah merasa aman dengan Rendra meminta maaf.
"Mmm... Keknya iya. Bisa?" tanya Dawai pada Disa. Disa mengangguk.
Keduanya sibuk menikmati es krim pesanan masing-masing dalam diam. Dawai masih merasa aneh dengan sikap Rendra yang tiba-tiba meminta maaf padanya. Dia juga masih penasaran tentang hal apa yang ingin dia tanyakan padanya.
Disa mengamati Dawai dalam diam. Dawai belum pernah didekati cowok seagresif Rendra sebelumnya. Bagaimana tidak? Disa selalu memfilter cowok mana yang boleh coba mendekati Dawai. Disa tak mau sembarang cowok mendapatkan hati Dawai.
"Kamu nggak ada niatan cari cewek lagi?" tanya Dawai pada Disa tiba-tiba.
"Eh? Mmm... Belum ada yang klik," jawab Disa asal. Padahal dia sama sekali tak ada niatan mencari pacar lagi dalam waktu dekat ini. Dia ingin fokus pada permasalahan Dawai.
"Tumben? Biasanya aja asal cantik dan sexy kamu mau. Emang ada tambahan kriteria lagi?" tanya Dawai tak percaya.
"Mmm... Iya keknya," jawab Disa sambil cengar-cengir.
"Nyari yang cantik plus sexy aja udah susah, mau ditambahin apa lagi sih?" tanya Dawai heran.
"Mmm... Maunya yang pinter juga. Kek lo," kata Disa membuat Dawai seketika tersedak.
"Pelan-pelan dong," kata Disa sambil membantu Dawai mengusap punggungnya perlahan.
"Sorry," kata Dawai.
"Lagian lo kenapa sih? Canda juga pake keselek," kata Disa.
"Kamu tuh..."
"Apa?"
"Nggak lucu becandanya," kata Dawai sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
"Kan lo yang nanya. Gue jawab dong,"
"Asal,"
Disa kembali duduk di kursinya sambil melihat Dawai yang masih sibuk mengelap mulutnya.
"Lo sadar nggak sih kalo lo tuh punya pesona yang nggak bisa dijelasin?" tanya Disa pada Dawai tiba-tiba. Dawai seketika menghentikan kegiatan mengelapnya.
"Eh?"
"Kalo lo mau tau, sebenernya ada banyak cowok yang mau ngedeketin lo. Beberapa langsung gue eliminasi. Sisanya, yaa yang lo tolak sendiri itu," lanjut Disa.
Dawai terdiam, mencerna apa yang Disa katakan. Dia sama sekali tak tahu tentang hal itu. Beberapa cowok yang pernah mendekatinya memang ada yang bilang kalau mereka meminta ijin pada Disa sebelum mendekati Dawai. Dulu, Dawai kira mereka hanya bergurau. Ternyata, itu memang fakta.
"Well, jadi jangan heran, kalo sekarang, ada murid yang tergila-gila sama lo," lanjut Disa lalu menyendokkan es krim ke mulutnya.
Dawai masih terdiam. Selama ini, dia merasa dirinya biasa aja. Bahkan banyak wanita yang lebih cantik yang berada di sekitarnya. Dia sama sekali tak merasa istimewa.
"Hey?" kata Disa mencoba menyadarkan Dawai yang menerawang jauh.
"Eh?"
"Serius amat?"
"Mmm... Emang, aku... cantik?" tanya Dawai pada Disa ragu-ragu. Tawa Disa seketika pecah. Beberapa pengunjung di kedai es krim sampai menoleh ke arah mereka duduk.
"Disa!" bisik Dawai malu.
"Sorry, sorry," kata Disa, masih sambil terkekeh. Dawai jadi malu sendiri.
"Tau, ah! Kamu becanda mulu," kata Dawai sebal.
"Iyaa, sorry,"
Disa menatap Dawai yang cemberut. Dia sendiri bingung bagaimana menjelaskannya pada sahabat kecilnya itu.
"Mmm... Jadi gini. Cewek cantik itu belum tentu mempesona semua orang," kata Disa, mencoba pelan-pelan menjelaskan pada Dawai. Dawai menyimak.
"Tapi... Kalo cewek yang mempesona itu... gimana ya gue ngomongnya. Ya, cantik sih, tapi lebih dari itu," kata Disa, terlihat bingung mencari kata-kata yang sesuai untuk menggambarkan apa yang ada dalam pikirannya.
"Mmm... gorgeous?" tanya Dawai. Disa menjentikkan jari tengah dan jempolnya.
"That's it! Gorgeous! Menawan!" kata Disa. Dawai mengerutkan kedua alisnya.
"Tapi aku nggak ngerasa aku menawan," kata Dawai sambil tersenyum aneh. Disa menggeleng.
"Bukan tentang fisik," kata Disa. Dawai semakin bingung.
"Aura! Lo punya aura yang menarik," kata Disa. Dawai masih mengerutkan kedua alisnya, tak paham.
"Udahlah. Susah jelasinnya," kata Disa menyerah membuat Dawai paham.
Dawai hanya terdiam, memikirkan sisi dirinya yang mana yang menawan. Sementara itu, Disa menyantap sisa es krimnya sambil sesekali memperhatikan Dawai yang melamun.
Disa tak bisa pungkiri, ada saatnya dia terpesona oleh Dawai. Terkadang, ada bagian kecil dari hatinya, mendesak dirinya untuk menyatakan apa yang selama ini Disa rasakan pada Dawai. Namun, Disa tak memiliki keberanian untuk itu.
Menjadi playboy adalah cara Disa untuk melupakan perasaannya terhadap Dawai. Meskipun begitu, Disa malah jadi semakin tak mampu menghapus perasaannya. Disa jadi selalu membandingkan pacarnya dengan Dawai, yang sudah jelas sangat jauh.
"Nggak usah dipikirin," kata Disa akhirnya.
"Eh?"
"Ya udah. Bersyukur kan lo jadi nggak usah repot-repot gimana-gimana, cowok-cowok udah attracted ke lo. Tinggal pilih aja," kata Disa mencoba menenangkan Dawai.
"Gitu?" tanya Dawai. Disa mengangguk.
"Pusing ah," komentar Dawai.
"Kalo pusing milih, sama gue juga nggak apa-apa," celetuk Disa. Dawai mengangkat kedua alisnya.
"Canda lagi kan?" tanya Dawai pada Disa. Disa hanya tersenyum.
"Disa!" kata Dawai sambil menepuk lengan Disa.
"Terserah lo aja. Ayok!" kata Disa sambil berdiri berlalu keluar dari kedai Aisu Miruku.
Dawai masih terduduk. Diam. Mencerna. Dawai tak tahu apakah Disa hanya becanda atau serius mengatakan itu. Selama ini, Dawai selalu menganggapnya seperti seorang kakak.
Disa menoleh ke arah Dawai yang masih duduk. Seperti tersadar, Dawai bergegas beranjak dari duduknya dan menyusul Disa keluar. Ada perasaan mengganjal yang aneh dalam hati Dawai.
'Dia nggak mungkin suka aku kan?'
***
semngaatt ya thorrr