NovelToon NovelToon
Hanya Wanita Pelarian

Hanya Wanita Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Dijodohkan Orang Tua / Pernikahan rahasia / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.

BLAMM!!

Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.

"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.

Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.

Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.

Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?

Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gundah

CEKLEK

Rama masuk ke kamarnya. Tertegun melihat Ayan tidur dilantai beralas bedcover dengan jilbab instan masih menutup kepalanya.

"Kenapa dia begitu keras kepala? " gumam Rama lirih.

Dengan sisa tenaga, ia menggendong Aya dan meletakkannya di atas ranjang.

Karena begitu mengantuk, Aya tak merasa sama sekali tubuhnya diangkat. Ia hanya menggeliat saat diletakkan di atas ranjang yang lebih empuk dari bedcover. Seperti sedang bermimpi, ia melanjutkan tidurnya dengan guling masih dipelukan.

Rama menatap jam di dinding yang menunjuk pukul satu dini hari. Hari yang sangat melelahkan karena menghadapi dua perempuan yang keras kepala. Satu keras kepala menolaknya, yang satu keras kepala tak mau melepasnya.

Ia ke kamar mandi menyegarkan diri dengan air hangat. Tubuhnya makin rileks setelah mandi. Ia sempat tertegun lama di depan cermin lemari melihat Kiss mark yang dibuat Amel tadi.

"Bagaimana menghilangkan bekas ini? Bisa makin jutek Aya besok, " dengusnya kesal.

"Hhhh.. pikir besok aja lah. "

Rama berlalu ke ranjang dan merebahkan diri di sisi Aya yang tidur menyamping. Rama menatap Aya cukup lama, terpesona dengan kecantikan gadis polos tapi keras itu.

'Betul kata Papa, dia tak kalah cantik dengan Amel, ' batin Rama.

Rama teringat bujukannya tadi dengan Amel. Tawarannya supaya mereka hidup Masing-masing di tolak mentah-mentah oleh wanitanya itu. Padahal Rama sudah mengirim uang saku tiga puluh juta untuk liburan ke rekeningnya dan juga tawaran-tawaran lain yang menggugah sebagian besar wanita yang selalu menjadikan materi sebagai prioritas hidupnya.

Rama sebenarnya penasaran, rahasia apa yang diketahui Papanya soal Amel. Dan ia teringat sikap canggung wanita itu saat dirinya menyinggung hal itu.

Pikirannya penuh dengan pertanyaan. Rama yang tadi menerawang langit, menoleh lagi menatap setiap sisi ciptaan Tuhan di hadapannya. Bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, bibir yang sedikit tebal, bentuk wajah yang oval sedikit bulat.

'Aah betul-betul menenangkan menatap wajahnya, apalagi saat tertidur seperti ini. Bagai bayi polos yang menggemaskan, ' batin Rama.

Tak sadar bibirnya melengkung dan ingin sekali ia mencium bibir itu, tapi urung karena tak mau Aya mengamuk karena sudah membangunkannya.

Rama menatap langit-langit kamar lagi, perlahan ia terpejam, merasakan kesunyian malam. Hanya detak jam dinding yang teratur bagai alunan nada yang meninabobokannya.

***

KEESOKAN PAGINYA

Alarm adzan subuh berbunyi dari handphone Aya. Aya meraba ke samping mencari ponselnya yang ia letakkan di samping bantalnya dengan mata yang masih terpejam.

'Apa ini? seperti hidung?' batinnya.

Seketika matanya terbuka lebar saat merasakan deru nafas di jarinya, lalu menoleh ke samping.

"Astaghfirullah, " pekiknya.

Sambil menjauhkan tangannya dari mulut Rama. Tubuhnya sontak terduduk.

"Kenapa aku ada di atas kasur? " gumamnya.

Bergegas ia turun dari ranjang.

Pekikan nyaring Aya tak membangunkan Rama sama sekali.

"Jam berapa dia pulang sampai tak mendengar keributan sama sekali? " gerutu Aya sambil mencari ponselnya yang ternyata sudah berpindah ke atas nakas.

"Bang, bangun. Sudah subuh. "

Telunjuk kanan Aya menekan-nekan dada pria itu membangunkannya.

Rama mengerjap perlahan. Bayangan Aya berdiri tepat di depannya membuatnya merasa itu bagian dari mimpinya.

"Ayo bangun, sudah subuh."

Nada panggilan Aya sudah naik satu oktaf.

Tubuh Rama bergerak pelan karena lengannya terus ditekan-tekan dengan telunjuk.

Rama menangkap jari itu, lalu menarik tangan Aya dengan cepat sampai Aya terjerembab di atas tubuhnya.

"AAH.."

" Bang..lepas nggak?! "

Tubuh Aya meronta berusaha melepas pelukan Rama yang makin erat.

"Sebentar aja, aku masih ngantuk."

"Ya sudah, kamu tidur lagi aja, tapi nggak usah ajak aku juga."

Rama tersenyum lalu melepas pelukannya. Tubuhnya berbalik meraih guling dan memeluknya erat.

"Heeh, dasar. Awas aja kamu ku laporin Ami Usman, malas sholat subuh."

Aya berlalu ke kamar mandi.

Mata Rama terbuka, ia sudah janji pada Ami Usman akan menjadi imam yang baik untuk Aya. Meski jauh kontras dengan realita kehidupannya yang abai soal agama, tapi ia mengusahakan untuk menepati janjinya itu.

Dengan tubuh berat ia memaksakan diri untuk bangun dan duduk sambil menghela nafas.

CEKLEK

Aya sudah keluar dari kamar mandi. Wajahnya basah dengan air wudhu yang membuatnya terlihat lebih bercahaya.

Rama menatap lama wajah istri sahnya itu. Seperti seorang bidadari yang bercahaya, siap bersujud menghadap Sang pencipta.

"Ternyata nama Ami Usman cukup mempan buat penangkal setan di telinga mu, ku pikir hanya nama Umar setan takut. Hahahaha, " ejek Aya dengan tawanya yang belum pernah Rama lihat sebelumnya.

Rama tertegun melihat gelak tawa itu lalu ikut tersenyum.

"EKHEM.. "

Gelak tawa Aya seketika senyap. Suara dehem itu cukup menyadarkan Aya dimana dia sekarang.

Ayo terdiam, lalu mengambil mukena dan menggelar sajadah.

"Tunggu, aku wudhu sebentar. Kita shalat jamaah, " minta Rama.

Rama masuk ke kamar mandi. Berdiri lama di depan cermin kamar mandi.

"Sepertinya Aya tak melihat ini tadi, tutup pakai apa ya? " gumam Rama lirih sambil memegang beberapa kissmark di lehernya.

Rama menggosok gigi, lalu berwudhu sambil mengingat bacaan surah al Ikhlas yang ingin ia baca saat shalat nanti di dalam hati.

TOKTOKTOK

"Bang, cepetan. Keburu syuruq, " panggil Aya yang terdengar gemas.

Rama sampai lima belas menit tak juga keluar dari kamar mandi sedangkan iqamah mungkin sudah lewat sepuluh menit yang lalu.

CEKLEK

"Bawel banget pagi-pagi, " gerutu Rama.

Ia membuka lemari mengambil baju koko yang hanya dua lembar di lemarinya. Mengenakan sarung dengan asal sekedar menutup celana pendeknya.

Aya terus menunduk menahan malu karena ia tak pernah melihat pria dengan penampilan begitu. Rama keluar kamar mandi dengan hanya menggunakan kaos dalam singlet dan celana kolor.

Sajadah ia gelar.

Shalat jamaah di mulai.

Aya sempat mengernyit saat mendengar bacaan shalat Rama, tapi ia berusaha tetap khusyuk.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi"

"Assalamu'alaikum warahmatullahi"

Rama bernafas lega, tak ada koreksi dari bacaannya. Jantungnya sampai berdegup kencang khawatir ada kesalahan dalam setiap bacaan.

Entah kapan terakhir ia sholat. Surah Al Fatihah masih tertancap di memorinya dari hafalan pulang mengaji saat masih SD, tapi Surah lain hanya tiga kul yang masih ada itupun samar-samar.

Rama menoleh ke belakang menatap Aya yang tengah fokus berdzikir sambil menutup mata.

Ia sebenarnya malu menjadi imam shalat untuk Aya, tapi ia akan lebih malu kalau menolak sholat.

"Bang, " panggil Aya.

Rama terkesiap, bukannya berdzikir dia malah melamun.

" Ya? " tanya Rama menoleh ke belakang.

"Di sini masjid jauh ya? " tanya Aya.

Lumayan sekitar 200 meter.

"Itu sih dekat. Lain kali abang shalat di masjid aja ya, lebih afdhal. Perempuan afdhalnya di rumah."

Rama tertegun, "Apa hanya karena Afdhal di masjid?" tanyanya cemas.

"Memangnya ada alasan lain?" tanya Aya.

Ia berdiri menghampiri Rama dan mencium punggung tangan suaminya.

Rama bersyukur Aya tak mengevaluasi shalatnya yang ia sadari masih sangat jauh dari baik, tapi menyarankan untuk mengejar shalat terbaik di masjid.

"Aya, ngobrol sebentar yuk."

"Bukannya ngantuk? katanya mau tidur lagi?" ejek Aya.

"Nggak, nanti aja habis ini."

"Yah dikira emang nggak mau tidur lagi."

Rama tersipu. Aya duduk tak jauh dari Rama.

"Kenapa? "

"Semalam, aku tak berhasil membujuk Amel. Tapi, kita punya kesempatan untuk mengadakan resepsi bulan depan. Mumpung dia keluar negri. Jadi dia tak mengganggu acara kita."

Aya tertegun, nafasnya tercekat tak menyangka mendapat permintaan secepat ini.

"Bulan depan? terus persiapannya gimana bang? nggak kecepetan?"

"Perkiraan ku dengan kondisi Mama dan Papa, waktunya Pas. Soal persiapan kita urus pelan-pelan. Nanti kita cari vendor yang bagus sekalian bisa handle paket dekor, catering, Make up dan fotografer. Kayaknya temanku punya kenalan vendor yang bisa paket lengkap. Tinggal nanti fitting baju kita cari sendiri."

Aya masih tak siap, sedangkan Rama belum berhasil melepaskan diri dari kekasihnya.

"Bang, tapi aku minta kamu pastikan bisa melepas pacarmu dulu kan? baru resepsi."

"Aku bakal tetap berusaha meski resepsi sudah dilangsungkan."

Aya tetap kesal. Penjelasan Rama sama sekali tak membuat perasaannya merasa lebih baik.

"Aya, pikirkan umi dan ami Usman. Mereka sangat berharap pernikahan ini segera di syiarkan. Begitu juga mama dan papaku. "

Lagi-lagi Rama menggunakan keluarga dan orang tuanya untuk memaksa Aya.

Tangan Aya menggosok ujung mukena hingga kumal, wajahnya makin cemberut. Ia tak bisa membayangkan jika kabar pernikahannya tersiar sedang kabar kedekatan Rama dengan model lokal itu juga mencuat. Mau di taruh dimana wajahnya.

1
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: masih review ya kak🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
up
Cahaya Tulip: masih direview sistem kak.. ditunggu ya🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. on progress🙏😁
total 1 replies
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
waalaikumsalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!