NovelToon NovelToon
Istri Cerdik Pak Kades

Istri Cerdik Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.

Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Misi di Desa Tepian Selat

Enam bulan kemudian, Navasari telah berjalan dengan sistem autopilot yang sempurna. Marno kini menjabat sebagai Direktur Operasional BUMDes, sementara Baskara tetap menjadi jantung desa sebagai kades yang dicintai. Namun, bagi Arum, panggilan dari kristal digital Sekar tidak bisa diabaikan.

Tujuan pertamanya adalah Desa Muara Biru, sebuah pemukiman nelayan di pesisir Timur yang secara administratif "menghilang" dari peta bantuan pemerintah, namun secara geologis merupakan titik nol cadangan nikel laterit yang sangat masif.

Arum tiba bukan dengan helikopter atau pengawalan, melainkan menumpang perahu kayu pengangkut ikan. Ia mengenakan caping dan baju lusuh, menyamar sebagai pengepul kerang. Di tangannya, ia membawa sebuah alat sensor portabel yang disamarkan sebagai radio tua.

"Ibu mencari siapa di sini?" tanya seorang pemuda nelayan bernama Jaka, matanya tampak waspada saat melihat Arum memperhatikan dermaga baru yang dibangun oleh perusahaan asing di ujung desa.

"Saya dengar di sini banyak kerang mutiara," jawab Arum tenang. "Tapi sepertinya airnya mulai berminyak. Apa ada yang bocor di dermaga itu?"

Jaka terdiam, wajahnya mengeras. "Jangan bicara soal dermaga itu jika Ibu masih ingin pulang dengan selamat. Itu wilayah terlarang bagi kami, padahal itu dulunya tempat kami mencari ikan."

Arum menyewa sebuah gubuk di pinggir pantai. Malamnya, ia membuka radio "tua"-nya yang ternyata adalah sebuah pemindai frekuensi radio jarak jauh. Ia mulai menangkap komunikasi terenkripsi dari dermaga tersebut.

"Mas Baskara, apa kau mendengarku?" Arum berbisik ke alat komunikasinya.

"Jelas, Rum. Navasari di sini. Kami sudah melacak sinyalmu," suara Baskara terdengar stabil lewat satelit. "Hati-hati, Arum. Data satelit menunjukkan ada kapal tanker tanpa identitas yang masuk tiap jam tiga pagi. Mereka tidak menambang secara resmi, mereka sedang melakukan pencurian mineral mentah secara masif."

Arum mengaktifkan mode audit lingkungannya. Ia mengambil sampel air laut dan tanah di dekat dermaga. Hasilnya mengejutkan: kadar nikel yang tersedot keluar sangat besar, namun di laporan pajak daerah, Desa Muara Biru tercatat sebagai desa tertinggal tanpa potensi tambang.

"Ini pola yang sama," gumam Arum. "Mereka membuat desa ini miskin dan terisolasi agar mereka bisa mencuri hartanya tanpa ada yang bertanya."

Esok harinya, Arum mendekati kepala desa Muara Biru yang nampak tertekan. Di kantor desa yang atapnya bocor, Arum tidak menunjukkan uang. Ia menunjukkan sebuah dokumen yang membuat sang kades gemetar.

"Ini adalah laporan keuntungan perusahaan yang mengelola dermaga itu, Pak Kades. Dalam sebulan, mereka meraup 50 miliar rupiah dari nikel di bawah desa ini. Dan Bapak tahu berapa yang masuk ke kas desa? Nol."

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Kades dengan suara bergetar.

"Saya Arum. Istri Kades Navasari. Dan saya di sini untuk membantu Bapak melakukan audit terhadap kesepakatan gelap yang mereka paksakan pada warga Bapak."

Arum mulai mengumpulkan para pemuda nelayan, termasuk Jaka. Di bawah remang lampu teplok, ia mulai mengajarkan apa yang ia sebut sebagai "Audit Rakyat".

"Kita tidak akan melawan mereka dengan parang," ujar Arum. "Kita akan melawan mereka dengan memblokir izin ekspor mereka melalui sistem Bea Cukai Internasional. Saya punya bukti bahwa nikel ini diambil secara ilegal dari kawasan konservasi laut."

Namun, di tengah pertemuan rahasia itu, suara langkah sepatu laras panjang terdengar di depan pintu. Pintu kayu yang rapuh itu ditendang paksa. Seorang pria berpakaian militer swasta masuk dengan senjata terhunus.

"Istri Pak Kades dari Navasari ternyata suka jalan-jalan, ya?" ujar pria itu sambil menyeringai. "Sayangnya, Muara Biru bukan tempat untuk pahlawan wanita. Di sini, laut sangat dalam dan sangat sunyi untuk menyimpan rahasia."

Arum berdiri perlahan, tangannya tetap berada di bawah meja, menyentuh tombol darurat yang terhubung langsung ke jaringan media sosial Navasari yang kini memiliki jutaan pengikut.

"Kalian terlambat," ujar Arum dengan senyum cerdiknya. "Wajahmu, senjatamu, dan lokasi ini sudah tayang secara live di hadapan lima juta penonton. Jika aku terluka, karir tuanmu di Jakarta akan berakhir sebelum matahari terbit."

Pria bersenjata itu tertegun sejenak. Ia melirik kamera kecil yang tersemat di kerah baju Arum yang tadinya ia kira hanya kancing biasa. Pendar merah kecil di sana berkedip secara ritmis, menandakan transmisi data yang sedang berlangsung.

"Kau berbohong! Sinyal di desa ini sudah kami acak!" bentak pria itu, namun suaranya menyiratkan keraguan.

"Kalian mengacak frekuensi seluler standar," Arum melangkah maju dengan tenang, seolah moncong senjata di depannya hanyalah sebatang pensil. "Tapi kalian lupa bahwa BUMDes Navasari memiliki satelit orbit rendah sendiri untuk memantau logistik desa kami. Aku terhubung ke sana, bukan ke menara pemancar kalian."

Jaka dan para pemuda nelayan yang tadinya ketakutan, kini mulai melihat celah. Arum bukan hanya membawa informasi, ia membawa "kekuatan langit" yang tidak bisa disentuh oleh preman dermaga.

"Pak Kades," Arum menoleh ke arah kepala desa Muara Biru yang pucat. "Pilihannya sekarang ada di tangan Bapak. Ikut dalam skenario kecelakaan yang mereka siapkan untuk saya, atau berdiri bersama rakyat Bapak dan mengklaim kembali hak laut kalian. Jika Bapak memilih yang kedua, saya pastikan besok pagi, tim hukum dari Jakarta akan mendarat di sini untuk membatalkan kontrak ilegal itu."

Sang Kades menatap warga desanya, lalu menatap pria bersenjata itu. Keberanian yang selama ini terkubur oleh ancaman perlahan muncul kembali. "Pergi dari kantor saya," ujar Kades, suaranya gemetar namun tegas. "Atau seluruh warga Muara Biru akan memastikan perahu-perahu kalian tidak akan pernah bisa meninggalkan dermaga itu."

Pria bersenjata itu menggeram, namun ia tahu situasinya telah berbalik. Dengan jutaan mata memantau secara digital, satu letusan peluru akan menjadi lonceng kematian bagi perusahaan induknya. Ia mundur perlahan, memberi kode kepada anak buahnya untuk keluar.

"Ini belum selesai, Nyonya Auditor," ancamnya sebelum menghilang ke dalam kegelapan malam.

Arum tidak membiarkan mereka bernapas lega. Ia segera membuka laptopnya di atas meja kayu yang reyot.

"Jaka, aku butuh denah bawah air dermaga itu. Aku curiga mereka tidak hanya mengambil nikel, tapi juga melakukan pembuangan limbah tailing langsung ke terumbu karang. Itu adalah pelanggaran pidana lingkungan berat," ujar Arum.

Jaka mengangguk. "Saya tahu tempatnya. Ada pipa raksasa yang hanya terlihat saat air surut terendah. Di sana ikannya mati semua, Bu."

Malam itu, Muara Biru tidak tidur. Di bawah bimbingan Arum, para nelayan mulai mengumpulkan bukti fisik: foto bangkai ikan, sampel air berwarna keruh, dan koordinat kapal tanker yang masuk secara ilegal. Arum menyusunnya ke dalam sebuah "Audit Ekosistem"—sebuah dokumen yang lebih mematikan daripada tuntutan korupsi, karena kerusakan lingkungan tidak mengenal batas kedaluwarsa hukum.

"Mas Baskara," Arum menghubungi suaminya lagi. "Kirimkan tim teknis Navasari. Kita butuh alat selam dan sensor deteksi logam berat. Muara Biru akan menjadi kemenangan kedua kita."

"Siap, Rum. Tim berangkat subuh ini dengan kapal cepat," jawab Baskara. "Dan Arum... hati-hati. Aku baru saja mendapat laporan bahwa perusahaan di Muara Biru itu berafiliasi dengan mantan rekan Profesor Darmono yang lebih radikal."

Arum menutup laptopnya, menatap ke arah laut yang gelap. Ia tahu, setiap desa yang ia datangi akan membawa bahaya baru. Namun, melihat harapan di mata Jaka dan warga lainnya, ia tahu ia tidak bisa berhenti.

Navasari hanyalah sebuah permulaan. Muara Biru adalah medan tempur kedua. Dan Arum, sang istri kades yang cerdik, baru saja memulai babak baru sebagai pengaudit kedaulatan bangsa.

1
Wanita Aries
keren thor
Wanita Aries
seruu dan menegangkan
Wanita Aries
keren thorr
Wanita Aries
seruuu thor
Wanita Aries
mampir thorrr
Chelviana Poethree
ijin mampir thor
piah
bagus ..
menegangkan ..
Agustina Fauzan
ceritanya seru dan d
Agustina Fauzan
ceritanya seruuu...tegang...

lanjut thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!