NovelToon NovelToon
Digodain Pocong

Digodain Pocong

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Irawan Hadi Mm

Kata pepatah 'mulutmu adalah harimaumu' mungkin itu yang terjadi pada sebuah keluarga yang merasa dirinya tinggi maka bisa merendahkan orang lain.
Hal itu terjadi pada Yusuf dan keluarganya. Kesombongan mereka membuat mereka hidup tak tenang karena ada yang sakit hati pada mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irawan Hadi Mm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 17

Sementara tangan Yusuf yang lain, menekan kening Wati dengan jempol dan jari telunjuknya.

‘Abang lagi ngapain si Wati, si?’ pikir Sifa dengan jiwa keponya, dihadapkan dengan punggung sang suami.

Usai melafalkan apa yang perlu ia baca, Yusuf meniup puncak kepala Wati sebanyak 3 kali.

Yusuf mengambil segelas air putih yang ada di atas nakas, dekat dengan tempat tidur sang anak. Seperti sebelumnya, ia juga melafalkan doa pada air itu. Setelahnya ia baru membasahi telapak tangannya.

“Wati! Bangun, neng!” seru Yusuf, sembari membasuh wajah Wati dengan air yang ada di telapak tangan kanan nya.

Yusuf juga menyapu puncak kepala Wati, dengan telapak tangannya yang sudah ia basahi air kembali.

“Gimana, bang? Bangun kaga itu si Wati?” desak Sifa gak sabaran, ia bahkan menghentikan jemarinya yang memberikan pijatan pada jemari kaki Wati.

“Bismilah, kita udah berusaha buat bangunin ini anak! Segala sesuatunya datang dari pencipta. Kalo ampe usaha gua gagal, berarti yang nyiptain kita lebih sayang sama anak lu!” jelas Yusuf, menatap dalam Sifa.

Sifa menelan salivanya dengan sulit, “Ma- maksud abang apa ngomong gitu? Aya ora ngerti, bang!” sangkal Sifa dengan menggeleng gak percaya.

Yusuf menghembuskan nafasnya kasar, “Lu ora bego bego amat buat ngartiin perkataan gua, Sifa!”

Yusuf meraih pergelangan tangan Wati, ia masih merasakan denyut nadi Wati meski jauh dari kata normal. Tapi hati kecilnya kembali memberikan harapan.

‘Anak gua masih ada, tapi kenapa Wati belum buka matanya? Ya rab, tolong beri mukjizat untuk anak hamba! Perlihatkan pada hamba, apa yang terjadi dengan anak sulung hamba!’ batin Yusuf, dengan dada bergemuruh, gak menentu.

Sifa merangkak naik ke ranjang, berada di sisi lain Wati yang kini ada di antara kedua orang tuanya. Yusuf berusaha menepuk pipi Wati, berharap bisa membuat Wati terjaga dari tidurnya.

Pluk pluk.

Sifa mengguncang lengan Wati, “Ti, Wati! Bangun neng! Buka mata lu, neng! Nyak ama babeh bangunin lu ini, neng! Wati!” seru Sifa dengan suara bergetar dengan mata mengembun.

‘Ya allah, masa iya anak gua mati! Jangan dulu apa! Gua belom liat Wati nikah, gua pengen ngerasain gendong cucu. Bagen dah kalo dia mao ama si Samsul, biar gua yang ngalah dah, asal Wati bisa idup ya rab! Gua ngalah.’ jerit batin Sifa.

Sementara di depan gerbang rumah Yusuf.

“Eh bocah, lu pada mao kemana pagi buta begini?” serono Minah, melihat Sarip, Jenal dan Malik jalan kaki bersama.

“Anu ini, po! Nganterin si Sarip pulang!” celetuk Jenal.

Sarip mencium punggung tangan kanan adik perempuan dari ibunya. Di ikuti 2 sahabatnya.

Minah terkekeh, “Dih yalah, udah gede pake di anterin! Malu lu ama burung lu! Udah anak SMA takut pulang dewekan hahaha!”

Jenal dan Malik saling pandang.

‘Fix ini mah, po Minah kaga tau!’ pikir Jenal, yang di angguki Malik.

Kreeeek.

Sarip menarik gerbang rumahnya, memberikan celah untuk ia dan Minah masuk.

Sarip mengerucutkan bibirnya kesal, “Kaga usah ngeledek, cing! Kaya tau ceritanya bae itu. Semalam kaya pagimana!”

Minah menatap serius sang ponakan, “Semalam ada kejadian apa emangnya?”

“Kita balik ya, Rip! Tar ketemu di sekolah bae!” celetuk Malik.

“Oke! Makasih ya udah mau anterin gua!” Sarip melambaikan tangannya pada kedua temannya.

“Ati ati lu pada!” beo Minah, pada kedua remaja tanggung yang melenggang menjauh dari pandangannya.

Matahari masih malu malu untuk memperlihatkan dirinya. Mana kala Sarip dan Minah melangkah bersama menuju pintu utama, dengan pasti menjauh dari pagar hitam yang ada di belakang keduanya.

“Cing tumben pagi bangat udah dateng! Ada apaan dah?” tanya Sarip, menatap Minah penuh selidik.

“Cing dengar dari tetangga sebelah, ada yang ganjal itu di rumah Samsul. Cing takut ada hubungannya ama po lu! Po lu ora ngapa ngapa kan?” cerocos Minah dengan tatapan khawatir.

Sarip menggaruk kepalanya yang gak gatal, “Sarip aja kurang tau apa yang terjadi sama po Wati semalam, cing!”

“Waduh, emang semalam Wati kenapa, Rip?”

Sarip mengedarkan pandangannya, memastikan gak ada orang yang melihat apa lagi mendengar percakapan keduanya.

“Ada kejadian apa di rumah bang Samsul, cing?” tanya Sarip penuh selidik.

Minah memutar bola matanya malas, “Lu kalo di tanya, malah tanya balik!”

“Ya elah cing! Tiban jawab doang juga ya! Buru ngomong!” desak Sarip.

“Ada yang ngomong ama, cing! Semalam ada suara gedebuk kenceng benar dari rumah si Samsul. Pas di liat kaga ada apa apa. Cuma yang bikin heran, kaya ada bekas orang dari kebon, ada dedaunan, tanah ama rumput gitu. Anehnya lagi ada rambut jagung juga itu di teras rumahnya Samsul.” jelas Minah dengan serius.

“Omongan cing Minah, bisa dipercaya kaga?” tanya Sarip, begitu keduanya sudah di hadapan kan dengan pintu yang masih tertutup rapat.

Minah berdecak kesal, “Ya bisa lah, cing dengar dari tetangganya langsung itu! Masa iya cing ngarang! Kaga kaga bae lu mah, Rip!”

“Salam likum, beh! Sarip pulang nih!” seru Sarip, tapi gak mendengar ada sahutan dari dalam rumah.

“Po, bang! Minah dateng ini!” timpal Minah, ikut berseru.

***

Bersambung...

1
astutiq
semangat terus buat author
Uswatun Chasanah
jangan lupa up thor
Jafar Hafso
lanjutkan terus up thor
Farlan
semangat terus kak
Ina
jangan lupa up thor
Ina
lanjutkan thor
Ina
keren banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!