NovelToon NovelToon
Mereka Mengira Aku Buta

Mereka Mengira Aku Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?

On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Garis yang Tidak Bisa Ditarik Ulang

Malam itu terasa terlalu sunyi untuk sebuah rumah sebesar ini. Sunyi yang bukan karena tidak ada suara melainkan karena semua suara terasa tertahan. Jam dinding berdetak pelan. Pendingin ruangan berdengung rendah. Dari luar, kota masih hidup tapi di dalam rumah, udara seperti menunggu sesuatu terjadi.

Marcus berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Tangannya bersandar di kaca, napasnya meninggalkan embun tipis. Di bawah sana, lampu-lampu bergerak seperti arus tak pernah berhenti. Semua terlihat teratur. Berbeda dengan kepalanya.

Transaksi itu masih ada. Sudah diperiksa ulang. Diverifikasi. Dilacak sampai ke akar. Dan tetap tidak masuk ke dalam pola yang ia bangun selama bertahun-tahun.

Marcus bukan pria yang panik. Ia adalah pria yang membedah masalah sampai hanya tersisa ke inti.

Namun malam ini, inti itu terasa seperti bergerak menjauh setiap kali ia mendekat.

Ponselnya bergetar.

Selene.

Marcus menjawab tanpa melihat layar. “Ada apa?”

Suara Selene terdengar lebih pelan dari biasanya. “Aku sudah cek ulang ke semua jalur. Tidak ada kebocoran langsung. Tapi…” ia berhenti.

“Tapi?”

“Ada seseorang yang mengatur ulang akses lama. Sangat rapi. Seolah sudah disiapkan jauh sebelum kita sadar.”

Marcus menutup mata sebentar. “Siapa?”

“Aku belum tahu.”

Jawaban itu tidak memuaskan.

“Cari,” kata Marcus dingin. “Aku tidak peduli berapa lama. Aku mau nama.”

Telepon ditutup.

Ruangan terasa semakin sempit. Marcus tahu satu hal ini bukan serangan impulsif. Ini pergerakan yang dirancang dengan kesabaran. Dan orang yang sabar biasanya punya tujuan besar.

Di lantai bawah, Elena duduk di sofa ruang tamu.

Lampu redup. Buku terbuka di tangannya. Tongkat putih bersandar di sisi kursi, tetap menjadi bagian dari peran yang ia mainkan dengan sempurna. Namun matanya tidak membaca. Ia mendengarkan.

Langkah Marcus di lantai atas. Jeda napasnya. Cara ia berjalan lebih berat dari biasanya. Tekanan.

Elena merasakannya seperti gelombang. Pintu ruang kerja terbuka. Langkah turun tangga terdengar. Marcus muncul di ambang ruang tamu.

“Kau masih bangun,” katanya.

Elena mengangkat wajah perlahan. “Sulit tidur,” jawabnya tenang.

Marcus menatapnya beberapa detik lebih lama. “Kau membaca?”

“Berusaha,” Elena tersenyum tipis. “Kebiasaan lama.”

Marcus berjalan mendekat. Duduk di kursi seberang.

“Kau tidak terlihat lelah.”

“Aku sudah terlalu sering lelah,” kata Elena ringan. “Sekarang aku hanya… memilih diam.”

Diam.

Kata itu menggantung di udara.

Marcus menyandarkan punggungnya. “Kau berubah,” katanya lagi.

Elena memiringkan kepala sedikit. “Semua orang berubah.”

“Tidak secepat ini.”

Senyum Elena tidak hilang. “Mungkin kau baru memperhatikan.”

Marcus menahan jawaban. Ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin menekan, menggali, memaksa.

Namun instingnya berkata jangan. Untuk pertama kalinya, ia merasa seperti sedang berbicara dengan seseorang yang selalu selangkah di depan. Dan Marcus membenci posisi itu.

Keesokan paginya, kantor terasa lebih dingin dari biasanya. Selene sudah menunggu ketika Marcus masuk. Wajahnya rapi seperti biasa tapi ketegangannya terlihat di bahu.

“Aku temukan sesuatu,” katanya pelan.

Marcus tidak duduk. “Tunjukkan.”

Laptop diputar. Diagram akses muncul di layar. Jalur-jalur lama, akun arsip, sistem yang jarang disentuh. Dan satu titik yang tidak seharusnya aktif.

Marcus menyipit.

“Ini milik siapa?”

Selene menelan ludah. “Akses lama… dari masa transisi sistem.”

“Nama,” ulang Marcus.

Selene menarik napas. “…Elena.”

Ruangan mendadak terasa kosong. Marcus tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatap layar. Nama itu berdiri di sana bersih, legal, sah. Dan tidak pernah dicabut.

“Mustahil,” katanya pelan.

“Secara teknis… tidak,” jawab Selene hati-hati. “Ia memang punya akses itu dulu. Tidak ada yang menonaktifkannya.”

Marcus tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena ironi.

Elena.

Perempuan yang dianggapnya tidak lagi berperan dalam sistem inti ternyata masih memiliki jalur yang cukup untuk mengguncang fondasi.

“Kau pikir dia melakukannya?” tanya Selene.

Marcus tidak menjawab.

Karena masalahnya bukan apakah Elena bisa. Masalahnya adalah apakah ia mau. Dan Marcus tidak yakin mana yang lebih berbahaya.

...****************...

Sore hari, Elena duduk di balkon rumah.

Angin membawa bau hujan. Kota terlihat abu-abu.

Langkah Marcus mendekat.

“Elena.”

Ia menoleh perlahan. “Ya?”

“Kau pernah mengakses sistem lama?”

Pertanyaan itu jatuh seperti batu di air tenang.

Elena tidak langsung menjawab. Ia memikirkan ritme napasnya. Cara Marcus berdiri. Ketegangan yang ia sembunyikan.

“Dulu,” katanya akhirnya. “Sebelum kecelakaan.”

“Dan setelah itu?”

“Aku bahkan sulit membaca layar,” Elena tersenyum tipis. “Apa yang kau pikir bisa kulakukan?”

Marcus menatapnya. Terlalu lama. Ia mencari kebohongan. Tidak menemukannya. Dan itu justru membuatnya semakin tidak nyaman.

“Kenapa?” tanya Elena lembut.

Marcus menggeleng. “Tidak penting.”

Elena mengangguk.

Namun ketika Marcus berbalik pergi, matanya terbuka penuh. Tenang. Terukur. Permainan sudah masuk fase berikutnya.

Malam turun cepat. Marcus kembali ke ruang kerjanya. Nama Elena masih ada di layar. Ia menatapnya lama. Ada dua kemungkinan, Elena tidak tahu apa-apa. Atau ia tahu segalanya. Dan jika kemungkinan kedua benar, maka garis yang selama ini Marcus kendalikan sudah tidak bisa ditarik ulang.

Ia bersandar di kursi.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Marcus merasa dirinya bukan pusat permainan. Dan di lantai bawah, Elena menutup matanya. Bukan untuk tidur. Tapi untuk menghitung langkah berikutnya. Karena sekarang Marcus sudah mulai melihat bayangan. Dan bayangan selalu datang sebelum jatuhnya cahaya.

Marcus tidak langsung menutup laptopnya. Nama itu masih menyala di layar seperti sesuatu yang menantangnya untuk berkedip lebih dulu.

Elena.

Huruf-huruf itu terasa lebih berat dari seharusnya.

Ia memperbesar detail akses. Waktu login. Jalur sistem. Semua tampak bersih terlalu bersih. Tidak ada lonjakan aktivitas mencurigakan. Tidak ada jejak kasar. Justru itu yang mengganggu.

Seseorang yang ceroboh meninggalkan kekacauan.

Seseorang yang ahli meninggalkan ketenangan.

Marcus menyandarkan kepalanya ke kursi. Langit-langit tampak statis, namun pikirannya berputar cepat. Jika Elena memang tidak melakukan apa pun maka sistem ini sedang dipermainkan pihak lain.

Jika Elena melakukannya berarti ia sudah bermain jauh lebih lama dari yang Marcus sadari.

Dan kemungkinan kedua membuat dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang bukan ketakutan melainkan kehilangan posisi. Ia membenci perasaan itu.

Ponselnya bergetar lagi. Selene mengirim pesan singkat:

Aku akan menutup akses lama malam ini.

Marcus menatap pesan itu lama sebelum mengetik balasan.

Jangan dulu.

Dua kata.

Karena menutup akses berarti mengakui ada sesuatu yang salah. Dan Marcus belum siap menunjukkan kelemahan bahkan pada sekutunya sendiri.

Di lantai bawah, Elena berdiri di dapur. Air mengalir perlahan dari keran. Tangannya bergerak otomatis, membilas cangkir yang sebenarnya sudah bersih. Kebiasaan kecil untuk memberi tubuh sesuatu yang bisa dikendalikan. Langkah Marcus terdengar dari tangga. Ritmenya berubah. Lebih berat. Lebih tegas.

Elena mengeringkan tangannya sebelum berbalik.

“Kau belum tidur?” tanyanya ringan.

Marcus berhenti di ambang dapur. “Belum.”

Jawaban singkat.

Tatapan mereka bertemu atau setidaknya terlihat seperti itu. Elena menjaga sudut kepalanya sempurna. Marcus memperhatikan detail kecil cara bahunya rileks, napasnya stabil. Tidak ada tanda seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu.

Dan itu justru membuat instingnya semakin ribut.

“Kau butuh sesuatu?” Elena bertanya.

Marcus menggeleng pelan.

“Hanya… ingin memastikan kau baik-baik saja.”

Kalimat itu terdengar wajar. Namun bagi Marcus sendiri, rasanya seperti alasan yang dipaksakan.

Elena tersenyum tipis.

“Aku masih di sini,” katanya.

Jawaban sederhana.

Terlalu sederhana.

Marcus mengangguk dan berbalik pergi, tapi langkahnya melambat di tengah lorong. Ada dorongan untuk kembali, bertanya lebih jauh, menekan sampai menemukan celah. Ia menahannya.

Karena sesuatu berkata jangan buru-buru. Dan Marcus selalu percaya pada instingnya.

Setelah pintu kamar kerja tertutup, Elena tetap berdiri di tempatnya.

Hitungan lima detik.

Sepuluh.

Dua puluh.

Ia mendengarkan tidak ada langkah kembali. Baru kemudian ia bergerak.

Ponselnya muncul dari saku. Layarnya menyala tanpa suara. Satu pesan belum dibaca.

Adrian:

Dia sudah melihat nama itu.

Elena mengetik balasan tanpa ragu.

Bagus. Biarkan dia berpikir.

Titik-titik muncul. Hilang. Muncul lagi.

Adrian:

Ini mempercepat segalanya.

Elena berhenti sejenak sebelum menjawab.

Bukan mempercepat. Mengarahkan.

Pesan terkirim.

Ia mematikan layar dan menarik napas pelan. Permainan bukan tentang membuat Marcus jatuh secepat mungkin. Permainan adalah membuatnya meragukan setiap langkah yang ia ambil.

Dan keraguan adalah racun paling efektif bagi seseorang yang hidup dari kendali.

Di kamar kerja, Marcus berdiri lagi. Ia tidak sadar kapan tubuhnya bangkit dari kursi. Tangannya bertumpu di meja, napasnya berat. Ia memutar ulang percakapan tadi. Setiap kata Elena. Setiap jeda. Tidak ada kesalahan. Tidak ada getaran.

Seolah ia benar-benar tidak tahu apa pun.

Marcus tertawa kecil tanpa humor. Selama bertahun-tahun, ia membangun sistem untuk mengendalikan orang lain membaca niat, memprediksi langkah, mengantisipasi pengkhianatan. Namun sekarang ia tidak bisa membaca perempuan yang tinggal satu atap dengannya.

Dan itu terasa seperti kegagalan personal. Ia menutup laptop dengan gerakan tegas.

Besok, ia akan menggali lebih dalam.

Bukan sistem.

Bukan angka.

Elena.

Karena jika ada sesuatu yang bergerak ia ingin melihat pusatnya dengan mata sendiri.

Di lantai bawah, Elena akhirnya duduk kembali.

Sunyi kembali memenuhi rumah. Namun kali ini, sunyi itu terasa hidup. Seperti papan catur setelah langkah penting dilakukan. Ia memejamkan mata.

Marcus sudah mulai mempertanyakan fondasinya sendiri. Dan ketika seseorang mulai meragukan fondasi bangunan apa pun bisa runtuh tanpa didorong.

Senyum tipis muncul di bibir Elena.

Bukan kemenangan.

Belum.

Ini hanya awal dari retakan yang tidak bisa ditarik ulang.

Dan kali ini,

Marcus akan merasakan setiap detiknya.

1
Kaka's
pembohong kamu marcus horison...
Serena Khanza: kiper indo 😭
total 1 replies
Sean Sensei
asli sedikit kah? kok aku bacanya kurang puas ya /Sob/
Serena Khanza: maklum kak awal awal masih dikit 🤭🤣

baru belajar nulis 🤭🤭
total 1 replies
Hunk
Ya aku juga menunggu hasil nya elena🤣
Serena Khanza: perlahan lahan meledak kak 🤭
total 1 replies
Hunk
Mantap bukti nya banyak banget ples kuat.
cimownim
cara Elena menghadapi laki-laki udah keren cerdas banget ya
Serena Khanza: Elena menghadapi laki-laki dengan diam dan tenang 🤭
total 2 replies
APRILAH
kehangatan di dalam kegelapan
Tiara Bella
skrng ngurigain Selena ya Marcus....
Tiara Bella: hooh ...
total 2 replies
Hunk
Alasan umum untuk semua orang yg telat "Jalanan macet"
Sean Sensei
/Sweat/ : belum di update mungkin google map nya
Kaka's
saya suka narasi seperti ini. karna langsung sy praktekkan sesuai instruksinya.. terangkat tipis 🤭🤭
Kaka's: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Khusnul Khotimah
sampek sini q blom paham yg jd masalah itu pa?kok sampek segitunya ...ni masalah harta/warisan kah?perselingkuhan?.ato penghianatan?
Khusnul Khotimah: oooooohhhh.... gtu ditunggu kelanjutanya thor.
total 2 replies
Panda
mau pindahin aset kayanya marcus
Jing_Jing22
nggk sabar buka bab selanjutnya. pengen tau nasib tuh dua orang
Jing_Jing22
target mulai masuk kedalam rencana elena
CACASTAR
dialognya kenapa masih kaku Thor.. harusnya semakin lama di antara mereka tentunya semakin dekat. bahkan atasan dan bawahan sekalipun makin tahun pasti makin akrab. Kata sapaannya pun akan menggunakan kata sapaan yg lebih akrab walaupun sopan.
Serena Khanza: iya kak makasih masukannya 👍🏻😊

next aku perbaiki lagi di penulisan supaya bisa lebih natural lagi 😊😊
total 1 replies
APRILAH
Otewe gofood aja deh, ngeri kalo pesen gitu 😄
Kaka's
sudah terlambat marcus horison... su terlambat...
Serena Khanza: wkwkwk 🤭🤭
total 3 replies
Hunk
Elena menurut ku keren banget. Dokumen aj bisa sampai dia ingat isi nya. Padahal mungkin halaman nya banyak banget.👍
Serena Khanza: soalnya dia asisten marcus
total 1 replies
Hunk
Dia sendiri ga nyaman udah berbohong./Shame/
Murdoc H Guydons
Obat buat apa? Mata kabur segitu mah ga ngefek di kasi obat.. 🤭
Murdoc H Guydons: oh iy ya.. haha..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!