NovelToon NovelToon
Cinta Di Orang Yang Sama

Cinta Di Orang Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Membasuh Sisa Luka Lama

Arslan tidak punya pilihan, ia harus menghemat uang yang ia dapatkan sendiri dari penghasilannya sebagai dokter. Terlebih Arslan memang membutuhkan tempat untuk bersembunyi dari sesaknya dunia yang tidak pernah memihak dirinya.

Arslan menyewa sebuah apartemen kecil, lembap, dan jauh dari kemewahan kediaman Raendra yang biasanya ia tempati. Namun, di dalam ruangan sempit yang gelap gulita itu, Arslan merasa untuk pertama kalinya ia tidak perlu berakting menjadi siapa pun.

Ia menjatuhkan tubuhnya di lantai, bersandar pada pintu yang baru saja ia kunci rapat. Suara napasnya yang memburu perlahan berubah menjadi isak tangis yang tertahan, hingga akhirnya pecah menjadi tangisan sesenggukan yang menyayat hati.

Di rumah sakit, ia adalah Dokter Arslan, pria jenius yang tenang dan menjadi sandaran bagi pasiennya, serta banyak digilai oleh rekan sejawatnya. Di mata publik, ia adalah Arslan Raendra, putra mahkota yang hidupnya tampak sempurna. Namun di sini, di balik kegelapan ini, ia hanyalah Arslan kecil yang masih berdiri di tepi kolam empat belas tahun lalu, terus-menerus memanggil nama adiknya yang tidak pernah menyahut.

"Maafkan Kak Alan, Via... Maaf..." bisiknya di sela tangis.

Setiap tetes air matanya adalah akumulasi dari belasan tahun hinaan ayahnya, tatapan kosong ibunya, dan rasa bersalah yang ia bawa setiap kali melihat pasien anak-anak. Ia menangis hingga dadanya terasa sesak, hingga suaranya serak. Ia mematikan ponselnya, memutus akses ke dunia luar. Ia tidak ingin melihat pesan dari sahabatnya, tidak ingin melihat notifikasi dari rumah sakit, dan yang paling utama, ia tidak ingin Abel melihatnya dalam kondisi sehancur ini.

Arslan meringkuk di lantai yang dingin, memeluk tas ranselnya yang berisi satu-satunya foto Via. Di apartemen tak berpenghuni itu, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam duka yang selama ini ia tekan dengan senyum palsu dan jas putih dokternya.

Dua Hari Kemudian

Arslan tidak muncul di rumah sakit. Meja praktiknya kosong. Rekan-rekannya mulai bertanya-tanya, dan para suster kebingungan menghadapi antrean pasien yang menumpuk.

Abel, yang sedang berada di rumah sakit untuk mengambil hasil lab lanjutan Farel, berdiri di depan pintu ruangan Arslan yang tertutup rapat. Ia melihat perawat yang tampak panik mencoba menghubungi ponsel Arslan yang tetap tidak aktif.

"Suster, Dokter Arslan belum datang?" tanya Abel dengan perasaan tidak enak yang mulai merayap.

"Belum, Bu Abel. Tidak ada kabar sama sekali sejak dua hari lalu. Ini tidak seperti Dokter Arslan," jawab suster itu khawatir.

Abel teringat Kakanya, ia berlari menuju parkiran, dan melajukan mobilnya dengan sedikit cepat. Sesampainya di perusahaan, Abel langsung menuju ruang kerja Reno. Ia meminta bantuan Kakaknya yang menurutnya ahli dalam bidang IT.

Reno menatap Abel dengan sorot mata yang sulit diartikan. Di satu sisi, ia masih menyimpan dendam pada Arslan atas luka lama adiknya, namun di sisi lain, ia tidak bisa mengabaikan gurat kecemasan yang begitu nyata di wajah Abel.

"Lo yakin mau melakukan ini, Bel? Setelah semua yang dia lakukan dulu?" tanya Reno sambil menghela napas panjang, jemarinya sudah berada di atas keyboard laptop kerjanya.

"Ini bukan soal masa lalu, Kak. Dia pernah membelaku, dan juga selalu ada di saat masa-masa tersulit ku akhir-akhir ini... Dia menghilang selama dua hari ini, aku takut dia kenapa-kenapa. Tolong, Kak. Hanya sekali ini saja," mohon Abel dengan suara yang hampir menghilang.

Reno terdiam sebentar, lalu mulai mengetikkan serangkaian kode. Sebagai pemilik perusahaan teknologi, melacak sinyal terakhir dari nomor ponsel atau transaksi kartu kredit terakhir Arslan bukanlah hal sulit baginya.

"Sinyal ponselnya mati sejak dua hari lalu di area rumah sakit. Tapi, ada transaksi sewa unit di apartemen low-budget daerah pinggiran, dekat rumah sakit umum, atas nama pribadinya dua malam yang lalu," ujar Reno sambil memutar layar laptopnya ke arah Abel. "Apartemen Bougainvillea, Unit 402."

Abel tidak menunggu lama. "Terima kasih, Kak."

"Abel!" panggil Reno sebelum adiknya keluar pintu. "Kalau dia memang mau sendiri, jangan dipaksa. Tapi kalau dia butuh bantuan... katakan padanya, jangan jadi pengecut dengan bersembunyi seperti ini."

Di Depan Pintu Unit 402

Abel sampai di depan pintu apartemen yang tampak suram itu. Lorongnya sepi, hanya ada satu lampu yang berkedip-kedip di ujung jalan. Ia mengetuk pintu kayu yang tampak kusam itu berkali-kali.

"Arslan? Arslan, ini aku, Abel. Aku tahu kamu di dalam."

Tidak ada jawaban. Sunyi senyap. Abel mencoba memutar kenop pintu, terkunci rapat. Ia bisa mencium aroma sisa hujan dan debu di lorong itu, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam.

"Arslan, buka pintunya! Farel mencarimu. Aku... aku juga mencarimu. Kamu tidak bisa menghilang begini setelah membuat kekacauan di depan rumahku dan membatalkan kontrak Kak Reno!" teriak Abel, mencoba memancing reaksi Arslan dengan sedikit amarah.

Masih tidak ada suara. Abel mulai panik. Ia takut Arslan melakukan hal yang nekat karena luka di pelipisnya kemarin terlihat cukup dalam dan emosinya tampak sangat tidak stabil.

"Arslan Raendra! Kalau kamu tidak buka dalam hitungan ketiga, aku akan panggil satpam untuk mendobrak pintu ini! Satu... dua..."

KLIK.

Suara kunci diputar terdengar pelan. Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan celah kegelapan dari dalam ruangan. Arslan berdiri di sana. Ia tidak memakai jas dokter, tidak memakai kemeja rapi. Hanya kaus hitam lusuh yang tampak kusut. Rambutnya berantakan, dan yang paling membuat jantung Abel mencelos adalah mata Arslan yang sembab, merah, dan benar-benar kehilangan binar hidupnya.

Plester di pelipisnya sudah setengah terlepas, memperlihatkan luka yang mulai mengering namun tampak memar kebiruan di sekitarnya.

"Kenapa kamu ke sini, Bel?" suara Arslan terdengar serak, hampir seperti bisikan yang menyakitkan. "Pulanglah. Kamu tidak seharusnya melihatku seperti ini."

Abel tidak peduli dengan penolakan Arslan. Begitu pintu terbuka sedikit, ia langsung mendorongnya dan menghambur masuk. Tanpa kata-kata, ia melingkarkan lengannya di pinggang Arslan, memeluk pria itu dengan sangat erat—seolah sedang mencoba menyatukan kembali kepingan diri Arslan yang telah hancur.

Arslan sempat terpaku, tubuhnya kaku seperti batu. Namun, kehangatan pelukan Abel dan aroma tubuhnya yang familier meruntuhkan sisa-sisa pertahanan terakhirnya. Arslan akhirnya luruh. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Abel, membenamkan wajahnya di sana, dan kembali terisak pelan. Bahu Abel terasa basah oleh air mata Arslan yang kembali tumpah.

"Sshhh... sudah, Arslan. Aku di sini," bisik Abel lembut, tangannya mengusap punggung Arslan dengan gerakan menenangkan.

Setelah beberapa saat, Abel menuntun Arslan yang masih lemas menuju satu-satunya sofa kecil di ruangan itu. Abel menatap sekeliling dengan hati yang mencelos. Apartemen itu sangat tidak layak untuk seseorang seperti Arslan. Kain-kain penutup barang masih bertengger di tempanya, debu menempel di mana-mana, dan tidak ada tanda-tanda makanan atau air di atas meja. Ruangan ini tidak terasa seperti tempat tinggal; ini terasa seperti tempat persembunyian seseorang yang ingin menghilang dari dunia.

Abel segera mengambil tasnya, mencari tisu basah dan air minum yang selalu ia bawa untuk keperluan Farel. Ia berlutut di depan Arslan, perlahan melepas plester di pelipis pria itu yang sudah kotor.

"Kenapa kamu membiarkan dirimu hancur seperti ini, Lan?" tanya Abel lirih sambil membersihkan sisa darah kering di wajah Arslan.

Arslan menatap kosong ke arah dinding. "Karena aku memang sudah hancur sejak lama, Bel. Kamu hanya melihat sisa-sisanya saja sekarang."

Abel terhenti, ia menatap mata Arslan yang kini terlihat sangat kosong. "Ini bukan cuma soal orang tua kamu, kan? Ada sesuatu yang kamu simpan rapat-rapat selama ini."

Arslan menarik napas panjang, ia mengambil ranselnya dan mengeluarkan foto usang seorang gadis kecil yang tadi ia peluk. Ia menyerahkannya pada Abel dengan tangan yang gemetar.

"Namanya Oktavia Raendra Dirgantara. Dia satu-satunya alasan kenapa aku menjadi dokter anak, dan dia juga satu-satunya alasan kenapa Papaku begitu membenciku," suara Arslan terdengar hampa. "Aku membunuhnya, Bel. Aku membiarkannya tenggelam karena aku ingin mengambil kado di dalam rumah. Hanya tiga menit... dan aku kehilangan dia selamanya."

Abel menerima foto itu, menatap wajah ceria gadis kecil dalam foto itu, lalu menatap Arslan. Segala teka-teki tentang sikap Arslan yang sangat protektif pada Farel, obsesinya menjadi dokter, dan hubungan dinginnya dengan keluarganya, kini terjawab sudah.

"Kamu tidak membunuhnya, Arslan. Itu kecelakaan," ucap Abel tegas, matanya berkaca-kaca.

"Tapi bagi orang tuaku, aku adalah pembunuh. Dan bagi diriku sendiri... aku adalah pengecut yang gagal menjaga satu-satunya hal yang paling berharga."

Abel meraih kedua tangan Arslan, menggenggamnya erat di atas pangkuannya. Di ruangan yang gelap dan berantakan itu, Abel memutuskan bahwa ia tidak akan membiarkan Arslan sendirian lagi—sama seperti Arslan yang tidak membiarkannya berjuang sendirian saat Farel sakit.

1
Ariany Sudjana
tetap waspada yah dokter Arslan, bagaimanapun kamu dokter, konglomerat pula, pasti banyak pelakor yang ingin menjadi istri kamu
Mifhara Dewi: bumbu kehidupan tetap akan di sajikan. tunggu bab selanjutnya ya Kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, tinggal langkah selanjutnya Arslan dan Abel
Mifhara Dewi: mau seperti apa nantinya Kak? langsung sat set atau belok2 dulu?
total 1 replies
Naomi Willem Tuasela
semangatttt Thor 👊🏼😇💙💗
Mifhara Dewi: terimakasih Kak
total 1 replies
Mifhara Dewi
Satu saran dari kalian adalah penyemangat untuk ku terus berkarya 🥰🙏
Dwi Sulistyowati
lanjut kak seru cerita nya
Mifhara Dewi: di tunggu updatenya ya kak. kita usahakan 1 hari bisa up 3 bab
total 1 replies
kucing kawai
Bagus bngt
Mifhara Dewi: terimakasih banyak Kak
total 1 replies
kucing kawai
up yg banyak ya thor
Mifhara Dewi: terimakasih kak, di tunggu ya bab selanjutnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!