Apa yang kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Takdirkan yang akan membawa kita ke jalan yang sudah di gariskan.
Lidia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah kejadian malam itu. Niat ingin membantu malah berakhir jadi hal buruk yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Mahkota yang ia jaga di renggut paksa oleh Panca suami sahabatnya sendiri. Semenjak itu ia tak bisa lepas dari jeratan Panca. Sekeras apapun ia menolak ia tak bisa mengelak akan pesona panca yang notabene adalah atasannya sendiri.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah sahabatnya akan mengetahui perbuatan buruknya dan bagaimana kisah anatara dirinya dan panca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Setelah pertemuanya dengan Wulan sang sahabat, hati Lidia gundah gulana. Rasa bersalah itu makin menggerogoti hatinya. Apa yang harus ia lakukan agar tak saling menyakiti.
"Maafin aku Wulan, aku juga binggung dengan perasan aku ini. Aku tak bisa menolak sentuhan Panca." gumam Lidia sambil memejamkan matanya karna menahan sesak.
Lidia mengabaikan panggilan dan pesan dari Panca. Ia tak mau di ganggu untuk saat ini. Ia pe4lu merenung langkah yang harus ia ambil. Tak mungkin selamanya ia jadi dari bagi sahabatnya sendiri.
Bukan Panca namanya jika panggilan dan beberapa pesannya di abaikan Lidia. Lelaki itu langsung menghampiri Lidia ke apartemennya. Tak peduli hari sudah mulai larut, baginya sebelum mengetahui kondisi Lidia ia tidak akan bisa tenang.
Sesampainya di parkiran, lelaki itu secepat kilat naik keatas menggunakan lift. Suasana nampak begitu sepi, mungkin para penghuni sudah terlelap di kamar mereka.
Robby yang sudah tau kode pintu Lidia dengan mudahnya ia bisa masuk kedalam apartemen Lidia. Panca mencari keberadaan orang yang begitu ia rindukan. Nampak di ranjang Lidia tengah tertidur.
Panca perlahan duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan wajah damai Lidia. Tangan Panca perlahan memindahkan anak rambut yang menutupi pipi Lidia. Ada senyum di sudut bibir Panca.
"Rupanya kamu sudah tidur sayang." Panca mencium kening Lidia lembut dan setelah itu merangkak naik memposisikan tubuhnya tepat di samping Lidia. Panca memeluk Lidia dan ikut memejamkan matanya. Lidia yang tak sadar jika ada Panca di kamarnya malah merasa nyaman saat ia bisa mencium aroma yang selalu membuatnya mabuk selama ini. Berdua mereka tertidur saling berbagi kenyamanan hingga tak terasa pagi kembali telah datang.
Cahaya matahari di balik tirai menerobos masuk melalui celah yang tersingkap saat terkena angin. Lidia mengeliat dari tidurnya. Ia merasakan ada restu yang teras berat menghimpit tubuhnya. Perlahan matanya terbuka sedikit demi sedikit menyesuaikan pendar cahaya lampu.
"Pak Panca." gumamnya kaget saat melihat wajah lelaki yang semalam jadi buah pikiranya. " Kenapa dia ada di sini? Kapan ia datang? Kok aku ga ngeh ya." bathin Lidia.
Dengan sangat hati - hati Lidia memindahkan tangan Panca yang tengah merangkul pinggangnya. Baru saja hendak turun dari ranjang ada tangan koko yang tiba - tiba menariknya kembali jatuh di ranjang.
"Mau kemana?" tanya suara serak khas bangun tidur.
Mau kekamar mandi, pak." jawab Lidia sambil menahan nafas karna tegang.
"Nanti saja, temani aku dulu." Panca mempererat pelukanya dan semakin mendekatkan wajahnya dengan Luna. Dalam hitungan detik bibir Panca sudah mendarat di bibir Lidia. Pagutan yang awalnya lembut berubah jadi sedikit liar dan menuntut lebih.
Lidia tak bisa menolak permainan Panca, ia ikut terbawa arus yang di ciptakan Panca.
"Pak, ini masih pagi. Apa bapak ga kekantor hari ini?" tanya Lidia di sela aktivitas panas meraka.
"Nanti saja, aku merindukan kamu Lidia. Kenapa semalam panggilan dan kesanku tak di balas."
"Ga dengar pak."
"Kamu harus di hukum karna telah membuat aku kwatir.
"Tapi pak,...." belum sampai Lidia melanjutkan kata - katanya, mulutnya telah kembali di bungkam Panca. Lidia yang sudah bisa membalas dan mengimbangi permainan Panca. Pagi yang dingin berubah jadi panas. Keduanya sudah di kuasai napsu dan tak ingat apapun. Entah sudah berapa kali mereka mencapai puncak, Panca berhenti saat melihat wajah lelah kekasihnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Assalamualaikum, thor kembali up ya.
Di tunggu supportnya kk.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 👍😘🙏
atau adit br dipindah ke kantor nya panca?
atau adit atau lidia ga pernah saling cerita mrk kerja dimana?