Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.
Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.
Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.
Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....
Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....
"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 : Wanita lain
Suasana kota pada pagi itu terlihat sudah diwarnai oleh kemacetan dan kebisingan kendaraan yang saling tak mau mengalah. Mereka seakan berlomba mengejar waktu untuk menjadi yang terdepan dan tak mau tertinggal, menunjukkan betapa kerasnya kehidupan di kota besar. Lengah sedikit, kau bisa tersalip atau hilang kesempatan.
Namun, di mana semua orang seperti dikejar waktu, hal itu tak berlaku bagi Arinta. Seorang pria yang baru dua bulan ini diangkat menjadi kepala manager bisnis digital di perusahaannya tak perlu harus memikirkan bagaimana nanti kalau ia datang telat ke kantor, seperti pada orang-orang kebanyakan. Justru sikapnya menjadi jauh lebih santai, seperti sekarang ini. Pria yang tahun ini akan genap menjadi 31 tahun itu terlihat sedang menelepon seseorang.
"Hari ini setelah jam makan siang, mau jalan-jalan, gak?" Ucap pria itu dengan nada suara yang sedikit merayu.
"Hmm, kemana ya enaknya?" Balas orang di seberang itu dengan suara nakal dan menggoda.
"Kita ke mall bagaimana? Aku belikan apapun yang kamu inginkan, mau?" Ujarnya memberi tawaran yang menggiurkan. Apapun yang diinginkan? Semua orang pasti mau.
"Bener nih?" Tanya wanita itu setengah meledek untuk mengetes saja.
"Ya bener, dong kalau buat kamu sih...." Ah, dia sedang mengeluarkan rayuan mautnya sekarang.
"Hmm, aku mau cincin atau kalung, hayo?" Wanita itu terdengar menantang. Ia ingin tau apa Arinta serius mengabulkan barang yang ia inginkan.
"Apapun, siang ini kita beli yang kamu inginkan," jawabnya dengan mantap dan langsung mendapat teriakan semangat dari arah seberang.
"Yeay! Bener ya? Awas kalau bohong! Aku aduin ke Istri kamu!" Ancamnya setengah bercanda.
"Jangan diaduin juga dong, Mel..., nanti bisa bubar kita!" Balas Arinta tertawa tanpa menyadari kalau apa yang diucapkannya barusan sangatlah salah.
"Oke, aku mau siap-siap ke kantor, sampai ketemu nanti di sana, sayang!"
Mereka mengakhiri telepon dengan ciuman jarak jauh. Arinta menggeleng sambil menatap jalan yang masih tersendat, senyumnya menyimpan rahasia yang tidak boleh diketahui istrinya. Lalu, ia kembali melajukan kendaraannya yang masih merayap di antara kemacetan.
.
.
Sementara itu Alena, wanita yang merupakan istri sah dari Arinta sama sekali tidak mengetahui perbuatan apa yang sedang dilakukan oleh suaminya. Semenjak menikah dengan Arinta dan memiliki anak, Alena memilih untuk berhenti dari pekerjaan untuk fokus merawat buah hati mereka, Alea Sukma Putri yang tahun ini baru saja genap lima tahun.
Dia merelakan karirnya yang sudah sangat baik sebelumnya demi menjaga anak dan amanah Arinta yang ingin sang anak dapat Asi ekslusif.
Sebenarnya ia sempat kepikiran untuk kembali bekerja saat Alea sudah berusia lima tahun, tapi ternyata diusia itu sang anak malah lagi lucu-lucunya yang bikin hatinya ragu padahal dia sudah ada tawaran bekerja dari kawan lamanya.
"Jadi lu nolak tawaran kerja dari gue nih?" Seorang wanita cantik berpakaian warna kuning.
Ia tampak terkejut karena menurutnya ini kesempatan bagus bagi Alena untuk kembali bekerja dan bisa langsung mendapat posisi bagus.
"Aduh, gimana dong, Alea lagi lucu-lucunya sih," jawabnya sembari menatap sang buah hati yang baru saja berlari kecil melewatinya untuk mengambil mainan.
"Alea ayo sini, main sama Bibi!" Seorang wanita memakai pakaian seragam khas baby sitter berwarna putih dengan bagian ujung kerah dan lengan baju berwarna merah-muda memanggil gadis kecil itu.
Alea, nama gadis kecil itu berlari sambil menggendong boneka kelinci di tangan. Alena menatapnya dengan penuh kasih dan tanpa sadar sebuah senyuman tulus terukir pada wajahnya.
"Lu beda ya sekarang, padahal dulu workaholic banget...," ujar sang kawan dengan binar mata yang sulit dijelaskan. Ia tampak kagum dengan perubahan Alena yang bahkan sudah memakai hijab.
"Buat gue sekarang anak nomor satu, apalagi kerjaan Anta udah bagus sekarang..., jadi ya gue bisa ngerasa lebih aman dan tenang untuk masa depan Alea...," ungkapnya dengan jujur yang memang lebih ingin prioritaskan sang anak.
"Oh iya ya, suami lu baru naik jabatan 'kan?" Tanya sang teman mengkonfirmasi.
"Iya, kira-kira udah beberapa bulan lalu sih." Alena mengangguk dengan tatapan yang masih fokus kepada sang putri yang asik bermain dengan babysitter-nya.
"Wah, jadi udah enak lu ya..., pantesan udah bisa sewa jasa babysitter...," balas sang kawan merasa takjub sama perubahan yang terjadi di kehidupan Alena dan Arinta.
Masih ingat betul dalam pikirannya dulu waktu pertama kali ke Jakarta keduanya hanya mengontrak rumah kecil demi menghemat. Arinta yang baru menikah pun juga baru mendapat pekerjaan setelah lama tak mendapat penghasilan Sementara saat itu Alena lah yang menyokong kehidupan mereka sehari-hari karena pekerjaannya sudah stabil lebih dahulu.
"Gue salut banget sama laki lu. Dia pekerja keras banget ya, dalam 4 tahun aja dia bisa jadi kepala manager sekarang, di mana normalnya itu butuh waktu 7 sampai 10 tahun loh!"
"Yah, aku sih bersyukur aja, Din...." Sebuah senyuman mengembang di wajahnya. Ada rasa bangga yang ia rasakan kalau mau membicarakan soal usaha dan perjuangan Arinta.
"Tapi..., lu gak khawatir...?" Tanya Andini dengan gaya bahasa yang sedikit mencurigakan.
Melihat kelakuan sang kawan, Alena pun hanya mengernyitkan alis dan bertanya balik, "khawatir apanya?"
"Masa lu ga ngerti??" Andini menatap gak percaya ke arah Alena.
"Apaan sih?" Alena pun hanya menggeleng polos.
"Aduh, gini ya, Len...." Wanita itu segera merapatkan posisi duduknya. "Biasanya laki-laki itu bakal diuji ketika lagi di atas, lu gak takut suami lu ternyata...." Andini sempat melirik sang pengasuh lalu kembali menggeser posisi duduknya semakin dekat dengan Alena. "Ada main sama temen kantornya...," ucapnya melanjutkan sambil setengah berbisik ke telinga Alena.
"Ah, ngomong apa sih. Gak mungkin Arinta kayak gitu!" Alena langsung menjauhkan diri sesaat dari Andini dan dengan cepat menepis dugaan itu.
"Gue serius! Di kantor gue banyak itu kejadiannya! Lu perhatiin aja deh gerak-gerik Arinta, ada yang aneh gak? Soalnya temen kerja Laki gue sama di tempat gue lumayan banyak yang begitu!" Andini langsung memberikan penjelasan yang terjadi di lapangan kantor yang dia amati diam-diam buat bahan gosip.
"Coba lu perhatiin, si Arinta mulai banyak alesan lembur gak tuh? Kalau iya, bisa jadi itu tanda pertama meski gak selalu bener sih, bisa aja dia lembur beneran! Tapi liat frekuensinya udah sesering apa? Kalau kelewat sering, lu udah mulai harus curiga."
Pada akhirnya omongan Andini yang terakhir itu telah membuat Alena kepikiran sepanjang siang hingga menjelang malam.
Masa sih Arinta selingkuh....
Batin Alena mulai gusar. Jujur saja semua ucapan Andini terngiang di dalam isi otaknya. Memang, Arinta belakangan ini menjadi sering lembur, pulang telat dengan alasan pekerjaan, tapi masa lembur bisa empat kali seminggu kayak begitu??
Semakin dipikirkan ia malah semakin cemas. Diliriknya jam pada dinding di area dapur sudah menunjukkan hampir jam 05:00 sore dan biasanya Arinta akan selalu meneleponnya kalau seandainya ia pulang terlambat.
Kemana kamu? Kok ga ngirimin kabar?
.
Bersambung....
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang