Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.
Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.
Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'
Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Selingan
Bian menguap beberapa kali. Ia sudah mulai mengantuk. Ia memang tidak terbiasa tidur larut malam. Paling terlambat ia pasti sudah tidur sebelum jam 10 malam. Sang ibu selalu mengatakan begadang tidak bagus untuk kesehatan kulit. Sebagai seorang model tentu ia harus menjaga kulitnya sejak dini agar tetap kencang dan bersinar hingga ia dewasa nanti.
Ia menghabiskan semua jus jeruk tanpa gula yang dipesannya, berniat untuk ke kamar lebih dulu. Bian pun melihat ke arah Dinda berharap ia melihatnya. Saat Dinda melihat ke arahnya segera Bian melambai dan beruntung Dinda melihatnya.
"Gue balik ke kamar duluan ya? Ngantuk pengen tidur," ucap Bian sambil mengisyaratkan dengan tangannya juga agar Dinda lebih paham.
Dinda pun paham dengan Bian yang pamit ke kamar lebih dulu. Ia pun mengacungkan ibu jarinya. "Okay!" ucapnya sambil menganggukkan kepala.
Kemudian Bian pun pergi ke kamarnya tanpa mengatakan apa pun pada Kay dan Rere karena kedua sahabatnya itu entah ada di mana sudah tertelan dalam lautan manusia yang bersenang-senang di lantai dansa.
Di tengah lantai dansa, Kay dan Saga semakin tak berjarak. Bahkan sesekali Kay menggoyangkan pinggulnya mengenai benda di antara kedua paha Saga. Saga pun semakin 'bangun'.
"Kamu nakal sekali. Saya ini guru kamu, Kay," ujar Saga berteriak tepat di telinga Kay.
Kay tertawa mendengarnya. "Itu 'kan kalau di sekolah. Di sini Bapak cuma seorang cowok biasa, dan aku cuma cewek biasa. Bapak emang gak mikir kalau ini tuh menarik? Adrenalin Bapak apa gak terpacu?"
Saga tertawa mendengar penuturan Kay. Gadis ini menarik sekali, pikirnya. Kayra memiliki pemikiran yang sebetulnya terlalu dewasa untuk usianya. Meskipun demikian Saga tak berniat melewatkan kesempatan ini. Ia kesampingkan akal sehatnya yang mengatakan bahwa dia adalah seorang guru yang seharusnya menjaga jarak dari para siswinya.
"Okay, aku setuju. Karena kita sekarang sedang tidak melihat siapa kita, kamu jangan panggil aku 'bapak'. Panggil aku Kak Saga," teriaknya tepat di telinga kanan Kay.
"Okay, Kak Saga. Lets dance again!"
Bertepatan dengan itu musik berganti sehingga orang-orang bersorak lebih semangat. Saga dan Kay larut dalam tarian mereka yang semakin tak berjarak. Hingga...
"It's time for kiss i think," ujar Kayra.
"As you wish." Saga langsung saja melmat bibir Kay di tengah tariannya. Kemudian saat ciuman itu semakin membuncahkan hs ratnya, Saga menjauh menjauh. "Ikut aku."
Saga menggandeng tangan Kay keluar dari kerumunan orang yang masih menikmati musik yang Luis putar. Ia terus berjalan keluar klub. Di lorong mereka kembali bercumbu.
"Ashhh...Kak Saga..." dsah Kay saat Saga mulai bermain di lehernya.
"Kamu mau kita lanjut?" tanya Saga yang juga sudah dipenuhi kabut ga i rah.
"Yes...please...bawa aku ke mana pun dan sentuh aku... Masukin punya Kak Saga ke dalam aku..." Kay sudah benar-benar dikuasai rasa itu.
"Kamu gadis nakal," komentar Saga gemas. "Fine, kita check in."
Kemudian mereka sudah tiba di sebuah kamar. Mereka sudah berada di tempat tertutup tanpa gangguan. Nyaman dan leluasa. Tangan Saga mulai bermain lebih liar. Pakaian mereka terlepas satu per satu dari tubuh mereka. Kemudian tubuh mereka pun menyatu dan menikmati setiap kali gesekan terjadi pada kedua benda sensitif kini menyatu.
"Oh....sht...Kak Saga...you are the best...ahh...enak banget, kak...." racau Kay saat kenikmatan itu terus memuncak dan membuncah.
Hingga semuanya berakhir saat hal ternikmat itu datang pada mereka berdua. Keduanya terbaring di tempat tidur dengan tubuh penuh peluh saking bru tal nya gerakan mereka barusan.
"Kak Saga jago banget. Aku yakin semua cewek yang pernah sama Kakak pasti puas banget," puji Kay masih menetralkan nafasnya.
"Kamu juga sama. Kamu selalu rawat itu kamu ya? Wangi dan warnanya pink. Cuma orang impoten dan g a y yang gak akan bisa tahu kalau ML sama kamu senikmat ini," puji Saga balik.
"Kak Saga lebay deh. Lain kali boleh lagi gak?" tanya Kay dengan nada menggoda.
"Boleh dong. Chat aja, nanti kita janjian."
Saga pun beranjak dan mulai kembali berpakaian. "Aku duluan ya. Kamar ini milik kamu. Pakai aja kapan pun kamu mau. Tinggal bilang aja sama resepsionis."
"Serius, Kak? Tapi kok bisa?" tanya Kay heran. Bagaimana bisa Saga semudah itu mengatakan seakan kamar ini adalah miliknya.
"Aku anggota VIP hotel ini. Kamu berhak dapetin fasilitas ini. Jangan main di hotel murah. Orang secantik dan sehebat kamu, hanya pantes main di kamar hotel kayak gini."
Kay tersipu. "Hebat?"
Saga mendekat pada Kay setelah ia berpakaian lengkap. "Hebat di ranjang," puji Saga sambil mencium lembut bibir Kay.
"Kak Saga gak mau satu ronde lagi sama aku emangnya?" pinta Kay manja. Ciuman itu membangunkan hs rat Kay lagi.
"Aku harus jemput Bian. Lain kali ya," ujar Saga.
"Bian mau nginep bareng kita-kita, Kak. Kita bahkan patungan sewa kamar hotelnya."
Saga berjalan menuju pintu. "Dia gak boleh nginep di sini. Dia harus pulang. Bye, aku duluan ya." Saga menutup pintu, namun tak sampai dua detik pintu kembali terbuka. "Kay, ini rahasia kita ya. Jangan sampai siapa pun tahu. Apalagi orang-orang di sekolah. Terutama Bian. Okay?"
"Iya, Kak. Semua rahasia kalau sama aku udah pasti bakalan aman." Kayra menyatukan telunjuk dan ibu jarinya kemudian menggerakkannya dari kiri ke kanan seperti menutup resleting.
"Good girl. Bye, cantik." Saga mengedipkan sebelah matanya dan menutupnya.
Kayra kembali membaringkan tubuhnya dengan riang. "Yes! Gue beruntung banget malam ini."
...***...
Bian baru saja mengganti pakaiannya dengan piyama saat seseorang mengetuk pintu kamar hotelnya.
"Itu pasti mereka," gumamnya riang. "Cepet juga mereka udah pada balik."
Kartu akses memang sengaja dipegang oleh Bian karena Bian pasti yang paling cepat kembali ke kamar dibanding yang lain.
"Kalian udah ba..."
Pintu baru terbuka, ucapan Bian pun belum selesai, namun Saga sudah masuk ke kamar itu mendorong Bian masuk dan menutup pintu. Tanpa menunggu bibirnya sudah me lmat bibir Bian.
Bian mencoba mendrong Saga dengan sekuat tenaganya, namun tenaga Saga masih sama, jauh lebih kuat hingga Bian kembali kalah.
Saga menjauhkan bibirnya. Kemudian tamparan Bian sudah mendarat pada pipi Saga.
"Bisa gak sih lo lebih ngehargain gue?! Kenapa juga lo bisa ada di sini?!" teriak Bian murka.
"Kamu lupa janji apa sama Kakak?" Nada Saga mengancam.
"Tapi gak di sini! Gue 'kan lagi bareng sama temen-temen gue. Bisa 'kan lo gak perlu sampai susulin gue ke sini?"
"Temen-temen kamu masih di klub. Dinda masih nemenin Luis yang ngeDJ sampai jam 2 malem. Regina lagi bareng Andre tadi Kakak lihat. Terus Kayra pergi sama cowok keluar klub. Mereka pasti bakal masih lama. Terus kamu mau ngapain sendiri di sini? Mana udah ganti pakai piyama. Kamu mau tidur sementara temen-temen kamu seneng-seneng?"
Bian menghela nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya kasar. "Kalau Theo ada, gue pasti lagi bareng sama dia."
"Kamu gak usah sedih gitu. 'kan masih ada Kakak. Kakak ke sini buat jemput kamu. Yuk kita pulang?"
"Gak! Gue gak mau pulang. Mending gue di sini sendirian daripada di rumah sama lo!"
"Fine. Di sini juga boleh." Saga merengkuh pinggang Bian.
"Lo jangan macem-macem!" Bian mendorong dada Saga menjauh.
Namun Saga tak menggubrisnya. Ia kembali mel mat bibir Bian.