Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.
Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.
Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.
Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.
Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuduhan Dyon
Bidan ngasih formulir. "Tolong isi data Bapak sama Ibu."
Andriano ngambil formulir, baca sekilas. Nama bapak. Nama ibu. Nama bayi.
Dia ngeliat Lestari. "Nama kamu siapa?"
"Les... Lestari Putri..."
"Nama bayi nya?"
"Antoni..."
Andriano nulis di formulir. Nama bayi: Antoni. Nama ibu: Lestari Putri. Nama bapak: Andriano Nattakusuma.
Dia nulis namanya sendiri.
Kenapa? Dia nggak tau. Mungkin karena... karena dia nggak mau bikin ribet. Atau mungkin karena... ada sesuatu di hati nya yang bilang—bayi ini butuh perlindungan. Dan kalau nama nya tercantum di surat, setidaknya... setidaknya ada jejak.
Formulir diserahin ke bidan. Bidan baca, ngangguk. "Baik, Pak. Surat kelahiran nya jadi besok. Bapak bisa ambil."
Andriano ngangguk.
Dia ngeliat Lestari lagi. Lestari yang lagi peluk Antoni—bayinya yang kecil, lemah, tapi... hidup.
Ada sesuatu di mata Lestari. Sesuatu yang... sesuatu yang bikin dada Andriano sesak. Kesedihan? Ketakutan? Keputusasaan?
Atau... campuran semua itu?
Andriano pengen nanya. Pengen tau. Kenapa perempuan semuda ini—dia pasti masih belasan tahun—kenapa dia bisa sekurus ini? Kenapa mata nya kosong gitu? Kenapa—
Tapi dia nggak sempet nanya.
Karena tiba-tiba—
BRAK!
Pintu ruang bersalin dibuka keras. Dibanting.
Masuk laki-laki—rambutnya gondrong acak-acakan, bajunya kaos kusut, celana jeans robek di lutut, mukanya... muka yang penuh kemarahan.
Dyon.
"LESTARI!" teriak nya keras.
Lestari langsung pucat. Tubuh nya kaku. Refleks peluk Antoni lebih erat—kayak takut bayinya diambil.
"Kamu... kamu kenapa di sini?! Kenapa nggak bilang?! Kenapa—" Dyon berhenti. Mata nya ngeliat Andriano. Andriano yang berdiri di samping tempat tidur Lestari.
Mata Dyon menyipit. "Lo... lo siapa?"
Andriano diem. Berdiri tenang. Nggak takut. Mata nya natap Dyon datar.
"Saya yang bawa dia ke sini. Dia lagi kontraksi di jalan. Saya bantu."
"BANTU?!" Dyon melangkah maju. "LO PIKIR GUE PERCAYA?! LO BANTU ATAU LO MAU MACAM-MACAM SAMA ISTRI GUE?!"
"Dyon, jangan..." Lestari nyoba bicara, suara nya lemah. "Dia cuma nolong... dia nggak—"
"DIAM LO! GUE LAGI NGOMONG SAMA DIA!"
Dyon maju ke Andriano. Jarak mereka cuma sejengkal. Dyon lebih pendek—tinggi nya cuma seratus enam puluhan. Andriano seratus tujuh puluhan. Jadi Dyon harus menengadah dikit.
"Lo... lo ngaku aja deh. Lo selingkuhannya kan? Bayi itu... bayi itu anak lo kan?!"
Andriano ngerem. "Apa?"
"JANGAN PURA-PURA NGGAK NGERTI! GUE TAU! Pasti lo yang menghamili dia! Terus lo mau tanggung jawab sekarang! Makanya lo bawa dia ke sini! Lo bayarin biaya persalinan!"
"Kamu gila," kata Andriano datar. "Aku nggak kenal dia sebelum ini. Aku cuma—"
BUGH!
Pukulan keras mendarat di rahang Andriano. Andriano terhuyung—nggak jatuh, tapi terhuyung.
"DYON JANGAN!" Lestari teriak. Antoni di pelukan nya langsung nangis—nangis keras—kaget sama teriakan.
Bu Ratih yang dari tadi di luar langsung masuk. "Dyon! Dyon hentikan! Dia cuma nolong! Ibu yang minta tolong dia!"
"LO JUGA TERLIBAT YA, BU RATIH?! LO BANTU ISTRI GUE SELINGKUH?!"
"Nggak ada yang selingkuh! Kamu gila apa?! Lestari lagi kontraksi, nggak ada kendaraan, dia nolong! Itu aja!"
Tapi Dyon nggak denger. Atau dia denger tapi nggak peduli. Dia lagi mabok—mabok judi. Habis kalah banyak di sabung ayam, pulang dengan kepala panas, terus denger istri nya nggak di rumah, terus nyusul ke puskesmas, terus liat ada cowok asing di situ.
Logika nya udah nggak jalan.
Yang jalan cuma amarah.
Amarah yang nggak rasional. Amarah yang buta.
Dyon mau mukul lagi—tangan nya udah kepal, udah diangkat—tapi Andriano lebih cepet. Andriano tangkap tangan Dyon, cengkram pergelangan tangan nya keras.
"Jangan," kata Andriano—suara nya rendah, dingin, tapi... mengerikan. "Jangan coba-coba mukul lagi."
Cengkraman Andriano kuat banget. Dyon meringis kesakitan. "Lepas... lepas gue!"
"Aku lepas kalau kamu janji nggak mukul lagi."
"LEPAS SEKARANG ATAU GUE—"
"Atau kamu apa? Mau mukul istri kamu yang baru aja melahirkan? Mau mukul bayi yang baru lahir? Kamu mau jadi monster sebesar itu?"
Mata Andriano natap Dyon tajam. Natap yang... natap yang bikin Dyon ciut. Entah kenapa. Mungkin karena mata Andriano punya sesuatu—sesuatu yang nunjukin dia nggak main-main.
Dyon narik tangan nya—Andriano lepasin.
"Lo... lo pikir lo siapa?! Lo pikir lo bisa atur-atur gue?! Dia istri gue! Bayi itu anak gue! Gue mau ngapain juga terserah gue!"
"Kalau kamu sayang sama istri kamu, kamu nggak bakal nuduh dia selingkuh tanpa bukti. Kalau kamu sayang sama anak kamu, kamu nggak bakal datang ke sini dengan muka marah-marah kayak gini."
Kata-kata Andriano menohok. Tapi Dyon tetep ngeyel.
"LO NGGAK TAU APA-APA! LO NGGAK TAU GIMANA SUSAH NYA HIDUP GUE! LO CUMA ORANG KAYA YANG NGGAK NGERTI—"
"Security!" Andriano noleh ke pintu. "Tolong keluarkan orang ini."
Dua security puskesmas langsung masuk—mereka udah siap dari tadi, denger ribut-ribut dari luar.
"Pak, Bapak harus keluar. Ini ruang bersalin. Nggak boleh ribut di sini."
"GUE NGGAK MAU KELUAR! INI ISTRI GUE! ANAK GUE!"
"Bapak bisa ketemu istri Bapak nanti setelah semua tenang. Sekarang Bapak harus keluar."
Security menarik Dyon—tarik paksa. Dyon ngelawan, tapi nggak kuat lawan dua security yang badannya gede-gede.
"LEPAS GUE! LEPAS! LESTARI! LESTARI LO DENGERIN GUE! LO SELINGKUH YA?! LO SELINGKUH SAMA DIA YA?! NGAKU!"
"Aku nggak selingkuh! Aku bersumpah aku nggak—" Lestari nangis. Antoni di pelukan nya nangis makin keras.
"LO BOHONG! PASTI LO BOHONG! BAYI ITU BUKAN ANAK GUE! GUE NGGAK MAU NGAKU ITU ANAK GUE!"
Kata-kata itu... kata-kata itu kayak hantaman palu di kepala Lestari.
Nggak mau ngaku.
Nggak mau ngaku Antoni anak dia.
Dyon diseret keluar. Suara nya masih terdengar dari luar—teriak-teriak, ngamuk, ngedumel.
Ruang bersalin jadi hening.
Lestari nangis. Nangis keras. Peluk Antoni yang nangis juga. "Maafin Ibu, Nak... maafin Ibu yang... yang nikah sama orang kayak dia... maafin Ibu..."
Bu Ratih langsung peluk Lestari dari samping. "Udah... udah Neng... jangan nangis... kamu harus kuat... demi Antoni..."
Bidan juga prihatin. Dia mengelus bahu Lestari pelan. "Ibu istirahat ya. Jangan stress. Nggak baik buat pemulihan."
Andriano masih berdiri di situ. Ngeliat Lestari yang nangis. Ngeliat bayi yang nangis. Ngeliat... pemandangan yang menyedihkan banget.
Hati nya sesak. Sesak parah.
Dia nggak tau kenapa. Dia kan nggak kenal perempuan ini. Baru ketemu sejam lalu. Tapi... tapi ada sesuatu di hati nya yang bilang—dia nggak bisa ninggalin perempuan ini begitu aja.
Tapi dia juga nggak bisa tinggal. Nggak bisa terlalu campur tangan. Ini urusan rumah tangga orang lain. Dia cuma orang asing yang kebetulan lewat.
Andriano ngeluarin napas panjang. Dia jalan ke pintu. Berhenti sebentar di ambang pintu. Noleh ke Lestari.
"Jaga diri baik-baik. Jaga anak kamu."
Lestari nengok—mata nya sembab, pipinya basah air mata. "Makasih... makasih banyak... aku... aku belum sempet berterimakasih dengan bener... kamu... kamu udah nolong aku... udah bayarin biaya... aku... aku nggak tau harus balas gimana..."
Andriano senyum tipis. "Nggak usah dibalas. Kamu fokus aja sembuh. Fokus jaga anak kamu. Itu udah cukup."
"Tapi... nama kamu... nama kamu di surat kelahiran... itu... itu nanti bisa bikin masalah—"
"Nggak papa. Biar aja. Anggap aja... anggap aja itu salah administrasi."
Andriano keluar. Jalan ke koridor. Security masih nahan Dyon di luar—Dyon masih ngamuk, masih teriak-teriak.
Andriano lewat. Dyon ngeliat dia.
"LO! LO JANGAN KABUR! GUE BELUM SELESAI SAMA LO!"
Andriano berhenti. Noleh. Natap Dyon dingin.
"Kamu tau kenapa istri kamu sekurus itu? Kenapa bayi kamu sekecil itu? Karena kamu. Karena kamu nggak becus jadi suami. Nggak becus jadi bapak. Kalau kamu punya hati sedikit aja... kamu bakal malu sama diri sendiri."
Dyon melongo. Nggak bisa jawab.
Andriano jalan lagi. Keluar puskesmas. Naik mobil nya. Mesin dinyalain. Mobil melaju—pelan keluar dari parkiran puskesmas.
Di dalam mobil, Andriano ngerem. Tangan nya mengenggam stir erat. Rahang nya mengeras.
Pemandangan tadi... pemandangan Lestari yang nangis sambil peluk bayi nya... pemandangan yang nggak bisa dia lupain.
Ada sesuatu di hati nya. Sesuatu yang bilang—dia harus bantu perempuan itu.
Tapi gimana?
Dia nggak kenal dia. Dia nggak tau dia tinggal di mana. Dia cuma tau nama—Lestari Putri.
Dan bayi nya—Antoni.
Antoni yang nama bapak nya di surat kelahiran adalah... dia sendiri. Andriano Nattakusuma.
Andriano ngeluarin napas panjang. Dia buka laci dashboard, keluarin kartu nama—kartu nama perusahaan nya. Nattakusuma Group. Perusahaan properti terbesar di Bandung. Dia direktur utama. Usia nya tiga puluh tahun, tapi udah jadi pemimpin perusahaan keluarga gara-gara bapak nya pensiun dini.
Dia natap kartu nama itu lama.
Terus dia simpen lagi.
"Semoga dia baik-baik aja," gumam nya pelan.
Mobil nya melaju. Ninggalin puskesmas. Ninggalin Lestari. Ninggalin Antoni.
Tapi di hati nya—ada sesuatu yang tertinggal.
Sesuatu yang nggak bisa dijelasin.
---
Di dalam ruang bersalin—
Lestari masih nangis. Bu Ratih masih peluk dia. Antoni udah berhenti nangis—sekarang cuma suara kecil, mata nya setengah merem.
"Neng... kamu harus kuat," bisik Bu Ratih. "Kamu punya Antoni sekarang. Kamu nggak sendirian lagi."
Lestari ngeliat Antoni di pelukan nya. Antoni yang kecil. Lemah. Tapi... hidup.
"Ibu... Ibu janji bakal jaga kamu," bisik Lestari ke Antoni. "Ibu janji... meskipun Bapak kamu nggak mau ngaku... meskipun Nenek kamu nggak peduli... Ibu bakal jaga kamu... Ibu bakal jadi Ibu sama Bapak buat kamu... Ibu janji..."
Antoni kayak denger. Tangan kecil nya—tangan seukuran ibu jari orang dewasa—menggenggam jari Lestari.
Genggaman lemah. Tapi... ada.
Lestari nangis lagi. Tapi kali ini... nangis yang beda. Nggak cuma sedih. Tapi juga... ada sesuatu yang lain.
Harapan.
Harapan kecil.
Harapan yang datang dari genggaman tangan kecil ini.
"Ibu sayang kamu, Antoni... Ibu sayang banget sama kamu..."
Di luar, hari mulai terang. Matahari mulai naik. Cahaya pagi masuk dari jendela ruang bersalin—cahaya oranye yang hangat.
Lestari ngeliat cahaya itu.
Cahaya yang... yang mungkin—hanya mungkin—cahaya harapan.
Tapi di sudut hati nya, ada pertanyaan yang terus bergema—
Gimana nanti kalau pulang ke rumah?
Gimana nanti kalau Dyon masih ngamuk?
Gimana nanti kalau... kalau dia disakiti lagi?
Gimana nasib Antoni?
Pertanyaan-pertanyaan yang nggak ada jawaban.
Pertanyaan yang cuma bisa dijawab sama waktu.
Waktu yang... waktu yang nggak tau bakal bawa apa.
---
Tiga jam kemudian, sekitar jam enam pagi. Security puskesmas udah melepas Dyon—dia udah agak tenang, nggak ngamuk lagi.
Tapi Dyon nggak langsung pulang.
Dia duduk di bangku taman puskesmas. Duduk sendirian. Rokok di tangan. Asap nya ngepul ke udara pagi.
Kepala nya penuh pikiran. Pikiran yang... kacau.
"Anak itu... anak itu beneran anak gue apa bukan?"
Pertanyaan yang terus berputar di kepala.
Dia inget—dia selalu maksa Lestari. Selalu. Tiap malam. Bahkan waktu Lestari hamil.
Jadi... kalau dihitung... bayi itu harusnya anak dia.
Tapi kenapa... kenapa ada cowok asing itu?
Kenapa cowok itu bayarin biaya persalinan?
Kenapa—
"Apa gue salah tuduh?"
Pertanyaan yang bikin dada nya nggak nyaman.
Tapi ego nya lebih besar dari rasa bersalah.
Dia buang rokok. Injek pake sandal. Berdiri.
"Terserah deh. Mau anak gue atau bukan, gue nggak peduli. Yang penting gue udah bilang—gue nggak tanggung jawab."
Dia jalan keluar puskesmas. Balik ke rumah.
Ninggalin Lestari.
Ninggalin Antoni.
Ninggalin tanggung jawab yang seharusnya dia pikul.
Dan di balik punggung nya—
Ada perempuan yang baru aja melahirkan.
Perempuan yang masih nangis.
Perempuan yang sekarang... harus jadi ibu dan bapak sekaligus.
Sendirian.
---
lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁